
"Bocah disana! Sebaiknya cepat menjauh jika tidak ingin menghalangi kami!"
Para petarung ini jelas meremehkan kemampuan Arav yang bahkan menurut mereka tidak sebanding dengan kemampuan mereka saat ini, sehingga mudah saja dia mengatakan itu.
"Kau ..."
"Sudah ... Kau tidak perlu mempermasalahkannya, kita lihat seberapa kuat para petualang ini," Arav menenangkan Masket yang mulai mengepalkan tangan, rasanya Masket ingin membalas perkataan petualang dihadapannya tersebut yang berani mermehkan kekuatan majikannya.
Pertarungan berlangsung sengit ketika serigala bertaring tajam mulai menunjukan kehebatannya hanya dengan mengaung mampu menciptakan angin mengimbangi badai kecil sekalipun.
"Apa-apaan!"
Para petualang yang setidaknya memiliki rata-rata kemampuan kelas Penusuk Ahli tersebut jelas bukan tandingan bagi hewan raksasa yang kekuatannya sulit diketahui, sehingga tubuh mereka terhempas begitu saja karena tertiup angin.
Namun bukan berarti selamanya hewan buas dihadapannya ini dapat menyembunyikan level kekuatan karena Arav sudah dapat menyimpulkan dari kejadian tadi.
"Kelas Serigala Penguasa ... Cukup jarang untuk ditemui bahkan keberadaannya pun sudah dianggap sebagai dongeng," Arav tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya.
Kelas Serigala Penguasa dikenal akan kekuatan pertahanannya yang tinggi bahkan sulit untuk menembus kulit bagian luarnya sebab dilindungi energi besar pada setiap bagian rawan terkena serangan.
Disebut sebagai hewan dalam dongeng bukan tanpa alasan, kebanyakan serigala yang menempati tingkat Serigala Penguasa pernah menjadi monster paling dicari di seluruh dunia, selain karena dagingnya terkenal akan baik untuk meningkatkan kemampuan fisik, membunuh serigala buas ini dan mengambil sebuah batu permata kehidupannya dapat digunakan untuk membuat senjata.
Batu permata kehidupanpun beragam tergantung tingkat kekuatan, dalam kasus ini kawanan lain serigala buas tersebut memang memilikinya namun tidak berharga seperti yang dimiliki pemimpin mereka.
"Hanya ada ada satu cara untuk mengalahkannya tetapi aku tidak yakin harus menggunakan cara ini ..." Arav bergumam pelan, dia lebih memilih untuk membiarkan para petualang tadi bertarung lebih lama.
Akhirnya ada salah satu petualang dari totalnya yang berjumlah 4 orang berhasil mendekati serigala penguasa tersebut hingga menyentuh angka beberapa meter, namun siapa yang menduga dalam sekali serangan cakaran pria tadi mengalami pendarahan serius.
"Berg!"
__ADS_1
"Ck, kau telah melukainya membuat kami semakin bersemangat untuk menghabisimu!"
Para rekannya bukannya segera melakukan pertolongan pertama justru bergerak cepat membalas serangan demi serangan yang dilancarkan hewan perkasa itu.
"Apa mereka sama sekali belum belajar jika hanya mementingkan lawan tanpa mempedulikan nasib orang disekitarnya akan membuat banyak nyawa melayang?" Arav menghela nafas panjang.
Di Antasia tidak jarang Arav menemukan hal serupa tetapi dalam kasus seperti ini dia menemukan keunikan tersendiri ketika salah satu anggota Tameng Berduri merawat pria malang yang diketahui bernama Berg tersebut.
"Terimakasih ..." Wajah Berg merah merona memeriksa hasil perawatan anggota regu khusus ini, Lamunannya teralihkan begitu terlihat ada senyuman tipis pada wajah gadis dihadapannya.
"Saya hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh tuan," Tentu gadis tersebut tidak melakukannya dengan sepenuh hati, baginya Arav adalah satu-satunya orang yang membuatnya tertarik.
"Ck, Dia lagi ... dia lagi. Mengapa ada banyak gadis bersama dengan bocah ini? Mungkinkah ..." Berg menyeringai lebar, sebuah ide terlintas dalam pikirannya begitu menatap gadis di samping Arav, keheningannya pun pecah begitu serigala besar tersebut mengalahkan satu per satu rekan-rekannya yang lain.
