
"Akhirnya setelah lama aku menunggu ... Hari dimana aku berada di hadapannya tiba juga ..." Batin Aiyla cemas ketika sedang berhadapan dengan Maya.
"Kudengar pertambangan ini dijaga ketat oleh puluhan petarung, tapi jumlah ini melebihi yang dilaporkan bahkan ada beberapa diantara mereka yang setidaknya setara dengan kemampuan kelas penghancur ..." Maya tidak kalah terkejut melihat.
Sekitar dua ratusan orang berada di tempat yang sama, namun posisi yang ditempati jauh lebih berbeda. Selain tentang kalah jumlah Maya juga direpotkan dengan keberadaan petarung-petarung dan pemanah yang berada di tempat lebih tinggi daripada dirinya berada saat ini.
"Sekali lagi Duke Vinterm berbaik hati akan memberikan kesempatan kepadamu untuk menyerahkan diri, sebab menurut peraturan di wilayah ini kau telah mengabaikan peringatanku sebelumnya dengan tidak meninggalkan tempat ini ..." Maya tersenyum tipis.
"Aku ..." Aiyla merasa dirugikan bila harus bertarung dan melawan sebuah penguasa wilayah yang baru-baru ini ramai dibicarakan di Antasia karena telah berperan penting dalam penyerangan kota Arnet.
Sama saja dengan menggali kuburan sendiri, Kalaupun dia menjelaskan alasannya tidak berniat pulang karena memiliki konflik dengan ayahnya, Aiyla yakin Maya tidak akan mudah mempercayainya.
Namun ada seorang petarung yang rela bertarung sampai akhir tidak banyak yang keberatan dengan ide yang satu ini. Aiyla dibuat dilema sebab satu per satu orang-orangnya justru setuju untuk memulai pertarungan.
"Saya akan memberikan waktu selama-" Maya berhenti berbicara ketika melihat semakin banyak orang mulai menghasut Aiyla membuatnya menghela nafas panjang, "Sebaiknya anda tidak bersungguh-sungguh untuk menjadi seorang pemberontak yang melawan pemerintahan Vinterm, ini bisa dikatakan sebagai tindakan melawan seluruh Antasia jadi saya berharap agar anda menyerah tanpa syarat ..."
Maya memandangi Aiyla namun gadis itu masih berada di atas bebatuan sambil terlihat dilema dan bingung harus bertindak. Biasanya Aiyla dikenal sangat bersemangat dalam urusan perdagangan sehingga tidak sempat memperhatikan soal urusan politik dan keamanan dalam menjalankan bisnis, kesalahannya adalah terlalu tergiur dalam tawaran sehingga tidak mempedulikan resikonya.
"Bagaimana? Apakah sebaiknya semua ini dihentikan? Lebih baik kalian semua tidak mati sia-sia seperti ini ..."
Maya tersenyum tipis dan mengganguk pelan dengan keputusan Aiyla, senyuman di wajahnya ini tidak bertahan lama sebab kurang dari semenit setelahnya Maya mengerutkan dahi ketika menemukan seseorang yang memakai jubah hitam tampak tengah berbisik-bisik dengan seorang petarung yang kemudian mulai mengeluarkan senjata masing-masing.
__ADS_1
"Meskipun nona memerintahkan kami untuk menyerahkan diri! Jangan harap kami juga akan melakukan hal tersebut!"
"Benar! Kami akan bertarung meski nyawa taruhannya!"
Satu per satu orang-orang menjadi murka atas keputusan Aiyla yang dianggap mengecewakan, Maya terlihat tenang dalam menghadapi situasi namun di dalam hatinya ada sedikit yang mengganjal sebab dapat merasakan sihir dan hawa membunuh di sekitar tempat ini.
"Energi ... Ini ..." Maya dapat dengan mudah mengenali kekuatan tersebut, "Tidak salah lagi adalah-"
"Ka-kalian!? Berhenti!" Aiyla hanya seorang gadis biasa, tidak lebih sampai mampu menghentikan tindakan bawahannya yang mulai diluar kendali.
Maya menarik pedangnya, setelah dirasa ratusan petarung tersebut mendekat ke arah pasukannya berdiri dia meningkatkan kewaspadaan penuh, "Siapkan formasi bertahan! Jangan membuat kesalahan dan meremehkan mereka!"
