Pengawal Gadis Maut

Pengawal Gadis Maut
Alam baka #2


__ADS_3

Seperti biasa dia duduk menjaga ku sepanjang hari sambil menegaskan tatapannya pada boneka beruang yang diletakkan di atas meja kecil samping tempat tidur, 2 malam mata ini terlelap selama itu juga dia setia duduk manis tak bosan terus memantau keadaan ku. Perlahan membuka mata dan menopang sendiri setengah badan supaya bisa bersandar ditempat tidur, ku usap lembut kening ku yang sedikit lembab karena keringat. Nahas tatapan sedingin es mengarah pada gerak gerik ku tidak tahu apa artinya yang jelas bukan hal menyenangkan untuk membalas pandangannya, sengaja menoleh kehadapan jendela memastikan apakah ini malam atau siang hari dan nampaknya aku terbangun disiang hari tidak masalah itu juga bagus sudah lama tidak bermain diluar sambil merasakan kembali kehangatan mentari. Jangan salah paham walaupun ini adalah tempat persinggahan tapi sebisa mungkin akan dibuat serupa dengan alam fana anggap saja ini sebagai tempat wisata alam hanya saja bagaimana tempat ini dipandang itu tergantung dari hati para pengunjung.


Kenyamanan ku mulai terganggu pandangan itu membuat ku risih jadi ku putuskan pergi dari suasana yang begitu canggung lenyap lebih cepat dari pada kedipan mata menuju ladang bunga tempat andalan bermain dengan angin, berputar putar menari bersama bunga dengan alunan musik dari bisikan lembut sang angin sambil mengukir senyuman manis dalam dunia beracun dalam ilusi cinta dalam kegelapan hati. Semuanya tercampur menciptakan madu beracun itu sudah ku cicipi apa yang ku inginkan kucoba dengan senang hati kecuali satu hal, mengerti sajalah jika kau +21 pasti paham. Ku angkat kedua tangan sejajar dengan bahu sambil sesekali berputar lalu berlari sejauh para bunga ini menjalar menutupi tanah, hembusan angin kini menjadi lebih kencang dari sebelumnya mengayunkan rambut ku dengan kuat langkah terhentikan pikir ku sudah terlalu jauh ternyata bunga ini menguasai halaman rumah ku, sialan harus ini dibasmi membatasi pertumbuhannya jangan sampai seluruh rumah ku menjadi ladang bunga, susah payah menata tempat ini tak akan ku biarkan dikacaukan oleh apapun dan siapapun.


Lelah juga berlari kembali istirahat saja nanti baru ku urus para bunga ini, dengan cepat berbalik badan ternyata sosok yang sedari tadi ku hindari muncul didepan mata dia berdiri menyaksikan semuanya ku balas menatapnya dengan hambar, saling menatap tanpa bahasa tubuh atau nada hanya menatap memperhatikan dari jarak cukup dekat. Mungkin dia sudah bosan melihat sikap ku kaki kanannya melangkah ingin menghampiri diri ku namun tak ku kabulkan harapannya diri ini menolak berdekatan dengannya senyum menyeringai tergambar jelas sebelum menghilang dari sorotan matanya, kecewa berat aku tak lagi melayani permainannya, ouw sayang sekali sudah sekian lama tidak merasakan sentuhan hangatnya tapi tubuh ini menolak tidak ada yang bisa ku lakukan jika tubuh ini sudah berkehendak.


Dalam ruang yang penuh buku dan kertas aku sibuk mengacak-acak tumpukan kertas, ku lempar keatas kertas yang sudah kucek sehingga berjatuhan tak karuan, kesabaran ku mulai memudar sasarannya tumpukan kertas ditangan kuhamburkan semuanya karna kesal kehadirannya tidak kusadari dia berdiri dekat sekali didepan ku dan sekali lagi kami saling bertatapan sayangnya masih ada hal yang harus diselesaikan menyapa dia dengan sopan nanti saja, kunyalakan api pada setiap kertas yang masih berjatuhan dan mereka terbakar menjadi abu sebelum menyentuh lantai, ku tanya apa maunya tapi dia membisu terserah kau sajalah lebih baik aku pergi. Sekali lagi menghilang dari genggamannya kau tahu alasan ku membakar kertas tadi itu karena meleyapkan batasan yang dibuatnya untuk menahan ku.


