
Pagi yang begitu indah hari baru terpancar terang di depan mata, pagi ini sepertinya Lina sudah sehat bugar kembali nampak dia tengah bersiap-siap ke sekolah di ambilnya tasnya dia menuju ke meja makan di sana dia sudah tunggu oleh ayah dan ibunya, dia melahap sarapannya dengan asik.
“Bagaimana keadaan mu apa lebih baik” Tanya ayahnya.
“Em”
“Kau sudah tidak apa-apa pergi ke sekolah pagi-pagi begini?”
“Aku baik-baik saja”
“Ayah akan mengantar mu ke sekolah”
“Tidak perlu, aku jalan kaki saja sekalian olahraga pagi dengan begitu aku merasa semakin lebih baik”
“Baiklah jika itu mau mu ayah tidak bisa berkata apa-apa lagi” Ucapnya agak murung.
“Aku pergi dulu” Lina bangkit dan berlalu dari mereka tapi langkahnya ia terhenti dia kembali lagi ke meja makan, untuk pertama kalinya dia mencium pipi ibunya, saat itu ibunya sedang berdiri membereskan piring Lina tentu saja ibunya terkejut sekaligus senang, ayahnya juga tak ia lewatkan pipi ayahnya di ciumnya juga ayahnya senang melihat perubahan sikap Lina dimana selama ini mereka seakan tak Lina anggap sikap cuek dan tak peduli itu sudah biasa mereka rasakan.
Lina berangkat sekolah dengan ragu-ragu apa yang terjadi padanya kemarin malam sangat mengganggu fikirannya perasaannya campur aduk dia tak tahu bagaimana meluapkan perasaannya biasanya saat marah dia merusak beberapa barang tapi karena berada di rumah orang tuanya dia tidak melakukan kebiasaannya itu, tak mungkin dia melempar semua barang-barang yang ada di sana apa kata ibu ayahnya nanti masih ada rasa hormat yang menahan tindakannya yang gila itu, di perjalannya menuju ke sekolah beberapa orang yang sedang lari pagi menyapa dia kebetulan mereka bertetangga dengan orang tuanya jadi tentu mereka kenal dengannya, Lina membalas sapaan hangat mereka dengan senyuman manis dia berusaha menutupi pandangan matanya yang tak fokus sedang memikirkan sesuatu tapi dia tetap berjalan lurus menjalani jalan yang begitu keren menurut ku pepohonan besar menjulang tinggi dan rimbun berjejer rapi di samping kiri kanan melindungi para pejalan kaki beserta mereka yang sedang berolah raga dan jiwa dari panasnya cahaya lampu dari sang mentari pepohonan menjaga suhu agar tetap sejuk polusi tidak bisa lolos darinya dia menghirup semua racun udara sebelum sampai di hidung mereka. Memang jika pagi-pagi begini beberapa helai dedaunan kering terlepas dari rantingnya jadi kelihatan seperti berada di musim gugur asik kan?, kembali lagi kita ke Lina.
Kondisi jalan yang akan di lalui memang sangat berbeda dengan jalan ke rumah pribadi Lina tahu sendiri bagaimana keadaannya begitu sepi sunyi di tambah kesan menyeramkan sangat berbeda jauh bila dibandingkan dengan jalan ke rumah orang tuanya tetapi itu tidak membuatnya menjadi berubah fikiran untuk tinggal bersama mereka dia tidak ingin merepotkan mereka, sebenarnya Lina sudah sah di mata hukum menjadi anak mereka tapi tetap saja Lina tidak ingin membuat repot mereka dengan kebutuhannya dia merasa bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dan Lina juga sekarang masih tetap bekerja di restoran yah bisa dikata mewah dia masuk pada hari jumat sabtu minggu saja itu disesuaikan dengan kesibukan sekolahnya, pemilik restoran tahu jika dia masih sekolah untungnya pemilik restoran memberikan dia keringanan alasannya pastinya bukan karena statusnya itu karena dia tak pernah mengungkapkan identitasnya juga mengenai posisinya dalam keluarga tidak ada seorangpun yang tahu hanya pihak yang bersangkutan saja yang tahu segalanya, ayahnya berusaha membangun tembok beton agar tak ada orang yang tahu kebenaran tentang Lina sungguh mengharukan bukan? Andai aku juga punya orang tua seperti mereka...ah sudah lupakan kita fokus pada Lina dulu.
__ADS_1
Hampir setiap ia melewati jalan ini dedaunan berjatuhan seakan menyambut dirinya di iringi suara hembusan angin seperti sedang membisikkan sesuatu padanya dengan lembut menjadikan rambutnya di mainkan olehnya tanpa ragu, dan ketika angin itu menyambar dirinya untuk yang kedua kalinya retina matanya kembali pada kesadarannya kali ini dia benar-benar memfokuskan pandangannya “Aku harus mengakhirinya” serunya membatin terlintas dalam benaknya sekaligus membangkitkan semangat dan gairah setidaknya itu membantunya melangkah dengan pasti tanpa keragu-raguan lagi.
