Pengawal Gadis Maut

Pengawal Gadis Maut
mengunjungi teman lama #1


__ADS_3

Berjalan di dampingi para pelayan ku seperti ini sangat menyenangkan, orang-orang melihat seperti artis terkenal dikawal saat menemui para fans nya. Tapi kenapa aku tidak begitu justru mereka lah yang jadi idol dan aku manager nya.


Ketampanan mereka tidak perlu di tanya lagi. Orang-orang yang kami temui terpanah melihat pelayan ku lebih tepatnya pengawal. Kulit putih, hidung mancung, warna rambut, postur tubuh dan pupil mata semuanya seperti seorang idol. Jika melihat mereka begini ada rasa tidak rela melepasnya terutama Nios dia begitu sempurna untuk seorang pria dewasa yang sesungguhnya, dia berjiwa pemimpin dan berwibawa.


"Kemana kita akan pergi tuan?" Tanya Tein.


"Menemui teman lama, gadis nya Nhean" Masih ingat dengan Mina? aku pernah sekelas dengannya di high school.


Alasan ku bersekolah hanya satu. Aku bosan di kastil.


"Kau punya gadis?" Jiwa jail Maica muncul, dia mencoba menggoda Nhean.


"Aku tidak punya, tuan hanya asal bicara saja"


"Jangan malu katakan saja, ternyata di balik kecupuan mu tersembunyi sesuatu. Kau memang hebat"


"Sudah ku katakan tidak ada"


"Jangan begitu, ayo katakan saja! apa gadis itu sudah pernah kau cicipi? enak tidak?" Sambil menyenggol-nyenggol bahu Nhean.


"Cukup!!!" Nhean memang sensitif jika di tanya tentang gadis. Bagaimanapun juga dia tetap pria polos malas tahu jika mengenai seorang gadis.


"Bisa kah kalian tenang ini di tempat umum" Pintah Nios.


Sebenarnya kami bisa langsung berpindah tempat langsung ke rumah Mina tapi aku lupa ingat jalan nya jadi harus ke sekolah dulu baru bisa mengingat rumah Mina. Kami berhenti di halte bus berangkat ke sekolah ku dulu. Entah kebetulan atau memang sudah di atur, Lina ada di sebrang jalan memakai seragam sekolah, dia berjalan sendiri. Apa yang harus ku lakukan? apa aku bergegas menghampiri nya dan memeluknya? tentu tidak, aku hanya akan di anggap sebagai ancaman. Biarkan saja ada saat nya nanti aku akan menemuinya.


"Tuan, gadis itu" Khen bisa mencium aroma yang mirip dengan ku dari Lina.


Memilih bungkam untuk saat ini, aku enggan menanggapi nya karena aku tidak ingin membuang lebih banyak tenaga ku Haha.


Bus tujuan telah datang saat nya berangkat.


Karena ini jam kerja penumpang bus lumayan banyak, kursi hampir penuh tapi untung saja masih ada yang kosong.


Lagi-lagi perhatian tertuju pada mereka bertujuh, mata mengagumi terlihat jelas ada juga yang berniat meminta foto dan tanda tangan tapi mereka menolak memberikan. Nios duduk di samping ku selebihnya berdiri.


"Apa kalian baik-baik saja dengan aroma manusia" Kami saling telepati agar aman, untuk bertanya pada mereka.


"Sedikit tuan tapi aroma manis dari tuan lebih dominan" Jawab Maica yang berdiri agak jauh dari ku.

__ADS_1


"Andai saja jalur reinkarnasi mu belum mulai, akan ku carikan gadis untuk mu, yang bisa kau..."


"Tidak tuan, aku tidak butuh gadis selain tuan"


"Kalian semua sama saja" Mereka sengaja mengalihkan pandangan nya dari ku, dasar.


"Khen butuh seorang gadis tuan. Hehe"


"Diam!" Seperti nya Khen tidak enak badan.


Aku meminta nya untuk jongkok di samping ku. Agar membuat nya lebih nyaman kepalanya ku elus dengan lembut. Hatinya berangsur-angsur tenang.


