
Arav benci ketika seseorang dengan sengaja mengkhianatinya, pengalaman masa lalu kini membuatnya sadar tidak akan ada gunanya lagi baginya untuk membiarkan musuhnya tetap hidup.
"Paman ... Setidaknya kau tidak akan menyerah tanpa perlawanan bukan?" Arav menghunuskan pedangnya.
Avan Ariville juga tidak tinggal diam dan menarik pedang dari sarungnya, "Setidaknya kemampuanmu ini tidaklah terlalu buruk ... Kita lihat seberapa kuat kemampuanmu yang sebenanya ..."
Arav menyambut serangan demi serangan yang dilancarkan Avan yang difokuskan untuk bisa memotong lehernya, mereka bertukar serangan sebanyak belasan kali dengan hasil imbang untuk sementara waktu.
"Ayunan Pedang Roh ..."
Arav mengeluarkan senjata pusaka ini begitu Avan menggunakan ilmu pedang terbaiknya, pedang Arav saat berayun memancaran cahaya keputihan, sedangkan pedang lawannya mengeluarkan cahaya kehitaman namun kedua jurus yang dilepaskan sama-sama lincah dan kuat. Kali ini bukan hasil imbang yang didapat melainkan kekuatan yang mendominasi.
Avan terhempas beberapa meter dari tempatnya, ledakan yang dihasilkan akibat bertukar jurus sekuat ini mampu membuatnya mundur beberapa langkah, sementara Arav terlihat tidak bergeming.
"Kau ... Bagaimana mungkin?"
Sebelum Avan Ariville mengetahui situasi, pedang yang ditarik Arav nyatanya langsung mengarah ke arahnya tapi berhenti bergerak saat seseorang menjerit lantang.
"Hentikan! Duke Sanjaya ..."
Arav menoleh ke belakang saat mendengar sebuah suara seseorang yang memanggilnya, "Kau ..."
"Tuan baik-baik saja?" Di lengan kanannya sudah ada Clare yang langsung menempel dan merangkulnya, "Setidaknya kami datang mungkin tepat pada waktunya dengan melewati jalur tercepat menuju kota ini ..."
Avan Ariville merasa kondisinya sangat tidak menguntungkan, juga mengurungkan niat untuk memanggil prajuritnya yang lain karena sebagian besar sudah tumbang. lagipula selama ini dia selalu mengkhianati Duke Ariville dan kesalahan terbesarnya adalah dengan melakukan pemberontakan skala besar.
"Duke Ariville ... Mengapa kau menghentikanku untuk membunuhnya ..." Tanya Arav yang semakin keheranan.
__ADS_1
Meskipun Avan adalah musuhnya, Duke Ariville beranggapan sebaiknya saudaranya ini mendapatkan hukuman lain selain kematian, atau jika diperlukan Avan harus mempertanggungjawabkan atas perbuataanya, kali ini Arav belum bisa berkata apa-apa lagi mengenai hal ini, yang pasti masih belum memaafkan perbuatan lawanya.
"Kudengar kau tidak memiliki dendam terhadap saudara Avan, mengapa kau bertindak sejauh ini hanya demi Ariville? Bukankah tidak ada untungnya bagi Vinterm jika pria ini terbunuh?" Nada bicara Duke Ariville terdengar seperti ingin mencegah niat Arav.
"Itu ..." Arav mengaruk kepalanya yang tidak gatal dan memulai untuk memutar otaknya, dia bingung jika harus menjelaskannya darimana.
Di lain sisi Avan Ariville merasa kondisi ini bermanfaat baginya, selain karena tindakan Duke Ariville yang nyatanya mengulur waktu dia dapat memulihkan kekuatannya, mungkin akan sempat untuk menyerang secara tiba-tiba bila ada kesempatan, demikian pikirnya namun Arav terlebih dahulu mengetahui niat ini.
"Kau pikir bisa melakukan percobaan pembunuhan terhadapku lagi?"
Nyaris karena sebutir peluru kecil yang meluncur dengan kecepatan tinggi nyawa Avan Ariville hampir melayang karenanya. Duke Ariville sama terkejutnya menyaksikan dan mendengar kalimat yang tidak ingin didengarnya sama sekali.
Andai pria ini mengetahui bahwa putranya masih hidup dan menyadari pelaku pembunuhan yang sebenarnya, besar kemungkinan Duke Ariville akan membalaskan dendam seperti membunuh pelakunya.
"Duke ... Apa maksudmu dengan percobaan pembunuhan?"
