Pengawal Gadis Maut

Pengawal Gadis Maut
Konspirasi #10


__ADS_3

"Aku tidak. Eemmm" Lina kembali mendesah karena Zoe mencium nya dengan kasar.


Dia sangat menikmati ekspresi wajah Lina baginya itu sangat indah.


"Mengapa tidak dari dulu kita melakukan ini, Aku sangat menanti hari ini"


"Tolong berhenti, aku tidak mau melakukan nya lagi"


"Tenang saja, tidak akan sakit akan ku lakukan dengan lembut"


Hey! ini bukan adegan 21+. Ini hanya rencana Zoe untuk melukai Lina, seorang mafia tetaplah mafia dari awal otaknya sudah di program bagaikan robot penghancur tidak memiliki perasaan, dia hanya menjalankan misi nya. Lina sudah melanggar aturan, seharusnya misi pembunuhan putri CEO MJ di selesaikan oleh Lina tapi dia menolak, tindakan Lina ini dianggap sebagai pembangkang dan harus di hilangkan dari daftar anggota mafia dengan cara di bunuh.


"Berhenti main nya" Dengan cepat mimik wajah Lina berubah menjadi mode membunuh.


"Hehehe sangat sulit menjebak mu, aku sangat salut pada mu kau adalah mafia sejati"


Zoe bangkit berdiri menatap Lina dengan tajam yang juga sudah berdiri, dia mengeluarkan dua botol kecil berisi racun dan penawar nya, dan menaruh nya di tempat tidur Lina.


"Aku hanya membantu mu mati tanpa merasa sakit, tapi jika kau rindu rasanya di siksa seperti di markas maka kau bisa memilih penawar. Pilihan mu ada pada mu"


Sebelum pergi Zoe melukai leher Lina dengan kuku panjangnya, lalu berbisik pada Lina.


"Anggap saja ini hadiah dari ku" Zoe menjauh, kuku bernoda darah di jilat sambil terkekeh lalu menghilangkan dari pandangan Lina dengan cepat.


Bagaimana ini? apa alasan Lina jika di tanya oleh sahabat nya besok, semoga saja mereka tidak curiga. Tok tok suara pintu di ketuk, hehe rumah Lina bukan seperti apa yang kalian bayangkan, pintu nya tidak punya bel hanya rumah biasa. Awalnya Lina enggan membuka pintu tapi suara ketukan semakin keras dan cepat, dengan berat hati Lina pergi untuk melihat siapa yang datang. Sangat terkejut ternyata yang datang adalah Cerol, dia khawatir melihat Lina pulang dengan keadaan setengah sadar.


"Cerol? kenapa kau datang"

__ADS_1


"Emm tidak apa-apa" Dengan malu, rasa khawatirnya di sembunyikan sebisa mungkin.


"Kau tidak mabuk kan, ini bukan rumah mu" Lina menutupi lehernya dengan tangan kirinya.


"Aku tidak minum, bukanya kau yang banyak minum" Melihat wajah Cerol yang berwarna merah muda Lina seketika mengerti jika dia sedang dikhawatirkan.


"Kau menyesal tidak menggendong ku pulang, iya kan? atau jangan-jangan kau mau menagih janji ku tadi?"


"Aku tidak. Bukan itu maksudku" Wajah Cerol mulai merah terang.


"Jangan malu. Ayo masuk di luar dingin"


Sebenarnya Lina tidak nyaman dengan kedatangan Cerol tapi mau bagaimana lagi tidak mungkin dia mengusir nya, Lina khawatir Cerol akan melihat lukanya karena belum sempat dia mengobati lukanya. Tidak mungkin juga dia terus memegangi lehernya.


Mereka duduk di ruang tamu. Lina sengaja duduk di sebelah kanan Cerol agar dia tidak memperhatikan kondisinya sekarang.


"Aku akan pulang"


"Cepatlah ini sudah malam"


"Aku laki-laki mana mungkin ada apa-apa"


"Iya. iya kau pria dewasa, apa aku harus memanggil mu paman?" Cerol hanya terdiam tak ingin memancing masalah.


Mereka kembali terdiam tak memandang satu sama lain. Hingga akhirnya Cerol berdiri pamit pulang, Lina pun ikut berdiri hendak mengantar. Cerol berbalik melihat Lina, niatnya ingin mengambil jaketnya, tapi seketika pupil matanya melebar melihat ada darah yang keluar dari celah jari-jari Lina. Spontan dia menarik tangan Lina, dia terpaku melihat leher Lina yang terluka dan mengeluarkan lumayan banyak darah.


"Leher mu?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku menggaruk nya dengan keras tanpa sadar sampai terluka"


"Duduk akan ku perban" Dengan sedikit dorongan dari Cerol Lina terduduk kembali.


Cerol mengambil kotak p3k dengan hati-hati dia membersihkan luka Lina dengan pelan.


"Aku harus memberi mu ciuman dua kali" Ucap Lina mencoba menghilangkan suasana tegang.


"Berhenti bercanda" Cerol sangat serius membalut luka Lina.


"Kekasih mu beruntung mendapatkan diri mu"


"Tidak punya" Jawabnya dengan ketus.


"Jangan mencoba mencarinya" Cerol seperti membaca fikiran Lina.


"Hey! jangan begitu. Tidak baik jika pria tampan seperti mu menjomblo. Akan ku carikan, beri tahu aku bagaimana tipe wanita mu"


Lina memegang tangan Cerol secara tidak langsung menyuruh Cerol berhenti.


"Beri tahu aku!" Lina menatap serius. Tapi diabaikan oleh Cerol, dia berdiri.


"Usahakan tidak terkena air untuk beberapa hari"


"Bagaimana cara nya aku mandi, atau kau mau membantu ku mandi?" Lina tersenyum meledek.


"Aku pulang, ingat jangan sampai kena air"

__ADS_1


Cerol beranjak pergi tanpa di antar Lina.


__ADS_2