Satu demi satu prajurit menbentuk formasi yang dimaksud dengan tameng-tameng menutupi seluruh badan mereka hingga hanya menampakan helm logam sekumpulan prajurit ini.
Di tengah pertarungan, Aiyla rasanya tidak mampu berdiri seraya menyaksikan ataupun bersikap tenang karena tiba-tiba kakinya terasa sangat berat sekaligus tubuhnya bergetar.
Dia merasa keberadaannya di tempat ini tidak terlalu diperhatikan melihat serangan demi serangan dilancarkan oleh bawahannya semakin liar melewati batas.
Maya memandangi gadis itu setelah mengamati sosok berjubah yang menghilang di balik pepohonan, "Nona Aiyla ... Saya anggap ini sebagai pemberontakan serius ... Mulai saat ini Vinterm akan menjadi musuhmu ..."
"Itu! Aku ..."
__ADS_1
Sebelum Aiyla dapat membela diri, Maya sudah menarik pedangnya dan ikut bertarung.
Suasana mencekam dirasakannya pada saat menjelang siang hari itu, hutan yang menjadi lokasi medan perang di tambah bebatuan yang menyerupai bentuk benteng, Maya rasa mereka tengah menghadapi musuh yang tangguh karena wilayah pertambangan ini sangat luas di tambah lokasi persembunyian gadis ini berada di atas bukit kecil.
Pertempuran sempat berhenti ketika sore menjelang, Aiyla sadar korban paling banyak dialami oleh pihaknya sementara dirinya tidak mendapati adanya korban jiwa dari lawan.
"Kita kehilangan lima puluh persen wilayah pertambangan, separuh pasukan, ditambah penjaga yang menjaga pertambangan memilih untuk mundur ke daerah persembunyian kita ... Mungkin ini yang terjadi jika kita melawan pasukan terlatih ..." Aiyla tidak berhenti mengetukan jarinya di meja yang berbentuk bundar tersebut.
Dalam kurang dari 2 hari dia akan bertemu lagi dengan Maya, jika pelayan kepercayaannya tidak membawanya pergi ke tempat ini pada saat beberapa jam yang lalu bisa dipastikan dirinya tengah menjadi tawanan perang.
Hutan yang luas ini dimanfaatkan baik oleh Aiyla agar diubah menjadi benteng tersembunyi, Pelayan sempai mengatakan sebaiknya Aiyla bersiap-siap untuk kabur ke wilayah Vion sementara dirinya mengulur waktu di tempat ini.
"Tidak! Ini semua adalah salahku yang ceroboh melibatkan kalian semua dalam masalah seperti ini!"
"Tapi nona ..." Pelayan berusia 19 tahunan ini bukannya tidak mau menuruti perintah namun yang terpenting baginya adalah keselamatan Aiyla.
"Sudah! Cukup! Aku yang salah karena ceroboh! Sejujurnya bukan kebiasaanku untuk lari dari masalah ..."
Pelayan itu mengganguk pelan karena tidak ada satupun jawaban dapat diberikan, Aiyla mengisi waktu malam ini untuk tidur di ranjangnya meski tidak bisa tertidur nyenyak seperti biasanya seraya memikirkan solusi untuk besok.
Satu hari berlalu, tiba pada hari ke dua perang seperti hari sebelumnya Maya berhasil menguasai setiap titik terpenting pertambangan dan hanya menyisakan satu area yang belum dikuasainya.
__ADS_1
Orang-orang dari pihak lain seperti kepala desa sekitar juga mendengar informasi ini, mereka merasa tidak enak hati jika tidak mengirimkan bantuan sementara banyak penduduk desa yang geram dan sudah lama menunggu saat ini mulai berniat untuk melakukan pembalasan.
Jadi para pria dikumpulkan untuk membantu Maya dalam pertarungan akhir, bisa dibilang pertempuran terakhir ini membuat nyali lawannya menciut dengan jumlah penambahan pasukan Maya yang terbilang diluar perkiraan serta senapan-senapan api yang dibawa oleh pasukan tersebut melebihi yang telah diperhitungkan, tidak lama sebelum perang dimulai terlihat sebuah bendera bewarna putih dibawa oleh seorang gadis dari atas bebatuan.