Penguasa 10 Pedang Legenda

Penguasa 10 Pedang Legenda
Serangan Balik


__ADS_3

"Apa katamu?! Dyrk dan seribu pasukannya tewas dalam pertempuran?"


Avan Ariville mendengus kesal, selain masalah tentang bahan pangan pasukannya yang serba terbatas, dirinya juga direpotkan dengan berita kegagalan itu yang semakin membuat kepalanya terasa sakit.


Memang membutuhkan jalur khusus untuk mengirim pasokan makanan dari kota lain menuju Arnet, di kota ini hanya tersisa bahan makanan dalam jumlah kecil maka diperlukan sebuah bantuan dari berbagai pihak.


Namun baru-baru ini kelompok Mawar Merah melakukan pergerakan seperti menguasai jalur dan menghadang bala bantuan pemasok makanan, hal ini tentunya membuat Avan Ariville geram atas pemberontakan yang dilakukan oleh mereka sekaligus menjadi murka.


"Ini sangat mengejutkan, bahkan pejuang tangguh seperti Dyrk tidak mampu untuk melawannya, sepertinya semua ini tidak akan berjalan mulus ..." Bisik seorang komandan pasukan.


"Apakah Duke Sanjaya ini akan mengambil alih kekuasaan?" Rekannya yang lain juga berfikir demikian, entah karena pasukan Vinterm ataupun keluarga Ariville yang pasti mereka akan menghadapi banyak pihak sekaligus.


Di lain sisi, Maya dan Viscount Ariville telah membuat kespakatan besar yang kemudian mengerahkan masing-masing kekuatan militer besarnya menuju kota Arnet.


***


"Menurut rencanaku, seharusnya Viscount telah mengerakan pasukannya menyeberangi perbatasan ..." Arav membentangkan sebuah peta besar yang diyakini sebagai lokasi target di atas meja.


"Dan ... Tiga Anggota Mawar Hitam akan secara langsung memimpin pasukan gabungan Vinterm-Arville untuk menyerbu kota ini ..." Masket menambahkan, sambil menunjuk ke arah peta.


Duke Ariville yang mengetahui pemuda dihadapannya ini selain pandai bertarung juga memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas membuatnya terkejut dengan rencana Arav karena disiapkan dengan matang, memang dia merasa sosok seperti Duke Sanjaya memang pantas memegang posisi sebagai penguasa wilayah Vinterm.


"Mengenai pasukan tadi ... Apakah kau akan benar-benar menghabisi mereka semua?" Duke Ariville menyipitkan mata.


Ingin rasanya dia mendengar atau setidaknya mengetahui tindakan Arav yang selanjutnya, setelah menyaksikan langsung pemuda tersebut memenangkan perang tadi dengan hasil yang diluar perkiraannya.


Di Antasia, seseorang yang menguasai sihir biasanya tingkat orang tersebut berada di kelas penyihir, kemudian mendapatkan julukan ahli sihir jika kemampuannya setara dengan 5 petarung ahli ataupun 3 penyihir biasa.

__ADS_1


Namun setelah melihat gerakan bertarung Arav tadi mungkin tidak hanya mampu menguasai sihir tapi juga seorang ahli dalam menggunakan senjata dari penampilannya.


Biasanya berada di kelas Ahli Pedang di tingkat tinggi, jadi Duke Ariville menduga Arav mampu menguasai keduanya, cukup terkejut karena baru pertama kali melihat seseorang yang dapat menguasai kedua kelas sekalipun.


"Tentu saja melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin untuk mendapatkan kepercayaan dari warganya ..." Jawab Arav tegas.


"Apakah ada yang bisa saya lakukan untuk ikut terlibat dalam pertempuran ini? Tentunya anda tidak mungkin meminta saya untuk diam saja bukan?" Duke Ariville bersikeras, meskipun dia menyadari Arav berniat tidak melibatkannya terlalu jauh.


"Hmmm ... Cukup mudah, anda hanya perlu berdiam diri di tempat ini sampai bawahannku berhasil menyelesaikan tugasnya ... Mungkin sekarang mereka sudah mencapai kastel kota Arnet ..." Arav tersenyum lebar saat menyikapi pertanyaan Duke Ariville, dia rasa saat ini kota Arnet kemungkinan dipenuhi dengan pertumpahan darah dan pasukannya kini tengah menyerbu kota tersebut.


Di satu sisi, Viscount Ariville memegang kendali pasukan sebanyak 10.000 prajurit, jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dengan Maya dan anggota Mawar Sembilan yang memimpin lebih dari 20.000 pasukan gabungan dari berbagai pihak termasuk bantuan dari ibu kota dan beberapa penguasa wilayah sekalipun.


Berbeda dengan kondisi pasukan Arav yang segar bugar, di lain sisi pasukan Avan Ariville mengalami penurunan drastis karena kelaparan yang baru-baru ini menjadi masalah utama Avan saat ini.