Sudah menjadi kebiasaannya sebelum ke kelas dia mampir dulu di kantin mengisi kembali tenaganya setelah berjalan cukup jauh baru kemudian dia ke kelasnya sekadar hanya untuk menyimpan tasnya tujuannya adalah ke perpustakaan lama, saat itu sekolah masih sepi baru beberapa pengujung sekolah yang datang, selain bersantai dia juga gemar membaca buku-buku yang ada di sana terutama tentang alam semesta buku yang membahas tentang perbintangan juga tak kalah membuatnya tertarik, dia terlihat sedang membaca buku perbintangan yang belum terbaca habis dia duduk di lorong rak buku dengan kaki disilangkan kaki kanannya di tekuk agak tinggi sehingga lututnya menyamai tinggi dadanya dan kepalanya agak di tundukkan sedikit melihat lembaran bacaan, kesempatan mumpung tidak ada orang lain melihat dia lantaran karena caranya itu membuatnya terlihat tidak sopan dia juga tidak mengunci pintu takut temannya datang dan tak bisa masuk, saking asiknya dia membaca Zoe yang muncul secara tiba-tiba di hadapannya tidak ia sadari dia baru sadar saat Zoe menyapa dirinya.
“Wah kau terlihat seksi seperti itu” Lina segerah meluruskan kakinya dan bangit berdiri.
“Kau?! Apa yang kau lakukan di sini muncul secara tiba-tiba begitu sangat tidak sopan”
“Benarkah? Bukankah yang tidak sopan itu kau duduk dengan cara seperti itu tidak baik loh” Dia tertawa kecil lebih terdengar seperti sedang mengejek.
“Terserah kau saja” Lina berlalu darinya untuk menghindar dari bahaya.
“Sampai kapan kau akan menghindar dari ku sepertinya kau lupa masa kontrak mu masih ada pada ku”
“Aku takkan pernah diam sampai kau mengakuinya, keputusan mu akan merubah nasib banyak orang jadi fikirkanlah baik-baik dulu”
“Apa sebenarnya maksud mu?” Memutar seluruh badannya untuk melihat Zoe yang berada di belakangnya.
“Kau akan tahu setelah dia datang pada mu seseorang yang lama tak berjumpa dengan mu kau pasti terkejut saat itu juga” Dia terseyum sambil menatap Lina dengan penuh rasa puas atas rasa panik yang terbentuk di wajah Lina.
“Sia....” Dia menghilang secara tiba-tiba lagi dan kembali muncul di belakang Lina.
__ADS_1
“Saat waktunya tiba kau akan tahu tapi sebelum hari itu tiba ayo kita bersenang-senang” Lina segerah memutar melihat Zoe kini berada di belakangnya, Zoe mulai mendekatinya dengan langkah berat Lina melangkah mundur menghindar dari Zoe.
Untunglah temannya Yumina Cerol dan V datang pada waktu yang tepat itu mampu menghentikan niat jahat Zoe pada Lina, Yumina memanggil nama Lina membuat mereka berdua terkejut terutama dengan Zoe ketika suara Yumina bergema Zoe melirik ke belakangnya dia terdiam sejenak mendengarkan lalu di liriknya kembali Lina yang nampak ketakutan senjak kemunculannya dan dia terseyum lagi mengoda Lina agar lebih merasa takut padanya, suara Yumina sekamin dekat ke arah mereka berdua Zoe menghilang dari pandangan Lina.
“Lina?!” Teriak Yumina memanggil.
“A.aku di sini” Dicobanya untuk tenang jatungnya berdetak kencang ketakutan, dicegahnya mereka untuk mendekat alasan Lina adalah jika dia sedang berganti pakaian alasan yang lumayan bagus untuk menghentikan mereka sebentar sembari dia menenangkan dirinya.
“Kami fikir kau tidak datang hari ini tapi tas mu ada di kelas jadi kami ke mari mencari mu”
“Aku sudah baik-baik saja” Hatinya sudah agak tenang sekarang dia memberanikan dirinya untuk bertemu mereka.
“Syukurlah kau baik-baik saja sekarang kemarin kau membuat kami panik aku takut jika terjadi sesuatu pada mu karena diri ku” Lina mengelus kepala Yumina dengan lembut itu yang biasa dilakukan untuk menenangkan temannya.
“Aku juga mau di sentuh” Kata V merajuk hanya bercanda dia.
“Jangan coba-coba ya” Geretak Yumina.
“Kau ini”
Mereka tertawa bersama tetapi Cerol tidak dia memperhatikan Lina seakan dia tahu jika senyuman itu di ukir untuk menutupi sesuatu yang tergambar jelas di matanya.
__ADS_1
“Kita harus pergi sekarang kelas sebentar lagi di mulai” Seru Cerol tiba-tiba.
“Kau benar ayo Lina” Ajak Yumina.