Penguasa 10 Pedang Legenda

Penguasa 10 Pedang Legenda
Pedang Roh Abadi


__ADS_3

Topan Badai mendongak, kali ini dia dikejutkan dengan sikap menyerang Arav yang berubah drastis sejak menggunakan benda yang diyakininya sebagai senjata pusaka.


"Pedang Roh ini sepertinya tidak buruk ..."


Arav menghunuskan pedangnya, jika dilihat dari bentuknya yang begitu menarik perhatian dia rasa kemampuan pedang ini juga jauh melebihi perkiraannya.


Pedang Roh Abadi adalah benda pusaka, termasuk salah satu dari 10 legenda senjata pusaka terbaik di Antasia. Alice adalah pemilik pedang ini dan tidak pernah sekalipun berfikir akan memberikannya kepada orang asing, termasuk Arav. Namun Melida yang memintanya membuat gadis ini tidak bisa berbuat banyak.


Selama penggunanya adalah orang yang memiliki cukup mana dan energi roh, Arav yakin dia mampu menggunakannya mengingat jumlah energi yang dimilikinya mungkin cukup untuk bertarung saat ini.


"Anak muda ... Setidaknya kau memiliki senjata pusaka tidak kalah hebatnya dari yang kumiliki saat ini ... Sepertinya aku menghadapi lawan yang tangguh." Topan Badai menghela nafas panjang dan memusatkan seluruh pikirannya untuk memikirkan langkah selanjutnya.


Sepengetahuannya Pedang Roh memiliki batas waktu penggunaannya, energi roh hanya dimiliki sedikit orang di Antasia. Energi ini didapatkan dari seseorang yang telah menghabisi lawannya, roh yang meninggalkan tubuh lamanya akan meninggalkan energi berupa percikan-percikan kecil. Di Antasia, inilah yang dimaksud dengan energi roh. Topan badai yakin pemuda dihadapan ini terikat kontrak dengan seseorang yang membagikan energi roh kepadannya dalam jumlah besar.


Topan Badai akhirnya memutuskan untuk bertarung lebih lama lagi dengan Arav, namun Arav sudah bisa menebak isi pikiran pria ini dan langsung menyerangnya.


"Ayunan Pedang Roh ..."


"Angin Berhembus ..."


Keduanya bertukar jurus sebanyak puluhan kali, Arav tidak henti menyerang sementara Topan Badai berniat sama namun langkahnya dihentikan oleh Pedang Roh saat berusaha menciptakan jarak.


"Setidaknya tidak ada penyesalan di dalam diriku karena dibunuh oleh ahli beladiri sepertimu ..."


Sepintas mata Arav terfokuskan untuk mengarahkan pedangnya agar menembus tubuh lawannya, Topan Badai menerima tusukan senjata pusaka tersebut yang sekalipun tidak dapat dihindari karena mana nya terkuras habis.


"Sepertinya dia sudah mati ... Apakah ..."


Arav menggelengkan kepala memandangi Masket, "Dia melakukan ini bukan demi kepentingan pribadi, melainkan seseorang telah menyuruhnya datang jauh-jauh dari ibu kota hanya demi membunuhku ..."


Sebelum Topan Badai menghembuskan nafas terakhirnya, dia memberikan senjata pusaka miliknya untuk Arav agar disimpannya baik-baik supaya tidak jatuh ke tangan yang salah.

__ADS_1


"Dia setidaknya masih bisa kabur dari pertarungan, mengapa memilih untuk bertarung sampai akhir ..." Batin Arav kemudian menepis pertanyaan yang terlintas tadi dan memfokuskan tujuan besarnya saat ini.


Tidak lama kemudian, Arav memutuskan untuk langsung pergi ke kota Arnet lewat jalur yang biasa mereka tempuh selama perjalanan ini.


***


"Sepertinya kita datang sedikit terlambat ..."


Arav memandangi sekitar, terlihat ratusan prajurit tengah disibukkan dengan medan perang yang sedang mereka hadapi, seperti biasa dia memakai topeng sebelum bertindak.


"Masket ... Cepat kau hubungi anggota Mawar Sembilan yang lain ..." Titah Arav tegas kemudian menemukan Masket berlari menjauhinya.


Semakin Arav maju mendekati garis depan, semakin banyak orang pula yang hendak menyerangnya. Arav tidak mendapatkan kesulitan saat menghadapi prajurit kelas Penusuk ataupun kelas lainnya, masalahnya adalah semua ini terlalu mudah baginya.


"Sepertinya kekuatan mereka melemah ... Dan kastel sudah dalam pengepungan saat ini ..."


