
Ketika kondisi di pertambangan semakin terkendali, lain cerita dengan yang terjadi di kediaman Vinterm pada saat beberapa waktu lalu.
Organisasi Mawar Hitam nyatanya telah bergerak menembus pertahanan kediaman, entah karena masalah dendam ataupun karena paksaan mereka nekat melakukan semua ini dan secara tidak langsung telah memulai konflik.
"Dua penjaga kita hilang dan satu ditemukan dalam kondisi mengenaskan berada di ujung koridor, sekarang dalam kondisi kritis ..." Demikian laporan Masket.
"Organisasi Mawar Hitam ... Ini ..." Arav menggaruk kepalanya, yang jelas dia tidak pernah mencari masalah dengan kelompok ini ataupun pernah terlibat urusan lain dengannya.
Arav cukup terkejut karena sasaran kelompok ini hanya sekitar kediamannya saja bukan mengincar pejabat-pejabat penting di kota Zem ataupun perwira militer setempat padahal penjagaan kediaman mereka jauh lebih lemah.
"Hal yang dapat saya simpulkan dari peristiwa ini adalah musuh yang sengaja mengincar anda ... Untuk itu saya akan melakukan sesuatu demi memastikan keamanan anda ..." Masket menambahkan.
Arav hanya menanggapi dengan mengganguk pelan. Melihat Arav tidak bertanya ataupun meminta penjelasan tentang rencana tersebut membuat Masket tersenyum hangat.
"Jika begitu ... Saya tidak akan sungkan lagi melakukannya ..."
"Bukankah kau akan meningkatkan keamanan di depan pintu kamar tidurku?" Lamunan serius Arav dibuat hancur berkeping-keping dengan perkataan Masket.
Masket menggerutu, dia hanya bisa menjelaskan kepada Arav dan mendekati pemuda dihadapannya ini dengan gugup.
"Saya ... Akan ..."
"Kau akan tetap berada di sisiku dan terus mengawasiku sampai para pembunuh ini diatasi bukan?" Arav dapat menebak yang dipikirkan Masket.
Tanpa izin pun Arav jelas akan membiarkan Masket untuk melakukan semua ini, lagipula Masket adalah pengawalnya sejak dulu, jadi sudah sewajarnya melindungi Arav dengan seluruh kemampuannya.
Masket mengganguk pelan, sebelum keduanya berbincang lebih jauh, pembicaraan mereka disela oleh seseorang, terlihat pria berpakaian baju militer datang menemuinya membawa kabar penting.
***
"Perhatian, Kepala penjaga kediaman Duke Ariville, Nona Maya memasuki ruangan!"
Barisan prajurit memenuhi sebuah ruangan, ini adalah bagian perayaan atas keberhasilan Maya dalam mengatasi pemberontakan.
__ADS_1
"Bukankah dia adalah putri pedagang kaya itu?!"
"Tidakku sangka karena kesalahan sekarang ini dia dianggap sebagai pemberontak!"
Pertanyaan demi pertanyaan dilemparkan setiap orang yang berada di dalam ruangan tersebut, siapa yang tidak mengenali sosok gadis disamping Maya yang satu ini, hampir seluruh penghuni kediaman mendengar tentang setiap kejdian beberapa waktu lalu. Terlihat Maya maju beberapa langkah di belakangnya sudah ada seorang gadis yang dimaksud.
"Tuan ... Saya telah kembali dari medan perang, memberikan hormat kepada anda ..." Maya seperti biasa menyapa Arav penuh dengan rasa kesetiaannya.
Arav menggangukan kepala pelan, "Berdirilah ... Aku senang kau berhasil menjalankan misi ini lebih cepat dari perkiraanku sebelumnya ..."
Perhatian Arav saat ini sedang tertuju kepada Maya, Aiyla yang merasa dirinya diabaikan merasa keberadaannya di tempat ini tidak begitu penting.
"Kau adalah Duke Sanjaya bukan?!" Ucap Aiyla tanpa panjang lebar.
Para prajurit bahkan pejabat yang tengah menyerahkan selembar dokumen kepada Arav pun nyaris dibuat hampir lupa bernafas karena perkataan gadis ini. Kini seluruh tatapan mata orang-orang tertuju ke arah Aiyla karena tingkahnya.
"Hm ... Mengapa kalian semua menatapku seperti ini ..."
Sekalipun Maya memberikan peringatan Aiyla hanya memalingkan muka seolah-olah ancaman ini tidak membuatnya gentar, dia telah menyaksikan anak buahnya yang tersisa dibunuh begitu saja oleh pasukan dari Vinterm. Memang benar dialah yang terlebih dahulu menyerah, diikuti pelayannya yang bermaksud menyetujui tindakan ini.
