
Kota Can merupakan kota besar yang menjadi ibu kota kerajaan Antasia saat ini, tidak lama lagi akan ada sebuah peristiwa yaitu pertemuan besar dari 5 penguasa wilayah di tempat ini.
Vinterm memang terletak cukup jauh dari Ibu Kota Can, ada dua jalur yang dapat dipilih Arav selama perjalanan yaitu melewati wilayah Vion ataupun melalui jalur udara, yang pasti Arav memilih jalan yang seharusnya dia dan rombongan lewati.
"Kita sekarang sudah melewati perbatasan Vinterm-Vion, tidak akan lama lagi tuan akan menemukan sebuah desa kecil di dekat perbatasan ini ..." Kata Masket ketika berjalan di samping Arav.
Arav sendiri merasa terganggu selama perjalanan karena Aiyla selalu menggerutu sambil memalingkan muka. Alasannya cukup sederhana, yaitu mereka memilih berjalan kaki daripada menggunakan alat transportasi seperti kereta kuda.
Aiyla yang selama ini hanya terbiasa berpergian jauh menggunakan kereta kuda cukup kelelahan dalam menempuh perjalanan, tubuhnya memang tidak sekuat seorang petarung tetapi setidaknya dia mampu berjalan cukup jauh.
"Hmmm ... Ibu kota sangat jauh, aku tidak yakin bisa sampai ke sana tepat waktu jika hanya berjalan kaki."
"Bersabarlah, ini semua demi keamanan agar Mawar Hitam tidak menyerang kita pada saat perjalanan ..." Masket menenangkan sambil tersenyum canggung.
Arav mengirim dua kelompok terpisah dalam perjalanan ini, yang pertama adalah Maya dengan kereta kuda mewah dan pengawalan ketat puluhan pasukan kavaleri menempuh jalan besar menuju kota yang dimaksud.
Sementara dirinya hanya dengan pengawalan setengah kelompok Tameng Berduri namun dengan pakaian seperti seorang petualang melewati daerah terpencil Vion.
"Setelah menemukan penginapan ... Kita akan menginap disana dan akan meneruskan perjalanan besok ..." Arav menghela nafas panjang, dia bisa saja melanjutkan perjalanan selama berhari-hari namun dia tidak mungkin bisa melakukannya.
"Ahh, aku tidak sabar untuk mandi air hangat begitu kita sampai di kota terdekat ..." Aiyla sangat antusias begitu mendengar pemandian air panas.
Pada sore harinya mereka menemukan kota kecil yang hanya dilindungi tembok setinggi mirip kota kota pada umunnya, namun ada sedikit keretakan ataupun bangunan disekitarnya tampak tidak terawat.
Beberapa jam berlalu, Arav sudah menemukan lokasi penginapan yang sesuai. Tempatnya tidak begitu ramai ataupun ruangannya hampir seluruhnya masih belum disewa.
__ADS_1
"Tuan akan memesan kamar untuk beberapa orang?" Gadis yang bertugas sebagai pelayan di penginapan ini mengecurkan keringat sambil tersenyum canggung melihat antrian padat di depannya.
Sudah sejak sebulan ataupun beberapa bulan terakhir dia tidak mendapat kedatangan tamu sebanyak ini dalam satu hari bahkan selama didirikannya penginapan tersebut, ini bisa dibilang adalah sebuah pencapaian baru yang dimiliki tempat tersebut.
"Mereka semua adalah bawahanku, berapa harga untuk menyewa seluruh penginapan ini?"
Pelayan tersebut tersenyum lebar, padahal sebenarnya dia merasa begitu terkejut mendengar semua ini. Ada lebih dari 20 orang yang menjadi tamu nya hari ini, dia merasa Arav bukan orang sembarangan.
"Maafkan saya tuan, kami hanya memiliki sepuluh kamar untuk dua orang yang masih tersisa ... Dan lima kamar yang lainnya sudah terlebih dahulu dipesan oleh beberapa petualang dari ibu kota dan warga sekitar ..." Pelayan itu menjelaskan secara terbata-bata.
"Baiklah ... Aku akan tidur di kamar yang sama dengannya," Aiyla menyeringai cukup lebar sambil memandangi Arav, dia yang sudah tidak sabar untuk menikmati pemandian air panas di tempat ini jadi langsung buka suara.