Kabarnya jumlah pasukan ini bahkan hanya tersisa setengah dari total keseluruhannya, sebab beberapa waktu terakhir petarung pengelana bahkan petualang yang direkrut banyak yang memilih mencari pekerjaan lain, hal ini tentunya berdampak kepada kondisi pertahanan Arnet saat ini.


"Kudengar ... Pasukan paman saat ini berjumlah sekitar tidak lebih dari tiga puluh ribu? Penurunan yang sangat mengejutkan akibat krisis bahan makanan. Ditambah cuaca sedang turun hujan lebat menyebabkan produksi makanan terhambat karena banjir. Mungkin karena ini paman kesulitan mengatasinya ..." Arav bergumam pelan.


"Tuan ... Persiapan keberangkatan sudah selesai, mohon anda segera menaiki kereta kuda yang ada di luar ..." Clara berada dihadapannya sambil berbicara pelan, sekali setelah melihat kemampuan Arav gaya bicaranya sedikit berubah ketika mengetahui betapa menakutkannya Arav saat sedang marah.


"Duke Ariville bisa memilih rute perjalanan dari darat, sedangkan aku akan memilih ruteku sendiri ... Masket, Apakah kau sudah siap untuk terbang bersamaku?" Arav tersenyum lebar.


"Tuan ... Ini ..." Masket hanya biasa tersenyum canggung setelah mendengar perkataan tadi, "Bukankah kita bisa melewati rute darat yang menurut saya lebih cepat daripada mengambil rute lain?"


Arav memegang tangan Masket tidak lama menggendongnya, tubuhnya dan tubuh gadis itu kemudian dialiri energi dalam jumlah sangat besar membuat keduanya dapat meringankan tubuh.


"Jangan-jangan ... Anda berniat untuk ..." Belum selesai Duke Arivile berbicara karena energi yang mengaliri tubuh Arav semakin besar.

__ADS_1


"Clara ... Maaf karena aku hanya bisa membawa Masket ke medan perang tanpa bisa membawamu juga ..."


Seusai berbicara, Arav langsung melesat ke udara dengan kecepatan tinggi membuat angin di sekelilingnya berhembus kencang, tidak lama Clara dibuat mematung akibat tindakannya.


"Haaa!"


Jelas Masket berteriak histeris sambil memeluk erat-erat tubuh Arav sekuat yang dia bisa karena setiap kali Arav terbang semakin tinggi, kecepatan terbangnya meningkat pesat.


***


"Kau akan terbiasa setelah mungkin lima atau enam kali terbang bersamaku ..."


"Lima? Enam?" Masket terlihat lesu, wajahnya juga memucat karena pertama kali terbang setinggi itu, "Tentang istirahat ini ... Mohon maafkan saya karena membuat Anda harus berhenti di tengah perjalanan ..."


Arav memandangi sekitar, dia rasa lokasi tersebut adalah sebuah bukit kecil yang dikelilingi oleh taman bunga, luasnya diperkirakan seukuran dengan kota-kota di Ariville bahkan lebih, sebelum menggelengkan kepala, "Tidak masalah ... Jangan menyalahkan dirimu lagi ..."


Arav sebenarnya bisa saja mengatakan mana di dalam tubuhnya tidak bisa digunakan terus menerus jika saat tiba di tempat tujuan nanti akan digunakan lagi dalam bertarung. Jadi Arav memutuskan untuk beristirahat sebentar sambil memulihkan energinya yang terkuras tadi.


"Baru pertama kali aku bertemu dengan seseorang yang sangat baik dan penuh perhatian sepertimu ..." Bisik Masket pelan ada warna merah di pipinya.


"Tadi kau membicarakanku?" Pendengaran Arav sangat tajam bahkan bisa mendengarkan perkataan Masket yang hanya berbisik sekalipun.


"Ah! Tuan mendengarnya?"


"Tidak perlu menyembunyikannya ... Bahkan aku baru menyadari jika ada seseorang yang akan sedih saat aku mati ..."


Arav tersenyum canggung mengingat setiap kehidupannya di dunia lamanya, dia adalah seorang anak dari keluarga yang sangat kaya namun tidak mendapatkan perhatian lebih dari orang tuanya.

__ADS_1


"Jika dipikir-pikir lagi, mungkin hanya kaulah yang paling bisa kupercaya ..." Seusai berbicara Arav langsung menemukan mimik wajah Masket berubah drastis menjadi terpana atas perkataannya, sebelum menemukan hal yang tak terduga lagi saat bibir gadis tersebut menyambar bibirnya.


"Ini adalah sebuah hadiah yang harus kuberikan karena Tuan mengatakan hal yang membuatku senang ..." Masket tambah gugup melihat reaksi tenang Arav, padahal di dalam pikiran Arav dirinya merasa cukup terkejut atas tindakan Masket.


__ADS_2