
"Mengapa ada prajurit yang memasuki area pertambangan?" batin Gadis tersebut menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepala.
Bendera yang dibawa oleh salah satu prajurit dapat dengan mudah dikenalinya karena ada lambang keluarga bangsawan Vinterm. Sementara, usai mengamati situasi Maya langsung turun untuk bertemu dengan putri pedagang kaya ini dengan maksud berbicara baik-baik.
"Perintah penguasa wilayah, Duke Vinterm. Agar saudari Aiyla dan bawahanmu untuk segera meninggalkan tanah milik para warga ini ..." Demikian pernyataan Maya saat membaca secarik kertas tersebut.
"Ditolak! Tanah ini milikku sekarang, sebab penguasa daerah sekitar perbatasan yang memberiku izin untuk melakukan pertambangan di daerah ini dan aku sudah membayar pajak tepat waktu ..." Jawab gadis diketahui bernama Aiyla tersebut tegas.
"Tapi Penguasa yang kau maksud tidak pernah berkomentar apapun mengenai semua ini ... Bahkan aku pernah dengar dia berkata tidak pernah memberikan izin kepadamu, Duke Vinterm hanya menginginkan agar warganya bisa nyaman dalam masa pemerintahannya, jadi dia tidak akan menyetujui tindakan yang justru membuat banyak orang menderita seperti sekarang ini ..." Maya semakin tidak mengerti siapa sosok penguasa wilayah kecil yang dimaksud oleh Aiyla.
"Maksudmu dia tidak pernah memberitaukan semuanya kepadamu?" Aiyla tidak kalah terkejutnya. Saat Maya menggelengkan kepala dia menghela nafas panjang, "Tapi tetap saja wilayah ini sekarang adalah milikku ... Kau tidak bisa berbuat seenaknya di wilayah ini!"
Maya tidak berkutik setelahnya begitu mendengar semua yang dikatakan Aiyla, dia merasa tidak ada gunanya lagi berdebat dengan gadis ini. Jikapun dia menggunakan cara kekerasan, akan membuat Maya ditegur oleh atasannya karena bertindak dengan tidak sesuai perintah.
"Itu yang dia katakan ..." Ucap Maya saat berada dihadapan Arav.
"Gadis bernama Aiyla ini mungkin tidak mengetahui bahwa tanah yang menjadi lokasi pertambangan sebenarnya dari dulu diperebutkan oleh banyak pihak, termasuk Vinterm ..." Arav mengelus-elus dagunya seraya memandangi peta.
Dari sekian banyak kasus, ada sebuah kejadian yang hampir menimbulkan konflik atara Vinterm dan Vion, adalah masalah sengketa lahan antara wilayah yang sama-sama memperebutkan pertambangan.
Akhirnya diputuskan bahwa masalah ini harus segera diselesaikan dengan pihak Vinterm dan Vion mendapatkan masing-masing sebagian wilayah pertambangan secara merata. Lokasi barat adalah milik Vinterm sedangkan di timur adalah milik Vion.
Sementara tempat Aiyla mengambil alih pertambangan berada di bagian barat, tentu saja ini adalah bagian kekuasaan Vinterm saat ini diketahui sumber pendapatan penting wilayah tersebut.
Diketahui seorang bangsawan penguasa kota di sekitar perbatasan Vinterm yang dimaksud telah menjual tanah tersebut tanpa sepengetahuan Arav, celakanya hasil pajak bukan digunakan untuk kepentingan pembangunan melainkan untuk kepentingan pribadi. Jelas hal ini menimbulkan kerugian tidak sedikit dari banyak orang.
__ADS_1
"Urus orang ini segera, beritau kepada pasukan kota Zem agar segera turun tangan mengatasi masalah ini agar tidak berlarut-larut ..." Arav memberikan perintah.
"Puluhan pasukan kota Zem akan saya pimpin langsung dalam tugas ini, kalau begitu saya undur diri terlebih dahulu ..." Maya memberi hormatnya sebelum melangkah mundur.
Dua hari kemudian, Maya langsung menjalankan tugasnya dalam mengurus orang-orang yang terlibat dalam kasus ini dengan mengerakan kelompok Mawar Sembilan untuk menangkap atau hanya sekedar memberikan peringatan seperti melakukan pembunuhan.
Bisa dihitung dengan jari ada kurang lebih 5 orang terlibat dalam peristiwa ini termasuk seorang pengawal yang tengah bertugas tewas dalam hal melindungi majikannya. Maya melanjutkan tugasnya dengan mengabari Clare untuk mengumpulkan prajurit kota dengan jumlah yang telah disepakati.
