
"Apa yang kau?!"
"Cepat tangkap dia!"
Para penjaga ini mulai panik begitu melihat Arav mengeluarkan sebuah pedang yang mampu menimbulkan hembusan angin kuat.
Arav menyerang dengan sangat cepat sehingga prajurit yang berniat meminta bantuan terlebih dahulu tumbang sementara sisanya masih terpana menyaksikan detik-detik terakhir rekan mereka.
Sementara Arav melawan beberapa penjaga di luar benteng, sebuah benda kokoh berbahan kayu dan besi tiba-tiba menutupi jalan dihadapan Arav.
"Pedang Roh Menghancurkan Benteng!"
Pintu gerbang Turi yang terkenal akan ketangguhannya dalam menahan pergerakan penyerang dari berbagai pihak pun tidak mampu menghentikan Arav memasuki kota.
Arav masih memiliki sedikit energi roh, oleh sebab itu dia mampu menggunakan Pedang Roh meskipun tidak semaksimal sebelumnya dan ini dia rasa sudah lebih dari cukup mengatasi situasi tersebut.
"Apa-apaan dia?!
"Kekuatan ini?! Tidak salah lagi pedang pusaka itu adalah Pedang Roh Abadi!"
Di sisi lain benteng, pajurit yang berada di dekat pintu gerbang mulai bergerak mundur kebelakang ketika ada retakan demi retakan menghiasi pintu gerbang tersebut.
PANG!
Arav muncul dan menyerang dengan menggunakan pedang Raja Angin begitu berhasil merobohkan pertahanan utama kota Turi, dia menyerang begitu lincah dan gerakan pedangnya begitu sulit ditebak membuatnya begitu disegani lawan.
"Sekarang kalian akan mengatakan dimana walikota berada atau tidak?" Arav tersenyum tipis, sudah ada beberapa penjaga yang kini tengah berlutut dihadapannya.
"Walikota ... Dia ..."
Seorang pria berusia tidak lebih dari 17 tahun memandang rekannya yang seorang senior bertugas di gerbang tersebut.
__ADS_1
Senior tersebut kemudian mengizinkan juniornya untuk meceritakan keseluruhan informasi yang diketahuinya sebelum dia menambahkan beberapa informasi lain lagi sebagai ganti nyawanya.
"Cukup! Setidaknya kalian sudah menyelamatkan banyak orang karena bersedia membuka mulut ..."
Arav mengerti, dari sekian banyak prajurit tadi hanya merekalah tidak merendahkannya. Tetapi tetap saja jika hanya mengandalkan alasan tadi tidak membuat Arav sepenuhnya percaya kepada mereka.
"Kalian lebih baik tidak berlama-lama mengikuti perintah wakilota Anselm, tidak lama lagi kekuasannya akan digantikan sebaiknya kalian melakukan yang seharusnya kalian lakukan untuk menghindari masalah di masa depan nanti ..." Arav mengatakan yang seharusnya bisa dia lakukan pada guru dan murid tersebut.
Kedua pria tersebut saling berpandangan sebelum terlihat telah memutuskan sesuatu.
"Biarkan kami terlibat dalam rencana besar tuan ..."
"Benar, kami yakin dengan kemampuanmu mungkin akan mampu mengakhiri kekejaman tiran itu!"
Arav tersenyum tipis, menurutnya hanya sedikit orang asing yang bersedia melakukan hal-hal sebaik ini demi masa depan banyak orang tanpa mementingkan diri sendiri.
Arav memutuskan untuk menerima bantuan mereka, dengan begini setidaknya dirinya akan dengan mudah melacak keberadaan walikota Anselm berkat jaringan informasi dari penjaga gerbang kota begitupun dengan bisnis besar pria tersebut.
"Silahkan dinikmati menu istimewa restoran kami ..."
Arav mengganguk pelan, meskipun dia tidak lapar tetapi tidak untuk Aiyla yang tampak begitu menikmati hidangan pada malam hari tersebut.
Arav merasa jika keinginan Aiyla tidak dia penuhi akan menghambat rencana mereka ke depannya, Arav juga setuju untuk menemani Aiyla makan malam juga karena ingin lebih banyak memahami situasi di kota Turi.
"Kota ini begitu besar ... Sayang sekali di balik semua ini ada sesuatu yang mengerikan ..." Aiyla berbicara dengan nada pelan karena sambil memakan hidangan daging di atas meja.
