
"Kekuatan sebesar ini? Apakah ..."
Chika nyaris terhempas karena merasakan efek ledakan tersebut yang menyebabkan angin berhembus kencang disekitarnya, sebelum menemukan seorang pemuda mendarat mulus di tanah yang memancarkan energi sihir.
"Apa kau baik-baik saja?" Perkataan itu membuat Chika tertegun.
Dia mengenali pemuda itu yang adalah majikannya, Arav Ariville, "Tuan tidak perlu mengkhawatirkan saya! Tolong selamatkan nona Caroline! Dia lebih membutuhkan bantuanmu!" Chika menjawab sambil menggelengkan kepala.
Namun Arav menemukan pria berkapak masih bisa berdiri setelah menerima salah satu jurusnya, mengakibatkan senyuman tipis muncul di wajah pemuda itu.
Arav Memerintahkan Chika agar menjauh dari lokasi pertarungan jika tidak ingin menjadi beban, dia yakin gadis ini memerlukan setidaknya waktu untuk beristirahat setelah melewati semua masalah ini.
"Bagaimana mungkin bocah sepertimu bisa menguasai sihir?!" Jerit pria itu lantang.
Karena sepengetahuannya di Antasia hanya ada kurang dari belasan orang yang dapat menguasai kelas penyihir. Kelas ini berada di tingkat tinggi, level 71 sampai 80, namun berbeda dari tingkat menengah dan rendah sebab kelas lain seperti Ahli Pedang dianggap setara dengannya begitupun dengan kelas naga.
"Karena kau sudah mengetahui identitasku yang mampu menggunakan sihir, maka sudah kusiapkan sebuah tiket khusus untukmu ..." Arav menggangkat tangannya seketika sebuah pedang muncul dihadapannya.
"Bahkan kau mampu melakukan itu?!" Pria berkapak bukannya tidak ingin lari dari pertarungan, namun melihat kemampuan Arav yang misterius membuatnya berfikir untuk melaporkan kejadian tersebut kepada atasaanya.
Sebelum semua itu benar-benar dilakukannya, Arav dapat dengan mudah menebak yang dipikirkan oleh lawannya ini kemudian menebas tubuh pria itu karena hendak kabur, namun kapak besar yang digunakan lawannya justru menjadi penghalang untuk melakukan serangan.
"Kau mungkin sangat kuat ... Tapi aku tidak selemah yang kau pikirkan!" Pria berkapak menggunakan sisa mana di dalam tubuhnya untuk melakukan serangan pamungkas.
Arav tersenyum karena menemukan lawan yang tangguh sejak datang ke kota Garlel, keduanya bertukar jurus mematikan, Arav membalasnya dengan ayunan pedang mengakibatkan benturan keras. Kini pria berkapak benar-benar dibuat terkejut oleh Arav yang seakan memiliki mana tak terbatas.
"Kemampuan yang diluar dugaan ... Ternyata semua ini hanyalah pengalihan ..." Arav mendarat mulus di tanah tepat dihadapan lawannya.
Kabut tebal yang dihasilkan ledakan ini bukan halangan baginya yang memiliki penglihatan yang tajam.
"Kau ... Bagaimana mungkin bisa selamat dari serangan sekuat itu?"
Kapak yang dilempar olehnya sebenarnya dialiri dengan mana dan dipasang sebuah benda yang mampu menimbulkan ledakan. Tetapi pria ini tidak pernah menduga bahwa pemuda itu sedikitpun tidak mengalami luka-luka akibat seranganya.
__ADS_1
Arav tidak berniat membuang banyak waktu kemudian sebilah pedang di tangannya dengan mudah menembus tubuh pria berkapak hingga menusuk jantungnya.
"Tuan baik-baik saja?" Masket tercekat di tempatnya setelah melihat pemandangan itu, "Siapa orang ini tuan?"
Arav menyarungkan pedangnya, "Hanya seorang penggangu, yang terpenting untuk saat ini adalah menyelamatkan seseorang dari kejaran ..."
***
Caroline sudah mencapai batasnya saat berlari, dia tau bahwa tubuhnya sangat lemah dan tidak sekuat kakaknya.
Pria penombak juga mengetahui hal itu dan hanya berjalan saja mengejar Caroline yang kini tengah beberapa kali terjatuh setelah berlari sekuat tenaga menjauhinya.
"Tidak ada gunanya untuk lari dariku ... Jika tuan Avan menginginkanmu maka kau harus memenuhi keinginannya ..." Pria itu dengan tangannya menarik lengan Caroline.
"Jangan sentuh aku!" Caroline tiba-tiba mengeluarkan senjata api.
"Apa yang ..." Pria tersebut yang awalnya merasa posisinya diuntungkan dibuat terkejut karena senjata api ini memuntahkan beberapa peluru kecil yang mengenai bagian tubuhnya, "Arghh! Dasar gadis yang tidak tau diuntung!"