"Tuan saya juga tidak enak badan" Tentu saja Zleris cemburu melihat Khen di manja oleh ku. Bukan hanya Zleris tapi Nhean, Maica, Tein, Nios, Say, Hemma ikut cemburu.


"Kau baik-baik saja" Untung saja Khen yang jongkok tidak terlihat oleh orang-orang karena yang lain berdiri menutupi Khen.


"Tuan, saya cemburu" Hemma mengungkap perasaan nya dengan jujur.


"Jangan begitu, dia sedang tidak enak badan"


"Terimakasih tuan, saya lebih baik sekarang" Khen nampak lebih baik. Syukurlah.


Perjalanan agak lama kira-kira 2 jam lebih. Karena Mina dan aku beda kota. Sekarang tempat duduk semakin banyak kosong, bagus lah mereka bisa duduk. Jika kalian bertanya dengan apa membayar biaya bus nya? tenang ada Tein yang bisa diandalkan setiap waktu.


"Tuan apakah anda lapar?" Tanya Zleris. Masih dalam mode telepati.


"Jika bertanya lagi akan ku lahap kau sekarang juga"


"Maaf tuan, saya salah"


"Nanti saja. Akan ku katakan jika lapar"


"Baik tuan"


Ada-ada saja. Dia selalu bertanya seperti itu.


"Tuan kita tidak perlu sampai ke sekolah, aku mengingat jalan ke rumah gadis itu" Ini sejarah Nhean mengingat rumah seorang gadis.


"Kau benar-benar peduli pada gadis itu"

__ADS_1


"Jangan memulai lagi tuan"


"Sesuai dengan keinginan mu"


"Untuk apa kita ke sana tuan?" Tanya Hemma


"Tidak apa-apa, aku hanya rindu padanya"


Jangan berfikir yang aneh-aneh, murni aku hanya rindu pada Mina tidak ada yang lain. Jangan berprasangka jika aku ingin mengambil jiwa nya.


"Kenapa kalian tidak duduk di kursi, itu cukup untuk kalian semua"


Mereka benar-benar mau membuat pusing, mereka lebih memilih berdiri agar dekat dengan ku di bandingkan duduk di kursi.


"Tidak tuan kami suka seperti ini, lagi pula kami tidak punya rasa lelah" Ucap Say. Hanya bisa menepuk kening melihat tingkah mereka.


Supir bus kebingungan melihat mereka dia bertanya dalam hati "Mengapa mereka tidak duduk, apa kursi nya tidak nyaman?".


"Berhenti bersikap seperti anak kecil, cepat duduk di kursi" Emosi ku agak naik melihat mereka.


"Maaf tuan, kami tidak akan duduk" Jawab Say dengan berani.


"Terserah kalian"


Setelah menempuh perjalanan jauh akhirnya kami berhenti di tempat yang Nhean tunjukkan, saatnya berjalan sedikit. Melihat keadaan sepi baru melakukan teleportasi.


Semoga saja Mina masih tinggal d sini. Bel rumah nya ku tekan, satu kali belum ada yang keluar. Memberikan jeda sedikit lalu menelan kan kembali.


"Siapa?"


Syukurlah dia masih tinggal di sini. Betapa terkejut nya dia saat melihat ku berdiri di depan rumahnya, ekspresi nya sama seperti ketika mendapatkan kejutan di hari ulang tahun, dia menutup mulutnya dengan kedua tangan, kedua retina matanya membesar karena tidak percaya yang ia lihat. Ku fikir dia sudah lupa pada ku tapi melihat respon nya dia ternyata dia masih ingat pada ku. Dia terpaku di tempat.


"Apa kabar Mina" Ucap ku sambil melambai. Dia tidak menjawab, dia masih diam terpaku.


"Apa kau masih ingat pada ku? Maaf datang tanpa memberi mu kabar"


"Nara? kau sungguh Nara?"


"Iya aku. Ku fikir kau sudah lupa pada ku"

__ADS_1


__ADS_2