Penguasa 10 Pedang Legenda

Penguasa 10 Pedang Legenda
Walikota Anselm


__ADS_3

"Berg! Kau ..."


"Setidaknya pikirkan bagaimana perasaan temanmu ini ..."


Rekan-rekan Berg berusaha membujuk pria tersebut namun tetap saja mendapat penolakan. Bukan tanpa alasan dia melakukan semua ini, Berg merasa kesal jika harus melihat gadis-gadis dihadapannya seperti diperbudak oleh Arav bahkan menggangap pemuda dihadapannya tersebut telah mempelajari ilmu sihir pencuci otak sehingga bisa menguasai mereka.


"Walikota Anselm, anda harus membantuku! Pria bernama Arav ini jelas-jelas sudah melakukan perbudakan! Tentunya para gadis itu harus mendapat keadilan!"


"Apakah tuduhan yang kau berikan sudah dilengkapi dengan bukti-bukti kuat? Jika memang benar pria yang kau sebutkan tadi melakukan perbudakan maka ini adalah tindakan kriminal ..."


Pria dihadapan Berg adalah seorang walikota, tepatnya dialah yang menguasai sebuah kota besar bernama Turi. Walikota Anselm memang dikenal sangat baik dan ramah oleh sebagian besar warga, namun belum tentu semua romor itu benar karena di belakang layar sudah banyak korban menderita karena ulahnya.


Biasanya cukup sulit menemui Walikota secara langsung seperti yang dilakukan Berg saat ini. Namun keduanya bisa dibilang sudah saling mengenal sejak beberapa waktu terakhir sehingga mudah saja Berg melakukannya.


Ketika Berg menjelaskan tentang gadis-gadis yang Arav bawa berusia setidaknya masih cukup muda, bahkan Berg tanpa ragu mengatakan seluruh hal yang ada pada pikirannya kepada walikota tersebut mengenai kecantikan serta kualitas kekuatan fisik mereka terbilang cukup baik.


"Jika Walikota setuju, maka rencanaku akan berhasil. Tidak sulit membujuk Arav menyerahkan gadis itu kepadaku agar memberinya kesempatan kabur ..." Berg bergumam, niat Berg sudah terlihat jelas dari caranya berekspresi sementara gadis yang dimaksud sudah bisa ditebak, Masket.


"Ternyata dia masih menyembunyikan sesuatu dariku. Tetapi gadis-gadis ini harus aku dapatkan bagaimanapun caranya. Cukup sulit menemukan bibit unggul dalam beberapa waktu terakhir. Kurasa hari ini keberuntungan sedang memihakku ..." Gumam Walikota Anselm.


Walikota Anselm menyeringai selebar mungkin, andaikan dia berhasil menjadikan seluruh anggota Tameng Berduri sebagai budaknya Walikota Anselm mungkin akan menjadi salah-satu pedagang budak incaran.


Di antasia, bakat sejak lahir sangat menjadi penentu takdir kehidupan seseorang. Tidak jarang seseorang yang memiliki kualitas tubuh tingkat tinggi ataupun bakat dalam bertarung seringkali menjadi incaran untuk menciptakan keturunan berbakat.


"Sungguh mengejutkan. Ternyata begini sosok walikota Anselm yang sebenarnya ..."


Tanpa mereka sadari, di pojok sudut ruangan ada seorang gadis yang mengenakan jubah hitam mendengarkan seluruh pembicaraan dengan penuh antusias tanpa ada yang terlewat. Bisa dilihat niatnya sama buruknya dengan mereka ketika sedang tersenyum tipis.

__ADS_1


Sementara Walikota Anselm dan Berg sedang berdiskusi menyusun rencana mereka, di sisi lain Arav tengah dalam situasi sulit.


***


"Tuan ... Aaa ..."


"Tidak! Biar aku yang melakukannya!"


Masket dan Aiyla saling berebut untuk menyuapi Arav makan. Masket yang mengeluarkan tatapan tajam sementara Aiyla tidak kalah menunjukan hal serupa seakan-akan tempat ini akan menjadi medan perang mengerikan bagi Arav.


Arav sudah dibuat repot oleh serigala buas tadi dan sekarang kepalanya terasa semakin sakit ketika harus mengurus kedua gadis dihadapannya.


