
"Ini tidak benar! Seharusnya aku yang bersamamu kemarin!"
Aiyla mendengus kesal memandangi Arav dan Masket yang telihat seakan tidak bersalah kepadanya, sepanjang pagi hari ini termasuk pada saat sarapan pun dia masih menggerutu memikirkan kesalahannya kemarin.
Setelah menginap, Arav dan rombongan memutuskan untuk keluar dari kota dan memilih melanjutkan perjalanan tetapi sebelum itu mereka berniat untuk berkeliling kota terlebih dahulu dengan tujuan mengisi ulang perbekalan.
"Tuan ... Sebaiknya kita tidak berlama-lama di kota ini," Masket berbicara pelan sehingga sulit didengar orang asing.
"Kau benar, kedatangan kita cukup membuat para warga menjadi heboh karena kita membawa banyak senjata ..."
Arav sebenarnya penasaran dengan penduduk kota ini yang hampir separuhnya adalah orang miskin, di Vion dia dapat menemukan banyak wilayah maju seperti rumor yang beredar. Namun kenyataannya masih ada kota kecil yang tidak mendapat perhatian lebih dari penguasa wilayah.
"Tuan ... Kumohon belilah semua kue dan roti ini."
Arav menoleh ke samping dan menemukan seorang wanita paruh baya berserta putrinya yang berada di belakang seraya bersembunyi. Kedua ibu dan anak ini menawari mereka makanan yang dimaksud berada di atas sebuah piring besar.
Serempak seluruh regu Tameng Berduri hendak mengeluarkan senapan api mereka sehingga pedagang ini cukup terkejut dengan tindakan rombongan ini membuat Arav buru-buru mencegahnya. Selain mengundang rasa penasaran warga, Arav merasa sebaiknya mereka tidak terlihat terlalu mencolok.
"Bibi ... Berapa harga seluruh kue dan roti ini?" Arav melirik Aiyla untuk menyerahkan beberapa keping koin emas untuk diberikan kepada wanita tersebut.
"Aku mengerti. Bibi, ambilah."
"I ... Ini terlalu banyak ... Harganya saya rasa setengah dari yang anda berikan ..." Pedagang ini meski sangat membutuhkan uang tetapi dia tetap saja sungkan dan merasa tidak enak hati menerima pemberian dari orang asing tanpa balas budi.
"Setidaknya kau pikirkan kondisi putrimu ... Apakah kau sungguh tidak ingin menerima semua ini?"
"Tuan ... Ini ..." Wanita tersebut kemudian memandang ragu putrinya.
Gadis di belakang yang sedari tadi bersembunyi akhirnya memberanikan diri untuk berhadapan dengan Arav, seorang gadis berusia 10 tahun tersenyum cerah terhadap Arav namun pakaian yang dikenakannya terlihat compang-camping sekaligus menarik simpati Arav.
__ADS_1
"Kakak ... Sepertinya kau bukan dari kota ini? Darimana kau berasal? Mengapa kalian tidak pernah aku lihat sebelumnya?"
"Emila ..." Wanita paruh baya ini menegur putrinya karena berbicara tidak sopan, "Tuan, tolong maafkan putri saya. Emila, minta maaf kepada kakak ini."
"Emila minta maaf, Emila berjanji tidak akan mengulanginya ..."
Arav tersenyum tipis melihat tingkah keluarga ini, dia dapat melihat bakat yang dimiliki gadis bernama Emila tersebut jika saja mendapat pendidikan yang layak seperti mendapat pelatihan militer.
Tetapi Arav segera mengurungkan niat untuk menjadikan Emila sebagai prajurit, mana mungkin dia begitu tega melihat anak manis sepertinya terjun langsung ke garis terdepan medan perang.
"Kakak akan pergi? Mengapa tidak mampir ke rumah kami saja sebelum meninggalkan kota?" Emila mencoba untuk lebih dekat dengan Arav tetapi tidak bisa setelah Arav menjelaskan tidak akan berlama-lama di kota tersebut.
"Emila ... Sudah, jangan menggangu kakak ini. Sepertinya dia sangat sibuk ..." Ibunya membujuk putrinya yang semakin tidak rela melepaskan Arav begitu saja.
