Penguasa 10 Pedang Legenda

Penguasa 10 Pedang Legenda
Maya Menuju Medan Perang


__ADS_3

"Kau ... Apa tidak bosan mengurungku di tempat ini? Lebih baik kau bunuh saja aku daripada menahanku seperti ini!" Kata Aidyn tertawa lantang.


Dia tau dirinya yang tengah duduk di kursi tidak bisa berbuat apa-apa ditambah seluruh tangan dan tubuhnya di ikat pada bangku tersebut, jadi Aidyn hanya bisa memprovokasi Arav dengan cara mengejek.


Sejak hari dimana dia dikalahkan oleh Arav, tempat untuk interogasi Aidyn berpindah-pindah, diputuskan bahwa Vinterm adalah satu-satunya yang aman dari ancaman pihak luar agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


"Sungguh disayangkan jika aku tidak dapat menggali informasi darimu ... Tetapi apakah kau tau bagaimana keadaan ayahmu saat ini?" Tanya Arav seraya menghela nafas panjang.


Aidyn yang tinggal di ruangan tertutup dengan cahaya penerangan dari obor tentu tidak banyak mengetahui kejadian di luar. Biarpun begitu, beberapa informasi seperti kejadian di kediaman ini dapat dengan mudah didapatkannya saat menguping pembicaraan pengawal yang menjaganya.


"Kau tidak perlu khawatir ... Ayahanda dan pasukannya akan segera membebaskanku, jadi kau hanya perlu bersiap-siap untuk dihabisi setelahnya ..." Aidyn tersenyum tipis.


"Hmm ... Kudengar paman Avan dan pasukannya melalui banyak pertempuran ..." Arav menceritakan setiap detail kejadian perang beberapa waktu lalu, pada saat Avan Ariville menyerbu kota Garlet dengan memerintahkan Dyrk sebagai pemimpinnya.


Awalnya Aidyn tersenyum lebar mendengar ini mengira semua masalah akan dikendalikan dengan mudah oleh ayahnya. Tiba pada saat bagian cerita ketika Arav berhasil membalikan keadaan dengan menghabisi 1000 prajurit tersebut, mendadak mimik wajah Aidyn berubah menjadi pucat.


"Kau ... Jangan berbohong!" Jerit Aidyn lantang. Dia ingin mengetahui bagian akhir cerita Arav yang diyakini menyangkut keselamatan orang tuanya.


Arav menaikan bahu, "Mengapa aku harus memberitaukan semuanya kepadamu? Bukankah tidak ada gunannya bagiku jika kau mengetahuinya?"


"Apa maumu?" Aidyn menaikan alis, pertama kalinya dia berencana untuk bernegosiasi demi mendapatkan informasi ini.

__ADS_1


Informasi yang dia miliki adalah tentang sebuah organisasi Mawar Hitam yang sempat terhapuskan dalam sejarah Antasia, mengingat kelompok ini bekerja untuk pembunuhan mungkin akan berguna baginya jika menyewa salah satu pembunuh untuk membunuh Arav di masa depan.


Sementara Arav sendiri mengetahuinya dari sebuah buku di perpustakaan kediaman Melida sebelumnya, ada sebuah halaman yang menjelaskan tentang betapa mengerikannya organisasi ini karena memiliki lebih dari ratusan anggota.


Mawar Hitam dan Mawar Sembilan bisa dibilang tidak ada hubungannya sedikitpun. Bahkan mantan ketua Mawar Sembilan, Masket belum pernah mengatakan soal ini kepadanya.


Jika Mawar Hitam yang bertugas untuk melakukan pembunuhan, maka Mawar Sembilan lah yang memberikan informasi secara detail mengenai sasaran lawannya kepada pelanggannya. Pelanggan ini kemudian memberikan misi kepada salah satu anggota Mawar Hitam, secara tidak langsung mereka saling bergantung satu sama lain.


Namun Masket memilih untuk menghindari Mawar Hitam agar Mawar Sembilan dapat dirahasiakan identitas kelompoknya. Berbeda dari Mawar Hitam yang menginginkan organisasi mereka populer dan dibicarakan oleh banyak orang, Mawar Sembilan justru sebaliknya.


"Kutegaskan sekali lagi! Mawar Hitam bukan organisasi di bawah naunganku! Melainkan kelompok ini sepenuhnya bekerja untuk diri sendiri!" Aidyn baru separuh dalam penjelasannya, "Sekarang giliran kau menceritakan kejadian yang terjadi kepada ayahku!"


