
Depan sebuah bangunan megah menjadi tempat pertumpahan darah dari dua kekuatan pasukan militer yang sama-sama mendominasi, namun pertempuran ini adalah bagian dari perang saudara antar sebuah keluarga bangsawan Ariville ketika sebuah pihak lawan mulai melakukan penyerbuan.
"Sungguh disayangkan jika di dalam pemerintahan Duke Ariville telah terjadi sebuah pemberontakan ..."
Namanya adalah Arav berusia 15 tahun, dia bukan orang yang kebetulan berada di tempat ini, bukan juga seseorang yang telah merencanakan perang besar tersebut.
Arav tersenyum tipis ketika di sekitarnya telah ada ribuan prajurit yang kehilangan nyawa, dilihatnya sesosok pejuang tangguh dengan gagahnya menampakan diri ke hadapannya.
"Tuan muda, lama tidak berjumpa kelihatannya kau baik-baik saja ..."
"Kau adalah ..." Arav ingat betul siapa gadis dihadapannya ini adalah Masket yang berusia 12 tahun.
Arav mengingat selama ini hanya Masket yang mau berbicara dengannya dibandingkan dengan gadis-gadis lain, tetapi kemunculan Masket di tempat ini belum tentu sebuah kebetulan.
"Kupikir kau adalah pengawal setia. Ternyata aku cukup bodoh menggangapmu sebagai orang baik." Arav menghela nafas saat Masket tersenyum lebar sambil menyombongkan diri.
"Tuan salah paham, dari dulu saya hanya melaksanakan satu perintah dari seseorang ..."
Sebelum Masket berbicara lebih jauh, Arav menarik pedangnya dan membungkam mulut gadis ini ketika lawannya tersebut terpental menabrak bebatuan.
Masket adalah pengguna senjata jarak jauh, bukan keahliannya dalam bertarung jarak begitu dekat sehingga mampu mengalahkan Arav dengan satu serangan.
"Kau pikir bisa mengalahkanku hanya dengan serangan seperti itu?! Pemunculan Senapan!"
Masket menaikan tangannya, terlihat sebuah benda muncul setelah cahaya biru terang bersinar membentuk pola lingkaran.
Arav tidak kalah terkejut melihat, mana di tubuh gadis ini bukan menjadi alasannya untuk menciptakan jarak ataupun kekuataan yang dimiliki gadis ini, namun bola-bola kecil yang dimuntahkan oleh senjata ini membuatnya sedikit kesulitan mendekat.
"Kelas penembak, sangat jarang seseorang memiliki kemampuan seperti ini di Ariville bahkan di negara ini!" Arav tertawa kecil.
Satu demi satu peluru yang meluncur cepat ke arahnya berhasil di hindari, Arav tidak membutuhkan banyak waktu untuk mendekat ke arah Masket setelah mengamati baik-baik kecepatan menembak senapan tersebut yang terbilang lebih lambat dari serangannya.
"Kau ... Bagaimana ..." Masket terbata-bata ketika berbicara, dia sudah tumbang di tanah ketika serangan tadi berhasil mengenai tubuhnya sementara senapannya terhempas, berada cukup jauh dari jangkuan tanganya saat ini.
__ADS_1
"Mungkin sudah saatnya untuk menghabisimu ..." Arav tersenyum tipis melihat Masket yang menunjukan reaksi ketakutan, dia menyeringai lebar ketika sebuah ide terlintas di benak pikirannya begitu memandang wajah polos gadis tersebut.
***
"Bersulang untuk kemenangan kita! Aku yakin Duke Ariville sudah lari dari kota ini, mungkin sudah kabur ke wilayah lain begitu mendengar tentang kemenangan pasukan kita!" Pria bernama Aidyn buka suara.
Seisi ruangan makan pun dipenuhi oleh belasan orang yang masing-masing tengah memegang segelas minuman anggur.
Memang setelah perang di Antansia berakhir, tidak jarang pihak pemenang merayakan hal tersebut dan menangkap pihak yang kalah sebelum menjadikan budak, tidak jarang pula para gadis dijadikan selir.
Masket sudah berada di tempat ini sejak 1 menit yang lalu, alasannya tidak langsung masuk ke dalam adalah karena cukup terkejut melihat perayaan ini.
"Tuan Aidyn ... Saya telah kembali dari medan perang," Masket melangkah maju memasuki ruangan.
Parasnya yang cantik membuat nafsu orang-orang yang mabuk tidak tertahankan langsung meliriknya, mengira bahwa Masket adalah salah satu dari wanita penghibur.
Aidyn memperkenalkan, "Kalian jangan salah paham. Dia adalah orang dalam kepercayaan Arav, tetapi sebenarnya adalah mata-mataku yang paling setia dan tidak pernah gagal dalam menjalankan tugas yang telah kuberikan, aku minta kalian untuk menghormatinya." Belasan bangsawan tersebut berhenti melirik dan menundukan kepala setelah mendengar penjelasan Aidyn, "Masket, apakah kau berhasil membunuh bocah tak berguna itu?"
