Penguasa 10 Pedang Legenda

Penguasa 10 Pedang Legenda
Menyerbu Kediaman Walikota


__ADS_3

"Ka-kau ..." Walikota Anselm yang pertama terkejut, disusul puluhan bawahannya yang mulai berdiri menunjukan sikap serupa.


"Humph? Kau adalah ..." Mayor Taryein tentu merasa tidak asing melihat Reidy.


"Ah, lama tidak berjumpa ternyata anda sudah semakin besar, nona Yein ..." Reidy menunjukan hormatnya.


"Mungkinkah kau adalah ..." Mayor Taryein merasa telah mendapatkan sebuah ingatan lama yang telah hilang.


"Tolong kesampingkan dulu pembicaraan ini, ada hal yang perlu kubicarakan dengan walikota Anselm," Reidy tidak lagi tersenyum seperti tadi, dia lebih memilih memasang muka datar dihadapan puluhan orang kecuali dihadapan Komandan Taryein.


Walikota Anselm yang merasa paling cemas dari kebanyakan orang disekitarnya, dia tau betul meskipun Reidy bisa dikalahkan sebelumnya dengan cara licik, namun kecil kemungkinan Walikota Anselm bisa menjatuhkan Reidy secara terbuka apalagi dihadapan Mayor Taryein.


"Ma-Mayor Taryein, tolong lakukan sesuatu ..." Walikota Anselm merasa yang bisa mengeluarkan dirinya dari masalah ini adalah dengan memanfaatkan gadis disampingnya.


Mayor Taryein menghela nafas, "Aku memperingatkanmu, jika kau ada hubungan dengan bocah itu sebaiknya ..."


"Mayor Taryein, sepertinya anda telah salah menilai pemuda itu. Biar saya menjelaskan yang sebenarnya terjadi," Reidy buru-buru mengalihkan perhatian Mayor Taryein.


"Tu-tunggu dulu! Mayor Taryein? Apakah anda lebih mempercayai orang yang sudah meninggal daripada mempercayaiku?" Walikota Anselm seolah-olah ketakutan menatap mata Reidy.


"Orang yang telah meninggal? Apakah kau membicarakanku?" Reidy tertawa tidak terkendali, nyatanya terasa menakutkan saat didengar lawannya.


Mayor Taryein tersenyum kecut, "Walikota Anselm, apa maksud dari semua ini? Mengapa dia ... Maksudku orang ini masih hidup? Bukankah kau bilang ..."


"Ah, nona tidak perlu mendengarkannya, faktanya berita kematianku itu hanya hal yang sengaja dibuat Walikota Anselm untuk menutupi kejahatannya karena telah mengurungku secara paksa di tempat itu," Reidy tertawa pelan.


"Mengurungmu? Apa yang ..." Mayor Taryein langsung memandangi Walikota Anselm, menemukan sebuah belati telah dikeluarkan pria tua itu.


"Mungkin kau berhasil kabur berkat bantuan bocah itu, tapi sepertinya kau lebih bodoh dari yang aku pikirkan karena berani datang ke sarang harimau," Walikota Anselm hanya mengganguk pelan sudah membuat sekitar 20 prajurit mengeluarkan pedangnya.

__ADS_1


"Tidak, menurutku yang menjadi pemangsanya bukan kau ..." Reidy tersenyum tipis, setelahnya terbuka pintu di belakangnya disusul jendela-jendela dari empat penjuru dimasuki puluhan orang bersenjata, "Sekarang kita imbang bukan?"


Walikota Anselm kini mulai tersudut, selain karena kedatangan kelompok bersenjata ini dia lebih mengkhawatirkan tindakan Reidy selanjutnya.


"Walikota! Aku menunggu jawabanmu, cepat letakan senjatamu! Kita bicarakan ini baik-baik!" Mayor Taryein berusaha menenangkan kedua belah pihak namun para pengawalnya mulai berjatuhan karena diserang oleh pihak Walikota Anselm.


"Sudah cukup! Jika kau menginginkan pertarungan terjadi maka sebelum itu kau harus melihat tunanganmu tewas di tanganku!"


"Apa yang kau ..." Reidy merapatkan giginnya, dilihatnya Walikota Anselm mengarahkan belati ke leher Mayor Taryein setelah berhasil menyanderannya.


"Walikota? Apa ... Yang kau lakukan ..." Bibir Mayor Taryein kesulitan dalam mengucapkan kalimat.


"Lihat, bagaimana aku akan membunuh wanita pujaan hatimu tepat dihadapanmu," Walikota Anselm tampak menikmati momen tersebut, dia tidak pernah menginginkan hal ini terjadi tetapi setidaknya sebelum dia tewas dirinya merasa harus membuat Reidy menderita terlebih dahulu.


