Penguasa 10 Pedang Legenda

Penguasa 10 Pedang Legenda
Pelayan Baru


__ADS_3

"Muridku, aku sangat-sangat merindukan wajah dinginmu itu ..."


Sebuah suara yang terdengar di dalam pikiran Arav, tiba-tiba dia sudah berada di dalam sebuah kastel, sebuah ruangan yang hanya ada dirinya dan seorang gadis tengah duduk di sebuah singgasana seraya memandanginya.


"Guru Melida ... Bukankah terlalu cepat untuk reuni kita?" Arav seperti sebelumnya terkejut dengan yang dilihatnya.


Melida tersenyum tipis, "Aku ada misi untukmu, Sebagai ganti telah menyelamatkanmu waktu itu ..."


Melida berdiri, dengan anggunnya berjalan kearah Arav. Tidak ada yang tau jika dia lah yang menyelamatkan pemuda tersebut dari maut, sekaligus telah menjadikannya sebagai murid dalam waktu yang sangat singkat.


Melida Antasia sebenarnya telah berusia hampir 25 tahun, dikenal sangat cantik tetapi penampilannya terlihat seperti seorang gadis 15 tahunan, selalu tenang dan sikapnya mudah untuk diajak berbicara, membuat sebagian besar orang terpesona terhadap penampilannya.


Namun yang menarik perhatiannya adalah Arav yang sama sekali tidak tergila-gila dengan kecantikannya, hal ini membuatnya tertarik untuk mendekati pemuda yang satu ini.


"Sebagai seorang pengguna energi sihir terbaik di kerajaan ini, juga calon raja Antasia di masa depan, aku menunjukmu sebagai seseorang yang berhak atas kekuasaan Ariville! Jadilah pemimpin, bangun wilayahmu sendiri dan tunjukan hasil latihan yang telah kuajarkan kepadamu ..."


"Apakah ini bukan bagian dari rencanamu, Guru?" Arav tersenyum kecut.


"Hmm ... Kau seperti biasa sangat ingin mencari keuntungan dari gadis cantik ini." Melida menggerutu.


"Bukankah guru yang mengajariku untuk bernegosiasi daripada dirugikan?"


Melida bisa saja memberikan ancaman kepada Arav tetapi di dalam pikirannya tidak terlintas mengenai rencana tersebut, justru dia semakin tertarik dengan sifat yang pemuda itu miliki, mendekati sifatnya.


Melida mendekati Arav kemudian berbisik di samping telinganya, "Kau bisa menikahi adik perempuanku atau kemungkinan bisa menikahiku juga ... Jika berhasil merebut seluruh wilayah Duke Ariville dan membantuku mengambil alih kekuasaan Antasia."


Nafas Arav tertahan sejenak sebelum memperhatikan wajah Melida. Kesadaran Arav sepenuhnya pulih karena pembicaraan tersebut berlangsung di dalam pikirannya, menemukan dirinya berada di dalam ruangan besar kediaman Aidyn.


Dilihatnya semua orang nyaris lupa untuk bernafas karena mengira Arav bangkit dari kematian.


"Sepertinya dia telah memberiku sebuah hadiah yang menarik, mana mungkin aku melewatkan semua ini ..." Arav memandangi belasan bangsawan lain yang mulai waspada terhadapnya.


"Sunguh kemampuan yang diluar perkiraanku, ini pertama kalinya ada orang yang berhasil bertahan hidup setelah menerima tusukan pedang sedalam itu ..." Aidyn bertepuk tangan.

__ADS_1


"Apakah itu pujian untukku? Mengapa terdengar seperti mengejek?" Arav menaikan alis, kali ini dia yakin perkataannya membuat sebagian besar lawannya ragu-ragu dalam menyerang., "Dan untuk pengawalku ..." dia mendangi Masket yang sekarang serba salah, masih berlutut, "Ahh, sepertinya kau tidak membutuhkan bantuan dariku ..."


"Jika kau bisa mengalahkan mereka ... Maka aku berjanji, akan bersunguh-sungguh melayanimu, dan menghormatiku sebagai tuan baruku..." Masket buka suara, karena satu-satunya harapan untuk bertahan hidup adalah meminta bantuan pemuda tersebut.


Arav menunjukan senyuman tipisnya, "Mengapa aku harus membantumu yang telah telah mengkhianatiku? Dan Duke Ariville? Aku khawatir kau akan berkhianat lagi ..."


"Kau tidak perlu mencemaskan semua itu, aku telah berjanji maka akan menepatinya!" Ucap Masket tegas, meski terpaksa namun di rumahnya ada seorang adik perempuan yang tengah menunggu kepulangannya, karena itu Masket tidak boleh tewas sebelum bisa membahagiakan keluarganya atau lebih tepatnya melindungi sang adik.


Dan sekarang Arav berencana untuk menagih janji tersebut setelah menarik pedangnya, Arav sudah membunuh 20 penjaga kediaman Aidyn ditambah 12 prajurit elit yang berada di kelas penusuk dan penebas level 20. Sama-sama berkemampuan di tingkat rendah akhir.