"Saya juga," Masket melirik Aiyla dengan tatapan dingin.
Pelayan tersebut melebarkan mulut selebar yang dia bisa, dia yang masih berusia sekitar 16 tahun cukup terkejut dengan tingkah Aiyla yang seakan lebih dewasa darinya. Arav sebenarnya menggelengkan kepala sambil menghela nafas berniat untuk menolak keinginan Aiyla namun gadis ini memaksanya membuatnya tidak biasa berbuat banyak.
"Aku akan pergi ke pemandian ... Kuharap kau tidak mengikutiku kesana ..." Aiyla tersenyum tipis, meski dia sendiri tidak keberatan dengan hal tersebut.
Arav menggelengkan kepala, dia dapat merasakan Pelayan yang tadi masih berada di dekatnya tentu berwajah panik mendengar ini.
"Saya akan kembali setelah menemaninya ke pemandian ... Tuan bisa langsung beristirahat di dalam kamar ..." Masket tersenyum memandangi Arav, dia tidak enak hati meninggalkan Arav sendirian meskipun hanya semenit.
Arav mengganguk pelan sebelum menemukan Masket dan rombongan Tameng Berduri yang lain perlahan menghilang dari pandangannya, ini menunjukan bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan.
"Mereka semua sangat menyayangi anda ... Apakah tuan ingin mencoba hidangan makan malam di tempat ini?" Pelayan tersebut menawarkan.
__ADS_1
Ada tiga menu makanan terbaik yang tentu digemari oleh warga sekitar dan masih ada banyak lagi yang tidak kalah populernya.
"Mungkin aku akan mencoba mencicipinya ..." Arav setuju begitu mendengar minuman anggur.
"Baik ... Satu hidangan makan malam serta segelas minuman anggur akan segera kami hidangkan ... Mohon tuan untuk menunggu di meja makan."
Sepanjang malam, Arav menikmati setiap menu makanan di atas meja dan mencoba untuk beristirahat sejenak setelah seharian menghabiskan waktunya hanya untuk menempuh perjalanan panjang.
Dia memperhatikan sekeliling dan hanya menemukan beberapa orang dengan pedang di pinggangnya bahkan ada seorang penyihir di tempat tersebut. Arav tidak peduli, setelahnya dia sudah begitu kelelahan dan menidurkan tubuhnya di atas ranjang dan langsung memejamkan matanya.
"Aku dengar para warga memilih untuk mengungsi karena ada hewan buas yang menyerang desa mereka ..."
"Benarkah? Kurasa ini mungkin misi mendadak yang diberikan serikat petualang untuk kita karena berada cukup dekat dengan tempat itu ..."
"Ahh, sepertinya aku harus tidur lebih awal agar tidak mengacau besok ..."
Ada sebuah perbincangan singkat yang membuat Arav membuka matanya, dia mulai merasakan kedamaian lagi setelah angin pada malam itu berhembus cukup kencang.
"Siapa?!" Arav meningkatkan kewaspadaan. Tiba-tiba saja terlihat seorang gadis cantik, kulitnya sudah bewarna kemerahan tengah berada dihadapannya sambil tercekat ditempatnya.
"Tuan ... Ini saya ..." Masket tersenyum hangat memandangi Arav, meski dia cukup panik sebelumnya.
"Dimana gadis itu? Mengapa dia tidak bersamamu?" Arav menghela nafas panjang, masih tidak dapat menemukan keberadaan Aiyla.
"Dia sekarang sudah tertidur di kamar yang lain bersama dengan anggota Tameng Berduri sebelum selesai mandi." Masket menjelaskan, namun ada sebuah lekukan kecil di bibir gadis ini, "Jadi ... Bolehkah saya tidur sekarang?"
__ADS_1
Arav mengganguk pelan, dia tidak menduga hanya ada satu ranjang di dalam ruangan ini merasa pelayan tadi telah berbohong tentang kamar untuk dua orang.
Akhirnya Arav hanya terpaksa membiarkan Masket kembali tidur seranjang dengannya, dia sebenarnya ingin tidur dilantai tetapi Masket jelas menolak ide tersebut.