"Sebelum itu hamba ingin menyampaikan beberapa pertanyaan ..." Masket memandangi Aidyn yang penasaran, karena baru pertama kali atasannya melihat tingkah tak biasa bawahannya ini, "Apakah tuan akan membuat wilayah ini damai dan maju di masa depan dengan terbunuhnya putra Kadipaten Ariville ?"
"Katakan saja bahwa dia sudah tewas di tanganmu! Seratus? Seribu? Bahkan puluhan ribu keping perak akan kuberikan asalkan setelah ini tutup mulutmu dan jaga cara bicaramu! Mengerti?"
Masket menggangukan kepala, dirasa ucapan Arav memang benar namun dia belum sepenuhnya yakin, "Dia sudah tewas di tanganku, tuan tidak perlu khawatir karena setelah terkena-"
Krek
"Sepertinya ada orang yang sedang membicarakan tentang kematian palsuku?" Ucap seorang pria dengan gagahnya masuk setelah pintu ruangan tiba-tiba terbuka.
Pria yang tampan namun penuh dengan luka di seluruh tubuhnya bahkan pakaian yang digunakannya berlumuran dengan darah, tetapi orang-orang bahkan para bangsawan lain mengerutkan dahi karena menemukan hal yang tidak biasa dari pemuda berusia 15 tahun tersebut.
"Arav?! Ka-kau masih hidup?" Masket tercekat di tempatnya sambil menunjuk histeris ke arah sesosok pejuang tersebut karena sebelumnya dia yakin Arav sudah tewas di tangannya setelah menerima tembakan sebuah pistol beberapa waktu yang lalu.
Membuat Aidyn dan belasan bangsawan lainnya melempar tatapan dingin ke arah Masket, baru pertama kali gadis tersebut gagal menjalankan misi dan mengecewakan banyak pihak.
__ADS_1
"Hm ... Menarik ... Bagaimana rasanya gagal dalam menjalankan misi?" Arav memasuki ruangan.
Meski orang-orang menggangap tindakannya konyol karena datang langsung ke kediaman Aidyn tanpa membawa senjata.
"Kak Aidyn, apa hukuman yang akan kau berikan kepada seseorang yang bahkan tidak mampu menjalankan-" Dia berhenti berbicara ketika tiba-tiba saja sebuah pedang di tangan Aidyn menembus tubuhnya.
Tubuh Arav yang terasa berat pun seketika terjatuh ke lantai setelah mengamati pedang yang menusuk tubuhnya.
"Berisik ... Orang bodoh mana yang datang ke tempat ini dengan tangan kosong menghadapiku yang memegang senjata?" Aidyn membuat puluhan bangsawan lain tercengang dengan tindakannya.
Masket pun tidak kalah terkejutnya melihat kejadian tadi, memandangi tubuh Arav yang terbaring di lantai dengan mata yang bergetar, "Tuan ... Saya bisa menjelaskan kepada anda yang sebenarnya terjadi! Kumohon ... berikan saya-"
"Tidak perlu penjelasan lagi, hukuman bagi bawahanku yang gagal menjalankan misi adalah dengan mati di tanganku ..." Aidyn sudah berada di hadapannya, sambil mengayunkan pedang.
Ayunan pedang pria ini nyatanya tidak berhasil menghabisi Masket seperti yang dilakukannya sebelumnya, terlihat gadis tersebut melompat dengan bantuan mana dalam jumlah besar.
"Tuan, mohon berikan saya satu kesempatan terakhir untuk menebus semua ini!"
"Kau ... Mengapa hanya diam?!"
Aidyn tidak menjawab melainkan memberikan perintah kepada bawahannya.
Masket terjatuh saat di belakangnya ada beberapa petarung ahli yang menghantam tepat di bagian punggung tubuhnya.
Masket bukannya tidak mampu mengimbangi petarung-petarung ini namun karena kondisi tubuhnya yang sekarang ini dalam masa pemulihan terpaksa membuat dirinya tidak mampu mengerahkan seluruh kekuatan secara maksimal.
Aidyn memperhatikan gadis tersebut yang kini tengah berlutut seraya meneteskan air mata.
"Kaupikir bisa menipuku? Apa sekarang pengikut setiaku telah menjadi seorang penghianat?"
"Tidak ... Bukan begitu! Anda salah paham!"
"Kalau begitu? Bisakah kau menjelaskan semua ini?" Tegas Aidyn.
__ADS_1
Mulut Masket terbuka lebar namun sepatah katapun tidak kunjung terucap, menemukan tubuh Arav yang terbaring di lantai seakan mengeluarkan cahaya menunjukan reaksi yang tak terduga.