Melihat semua ini Arav hanya bisa tersenyum canggung sebelum menghabiskan waktu cukup lama demi bisa menenangkan gadis mungil dihadapannya, "Kuharap kita bisa segera bertemu lagi ... Mungkin saat itu kau akan jauh lebih berbeda dari sebelumnya, simpan benda ini, aku rasa akan berguna untukmu dimasa depan." Arav mengelus-elus rambut Emila setelah memberikan sebuah gelang.
"Tuan bahkan belum pernah memberikanku hadiah seperti itu ..." Masket mengembungkan pipi menatap Arav dengan dingin.
"Bisa-bisanya dia langsung melamar gadis ini ..." Aiyla tidak kalah melakukan hal serupa.
Arav tersenyum canggung, dirasa tindakannya telah membuatnya dalam kesulitan tetapi Arav bisa mengatasinya mungkin dalam beberapa waktu. Arav memberikan benda tersebut sebagai tanda pengenal ketika Emila dalam bahaya kelompok Mawar Sembilan yang tersebar ataupun orang-orangnya bisa membantunya.
"Wah, kakak sungguh memberikanya kepadaku? Emila menyukainya!"
"Tuan begitu baik hati ... Saya berhutang budi kepada anda dan berharap bisa membalasnya suatu hari nanti ..."
Setelah membeli sepenuhnya barang dagangan mereka, Arav merasa semua yang dilakukannya setidaknya akan meringankan sedikit beban hidup mereka. Dia kemudian berpamitan kepada Emila terlebih dahulu baru kepada ibunya, perbincangan berlangsung singkat karena Masket dan Aiyla kini tengah berebut untuk merangkul lengan Arav.
"Setelah kupikir-pikir ... Kue buatan bibi itu jauh lebih enak dari yang kubayangkan sebelumnya ..."Arav memandangi Masket namun tiba-tiba gadis ini malah mengabaikannya begitupun dengan Aiyla.
__ADS_1
Arav menghela nafas, sepertinya ini lebih sulit dari yang dia bayangkan untuk mereda amarah kedua gadis cantik tersebut.
Tiba di gerbang kota Arav dicegat oleh 2 orang penjaga lengkap dengan baju zirah serta perlengkapan lainnya. Mereka bukan bermaksud untuk menghalangi namun ada sesuatu yang harus kedua penjaga itu katakan sebelum membiarkan seseorang lewat.
"Sebaiknya kalian tidak mencoba untuk keluar kota saat ini ..."
"Benar, lebih baik kalian segera kembali dan tidak melewati jalur ini ..."
Arav mengerutkan dahi ketika setiap penjelasan yang dilontarkan para penjaga tersebut tidak jelas dan justru membingungkannya.
"Beraninya kalian berbicara seperti itu terhadap tuan?! Jika menginginkan uang jalan maka akan kuberikan!" Aiyla melemparkan sekantung kecil berisikan uang.
Biasanya Aiyla begitu peduli terhadap uang, namun dia hanya merasa kesal dengan sikap prajurit dihadapannya ketika berbicara dengan nada tinggi kepada mereka.
"Tapi ... Kalian harus mendengarkan kami ... Di depan ada ..."
"Ah, kau biarkan saja mereka lewat. Dengar tuan ... Kami tidak akan pernah bertanggung jawab jika kalian terbunuh ataupun terluka nantinya ..." Salah satu rekannya tersenyum tipis menyampaikan.
"Paman tidak perlu mengkhawatirkan kami, karena aku tau betul cara menjaga diri dari bahaya ..." Arav bukannya takut atas peringatan tersebut justru tersenyum lebar sebelum melangkah keluar dari kota.
20 gadis yang berada di belakang Arav tiba-tiba mengikutinya, membuat 2 sosok penjaga ini merasa telah meremehkan latar belakang pemuda dihadapannya.
"Siapa mereka?! Mengapa ada banyak pengawal yang mengikutinya?!"
"Sebaiknya kau tutup mulutmu itu! Jangan membuat kita terlibat dalam urusan mereka!"
Beberapa waktu berlalu, Arav sudah memasuki sebuah wilayah padang rumput. Sebaliknya, Arav merasa yang dikatakan para penjaga tersebut mungkin harus dia pertimbangkan nantinya. Di depannya sudah terlihat ada sebuah desa kecil tak berpenghuni berjarak beberapa ratus meter.
"Tuan ... Ada kabut tebal di desa itu!" Salah satu anggota Tameng Berduri menyampaikan hasil pengamatannya. Jelas mereka menemukan hal yang tidak biasa dari tempat ini.
__ADS_1