
"Berg, apakah kau sungguh menginginkan itu?!"
"Mengapa kau begitu serendah ini?!"
Gert dan yang lainnya tidak bisa menahan emosi merasa tidak percaya dengan yang Berg coba jelaskan kepada mereka.
Aiyla memandangi pria dihadapannya ini dengan tatapan sinis, karena Berg memang tanpa ragu mengatakan ingin membebaskan Masket dari perbudakan, Berg yakin gadis itu adalah seorang budak dan memerlukan bantuan darinya.
"Kalian! Apa pria itu sekarang sudah mencuci otak kalian sampai tidak percaya dengan perkataanku?" Berg berdecak kesal, dia berniat memberikan tatapan dingin pada Arav namun justru sebaliknya.
Tubuh Berg bergetar bukan main begitu terkena aura yang Arav memang sengaja arahkan kepadanya, bahkan Gert sekalipun dapat merasakannya meskipun dirinya sendiri berada di pihak Arav.
"Aku ..." Masket tidak ingin ada kesalahpahaman, dia mencoba menjelaskan namun Berg meliriknya solah-olah memiliki ambisi untuk memilikinya.
Arav menyadari tatapan itu, dia paling tidak suka ada orang lain yang mencoba mengambil apa yang telah menjadi miliknya, "Apa kau yakin dengan perkataanmu atau aku yang salah mendengar?"
Lamunan Berg pecah begitu Arav buka suara. Berg menunggu setiap detik kejadian ini, bahkan dia menyeringai selebar mungkin menunjukan posisinya yang sekarang.
"Aku hanya menginginkan gadis disampingmu itu, setelahnya kau bebas pergi kemanapun kau mau. Setidaknya tidak masalah bagimu kehilangan satu budak daripada kehilangan semuanya?"
Berg tidak menunggu jawaban Arav merasa perkataan tadi sudah cukup untuk meyakinkan Arav ataupun hanya sekedar menggertak.
Dia sungguh tidak berbohong, dalam beberapa jam lagi akan ada puluhan prajurit siap menangkap Arav sampai ke dalam hutan sekalipun.
Berg mendekati Arav yang solah-olah tubuh pemuda itu tak bergeming, melihat Arav hanya terdiam membuat Berg lebih percaya diri maju beberapa langkah lagi mendekati Masket, pertama-tama dia mencoba untuk membawa paksa Masket dengan cara menarik tangannya secara langsung.
"Ikut denganku jika kau menginginkan kebebasan. Aku jamin kehidupanmu akan lebih baik daripada yang sekarang ini!" Berg berniat langsung menyambar tangan Masket.
__ADS_1
"Apa yang kau coba lakukan? Jika berani mendekat maka bisa kupastikan tulang rusukmu itu akan patah!"
Aiyla yang sadar Masket dalam bahaya mencoba memperingati Berg, tentunya Berg hanya menggangap Aiyla sebagai serangga penggangu meskipun dia menyadari penampilan Aiyla tidak kalah jauh dari Masket.
Masket juga menolak keras permintaan Berg lantas bergerak mundur kebelakang ketika sebuah gerakan tangan menjatuhkan tubuh pria tersebut.
"Apa aku pernah bilang kau boleh menyentuhnya? Bahkan sehelai rambutpun aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk menyentuhnya!" Arav memang bisa menahan emosinya, namun ini sudah diluar batasnya.
"Kau ... Apakah kau tidak takut para prajurit itu akan membunuhmu?" Jerit Berg lantang begitu merasakan punggungnya sudah begitu sakit.
Arav tersenyum tipis, baginya yang sering terlibat dalam banyaknya pertempuran menggangap hal tersebut sudah biasa.
Sementara Aiyla, Gert dan yang lainnya hanya bisa menelan ludah melihat kejadian ini. Para anggota Tameng Berduri pun sudah lama meningkatkan kewaspadaan begitu Berg mengatakan para prajurit kota akan datang.
"Jangan mencoba untuk membunuhnya! Atau kau dalam masalah besar!" Suara tersebut menggangetkan Arav.
