Penguasa 10 Pedang Legenda

Penguasa 10 Pedang Legenda
Menuju Markas Kelompok Mata-Mata


__ADS_3

"Arav, cobalah berfikir dengan jernih. Bagaimana mungkin kau mencoba masuk ke daerah musuh?" Viscount Ariville menggelengkan kepala.


Dia berulang kali mencoba untuk menghentikan niat Arav yang menurutnya ceroboh sementara Arav dan Masket tersenyum canggung melihat tingkah pria paruh baya ini.


"Apa jadinya nanti jika mereka mengetahui identitasmu? Bagaimana kalau mereka menyanderamu dan meminta ayahmu untuk menyerahkan kekuasaan lewat rencana ini?"


"Apakah paman lupa bahwa Duke Sanjaya lah yang bisa melakukan rencana ini?" Arav memandangi Masket sambil tersenyum tipis, "Kau bilang rumah adikmu berada di dekat kediaman pamanku Avan?"


Masket menggangukan kepala secepat yang dia mampu, "Benar ... Jangan-jangan, tuan bersedia menerima-"


Arav menaikan tangan, "Kau jangan salah paham dulu. Kebetulan tujuanku yang sebenarnya adalah pabrik gudang senjata."


"Gudang senjata?!" Serempak Viscount Ariville dan masket tidak mampu menahan keterkejutannya.


"Paman pernah bilang bahwa ada senjata-senjata langka seperti senapan api diproduksi pada satu tempat khusus ..." Arav tersenyum canggung.


"Arav, sejak insiden itu kau banyak berubah. Apa yang membuatmu tertarik untuk memiliki pasukan yang dilengkapi senapan api?" Jawab Viscount Ariville sambil mengerutkan dahi.


Arav terbatuk pelan, bukan tanpa alasan Viscount Ariville bertanya demikian kepada Arav yang selama ini tidak tertarik dengan peperangan tiba-tiba saja mengatakan hal tersebut.


"Ariville tidak memiliki banyak orang yang berada di kelas Penembak, sekitar puluhan sampai ratusan orang yang mampu mencapai kelas ini ..."


Di Antasia, saat ini hanya seseorang yang berkemampuan kelas penembak yang mampu menggunakan secara maksimal senjata ini, namun tidak menutup kemungkinan seseorang di kelas lain mampu melakukannya.


Di dunia ini, Arav sepenuhnya mengetahui tingkatan kekuatan seseorang sudah ditentukan sejak lahir dan tidak dapat diubah lagi jika memiliki salah satu kemampuan berikut ini, dibagi dengan beberapa kategori.


Kelas penusuk berada di tingkat rendah, namun yang terkuat pada tingkatan ini. Kelas penebas dan kelas penyembuh berada di bawah satu tingkat darinya, biasanya dimulai dari level 1, sampai 20 saja tidak mampu melebihi batas.


Kelas Pembunuh adalah yang paling terkuat berada di tingkat menengah, level 20 sampai 50, hanya keluarga bangsawan Ariville dan sedikit orang luar yang dapat menggunakannya. Kelas Penembak juga berada di tingkat menengah dengan kelas Pembunuh namun satu tingkat dibawahnya begitupun dengan kelas terakhir yaitu kelas penghancur berada peringkat paling bawah di tingkat menengah.


Masket terlahir dengan menguasai kelas penembak, jadi tingkat kekuataanya berada di tingkat menengah level awal 20 sejak lahir. Sementara mengenai level sebuah kekuatan menunjukan hasil perkembangan seseorang di tingkat tersebut yang mentok di level 50.


"Dunia yang sangat kejam saat seseorang yang memiliki kemampuan rendah hanya akan ditindas oleh yang kuat ... Tidak heran Antasia mencari seseorang yang memiliki potensi untuk menciptakan keturunan yang berbakat ..." Gumamnya pelan.


"Saya bisa! Selain itu Saya masih memiliki teman-teman yang berkemampuan sama!" Masket menawarkan diri, "Tolong biarkan saya membantu rencana anda ..."


Arav menggangukan kepala, "Memang dari awal aku sudah berencana untuk melakukan ini, tentang sumber daya manusia yang kau katakan tadi, dimana sekarang teman-temanmu berada?"

__ADS_1


"Saya tidak mengetahui keberadaan mereka saat ini. Tapi sepengetahuan saya kebanyakan dari mereka memilih kabur menuju kota Arnet karena takut dijadikan budak, mungkin semua itu adalah salah saya karena tiba-tiba memihak anda ..."


Masket yang satu-satunya dipilih untuk menjadi pemimpin sebuah kelompok kecil oleh Aidyn menceritakan nasibnya dan teman-temannya.


Karena kemampuannya yang mencapai tingkat menengah, ditambah penampilannya yang cantik membuat Aidyn hendak menjadikannya sebagai pengawal pribadi.


Suatu hari dirinya ditawari berbagai pekerjaan, namun Masket justru menolak semua tawaran yang diberikan karena menurutnya mustahil sekaligus menolak permintaan Aidyn.


Memutuskan untuk menjadi pemimpin sebuah kelompok mata-mata yang beranggotakan dirinya dan teman-teman perempuannya karena bayarannya lebih tinggi. Namun siapa yang menyangka letak markas ini berdekatan dengan kota Garlet.


"Saat saya mendengar bahwa keluarga Ariville membutuhkan seorang pengawal, pada saat itulah Aidyn memintaku untuk menjadi mata-mata ..."


