Pengawal Gadis Maut

Pengawal Gadis Maut
Tersesat


__ADS_3

Malam sepi selalu menemani dirinya terlelap dalam tidur hingga berlalunya hari ini dan berganti ke hari yang baru.


Tetapi pagi ini sepertinya langit sedang bersedih begitu mendung kantung matanya seperti menahan sesuatu yang mendalam bahkan mentari tak terlihat seutas cahayanya tidak bisa menembus awan hitam di mata langit seakan serasa masih subuh padahal sudah pagi, rintik air matanya mulai terjatuh ke bumi memberikan isyarat bagi siapapun juga jika saat ini dia sedang bersedih entah karena apa tidak ada yang tahu isi hatinya, rintik menjadi tetesan air menghantam bumi dengan derasnya aku yang kini berjalan sendirian dalam tetesan tersebut pasrah saja menerima setiap rasa sakit darinya coba fikirkan bagaimana tidak sakit jikalau jatuhnya dari ketinggian meskipun itu hanyalah sebuah tetesan air, terus berjalan dalam keadaan basah kuyuh rasa dingin mulai menyatuh dengan tubuh hangatnya kain baju tidak terasa lagi tapi tak apalah yang penting aku bisa meninggalkan mereka semua yang kini telah menguasai kastil ku biarkan saja aku tidak peduli lagi mereka sudah mendapatkan apa yang mereka mau selama ini aku sama sekali tidak menyesali keputusan ku itu lagi pula kastil itu mempunyai banyak kenangan pahit, aku pergi setidaknya tak ku lihat lagi sorotan mata yang penuh kebohongan dari mereka.


Terus berjalan melewati banyak orang yang memakai payung untuk berlindung dari kibasan angin dan hujan beberapa melihat ku aneh dan yang lainnya lagi hanya mengabaikan ku sempat menyambar lembut diriku tapi tak ku hiraukan juga mereka dan tetap berjalan lurus, entah sudah sampai dimana ini orang-orang lenyap begitu saja dari pandangan ataukah terlarut dalam fikiran yang melayang kemana-mana jadinya aku berjalan tanpa arah dan meninggalkan kerumunan orang-orang tadi lalu fikir ku orang-orang tadi yang lenyap? Sudahlah lupakan terpenting sekarang, aku...dimana??? sepertinya aku tersesat bagaimana ini tidak ada tempat untuk berteduh mau tidur dimana malam nanti haruskah aku pergi saja ke gereja tapi jalannya harus lewat jalur mana supaya bisa sampai ke sana? Bingung aku, ataukah aku duduk di pinggir jalan saja jika ada orang berbaik hati dia mau mengantar ku tapi...itu sama saja aku mengemis, yang benar saja aku seorang bangsawan nachzehrer apa pantas duduk di pinggir jalan seperti orang yang kehilangan rumahnya sambil memasang tampang kasihan? Lupakan! bikin malu saja.


Menghentikan langkah seraya berpendapat “gara-gara dia aku jadi begini”, tapi beruntungnya diri ku ada sebuah pohon yang tumbuh di pinggir lorong segerah menyandarkan kepala ke tembok samping pagar rumah mewah tidak tahu rumahnya siapa yang penting tubuh ku tidak tertimpah air hujan lagi meskipun masih ada setetes setetes jatuh ke pundak tapi biarlah itu tidak masalah, untuk sementara waktu istirahat disini dululah jika hujannya sudah redah akan ku lanjutkan lagi perjalanan tapi tujuan ku belum jelas penjamkan mata sejenak untuk memutuskan lorong mana yang harus ku lalui karena bukan main ini lorong mana ujungnya? Aduh ini benar-benar gawat dan kenapa lorong ini seperti tidak ada yang huni seperti tidak pernah digunakan aneh sekali tapi bagus juga aku bisa istirahat dengan tenang tidak ada yang melihat.


“Lapar” Ucap ku sambil memegang perut kurus kerempeng ini ya tidak kerempeng sih sebenarnya itu hanya ungkapan akibat kesal saja karena dia lapar terus.

__ADS_1


“Meong....” Eh? Apa itu ku buka mata ku yang sipit untuk memastikan benda apa itu. Oh ternyata seekor anak kucing berbulu putih bercorak hitam dia datang menghampiri ku dengan wajahnya yang polos dia melihat ku, dia duduk dengan manis. Astaga melihat dia seperti itu rasanya ingin menyantapnya pasti enak apa lagi dalam keadaan lapar-lapar begini.