"Lebih baik kau fokus makan daripada berbicara!" Arav memasukan lebih banyak daging ke mulut Aiyla, membuat isi mulutnya penuh dengan makanan, "Memang benar orang-orang di kota ini tidak mengetahui sifat kejam pemimpin mereka ... Mungkin karena ini mereka tidak menentang kepemimpinan walikota Anselm ..."
Arav mengamati sekitar, seperti yang dia katakan tadi sepenuh ruangan restoran dipenuhi oleh penduduk kota yang terus memuji walikota Anselm. Memang benar hanya sedikit orang menyadari sisi lain pria tersebut namun kebanyakan dari mereka solah-olah telah lenyap tanpa jejak.
Pengaruh Walikota Anselm nyatanya bukan hanya telah memanfaatkan kebaikan para warga namun setidaknya para penduduk tersebut kemungkinan akan dijadikan pasukan cadangan jika kekuatan kota Turi mengalami penurunan drastis.
__ADS_1
"Arav, tadi itu sangat tidak sopan! Aku akan memaafkanmu jika kau menyuapiku makan dengan lembut!" Aiyla berhenti menggerutu setelah 2 menit lamanya dan membuka lebar mulutnya.
Pikiran Arav berfokus terhadap satu hal sehingga dia secara tidak sengaja mengabulkan keinginan gadis tersebut. Aiyla tersenyum lebar, tindakan Arav sungguh diluar dugaannya membuat di bagian pipinya memerah.
"Apa yang ..." Lamunan Arav pecah, dia akhirnya sadar telah melakukan kesalahan.
"Aku akan memberikanmu balasan karena telah berbuat baik." Aiyla tertawa pelan dan mengajak Arav lebih lama berada di restoran, "Sebenarnya ini tentang kedua mata-mata barumu itu, setidaknya aku telah menerima informasi bahwa ada lebih dari seratus rekan mereka dikurung pada satu tempat ..."
"Dengan kata lain jika kita berhasil membebaskan mereka maka kekuatan kita semakin bertambah dan semua ini bisa dibilang adalah sebuah pemberontakan daripada pembunuhan, mungkin keterlibatan pihak Vinterm dalam masalah kota Turi akan sulit untuk diketahui." Arav tersenyum tipis, perkataan Aiyla sungguh membuatnya antusias.
"Kau benar, Duke Sanjaya memang telah ikut campur dalam urusan wilayah Vion tetapi dengan uang tutup mulut kurasa mereka tidak akan mungkin membuka mulut dengan mudah," Aiyla tertawa lantang.
Bagi Arav tentu saja saran Aiyla yang satu ini tidak dapat dia lakukan, memang mereka enggan terlibat lebih banyak masalah lagi tetapi masih ada banyak cara lain lagi untuk menyembunyikannya.
"Setidaknya hari ini kau bersedia menghabiskan waktu bersama denganku ... Bagaimana jika setelah ini kita pergi berjalan-jalan hanya kita berdua?"
Arav tentu menolak permintaan Aiyla jika niat gadis tersebut hanya sekedar untuk bersenang-senang dengannya, lain cerita saat Aiyla mengatakan ingin membeli informasi dari seseorang. Arav pun terpaksa menyetujuinya.
"Kami para pedagang dari ibu kota memang membutuhkan informasi untuk mengetahui berita terbaru ataupun kondisi jalur menuju kota lain agar kemungkinan dirampok dalam perjalanan berkurang. Biasanya aku akan mendatangi salah-satu penjual informasi kenalanku tetapi karena pertama kali datang ke kota ini kita harus mencarinya langsung dengan berkeliling."
Di dalam hati Aiyla ada sedikit rasa malas untuk berjalan kaki dalam waktu tidak jelas, namun dia mengetahui keuntungan yang didapatkannya dari kondisi tersebut.
Sementara Arav memang mengetahui isi pikiran Aiyla tetapi dia hanya tetap diam lagipula tidak ada ruginya dia melakukan hal ini.
"Anak muda ... Apakah kalian tertarik untuk membeli beberapa perhiasan dari kakek tua ini?"
Arav berhenti sejenak, dia menoleh kesamping dan menemukan seorang pria paruh baya berpakian compang-camping tengah menawarinya barang berharga.
Arav sebenarnya tidak terlihat tertarik dengan tawaran pedagang tersebut terlebih karena ada misi penting yang harus dia kerjakan terlebih dahulu, sehingga waktu yang dia gunakan membuatnya tidak dapat berdiam diri lebih lama lagi.
Namun yang dilakukan Aiyla justru sebaliknya, semakin mengejutkannya lagi ketika gadis polos ini menghampiri kakek pedagang tersebut.
__ADS_1