Arav mengelus-elus dagunya, "Ini belum sepenuhnya terbukti kebenarannya ... Jadi memerlukan sedikit waktu, setidaknya kau harus memberitaukanku tentang lokasi markas mereka ..."


Dia tidak bisa menghitung jumlah secara pasti markas cabang organisasi ini melainkan hanya bisa menebak namun tidak se akurat yang dipikirkan Arav.


Arav tidak menunggu Aidyn menjelaskan semuanya, namun yang terpenting adalah agar dirinya tidak sampai berurusan dengan organisasi ini terlebih dahulu, karena pertama-tama dirinya masih memiliki konflik yang harus diselesaikan.


***


"Hamba melaporkan, lima orang yang terlibat dalam kasus pertambangan ini sudah saya bereskan ..." Maya menundukan kepala begitu berhadapan dengan Arav.

__ADS_1


"Maya ... Membutuhkan waktu sekitar beberapa hari untuk menguasai seluruh area pertambangan?" Tanya Arav saat berada di ruang rapat.


"Se-sekitar ... Kurasa mungkin kurang dari seminggu ..." Maya antara yakin atau tidak yakin dalam keberhasilan penyerangan ini.


Yang bergerak adalah pasukan penjaga kota yang adalah pimpinan Maya saat ini, bisa dibilang jumlahnya pun sangat terbatas dan tidak berpengalaman dalam perang dibandingkan dengan pasukan utama angkatan darat Vinterm yang adalah veteran dalam perang sebelumnya.


Saat ini Ariville bisa dikatakan memiliki pasukan yang mendekati angka tujuh puluh ribu, jumlah ini pun menurun setelah perang, sementara Vinterm hanya memiliki separuhnya atau paling sedikit tiga puluh ribu pasukan sebab wilayah ini adalah paling kecil dari provinsi lainnya.


"Jika kita mengirim tentara utama maka akan membebani mereka sebab perang saudara Ariville membuat mereka menjadi sedikit kelelahan ... Kalaupun mengerahkan mereka yang dalam masa pemulihan akan membuat Vinterm tidak siap menghadapi serangan, Jadi solusinya adalah dengan mengirimkan satu unit kecil pasukan ini ..." Ucap Arav dalam mengatur pertahannya.


Kondisi di Antasia memang terlihat damai, namun sewaktu-waktu bisa saja ada kerajaan lain yang memiliki masalah terhadap negara ini mulai menyerang Antasia dimulai dari wilayah paling mudah untuk dikuasai.


Jadi dia menempatkan sebagian besar pasukan di barat yang rawan terjadi konflik perbatasan dan sedikit menempatkannya di wilayah timur, pihak keluarga kerajaan juga menempatkan pasukan khusus di perbatasan mereka namun tidak sebanyak yang digerakan Arav saat ini.


Arav mengetukan jarinya di atas meja dan berusaha untuk mencerna situasi, Masket memandanginya seolah-olah majikannya ini menghadapi perang seperti yang terjadi di Ariville, tapi dia menyadari latar belakang Ailya adalah putri dari kepala keluarga besar, jadi tidak mudah untuk memulai konflik dengan keluarga ini sekaligus menyelesaikannya tanpa ada kerugian yang dialami kedua belah pihak.


"Maya ..." Arav membuat Masket dan Maya semakin penasaran menunggu jawabannya, "Habisi orang-orang yang menurutmu adalah musuh, sudah kuputuskan untuk tidak membuat rakyatku menderita karena masalah ini ..."


Maya mengganguk pelan sebelum undur diri dari dalam ruangan, sementara Masket terlihat mendukung keputusan ini meski sebelumnya terlihat ada sedikit keraguan di dalam hatinya, namun dia sangat percaya dan yakin dengan keputusan yang diambil oleh Arav.


"Tuan melakukan yang terbaik ... Tuan tidak perlu khawatir jika misi ini gagal, karena saya yakin anda telah mempersiapkannya dengan matang ..." Masket bersadar di pundak Arav berusaha menenangkan.

__ADS_1


"Kuharap begitu ..." Arav mendapat sedikit kepercayaan diri.


Hari demi hari berlalu, Maya dan lima puluh pasukannya berangkat menuju lokasi yang diperintahkan dengan menunggangi kuda, setidaknya mereka tidak pernah dicegat oleh para perampok selain hewan buas. Tidak ada yang berjalan kaki dengan jarak sejauh itu agar tidak banyak membuang waktu, beberapa warga sekitar pun bersedia membantu seperti memberi bahan makanan dan menyediakan tempat untuk berteduh sebelum memulai perang pada esok harinya.


__ADS_2