
"Menjadikanku sebagai yang bertanggung jawab atas perdagangan?!"
Aiyla menunjuk dadanya ketika mendengar tawaran ini, Arav sejak 10 menit terakhir berusaha untuk membujuk gadis ini agar mendukungnya dalam hal ekonomi di Vinterm, namun tidak semudah yang dia pikirkan.
"Aku meminta maaf, bagaimana mungkin aku tiba-tiba memihak seseorang yang menjadi musuhku saat ini?" Aiyla memilih untuk membuang muka.
Setelah peperangan yang dilewatinya mana mungkin dia bisa semudah itu melupakan semua yang telah dilaluinya dengan susah payah. Arav tau betul alasan Aiyla menolak mentah-mentah tawarannya adalah mengenai kerugian yang dialami gadis ini sebelumnya.
Arav menggaruk kepalanya, dia mempunyai banyak sumber daya dari dalam wilayahnya tetapi cukup kesulitan untuk menjualnya dan bersaing dengan pedagang kaya di ibu kota. Jadi dengan meminta bantuan Aiyla yang seorang pedagang yang cukup berpengaruh mungkin akan lebih efektif dalam kemudahan menembus pasar Antasia.
"Jika kau menawarkan kesepakatan kepada seseorang maka yang seharusnya kau lakukan adalah memberitau keuntungan terlebih dahulu ..." Aiyla menghela nafas panjang.
"Berapa banyak yang kau inginkan?" Arav menjawab sambil mengerutkan dahi.
Dia tau betul cukup sulit untuk membuat kesepakatan dengan gadis ini, apalagi yang seorang ahli tawar menawar sepertinya.
"Berikan aku posisi yang setara dengan anggota Mawar Sembilan, setelah itu baru kita membicarakan tentang bisnis ini, bagaimana?"
Arav diam cukup lama sebelum mengganguk pelan, "Darimana kita memulainya? Kuharap kau tidak mengecewakanku setelah ini ..."
"Sebaiknya kau jangan terlalu meremehkan kemampuan gadis ini ..."
Beberapa waktu berlalu sejak Aiyla bekerja untuk Arav, posisi yang diinginkan Aiyla adalah dapat ikut serta dalam mengambil keputusan seperti yang dilakukan oleh anggota Mawar Sembilan lainnya tanpa ada tekanan, juga berperan dalam keuangan Vintetm lebih tepatnya sebagai pengurus keuangan.
Pertama-tama hal ini mendapatkan respon baik dari Arav dan beberapa anggota Mawar Sembilan bahkan pejabat kota, hanya Masket yang menentang keras keputusan Arav karena seenaknya mempekerjakan gadis yang sekitar satu minggu lalu adalah musuhnya.
"Gadis ini mungkin berniat buruk ingin mencelakai anda! Tolong pikirkan lagi tentang ini ..." Tindakan masket wajar mengingat dirinya yang paling bertanggung jawab atas keamanan Arav selain Maya.
__ADS_1
"Siapa gadis yang seenaknya mengatakan itu kepadaku? Huh? Hanya seorang pengawal berani menentang keputusan majikannya?" Aiyla mengeluarkan tatapan dingin terhadap Masket, dia memang terkenal pandai bicara sehingga menyulitkan lawannya untuk berbicara ataupun berdebat denganya.
"Sudah ... Sudah ..." Arav menghela nafas panjang seraya menengahi, "Tolong hentikan pertengkaran ini, terutama untukmu, Aiyla jangan memprovokasi Masket ..."
Aiyla menelan ludahnya sendiri, dia memandangi Masket yang seolah-olah menunjukan senyuman kemenangan terhadapnya.
"Itu juga berlaku untukmu Masket ..."
JEDER!
Rasanya Masket seperti tersambar petir mendengar perkataan tersebut, membuat Aiyla tertawa kecil memandanginya.
"Hmmm ... Jika itu keinginan tuan maka saya akan menerimanya tetapi aku tidak sepenuhnya percaya dengan gadis ini ..." Masket tersenyum tipis.
"Sebaiknya kau tidak berusaha untuk menjadi penggangu diantara hubungan kami berdua?" Aiyla tidak kalah menunjukan reaksi serupa.
Arav tersenyum canggung melihat tingkah kedua gadis ini, "Kalian berdua harus saling bekerja sama ... Kuharap dimasa depan kalian tidak bermusuhan agar rencana ini berjalan dengan lancar ..."
Usai berbicara Arav langsung mengajak Masket mengurus dokumen-dokumen penting di ruangan kerjanya dan membiarkan Aiyla yang mengurus soal perdagangan ini. Emas yang dikumpulkan di tambang beserta batu beharga lain menjadi penghasilan utama mereka saat ini, selain itu mereka juga menemukan beberapa lokasi tambang baru di dekat tambang sebelumnya.