Benteng dihadapanya ini sudah dimasuki oleh sekitar seratus pasukannya dan bergerak memukul mundur pasukan lawan saat ini. Sebelum Arav menemukan tanda-tanda kemunculan Maya, dia sudah dikejutkan dengan kemunculan seseorang dari depan yang melepaskan hawa membunuh ke arahnya.


Avan Ariville begitu terkejut dengan dilihatnya, Arav juga demikian. Avan Ariville mengira Pemuda ini sudah tewas di bunuh oleh Topan Badai, begitupun dengan Arav yang beranggapan saat ini seharusnya pria dihadapannya sudah dihabisi sejak dari tadi.


"Kau mencari mereka?" Avan menunjuk ke satu arah, terlihat Maya dan Viscount Ariville tergeletak di tanah.


Arav jelas mengerutkan dahi dengan pemandngan ini, beruntung dia masih dapat merasakan Maya masih bernafas meski kondisinya tidak baik.


"Tu ... An ..." Maya memanggilnya dengan nada pelan.


"Ahh, sepertinya dia membutuhkan bantuanmu ... Tapi sayang, kau akan terlebih dahulu ke alam lain ..." Avan melepaskan hawa membunuh, namun kali ini lebih pekat dan kuat ke arah Arav berharap pemuda tersebut gentar.


Nyatanya tidak semudah yang dia bayangkan, justru Arav menunjukan wajah tidak berekspresi dan hanya memasang muka datar setelahnya.


"Kau sudah selesai? Bisakah kita memulainya?" Tanya Arav sambil tertawa kecil.

__ADS_1


Tidak pernah dibayangkan oleh Avan Ariville ketika mengetahui bahkan hawa membunuhnya pun tidak mampu membuat lawannya yang satu ini gentar, kali ini dia sedikit yakin alasan Arav berada dihadapannya karena berhasil membunuh salah satu dari 10 ahli beladiri di Antasia.


Avan Ariville memanggil prajurit, mereka berjumlah puluhan orang adalah pengawal setia dan paling elit yang dimilikinya berada di kelas menengah, berasal dari berbagai negeri yang tentu kemampuannya tidak perlu diragukan lagi.


Alasan dia melakukan semua ini tidak lain untuk memastikan kebenaran tentang Topan Badai, mereka ber dua puluh mungkin bukan tandingan Arav karena memang jumlah.


"Kelas Penembak dan Penghancur di level 30? Darimana paman mendapatkan sumber daya sebanyak ini?" Arav tersenyum tipis lalu menarik pedangnya.


Sebelum kelompok pasukan ini maju menyerang, Arav sudah mengayunkan pedangnya dan menebas setidaknya 3 orang secara bersamaan dalam tarikan nafas.


"Tombak Kristal ..."


Pikiran lawannya teralihkan dan konsentrasinya pecah sebab bukan menghadapi sebilah pedang di tangan Arav justru mereka disibukan dengan tombak-tombak yang mengarah ke kepalanya.


Satu demi satu prajurit-prajurit ini tumbang dan tidak membutuhkan waktu banyak Arav sudah mengurangi jumlah pasukan ini menjadi 5 orang.


"Apa yang kalian lakukan?! Melawan satu orang saja kalian tidak bisa?! Serang dia bersama-sama!" Avan Ariville berseru lantang, nyaris dibuat terlalu terkejut oleh tindakan Arav yang membuatnya harus menjambak rambutnya sendiri.


Gerakan lincah 5 sisa pasukan terakhir ini lebih gesit dari sebelumnya, membuat Arav harus menghindari setiap serangan yang dilepaskan oleh mereka.


"Apakah hanya ini saja kemampuan kalian ..."


Arav menepis dan membalikan keadaan ketika salah satu prajurit membuat sebuah kesalahan yang berujung membuat nyawanya melayang.


"Kau ... Apa yang-" Rekannya berhenti bergerak, begitu menoleh ke bawah dia menemukan tubuhnya ditusuk oleh pedang lawannya.


Satu demi satu Arav menghabisi sisa kelompok ini dan menghancurkan harapan terakhir Avan Ariville untuk mencapai kemenangan, nyatanya pasukan sekuat ini tidak mampu menghadapi Arav bahkan pemuda ini masih belum mengeluarkan senjata andalannya seperti Pedang Roh.


"Kuharap kau mengerti paman ... Seharusnya dari awal kau menyadari kesalahanmu karena membunuhku lalu membuang tubuhku di tengah hutan ..."


Arav mengingat lewat ingatan lama pemilik tubuh ini setiap kejadian pada saat makan malam ketika dirinya diundang oleh Avan Ariville ke sebuah perjamuan, tidak disangka malah menyajikanya hidangan yang dicampuri racun.

__ADS_1


"Kau ... Bagaimana mengetahuinya?!" Jelas Avan terkejut dengan pernyataan ini.


__ADS_2