Kecepatan bahkan ayunan pedang tidak mampu dibaca oleh lawannya dan gerakannya pada saat berlari mengimbangi kecepatan angin seketika menimbulkan kepanikan para petarung ini.


"Kilatan Cahaya!"


"Petir Surgawi!"


Arav memperlihatkan jurus-jurus bahkan ilmu pedang yang jarang sekalipun dimiliki oleh banyak orang termasuk Aidyn sendiri.


Sebelum Aidyn dapat mencerna situasi, terlebih dahulu dirinya melihat pemandangan yang mengerikan ditunjukan oleh lawannya tersebut.


Seingatnya beberapa tahun ini kemampuan Arav tidak kunjung meningkat, hanya berada di paling lemah.


Kini Aidyn tidak lagi berfikiran demikian setelah menyaksikan langsung kemampuan adiknya ini, beranggapan kemampuan Arav adalah kelas pembunuh sekitar level 50 warisan kemampuan ayahnya, Duke Ariville.


"Menarik ... Kau sudah menunjukan kemampuanmu! Sekarang adalah giliranku untuk memperlihatkan betapa tidak berdayanya kau begitu melawanku!"


Aidyn menarik pedangnya, sebelum maju beberapa langkah untuk mengayunkan pedang. Arav merespon serangan yang dilakukan Aidyn secepat angin dia menangkis dan bertukar serangan sebanyak dua kali.


"Kemampuan tingkat menengah kelas pembunuh kurasa tidak buruk juga ..."


Selain mengetahui tingkat kemampuan Aidyn, dirinya mengetahui level kemampuan lawannya berada di bawah 50, cukup kuat namun tidak terlalu cepat untuk menghindari tendangan yang dilepaskannya hingga terpental.


"Tuan muda dikalahkan begitu saja?!"

__ADS_1


"Apa dia Arav yang kita kenal?!"


"Tidak mungkin! Kemampuannya bahkan bisa dibilang mendekati tingkat tinggi!"


Belasan bangsawan lainnya yang sedari tadi menonton, ikut merasakan dampak secara mental setelah melihat Aidyn bahkan dirasa belum cukup kuat untuk mengimbangi Arav.


Kini Aidyn memandangi beberapa anak buahnya yang mematung menyaksikan, bukannya memilih untuk kabur, "Kenapa kalian hanya diam?! Pasukan elit! Kepala penjaga, serang bersama-sama!"


Dua pria kekar yang seorang prajurit terbaik yang dimilikinya maju menyerang, sementara seorang pria berusia 50 tahunan yang seorang kepala penjaga kediaman ini sudah terlebih dahulu menyerang.


"Memiliki kemampuan di tingkat menengah saja kalian masih saja sombong seperti dulu ..."


Arav tersenyum mengejek karena setiap serangan yang dilepaskan lawannya tidak ada yang berhasil melukainya.


Aidyn semakin frustasi karena dua prajurit terbaiknya tewas dengan mudah di tangan Arav sementara pria yang menjadi kepala pelayannya juga bernasib sama dari prajurit elit tersebut karena sebuah pisau kecil mengenai lehernya.


Sementara Masket yang awalnya pernah bermasalah dengan Arav tidak berkutik dari tempat dia berada dan memilih untuk tetap berlutut, sebelum Arav benar-benar memerintahkannya untuk berdiri.


"Apa yang kalian lakukan? Melihat reaksi wajah kalian sepertinya aku terlalu berlebihan mengatasi semua ini ..." Arav memandangi sekitar.


Selain Aidyn, tidak ada yang berani berbicara bahkan membentaknya lagi pun harus berfikir belasan kali setelah menyaksikan setiap kejadian tersebut, lantas berlutut berharap agar nyawa mereka diampuni.


"Kau bisa sombong setelah naik beberapa level! Sedangkan aku akan menjadi seorang penguasa yang menguasai wilayah ini dengan bantuan ayahku!"


Aidyn yakin dengan bantuan ayahnya, Avan Ariville. Yang sekarang menguasai setengah dari wilayah kekuasaan Duke Ariville jangankan menjadi Adipati dia sangat yakin Avan Ariville akan mampu membunuh Arav dengan pasukan tangguhnya.


Setiap penjelasan Aidyn hanya mampu membuat Arav tertawa kecil ketika menyaksikan tingkah pria dihadapannya ini, namun membenarkan tentang kemunduran pasukan Duke Ariville saat ini.


"Jika aku menjadi dirimu ... Maka sudah dari tadi aku langsung melakukan hal yang sama dilakukan oleh pelayan baruku ini ..."


Kali ini Masket mendongak dan mencoba untuk memberanikan diri menatap mata tuan barunya ini yang sedang mengulurkan tangan.


"Kau tidak lupa, kan? Dengan janjimu tadi? Masket Anthanasya?"

__ADS_1


Masket menggangukan kepala secepat yang dia bisa, "Kau adalah tuan baruku sekarang, saya berjanji akan melayanimu sepenuh hati."


Aidyn hanya bisa mengepalkan tangan karena geram, setelahnya datang puluhan prajurit yang langsung mengepungnya dari semua sisi.


__ADS_2