
Di ruangannya Arav duduk sambil meneguk secangkir teh di hadapannya sebelum mendengar suara pelan dari depan.
"Apakah anda adalah tuan Arav?"
"Yah, itu aku," Arav tersenyum begitu menyambut kedatangan seorang pria muda berusia sekitar 27 tahunan adalah mantan pejabat kota yang pernah diselamatkannya.
"Tuan ini adalah ..." Masket berniat mengenalkan.
"Ah, namaku adalah Reidy, berkat bantuan tuan Arav kami berhasil bebas dari tempat itu. Mohon izinkan saya untuk membalas budi ..."
Reidy adalah yang menjadi lawan terberat Walikota Anselm, biarpun telah menghilang selama beberapa waktu lalu, tapi keberadaannya masih dianggap ancaman bagi para saingannya terutama walikota Anselm.
"Masket ..." Arav melirik Masket.
"Saya telah melakukan apa yang tuan perintahkan ..." Masket menunduk hormat dihadapan Arav.
"Kalau begitu kita tidak perlu menunggu lebih lama lagi. Sebaiknya anda bersiap untuk menghadiri perjamuan besok ..."
"Ah, sepertinya anda telah menyiapkan kejutan untuk mereka," Reidy tersenyum semampunya, biar bagaimanapun dirinya tidak pernah menyangka bocah dihadapannya berani bertindak sejauh ini, "Ngomong-ngomong tentang kerusakaan yang telah anda perbuat. Tidak, menurut pendapatku sepertinya anda bukan berasal dari wilayah ini."
Mata Arav bergerak cepat melirik anggota Tameng Berduri karena menemukan mereka berniat menarik senjata, membuat Masket memerintahkan bawahannya agar tetap tenang.
"Oh, waspada sekali ..." Reidy tertawa akan tetapi suasana di dalam ruangan masih tegang dibuatnya.
"Jika memang benar, apakah anda akan menggangap saya sebagai ancaman karena telah menyusup ke daerah ini?" Arav tersenyum tanpa peduli yang dipikirkan Reidy.
Sebenarnya Reidy bisa saja menggangap Arav sebagai musuh, bukan sekarang tetapi di masa yang akan datang nanti, "Tidak. Awalnya saya mengira anda akan memanfaatkan posisiku untuk mengambil alih kota ini setelah itu menyingkirkannku jika sudah tidak berguna lagi, akan tetapi setelah melihat ..." Reidy tersenyum hangat mengalihkan pandangan mata Arav ke arah samping, "Jika dipikir-pikir lagi tidak baik menjadikan orang yang mampu memiliki bawahan seperti mereka sebagai musuhku."
__ADS_1
Arav terbatuk-batuk, mendapati pipi setiap gadis disekelilingnya mulai memerah, "Ah, anda terlalu memuji ..."
***
Pada pagi harinya sebuah ruangan megah dengan bangku-bangku ditempati oleh puluhan orang telah memenuhi kediaman walikota Anselm.
"Walikota? Apakah anda bisa menjelaskan kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini? Laporan gerbang utama kota telah disusupi musuh, puluhan orang mencurigakan berkeliaran di luar kota, bahkan saya mendengar rumor dari warga bahwa anda telah menjalankan perbudakan di wilayah ini yang sebenarnya dilarang keras oleh keluarga kerajaan!"
Pimpinan militer keluarga bangsawan Vion, tiba-tiba saya melontarkan berbagai pertanyaan membuat puluhan orang lainnya merasa terganggu.
"Ah, itu ..." seorang pria berjanggut keputihan berkeringat mendengar perkataan tadi.
Walikota Anselm sebenarnya telah menyadari ada masalah di wilayahnya belakangan ini sejak dia mengirim pasukannya untuk menangkap Arav.
Dia tersenyum pahit ketika harus menunggu cukup lama berita keberhasilan dari misi tersebut yang nyatanya gagal total, hasilnya dirinya malah mendatangkan bencana besar bagi kehidupannya seperti sekarang ini.
Mayor Vion mengepalkan tangannya, selama dia menjabat belum pernah ada yang berhasil menghancurkan satupun pertahanan di wilayahnya, menerima hal tersebut jika dilakukan oleh musuh ataupun petarung tangguh, akan tetapi lain cerita jika seorang bocah yang menjadi pelakunnya.