"Arghh!"
"Aww!"
"Masket ..."
"Saya sudah siap kapanpun tuan membutuhkan ..."
Arav melesat dengan kecepatan tinggi tetapi dalam batas wajar mengingat disekeliling mereka tidak hanya ada regu Tameng Berduri, itupun gerakannya sudah dianggap begitu lincah oleh para petarung yang menyaksikan.
Sementara Arav mengalihkan perhatian hewan buas, Masket diam-diam sudah mendekati serigala besar tersebut dan mulai melakukan serangan tingkat tingginya.
Serigala itu memiliki tubuh sangat besar sehingga cukup sulit baginya menghindari tembakan besar yang menjadi salah satu jurus Masket, namun kejadian yang sama juga ditunjukan Arav saat dirinya tiba-tiba melayang cukup tinggi.
"Tubuhmu memang keras, tetapi apakah mampu menandingi ketajaman pedang Roh Abadi pemberian senior Alice kepadaku!" Arav berbicara lantang begitu sebuah pedang bercahaya keputihan mengincar bagian leher hewan buas tersebut.
__ADS_1
Tidat lama kemudian, terjadi sebuah pemandangan mengerikan yang berhasil membuat merinding beberapa orang yang menyaksikan.
***
Setelah 10 menit selesai dalam misi Arav dan Masket memutuskan untuk mengumpulkan sumber daya yang baru saja mereka peroleh, tentu saja dia tidak berniat membagikannya secara gratis kepada para petualang disampingnya.
"Gila ... Dalam sekali tebasan bocah itu mampu membunuh monster tadi ..."
"Tiga puluh ... Ah, bahkan jumlah permata ini melebihi seratus! Jika dihitung berapa banyak uang yang bisa kuperoleh dari penjualan?"
Para Petarung tersebut berbicara dengan nada pelan seolah-olah ingin meminta bagian mereka namun nyali mereka tidak cukup besar untuk memintanya secara langsung, apalagi setelah melihat kemampuan Arav yang tidak biasa. Berg masih dapat mendengarnya namun tidak begitu jelas.
Kejadian tadi jelas membuat Berg terkejut ditambah pedang roh begitu asing baginya, hanya saja Berg tidak memahami sepenuhnya cara kerja energi roh sehingga tidak mengetahui tentang pusaka yang dimiliki Arav tersebut.
"Tuan ... Semua batu permata ini akan kita apakan?" Masket mengarahkan pandangan Arav ke sebuah tumpukan menyerupai gunung kecil.
"Jika dijual akan menghasilkan banyak uang ... Kurasa kita bisa menyerahkan sumber daya ini kepadanya ..." Arav terlihat antusias, selain meningkatkan pendapatan Vinterm dia yakin dengan sumber daya tersebut para pengerajin senjata mungkin akan sangat sibuk setelahnya.
"I ... Ini ..." Seorang gadis tiba-tiba muncul dihadapan Arav setelah beberapa saat tidak terlihat.
Identitas gadis ini dapat ditebak Arav lewat tingkahnya, hanya Aiyla yang pernah Arav lihat menunjukan cahaya secerah itu di bola matanya begitu melihat setumpuk besar permata berada dihadapannya.
"Arav! Aku mencintaimu! Bisakah kita segera menikah dan akan mencarikanku benda ini lebih banyak!" Aiyla begitu terbawa suasana sehingga lupa di sekitarnya ada orang asing.
"Apa ... Menikah?" Masket langsung berwajah cemberut. Dia menatap tajam Arav yang saat ini tersenyum canggung, kesulitan berkata-kata setelahnya.
"Ngomong-ngomong setelah bertarung dan menyelesaikan misi kalian pasti lapar bukan? Tidak salahnya kita mengolah daging hewan buas mengerikan itu menjadi makanan yang lezat ..." Arav berusaha mencairkan suasana.
Masket pun hanya bisa mengganguk pelan menuruti keinginan Arav, sementara melihat para petualang tadi masih berada di tempat mereka berada membuat Arav merasa tidak enak hati jika tidak mengajak mereka ikut makan.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak berselera makan! Kau makan saja sana! Jangan mempedulikanku!"