“Hey! Kenapa melihat ku seperti itu? Aku tidak punya makanan untuk ku berikan pada mu. Aku juga lapar, bagaimana jika kau ku makan saja dengan begitu penderitaan mu akan terlepas dari mu” Dia malah melihat ku dengan kebingungan biasanya baru ku tatap saja hewan-hewan yang lainnya mereka langsung kabur tapi kali ini beda dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda takut, bingung diriku jadinya.


“Hebat! Kau tidak takut pada ku, kemarilah kau akan kehujanan di situ” Ku berikan senyuman andalan ku, senyuman manis nan jahat. Hehehe ini asik. Bodoh, dia benar-benar datang mendekat dengan lembut ku raih tubuhnya dan memeluknya.


Mungkin ini takdir aku tersesat di sini dan bertemu dirinya kami menjadi teman seketika itu juga padahal ku fikir saat ku perlihatkan taring ku dia akan takut lalu pergi seperti hewan-hewan lainnya tapi dia tidak justru dia berani mendekat, aku telah berkelana sudah cukup lama dan baru sekarang mendapat sapaan itu pun dari seekor kucing tak apa lumayanlah buat teman ngobrol. Yang jadi masalahnya sekarang aku harus ke mana malam nanti mau tidur di mana sungguh ini pelarian bodoh lapar-lapar begini mau cari makan di mana? Tidak ada aroma enak di sini tempat ini hanya dikelilingi aroma hampa dan hambar makluk yang ku pegang ini aromanya sedikit manis tapi tidak mungkin ku jadikan dia santapan ku keinginan hidup begitu jelas terasa pada matanya hari ini juga bukan ajalnya jadi tahan saja lagi semuanya akan baik-baik saja jika kita bersabar dan berusaha.


“Meong”.

__ADS_1


“Ada apa dengan mu apa kau merasa lapar?”. Tubuhnya segaja ku angkat di depan wajah ku agar dapat ku pandang dia lebih jelas dekat dan dengan lembut menatapnya tidak seperti 30 menit yang lalu, dia menatap ku dalam tapi mana ku tahu apa yang dia katakan.


“Aku juga lapar”. Lanjut ku lagi dia mengangkat kaki kecilnya yang lembut dan imut hingga menyetuh pipi, aduh manisnya jadi tambah....terukir senyum begitu saja di bibir.


Hujan mengguyur seluruh kota.


Perut lapar, baju basah semua, lelah luar biasa dan tersesat entah dimana tak tahu mau tidur malam nanti dimana lengkap sudah penderitaan ku.


Sudah beberapa jam yang lalu masih duduk terdiam menutup kedua bola mata dengan memeluk anak kucing tadi lumayanlah hemat tenaga agar perut yang tidak mau diajak kompromi ini tidak bertambah lapar ah! Nasib nasib.

__ADS_1


Sementara itu Lina nampak sedang mengikuti pelajaran dengan santai itu memang sudah jadi ciri khasnya tapi hebatnya dia tidak pernah ketinggalan pelajaran tak jarang Yumina meminta bantuan padanya dan dengan senang hati dia menolong temannya itu sekaligus sahabatnya, sesekali Lina memandang langit luar yang terlihat masih meneteskan air mata untungnya saat jam pulang sekolah tinggal rintik-rintik kecil yang tersisa dari langit perlahan matahari juga mulai bersinar kembali dia berhasil membela rombongan awan gelap di hadapannya walaupun rintik-rintik hujan masih terjatuh, awan gelap mulai menghilang dia pergi ke tempat lain karena sang angin mengusir dirinya jadinya mentari kini terlihat dengan jelas menyebarkan hangatnya sinarnya tapi kau tahu berjalan kaki usai hujan begini rasanya benar-benar tidak menyenangkan itu karena suhu menjadi meningkat aspal jalanan bergebu berasap-asap menguap ke langit sama seperti sedang berada dalam pemanggang daging air...dingin tolong datanglah ini benar-benar menyiksa batin. Seperti sebelum-sebelumnya Yumina dan V ingin main ke rumah Lina tapi Lina beralasan jika dia ingin menginap di rumah orang tuanya jelas tidak enak hati bila bertingkah dan berisik di rumah orang tua bukan? Terpaksa mereka mengurungkan niatnya setidaknya masih ada hari esok, hari ini Lina tidak ingin ada gangguan dia menginginkan ketenangan malam ini di rumahnya suasana yang ramai karena temannya sepertinya telah membuat dia benar-benar tidak nyaman merasa terusik dengan kebisingan Yumina dan V hatinya mengomel tak henti jadi untuk menenagkan hatinya dia membuat alasan yang masuk akal dan tak bisa di tolak mereka.


__ADS_2