"Mengenai orang itu ..." Walikota Anselm tersenyum tipis, dia rasa kesempatan emas datang kepadanya hari ini, "Aku rasa bocah itu juga yang menjadi penyebar rumor palsu ini."
"Apa maksudmu?" Mayor Vion mengerutkan dahi, tentu tidak langsung percaya.
Lekukan di sudut bibir walikota Anselm semakin membesar, "Belakangan ini dia sering membuat kekacauan di wilayahku, bahkan telah membunuh prajurit yang aku kirim untuk mengatasi masalah penyerangan hewan buas ke rumah penduduk!"
"Ahh, jadi dia yang telah menghabisi puluhan prajurit itu."
"Aku tidak menyangka dia mampu melakukannya."
__ADS_1
"Cukup ..." Saat pembicaraan semakin tidak terkendali karena orang-orang asal menyimpulkan, Mayor Vion menghantam meja, "Walikota Anselm, apakah kau sedang bercanda denganku atau memang ada gangguan di dalam otakmu sehingga asal menuduh bocah itu tanpa bukti! Lagipula dia masih muda bagaimana mungkin mampu membantai puluhan prajurit terbaik kota ini!"
"Apakah anda lupa siapa yang telah menghancurkan gerbang serta membunuh beberapa penjaga kota?"
"Itu ..." Mayor Vion kesulitan mengeluarkan kalimat sebagai pembelaan untuk Arav, memang benar dia menerima informasi itu secara langsung dari mata-matanya tetapi masalah pembantaian ini Mayor Vion merasa ada yang tidak beres, "Tetap saja dia masih anak-anak ..."
"Mayor, jika kau masih tidak mempercayaiku maka tanyakan saja pada Petualang ini ..." Walikota Anselm mengganguk pelan mempersilahkan seorang pria masuk, "Aku memiliki bukti bahwa dialah pelaku di balik kerusuhan ini. Berg, katakan kepada semua orang mengenai kejadian yang pernah kau alami sebelumnya."
Berg gemetaran ketika harus berhadapan dengan orang berpengaruh apalagi wanita berusia tidak lebih dari 27 tahunan di depannya adalah salah-satu pimpinan tertinggi pasukan wilayah Vion, Mayor Jenderal Taryein. Mayor Taryein sendiri mengerutkan dahi dan tersenyum datar memandanginya.
"A-aku ..."
"Katakan semua yang kau ketahui, atau aku akan mengungkap kejahatan yang pernah kau lakukan sebelumnya karena telah bekerja sama denganku," Walikota Anselm berbisik pelan tepat di samping telinga Berg sehingga raut wajah pria itu semakin pucat.
Mayor Taryein menghela nafas panjang menanggapi, "Walikota, aku tidak ada waktu untuk leluconmu ini karena ..."
"Walikota berkata benar! Dialah pelaku di balik semua ini! Bahkan hampir saja aku terbunuh!" Berbagai pernyataan dilontarkan Berg tentu saja mengejutkan Mayor Taryein.
"Tunggu dulu, apakah yang ingin kau katakan adalah dia ingin membunuhmu?"
"Mayor, mendengar penjelasan ini kita sudah memiliki saksi atas kasus ini. Mengapa anda tidak segera mengeluarkan perintah penangkapan bocah itu?" Inilah yang dinantikan walikota Anselm, membalikan keadaan demi keuntungan.
Mayor Taryein sudah dipojok dan kesulitan dalam menghadapi pria tua dihadapannya saat berdebat pun harus mau tidak mau segera menerima saran tersebut meskipun tidak meyakinkan kesaksian Berg.
Namun yang terjadi selanjutnya diluar perkiraan mereka saat pintu tiba-tiba terbuka, muncul seorang pria rupawan dengan senyuman khasnya tetapi mematikan untuk orang sekelilingnya.
"Saya keberatan, kurasa di dalam masalah ini ada sedikit kesalahan. Mengenai pelaku pembantaian yang dilakukan demi membela diri, ataupun pengerusakan gerbang kota dengan maksud mengungkap kejahatan pria itu, Semuanya salah paham."
__ADS_1