Sumber daya yang dihasilkan terbilang cukup besar karena logam bahkan bahan untuk pembuatan baju zirah dan pedang tersedia melimpah. Hal ini tentunya membuat Aiyla cukup sibuk mungkin selama beberapa minggu kedepan.
Melihat potensi yang dimiliki Vinterm membuat beberapa wilayah lain gempar atas kebangkitan wilayah kecil yang baru berdiri ini untuk mencapai kemajuan besar, ditambah pemimpinnya adalah seseorang yang berusia 15 tahun Jelas menimbulkan berbagai pertanyaan namun Arav tidak mengambil hati semua ini.
Maya menemui Arav 3 hari setelahnya, dia seperti biasa selalu melapor hasil perkembangan kasus mengenai organisasi Mawar Hitam.
"Maya ... Apakah kau sudah berhasil menemukan sesuatu di kediaman ayahanda?"
__ADS_1
"Sepengetahuan saya tidak ada pergerakan kelompok Mawar Hitam di daerah Duke Ariville, kurasa mereka hanya mengincar Vinterm sebagai sasaran utama mereka ..." Maya seperti biasanya menunjukan hormatnya kepada Arav.
Selain Vinterm yang hampir menduduki posisi terbesar wilayah terkuat dalam urusan ekonomi, Ariville tidak kalah dalam menunjukan kemajuan mereka dalam militer yang sekarang tengah mengatasi sisa-sisa pemberontak yang masih melakukan perlawanan di sekitar perbatasan.
"Kudengar lima ribu pasukan yang berencana melakukan perang skala kecil musuh bisa diatasi dengan baik oleh Duke Ariville, tapi kurang dari dua ribu diantaranya berhasil kabur saat memasuki daerah ibu kota ..."
"Ibu kota adalah wilayah yang paling dijaga ketat, tidak mungkin jika mereka bisa keluar masuk semudah ini apalagi guru juga berada disana ..." Arav menggelengkan kepala, merasa ada sesuatu yang tidak beres dari semua ini.
Melida seharusnya bisa membantunya tentang masalah kaburnya pemberontak ini, namun melihat gurunya saja tidak bertindak sampai saat ini membuatnya harus menepis pemikiran untuk terlibat lebih jauh dalam masalah ini, lagipula masih ada Duke Ariville yang akan mengatasi masalah ini.
"Kudengar kota Garlet sekarang berada dalam kondisi stabil, apakah Clare menjalankan tugasnya dengan baik?"
Maya menghela nafas, "Sejak anda mengirimnya ke kota Garlet ... Dia tidak berhenti mendesakku agar segera meminta anda untuk mengizinkannya kembali, Esmee saat ini sedang menghiburnya. Dan untuk nona Caroline .."
Lama tidak terdengar kabar tentang gadis ini membuat Arav penasaran dengan perkembangan Caroline setelah menempuh pendidikan di sebuah akademi khusus di ibu kota.
Maya menjelaskan prestasi yang dimiliki Caroline dalam merancang serta membuat sebuah strategi formasi perang meningkat pesat selama beberapa waktu terakhir.
Selain itu dia juga mahir dalam menguasai ilmu pengetahuan tentang seni beladiri pada usianya yang muda, namun kemampuan fisiknya tidak mendukung dirinya untuk berada di garis depan pertempuran.
"Sepertinya tidak sia-sia aku mengirimnya ke ibu kota untuk belajar ... Dimasa depan aku berencana untuk menjadikannya sebagai ahli strategi perang mungkin termuda dalam sejarah Vinterm bahkan Antasia..." Arav tertawa kecil mendengar berita baik ini.
Para murid lainnya bahkan menggangap keberadaan Caroline sebagai jenius di dalam sekolah mereka, namun ada saja yang tidak senang akan hal ini mengakibatkan Caroline mendapat berbagai tekanan.
"Selama ini, salah satu anggota Mawar Sembilan, Chika selalu menjaganya selama di ibu kota ... Saya rasa tidak akan mudah baginya untuk mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang lain ..." Maya menegaskan.
Arav mendengar sebuah suara tangisan air mata bahagia di dekatnya, terlihat Masket yang sejak awal hanya berdiri di samping pemuda ini terharu mendengar kebaikan Arav, "Setelah ini ... Bila berkenan bolehkah anda membawa saya pergi menemui Caroline?"
__ADS_1
"Setelah tugas kita selesai, mungkin kita akan menemuinya beberapa hari sebelum pertemuan lima penguasa wilayah terjadi ..." Arav tersenyum lebar, namun di dalam hatinya Arav merasakan sebuah hal yang aneh dari pertemuan ini yang akan diadakan dalam sekitar 2 minggu lagi.