Saat keadaan semakin memburuk, melesat sebuah bola kecil menembus udara disekitar hingga membuat walikota Anselm melepaskan belatinya.


PANG!


"Cukup sudah perdebatan ini, sudah saatnya bagiku untuk mengungkap kebenaran yang telah lama kau sembunyikan!" Muncul seorang pemuda dari langit-langit disusul seorang gadis di sampingnya membuat Raut wajah Berg memburuk karenannya.


"Yein!" Reidy langsung menjadi sandaran tubuh Mayor Taryein yang hampir jatuh ke lantai, "Syukurlah anda datang tepat waktu, kupikir hari ini saya akan menangis sepanjang malam karena perbuatan orang ini ..."


Arav tersenyum memandangi kedua pasangan dihadapannya, "Sudah saatnya, Masket ..."


"Dimengerti Tuan ..." Masket melompat tinggi di udara bersiap menunjukan berbagai serangan mengerikannya.


"Apa yang kalian lakukan! Cepat serang gadis itu!" Walikota Anselm yang masih terkejut pun tidak tinggal diam membiarkan niat Arav terwujud.


Pertarungan sengit antara ahli senjata jarak jauh dengan pengguna pedang tidak dapat dihindarkan, meskipun begitu Masket malah jauh lebih unggul dari mereka karena mengandalkan kecepatan serta pemikiran menembak lalu menghindar.

__ADS_1


"Cahaya Menyelimuti Peluru!" Masket mengalirkan sedikit mana membuat amunisi yang dimuntahkan dari senapannya menimbulkan ledakan.


"Sepertinya ini adalah giliranku!" Arav menarik pedangnya mampu membuat udara disekitarnya berhembus kencang.


"Apa yang bocah ini lakukan? Apakah ini kekuatan yang sesungguhnya dimiliki oleh Tuan Arav?"


Reidy tidak kalah terkejutnya kemudian berjalan pelan membawa Mayor Taryein menuju sudut ruangan dilindungi oleh beberapa pengawal yang menjagannya.


Ketika Arav menyadari keduanya aman saat itulah dia mulai menunjukan kekuatannya, "Sebenarnya aku tidak ingin menggunakan pusaka ini tetapi karena akan menimbulkan kehebohan nantinya, kurasa tidak ada salahnya untuk membuatmu merasakan ketajamannya!"


Walikota Anselm menelan ludahnya, Pusaka seperti Pedang Raja Angin dimiliki Arav cukup membuat kakinya kesulitan mempertahankan keseimbangan.


"Tu-tunggu dulu! Seperti yang dikatakan oleh Mayor Taryein, mari kira bicarakan ini baik-baik!" Walikota Anselm sadar jika pasukannya saja berhasil dibuat kesulitan oleh Masket, apalagi memilih berhadapan dengan Arav yang kekuatannya masih misterius.


"Sudah terlambat bagimu untuk mendapatkan pengampunan! Kau tau berapa banyak orang yang menderita karena ulahmu?" Arav telah menarik dan pedangnya sudah melakukan gerakan cepat bahkan Reidyn serta Mayor Taryein tidak mampu melihatnya serangannya dengan jelas.


Yang pasti mereka tidak pernah menyangka akan melihat pemandangan seperti sekarang ini. Arav baru menyarungkan pedangnya setelah tubuh pria tua dihadapannya terbaring kehilangan nyawa.


"Mengapa kau tidak menanyakan alasanku langsung membunuhnya?" Arav tersenyum tipis memperhatikan Mayor Taryein yang seakan penuh pertanyaan kepadanya.


"Dia pantas mendapatkannya, sebelumnya aku berfikir kau adalah orang jahat tetapi setelah melihat semua ini ..." Mayor Taryein berniat meminta maaf secara langsung kepada Arav tetapi dia tidak mengetahui carannya.


"Bukankah ada yang harus kalian bicarakan? Setelah sekian lama berpisah, mengapa kedua calon suami istri ini malah sibuk membicarakan hal tidak penting seperti ini?"


Pipi Mayor Taryein yang terlebih dahulu memerah karena kalimat tersebut sebelum disusul Reidy yang terbatuk-batuk, tiba-tiba saja seorang gadis muncul dihadapan mereka dan langsung membuat suasana menjadi canggung.


Arav sekali lagi merasa sudah saatnya memberikan sebuah jitakan di dahi Aiyla namun harus mengurung niatnya saat menyaksikan cara Mayor Taryein memperhatikan gadis tersebut.


"Bukankah kamu adalah Aiyla?"

__ADS_1


"Aku pikir kakak melupakannku. Kau benar! Namaku Aiyla, seorang pedagang muda yang terkenal di seluruh penjuru kerajaan ini!"


__ADS_2