Caroline langsung memanfaatkan kesempatan untuk kabur setelah pria tersebut meronta kesakitan karena ulahnya, berbeda dengan yang digunakan Masket, senjata ini jauh lebih kecil dan pendek membuatnya mudah untuk digunakan.
Akh
Caroline menjerit lantang saat sebuah pedang menangkis tombak tersebut hingga patah menjadi dua bagian.
"Kau baik-baik saja?"
Caroline hanya mampu mangganguk kepala ke arah seorang pria yang telah menyelamatkan nyawanya, "Tuan adalah ..."
"Namaku adalah Arav Ariville ..." Seusai menperkenalkan diri, Arav langsung menunjukan kemampuannya dan membalas serangan pria penombak sebelum mengenali lawannya adalah seorang petarung tangguh.
"Penombak kilat adalah julukan yang diberikan orang-orang kepadaku karena pandai menggunakan senjata ini ..." Penombak Kilat kemudian mengalirkan mana ke senjatanya sebelum mengajak Arav melakukan pertarungan sengit, "Kita lihat barapa lama kau akan bertahan dari seranganku ini?"
Arav menangkis setiap serangan yang dilepaskan namun serangan ke sepuluh kalinya berhasil menggores lengannya, "Cukup kuat untuk seorang pendekar kelas pembunuh, sepertinya dia lebih kuat dari yang ku perkirakaan sebelumnya ..." Gumamnya pelan sambil menjentikan jari, terlihat sebuah tombak yang terbuat dari kristal muncul dihadapannya.
__ADS_1
"Tombak yang bagus, tapi tidak cukup kuat untuk mengalahkanku!" Jerit Penombak Kilat lantang, membuat Arav tersenyum kecut.
Caroline berjalan mundur saat menemukan keduanya tengah serius bertarung. Serangan-serangan Arav membuatnya mendominasi pertarungan karena membuat kewalahan lawanya.
Caroline terpana sejenak, terkagum-kagum dengan kehebatan pria muda yang ditemuinya ini, namun tindakannya ini justru memancing Penombak Kilat untuk mengincarnya.
Akh
Caroline berteriak ketika Pria itu menyanderanya dengan maksud membantasi pergerakan Arav yang semakin tidak terkendali.
"Apa yang kau lakukan? Jangan sentuh adikku!" Masket sudah tiba di tempat tersebut sambil mengancam.
Gertakan ini nyatanya tidak cukup untuk membuat Pria Penombak agar mengubah pemikirannya, "Jika kau menginginkan gadis ini agar tidak terluka? Maka serahkan gadis bernama Masket itu kepadaku!"
Dia menunjuk ke arah Masket yang kini mematung di tempatnya, hal ini tentunya membuat gadis tersebut merasa dilema. Arav mecegah Masket agar tidak bertindak gegabah dan berusaha membuat gadis itu percaya dengan kemampuannya.
"Apa yang kau tunggu! Cepat serahkan gadis itu! Atau nyawa gadis ini yang akan menjadi taruhanya!" Jerit Pria Penombak tegas.
Caroline menggelengkan kepala dan meminta kepada Masket agar tidak menuruti keinginan lawannya, namun yang terjadi justru tidak sesuai dengan keinginannya saat Masket berjalan mendekat.
"Aku akan ..."
"Jangan!" Arav mendorong Masket saat gadis itu nyaris menjadi sasaran empuk seorang pemanah.
Penombak Kilat sepertinya tidak menyadari akan hal tersebut karena sepengetahuannya hanya dia dan rekannya yang diterjunkan dalam misi ini, menemukan belasan prajurit berjalan ke arahnya.
"Apakah tuan baik-baik saja?" Masket mengkhawatirkan panah yang menancap di tubuh Arav, "Apa yang telah kulakukan? Bagaimana bisa aku membuat tuan menjadi seperti ini ..."
Panah yang mengenai Arav tidak mampu menembus tubuhnya, juga tidak sekuat yang dipikirkannya saat menarik anak panah yang menancap di tubuhnya.
"Ternyata benda ini telah menyelamatkanku, sepertinya aku berhutang budi kepada paman Ansley karena memberikanku baju zirah ini sebagai perlindungan tambahan ..." Dia menunjukan sebuah baju besi di balik pakaiannnya dan memberi tanda kepada seseorang.
"Cepat keluar! Apakah kau yang dikirim oleh tuan Avan untuk membantuku bertarung?" Pria Penombak memandangi seorang pemanah yang dimaksud, adalah seorang prajurit dari kota Garlet yang secara kebetulan ada dilokasi setelah mendengar keributan.
__ADS_1
Namun Maya sudah berada di balik semak-semak seraya membidik kepala Penombak Kilat dengan senapannya, sebelum sebuah suara mengerikan terdengar saat senjata tersebut memuntahkan sebuah peluru.