***
"Ada apa ini? Mengapa dalam satu malam mereka mendadak menghilang tanpa ada kabar sedikitpun?" tubuh Aiyla bergetar saat mendengar kabar ini.
Aiyla pada tiga hari yang lalu telah mengirim surat kepada seseorang yang memberinya izin dalam pertambangan ini, namun dirinya tidak pernah menduga bahwa mereka akan lenyap dalam waktu singkat tanpa ada penjelasan sedikitpun terhadapnya.
Beberapa bulan yang lalu dia telah diusir dari rumah karena ayahnya kurang setuju untuk mengambil alih pertambangan ini, beliau mengingatkan bahwa tanah ini adalah milik warga, yang artinya dilindungi pihak pemerintah.
Entah kenapa dia jadi anak pembangkang yang tidak mengikuti nasehat setelah mendengar kabar jika tanah ini dijual, mengingat pada saat itu Arav tengah berada di luar wilayah Vinterm, tanpa dia sadari semua ini adalah kesalahan terbesarnya karena pertama kali dia begitu ceroboh pada hari itu.
Akibatnya dia menjadi salah satu korban penipuan karena sebenarnya kegiatan penambangan yang dilakukannya adalah melawan hukum yang berlaku di wilayah Vinterm, ayahnyapun juga tidak berbuat banyak karena menurutnya memang seharusnya Aiyla diberi pelajaran atas perbuataanya.
"Nona ... Apa sebaiknya kita pulang ke rumah tuan besar? Kurasa keberadaan kita di tempat ini akan segera diketahui oleh Duke Vinterm ..." Kata seorang pelayan saat melihat majikannya bercucuran keringat.
"Tidak ... Kemarin aku telah mengirin surat kepadanya dan sampai sekarang tidak ada tanggapan apapun!" Aiyla semakin yakin bahwa keluarganya tidak berada di pihaknya.
Dia kemudian memutuskan untuk bertindak sesuai rencana sebelumnya yaitu pembangunan pertahanan.
__ADS_1
"Hubungi seluruh pekerja agar mempersiapkan diri dalam kemungkinan bertarung melawan orang-orang dari Vinterm ..." Aiyla tidak punya pilihan lain sehingga memutuskan mengambil cara kekerasan.
Pelayan itu mengganguk pelan, mempersiapkan kebutuhan seperti senjata dan perlatan perang meski tidak ada harapan untuk menang, setidaknya dia bisa mengulur waktu sampai bala bantuan datang dari pihak keluarganya, demikian pikirnya.
Di satu sisi para anak buah yang berjumlah ratusan membangun pertahanan, warga sekitar masih terlihat lesu sebab Arav terbilang cukup lambat dalam mengatasi masalah ini.
"Kau ... Jangan bermalas-malasan!"
"Kau ... Cepat bangun pertahanan yang kokoh!"
"Kau ... Bekerja dengan sungguh-sungguh!"
Ailya bekerja dengan sangat keras, waktu siang dan malam dia pakai untuk mempersiapkan segala yang dibutuhkan dalam menghadapi serangan pasukan kota Zem.
Para pekerja juga mengeluhkan soal perbedaan kekuatan antara kedua pihak, ada yang memilih untuk meninggalkan Aiyla. Yang pasti mereka masih menyayangi nyawa.
"Sejujurnya aku sangat menyukai uang! Tapi nyawa lebih penting daripada hal yang lain untuk itu aku harus mempersiapkan rencana cadangan jika sewaktu-waktu rencana ini gagal total ..." Batin Aiyla cemas.
"Nona ... Tidak lama lagi mereka akan segera sampai, sebaiknya anda tidak bertindak terlalu gegabah yang menimbulkan konflik antara keluarga anda dengan bangsawan dari Vinterm ..." Pelayan itu kembali mengingatkan.
"Tenang ... Aku akan mengurus semua ini dan akan kupastikan bahwa dirimu akan baik-baik saja jika kita kalah dalam perang, yang pasti kita tidak akan dapat menandingi pasukan Vinterm dengan mengandalkan seratus orang ..." Aiyla menghela nafas panjang.
"Apakah anda akan-"
"Kita sudah dianggap sebagai pemberontak saat ini, sudah terlambat untuk meninggalkan tempat ini sekarang ..."
__ADS_1