Arav mengerutkan dahi, dia mencoba mencari-cari identitas gadis tersebut yang terasa tidak asing baginya dan menemukan kemiripan pada sosok yang tengah dicarinya.
"Tenang, aku tidak berniat untuk menghabisimu hari ini."
Hampir seluruh tubuhnya ditutupi kain berwarna hitam dan hanya menyisakan setengah bagian wajah bawahnya saja, bahkan jubahnya pun mengingatkan Arav akan sebuah lambang khusus.
"Mawar Hitam!"
Gadis tersebut tersenyum tipis padahal di dalam hatinya dia memuji Arav yang berhasil menebak identitasnya dalam sekali lihat.
Mawar Hitam pastinya tidak pernah muncul lagi setelah salah-satu petinggi mereka binasa, kekuatan merekapun sudah berkurang sehingga cukup menjadikan alasan kemunduran organisasi tersebut.
__ADS_1
Namun melihat sosok gadis dihadapannya bahkan tidak membantah berasal dari Mawar Hitam sudah sangat mengejutkan Arav, ditambah karena memiliki Aura mengerikan membuat Arav harus berhati-hati menghadapinya.
"Nona ... Tolong selamatkan aku! Mereka semua adalah orang-orang yang dicari Walikota untuk ditangkap!" Berg sadar melihat reaksi Arav menunjukan kemampuan gadis itu bukan main.
"Menolongmu ya? Memangnya apa untungnya bagiku?" Gadis berjubah hanya tersenyum datar, matanya solah-olah tidak ingin menatap langsung pria tersebut dan mencoba untuk tidak menghiraukannya.
Terlebih setelah melihat sekelilinya dia sadar Arav sudah mencapai kemampuan di luar perkiraannya sebagai salah satu yang terkuat di Mawar Hitam. Saat Gadis berjubah selesai mengamati situasi dirinya menemukan Berg tengah berwajah pucat.
"Felina dari Mawar Hitam. Setidaknya perkenalan ini sudah cukup untuk menunjukan identitasku ..." Felina tertawa pelan melihat tingkah 3 petualang di belakang Arav.
Felina dapat menebak organisasi mereka begitu ditakuti di daerah Vion, meskipun dia pernah mendengar tentang kekalahan rekannya tetapi Felina menggangap selama ada dirinya Mawar Hitam sekalipun sulit untuk dihancurkan.
"Arav dari Vinterm ..." Arav juga memperkenalkan dirinya, Arav merasa tidak adil jika hanya Felina yang membocorkan identitasnya.
"Arav ya ... Kita akan melihat seberapa jauh kemampuanmu sekarang ..." Felina bergerak cepat namun bukan untuk menyerang melainkan mundur beberapa gerakan ke atas dahan pohon.
Gerakannya begitu gesit dan lincah, Arav berusaha menebak-nebak identitas gadis berjubah ini namun sulit agar dapat menemukannya.
"Siapa sebenarnya gadis ini? Mengapa kemampuannya lebih tinggi dari tetua Mawar Hitam itu?" Gumamnya pelan.
"Sudah cukup perkenalannya, sekarang saatnya kalian menghadapi maut!" Felina berseru kemudian mengarahkan pandangan Arav dan yang lainnya ke sebuah sumber bola cahaya tetapi semakin lama jumlahnya terus bertambah.
"Tentara kota? Mengapa mereka datang secepat ini?"
"Mungkinkah karena gadis ini para prajurit Vion sampai mengetahui lokasi kita?"
Masket dan Aiyla saling bertukar pendapat, merasa Felina sungguh-sungguh ingin menghabisi Arav pada sore hari ini sudah membuat Tameng Berduri mengeluarkan seluruh senjata mereka.
__ADS_1
Senapan-senapan sudah berbaris rapi bersiap menembakan puluhan bola-bola kecil, Arav merasa ini tidak akan seperti menghadapi serigala tadi karena ada keanehan dalam setiap gerakan yang ditunjukan para tentara kota Turi tersebut.