Semua awalnya berjalan mulus, tidak tau apa yang dipikirkan oleh bawahannya ini karena tiba-tiba saja ketika Maya mendekat petarung-petarung sisa pasukannya malah melakukan serangan mendadak hingga membuat korban jiwa kembali berjatuhan.
Kejadian ini dianggap sebagai kesalahan. Akibatnya Aiyla sepenuhnya ditahan, begitupun dengan pelayannya yang juga tidak dibiarkan berkutik setelah kejadian mengejutkan ini.
"Maya, kau tidak perlu berteriak seperti itu ..."
Aiyla menyeringai lebar begitu Arav membuka suara, "Anda adalah seorang pemimpin dari wilayah ini, apa yang akan kau lakukan setelah menjadikanku sebagai tawananmu, mungkin sebentar lagi ayahku akan datang untuk berbicara denganmu ..."
Arav tersenyum tipis, dia mengerti situasi saat ini yang tentu kemungkinan membuat keluarga beserta orang tua gadis ini tidak akan diam begitu saja melihat putrinya dalam kesusahan.
Hal ini tentunya tidak sesuai harapan Aiyla ketika Arav menunjukan selembar surat berisi stempel khusus dari seseorang.
"Ini ... Apakah ..." Tangan Aiyla bergetar ketika membaca setiap kalimat yang tertulis di kertas tersebut.
__ADS_1
Aiyla berusaha untuk tetap tenang dan berusaha untuk mengatur pernafasannya, nyatanya tidak semudah yang dipikirkannya setelah membaca kalimat terakhir pada pesan singkat tersebut.
"Kau sudah tidak mendapat dukungan lagi dari keluargamu ... Adakah yang ingin kau sampaikan lagi?" Arav tersenyum tipis melihat reaksi Aiyla.
"Kau ... Bagaimana mungkin bisa membuat ayahku menyerah begitu saja?!"
"Mungkin karena selama ini mereka terlalu memanjakanmu, jadi semua ini sebagai hukuman atas kesalahanmu agar tidak mengulangi kejadian yang sama di masa depan ..."
"Kau ..." Aiyla tidak mampu berbicara lagi, dia telah kehabisan kata-kata untuk menjawab setiap perkataan Arav dan sekarang hanya bisa menerima kenyataan pahit.
Setelah cukup lama berbicara dengan Aiyla, Arav melanjutkan pembicaraannya yang terpotong tadi. Selain tentang situasi ekonomi Vinterm saat ini dia tidak membahas mengenai penyusup dari Organisasi Mawar Hitam. Alasannya adalah sepele agar tidak menimbulkan kepanikan di kediaman ini.
Pembicaraan di dalam ruangan ini tidak berlangsung lama karena ketika pertemuannya berakhir, Arav langsung bergegas pergi mendiskusikan hal ini kepada Masket dan Maya di ruangan lain.
"Tuan ... Ada yang perlu saya sampaikan kepada anda, ini menyangkut tentang situasi keluarga anda saat ini ..."
Arav mendengarkan setiap penjelasan Maya yang berasal dari informasi yang berhasil dikumpulkan oleh Mawar Sembilan.
"Kudengar salah satu anggota keluarga Ariville telah terlibat beberapa kali pertemuan dengan anggota dari Mawar Merah di ibu kota, dan lebih mengejutkan lagi penjaga kediamannya mempekerjakan anggota organisasi ini!"
Arav menahan nafasnya, seseorang yang memiliki rumah pribadi di tengah-tengah ibu kota dari keluarga Ariville Arav selain ayahnya dia yakini hanya Avan dan istrinya yang memilikinya.
Arav sebagai bagian anggota dari keluarga Ariville dirinya cukup lama tidak pernah menemui wanita paruh baya ini karena terakhir kali dia mengingat pertemuannya dengan bibinya itu pada saat beberapa tahun yang lalu, jauh sebelum Arav direinkarnasi.
"Sepengetahuanku bibi baik kepada semua orang, tidak mungkin terlibat dalam semua ini ..." Batin Arav menepis kecurigaannya terhadap bibinya.
"Mawar Hitam adalah kelompok yang bergerak jika mendapat keuntungan yang layak atas hasil kerja keras mereka ... Mereka tidak mungkin nekat menyerang kediaman tanpa alasan yang jelas ..."
Masket menggelengkan kepala, semua pendapatnya sudah dia katakan di depan Arav sehingga tinggal menunggu jawaban Maya.
"Yang dikatakan Masket memang benar, lagipula di dalam kediaman ini selain ada ..." Arav berhenti berbicara, dia mungkin mengetahui semua ini ada hubungannya dengan Aiydn.
"Perkataan anda kurang tepat ..." Maya menggeleng pelan, "Apakah tuan pernah mendengar tentang orang yang memerintakan Topan Badai untuk menyerang anda? Semua ini saya rasa memiliki hubungannya dengan organisasi Mawar Hitam yang sekarang menyerang kediaman ini ..."
__ADS_1