"Dia adalah iblis! Seorang iblis!" Avan Ariville berseru lantang dan mengeluarkan sebuah benda dari dalam jubahnya, "Kaupikir bisa menakut-nakutiku dengan senjata itu! Kau salah!"
Retak sudah topeng yang menutupi wajah Arav setelah sebuah pistol memuntahkan peluru ke arahnya, topeng yang menutupi wajahnya kini hancur berkeping-keping setelah beberapa detik kemudian, sebagian pecahan topeng jatuh ke tanah dan sebagian lagi masih merekat di wajah Arav.
Duke Ariville terdiam sejenak, memang dia menemukan sedikit kemiripan anaknya dari Pemuda disampingnya ini sejak bertemu untuk pertama kalinya, tetapi dia tidak pernah menduga untuk melihat wajah yang tidak asing baginya.
"Tu ... Tuan ... Kau ..." Kata Clare terputus-putus saat melihat darah mengalir dari wajah Arav dan menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.
Avan Ariville menyeringai sangat lebar, siapa yang menduga akan ada kesempatan kedua untuk membunuh seseorang yang semestinya dia bunuh sejak awal.
"Ini adalah akibat karena kau berani melawanku! Setidaknya aku masih memiliki beberapa peluru di dalam pistol ini untuk menembak beberapa kali."
__ADS_1
Dia masih belum merasa bahwa Arav sudah mati akibat tembakan yang mengincar bagian kepala itu, jadi Avan memutuskan untuk menembaknya beberapa kali lagi.
"Kau tidak akan bisa melukainya!"
Avan mengerutkan dahinya, Masket tiba-tiba muncul seraya mengarahkan senapan ke arahnya tanpa ragu sebelum menarik pelatuk senjata itu.
Tembakan yang dihasilkan sangat akurat mengenai pistolnya kini terhempas berikut dengan tubuhnya tidak lama ikut terhempas setelah menerima tendangan kuat.
"Kau ... Bagaimana bisa?!" Avan menunjuk Arav dengan mata melotot.
Arav menyentuh dahinya yang terasa sedikit memerah, "Tembakan yang bagus paman. Tapi sayang sekali topeng ini adalah salah satu benda pelindung yang kebetulan aku gunakan untuk mengantisipasi hal semacam ini..."
Jika bukan karena ketahanan dan ketebalan besi yang mampu menahan butiran dari peluru berbentuk kelereng itu, maka bisa dipastikan Arav akan tewas dalam hitungan detik atau paling tidak mengalami pendarahan serius dengan kemungkinan kecil bisa terselamatkan.
KRAK!
Topeng yang tadinya merekat di wajah Arav sedikit retak, pecahan-pecahan mulai timbul di topeng ini tidak lama kemudian benda yang menutupi sebagian wajahnya jatuh ke tanah.
"Kau-" Sebelum Avan Ariville bisa memahami situasi, pedang di tangan Arav sudah menembus sampai jantungnya dalam hitungan kurang dari hitungan detik.
Darah segar mengalir deras, Avan Ariville akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya, sosok yang belakangan ini sering dibicarakan sebab strategi cerdas dalam menguasai sebagian wilayah Ariville, harus menghadapi takdir dalam pertarungan terakhirnya.
"Setidaknya kali ini aku bisa membalaskan dendam ini ..." Arav perlahan merasakan pandangannya samar-samar, tubuhnya terasa agak berat.
Duke Ariville yang melihat sosok yang menyerupai seseorang yang dikenalnya kemudian tercekat di tempatnya, namun hatinya meminta kepadanya untuk menangkap tubuh Arav yang hendak jatuh ke tanah, tapi sudah terlambat karena terlebih dahulu seseorang melakukannya.
"Tuan ... Syukurlah anda selamat ..." Masket memeluk erat tubuh Arav yang terasa semakin berat, "Pokoknya anda harus berhati-hati mulai sekarang dan menjaga diri dengan sebaik mungkin ..." Masket menggerutu, jelas karena mengkhawatirkan.
__ADS_1
"Kerja bagus ... Jika bukan karenamu, aku tidak akan mungkin bisa mengalahkannya sendirian ..." Arav tersenyum tipis bahkan tidak menyadari di pipi Masket ada warna merah yang semakin terlihat jelas saat ini, "Setidaknya aku sudah membalaskan dendam pemilik tubuh ini ... Kuyakin saat ini dia sudah tenang di alam lain ..." Batin Arav saat matanya perlahan mulai tertutup.