Sementara para petualang di disampingnya hanya bisa menelan ludah melihat perhatian lebih yang diberikan kedua gadis tersebut kepada Arav. Setidaknya mereka merasa sedikit iri mengingat selama beberapa tahun terakhir belum pernah seorang gadis memperlakukan mereka seperti itu.


"Tuan muda, kami sangat berterimakasih atas makanan yang anda berikan. Andaikan tuan tidak menyelamatkan kami bisa dipastikan nasib saya akan menjadi seperti apa ..."


Melihat penghormatan yang diberikan para petualang tersebut membuat Arav sadar telah melakukan hal benar dengan menyelamatkan mereka.


"Setidaknya sikap merka berbeda dari kebanyakan petarung lain ..." Arav tersenyum tipis melihat tingkah para petualang dihadapannya.


Para petualang ini memperkenalkan dirinya sebagai Gert, Ebert dan Bruno. Mereka sama-sama berada dalam satu Guild.


Gert yang paling sering berbicara diantara mereka sementara Ebert dan Bruno terkenal akan sikapnya yang agak pendiam, mungkin hanya berbicara itupun jika ada kepentingan mendesak.


Arav merasa ada yang mengganjal dalam hatinya, karena dari ketiga pemuda ini Arav tidak menemukan adanya kemiripan sosok yang pernah dia lihat sebelumnya di penginapan.


"Bukankah kalian masih ada satu anggota lagi?" Pertanyaan Arav membuat bingung ketiga pemuda tersebut.

__ADS_1


"Oh, mungkin maksud anda adalah pemimpin Guild kami. Seperti yang sedang anda lihat sekarang, dia sudah sedari tadi meninggalkan kami."


Arav mengerutkan dahi, bukan Berg yang dia maksud melainkan sosok lain di penginapan dia mengingatnya sebagai penyihir tingkat tinggi. Merasa Bruno dan Gert tidak mengenali seseorang yang Arav maksud, Arav segera menepis pemikirannya tentang sosok tersebut.


"Begini ... Apakah tuan memang benar seorang petualang?" Gert tiba-tiba bertanya membuat konsentrasi Arav pecah.


"Kami berasal dari wilayah Vinterm, dia Aiyla dan pengawalku ..." Arav memperkenalkan Masket dan Aiyla bergiliran.


"Kalian berasal dari wilayah yang baru-baru ini dibicarakan banyak orang?!" Gert, Ebert, dan Bruno tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutkannya.


Arav tersenyum tipis merasa tembakannya tepat pada sasarannya, setidaknya setelah dirinya melakukan pengumuman pembentukan regu Tameng Berduri membuat wilayah Vinterm menjadi sering mendapat perhatian. Hal ini memang harus terjadi agar Vinterm dapat mengimbangi 4 Adipati dalam pengaruh politik di antasia.


"Duke Sanjaya telah membuat banyak orang takjub akan kehebatannya membalik keadaan dalam perang saudara Ariville, bahkan baru-baru ini kudengar dia berhasil menangkap gadis serakah yang menguasai pertambangan," Gert tertawa lantang, sudah pasti yang dia maksud gadis serakah adalah Aiyla.


"Aku pernah mencari identitasnya tetapi sulit untuk percaya bahwa dia masih berusia 15 tahun ..." Bruno yang sedari tadi diam ikut memuji menunjukan kekagumannya kepada sosok tersebut.


Arav tersenyum canggung mendengar pujian demi pujian dilontarkan oleh para petualang ini bahkan melampaui perkiraannya, berbeda dari Aiyla yang justru tersedak saat makan.


Aiyla tidak membantah hal tersebut, dia masih menyalahkan dirinya sendiri karena telah mempermalukan keluarganya bahkan Aiyla merasa tidak pantas lagi menggunakan identitasnya sebagai putri dari keluarga terpandang.


Melihat raut wajah Aiyla semakin memburuk membuat Arav merasa sudah saatnya membungkam mulut pria dihadapannya ini.


Tetapi kemunculan mendadak seseorang tidak asing bagi mereka mencegahnya melakukan itu.


"Ah, akhirnya kau kembali ..." Gert yang pertama kali merespon kemunculan Berg.


Berg tidak menjawab Gert yang bertanya kepadanya sebaliknya memandangi seluruh rombongan Arav termasuk Arav sendiri, "Sudah cukup basa-basinya! Arav, sebaiknya sekarang kau berlutut kepadaku jika tidak ingin mati. Mungkin aku akan mendengarkan tawaranmu."

__ADS_1


__ADS_2