Masih berusaha mencari kertas bertuliskan batasan kepemilikan lahan, laci sudah kuacak-acak semua barang didalamnya berserahkan dilantai .

__ADS_1


“Dimana kertas itu? merepotkan saja”


“Sibuk sekali kau cari apa?” Dia berbaring dikasur dengan santai.


“Kalau tidak ada urusan penting pulang saja!” Agar perkara tidak tambah rumit kutinggalkan dia sendirian dan hanya terdiam tak berdaya.


Karena kertas itu tidak ku temukan jadi aku putuskan pergi menemui pengadilan wilayah, tugas mereka adalah membagi adil wilayah kepada mereka yang punya kedudukan dan pengaruh besar terhadap alam baka. Tanpa menunda lagi langsung menuju kesana.


Saat masuk kedalam ruang tunggu agak penuh ku fikir cuma diri ku hari ini punya urusan dengan pengadilan, tempat duduk nyaris tidak ada yang kosong ais benar-benar sial datang diwaktu tidak tepat begini apa pulang saja? Esok baru datang lagi tapi sia-sia tenaga ku jika pulang sekarang, lihat dulu keadaannya jika terlalu lama aku pulang saja karena menunggu adalah hal membosankan.

__ADS_1


Sambil berjalan ku amati kursi kosong masih ada atau tidak sementara itu terdengar bisikan-bisikan serta tatapan mata menuju pada ku bukan hal yang buruk mereka bicarakan tapi mereka bertanya “kenapa aku datang kesini?” ku abaikan pandangan mereka mata ku sibuk mencari kursi kosong mungkin masih ada tersisah, bisikan mereka tidak penting tapi yang membuat ku risih adalah saat aku berjalan mendekat mereka menghindar takut aku duduk disampingnya dasar apa nasib sial mengikuti ku dan takut mereka tertular? Ingin rasanya ku...ah lupakan!. Benar-benar kurang beruntung hari ini kursi tidak ada tersisa terpaksa pojokan jadi solusi, sudah dipojok begini masih saja mereka menoleh sesekali sambil saling berbisik ingin teriak dan bilang “sepertinya kalian tidak punya kesibukan hari ini bagaimana kalau berkunjung kerumah ku?” sabar-sabar ini ujian tunggu 30 menit.


Eh? Ku kira akan menunggu lama salah satu staf melihat ku datang dia memberi tahu atasannya tak lama kemudian aku diminta masuk syukurlah tidak sia-sia kaki mulai pegal karena berdiri, sorotan mata kembali mengiringi langkah ku “ Baguslah tuan Nara dipanggil duluan jika tidak mungkin aku tidak akan mau berdiri walau dipanggil sekalipun” Ucap salah satu dari mereka dan yang lainnya ikut mengiakan astaga kalian sudah mati mana bisa aku menjemput ajal kalian lagipula mereka juga punya kedudukan penting di alam baka kenapa harus takut pada ku.


“Apa maksud mu dengan pengurangan hak, otak mu sudah tidak waras? Aku baru pergi beberapa tahun apa ini menurut mu adil?” Dengan suara lantang ku luapkan emosi hingga terdengar sampai keluar ruangan.


“Tuan mohon tenang dulu! Perlu ingat peraturan pengadilan ayat 10 pasal 203 menyatakan bahwa...” Pak tua ini berusaha menekan ku, didengar dari nada suaranya sepertinya dia menginginkan sesuatu.


“Cukup.cukup aku tahu, aku sudah tahu. Jadi kebijakan tidak diberlakukan begitu?”

__ADS_1


“Tuan Nara sangat paham dengan hukum alam baka saya tidak berani menentang anda, jadi saya sarankan besok datang dan kita bicarakan masalah ini bagaimana?” Otak ku berfikir sebentar dan keluar dari ruangan.


Dengan wajah kesal mengambil langkah cepat kembali ke lobi sementara itu staf lobi mengejar ku dari belakang katanya jam 10 pagi jadwal pertemuan dia juga bilang “Saya bisa menyuruh orang untuk mengantar tuan pulang” namun ku tolak dengan ketus.


__ADS_2