Terbukti berkat pekerjaannya sebagai mata-mata keuangan keluarganya jauh meningkat, sebab misi yang dijalankan adalah taruhan nyawa.


Karena memikirkan nasib sang adik, jika dirinya tewas dalam menjalankan misi membuatnya hendak mengundurkan diri dari pekerjaannya.


Kebetulan pada saat yang sama sebuah insiden terjadi di keluarga Ariville. Tidak lama, dia pun mendapatkan misi terakhir yaitu membunuh seorang tuan muda dari keluarga Ariville.


***


"Jadi ... Di pinggir kota Garlet ini dulunya adalah markas kelompokmu?" Arav memandangi lingkungan sekitar kota dan menemukan pemandangan yang asri.


Arav menggelengkan kepala sambil menepuk punggung Masket, menghentikan niat gadis itu yang menurutnya berlebihan.


"Meskipun egois, tetapi menolak seseorang yang meminta bantuan bukanlah hal yang bisa kulakukan ..."


"Maksud anda ..."


"Bukankah ini demi teman-temanmu? Apakah kau tidak ingin menyelamatkan mereka?" Arav maju beberapa langkah melewati Masket yang terdiam sebelum Gadis itu mengikuti langkahnya, "Sungguh di luar dugaan bahwa paman Avan telah menyiapkan kelompok mata-mata khusus dalam waktu secepat ini ..." Gumamnya pelan.


Beberapa saat berlalu sejak perjalanan mereka hampir mencpai tujuan, keduanya sepakat memilih untuk diam tanpa membahas apapun lagi yang tidak penting.


Masket awalnya ragu untuk mengajak Arav menuju markas lamanya setelah melihat lingkungan di sekitarnya jauh berbeda.


"Inikah markas lamamu?" Arav memandangi Masket yang menggangukan kepala, "Tidak buruk juga ..."


Seusai berbicara Arav masuk ke dalam sebuah bangunan megah yang terbuat dari kayu di dalamnya hanya diterangi oleh cahaya obor.

__ADS_1


"Sepertinya Clare dan yang lainnya sudah pergi ..."


Masket bercerita bahwa kelompok mereka terdiri atas 9 orang yang hampir keseluruhan berada di tingkat menengah kelas Penembak. Bahkan mendekati urutan ke 2 pasukan mata-mata terbaik di Antasia.


Dirinya memang tidak dapat merasakan kehadiran energi sihir di sekitarnya namun bukan berarti Arav tidak dapat merasakannya juga.


"Clare! Kaukah itu?" Pandangan Masket jatuh ke arah seorang gadis cantik berusia sekitar 12 tahunan, sebelum menemukan seorang gadis lain berusia 13 tahunan yang dia kenal sebagai anggota timnya.


Sementara, Arav mengerutkan dahi karena menemukan keanehan dari gadis bernama Clare yang seakan semakin waspada saat mendekatinya.


"Ketua Masket, syukurlah kau baik-baik saja! Apakah orang ini yang telah menyakitimu?" Clare langsung menyimpulkan dan berbicara dengan nada suara dingin, sebelum memandangi gadis disampingnya yang bernama Maya tengah menggangukan kepala.


Belum sempat Masket menjelaskan kedua gadis itu memulai serangan terhadap Arav setelah mengeluarkan senapan api mereka.


"Apakah kau pikir dengan peluru dari senjata api itu cukup untuk menembus pertahananku?" Arav menangkap peluru yang ditembakan, nyaris membuat mata Masket tidak berkedip dengan tidakannya.


Clare mengisi ulang amunisnya saat Arav semakin mendekatinya, Maya membantunya mengulur waktu dengan menembakan puluhan amunisi berbentuk kelereng namun tidak seakurat yang ditembakan oleh Clare karena mampu mengenai tubuh Arav hingga terluka.


"Tidak kusangka bahwa peluru senapan di dunia ini sudah sedahsyat dari perkiraanku ..." Arav bergumam sebelum Masket merangkul tubuhnya.


"Maya! Clare! Hentikan!"


Kedua gadis itu tercekat di tempatnya masing-masing ketika mendengar perkataan Masket, saat sebuah serangan tidak mampu mereka hindari.


***


"Tuan Arav! Mohon maafkan kebodohan kami yang menyerang tanpa mendengar penjelasannmu!"


Maya dan Clare serempak berlutut dihadapan Arav yang tengah duduk di atas ranjang sambil memeriksa luka di tubuhnya.


"Clare! Maya!" Masket berniat menghukum mereka secara langsung sebelum Arav mencegahnya, "Tapi tuan ..."


"Mereka hanya tidak mengetahui identitasku ... Anggap saja ini sebagai tindakan untuk melindungi diri ..."


Maya dan Clare bisa bernafas lega saat Arav mengatakan itu, keduanya tidak berani menatap mata Arav secara langsung setelah mengetahui identitas pemuda tersebut yang adalah seorang pewaris kekuasaan Ariville.


"Tuan muda ... Bila berkenan, tolong biarkan saya untuk menyembuhkan luka yang ada di tubuhmu ..."

__ADS_1


"Mohon mempertimbangkan untuk membiarkan saya dan Clare tetap bertahan hidup, apapun yang anda inginkan akan kami penuhi!" Clare menggangukan kepala setelah mendengar permohonan Maya.


Membuat Arav memandangi Masket yang secara tidak langsung membujuk majikannya untuk mengabulkan keinginan kedua sahabatnya itu.


__ADS_2