
Perang telah usai, dari sekian banyak korban yang paling banyak dialami oleh pihak Avan Ariville, namun bukan berarti pihak Arav tidak menderita kerugian sedikitpun.
Di medan perang, ada lebih dari sekumpulan orang merasa sedih atas kematian rekannya atau saudara sendiri, ada pula kejadian saat saudara kandung terpaksa saling bertarung melawan satu sama lain akibat perang saudara ini.
Pihak lawan yang masih hidup ditangkap dan kemudian dijatuhi hukuman oleh Duke Ariville karena telah memberontak, tidak sedikit yang selamat dari kejadian ini, banyak yang memilih bertahan hidup dengan cara membuka mulut.
Di lain sisi, warga yang mengungsi mulai berdatangan ke kota tempat tinggal lama mereka. Suasana saat anak-anak tersenyum ketika pulang membuat Viscount Ariville senang melihatnya.
Lima hari berlalu, Viscount Ariville mengirimkan surat kepada Arav yang kini tengah berbaring di atas ranjangnya yang empuk. Beberapa waktu berlalu sejak dia menggunakan terlalu banyak mana, mengakibatkan tubuhnya terasa lemah dan membutuhkan istirahat yang cukup.
"Tuan harus makan yang banyak karena telah bekerja sangat keras ..." Kata Masket saat menyuapi Arav makan meski tubuh pemuda dihadapannya ini masih terbaring di ranjang.
Arav memilih membuka mulut dan menyantap hidangan lezat pada pagi itu. Begitu bangun sudah ada seorang gadis dihadapannya.
Dia berada di kediaman Sanjaya, berada di kota Vinterm. Tepatnya setelah perang Ariville usai, Arav langsung bergegas pulang dengan Masket beserta anggota Mawar Sembilan yang membawanya langsung ke tempat ini.
"Tuan ..."
Maya muncul setelah membuka dan mengetuk pintu terlebih dahulu, Maya sengaja ikut bersama Arav menuju Vinterm karena permintaan majikannya.
"Kau datang pada saat yang tepat ..." Arav memandangi Maya yang menundukan kepala ke arahnya, "Angkat dagumu ... Sudah kubilang beberapa kali agar tidak terlalu bersikap demikian terhadapku kecuali saat dihadapan dengan banyak orang ..."
Maya mengganguk pelan, perintah apapun pasti dia penuhi, "Saya membawa sebuah surat dari ibu kota untuk anda ..." Maya menyerahkan surat yang dimaksud adalah selembar kertas berisi stempel kerajaan.
__ADS_1
Arav bukannya senang malah mengerutkan dahi, jika ini dari ibu kota jelas seseorang yang mengirimnya adalah bagian dari keluarga kerajaan.
Bukan pertama kalinya dia menerima surat dari tempat tersebut, Melida pernah mengirimnya surat beberapa kali namun tidak memakai tanda pengenal khusus. Ditambah setelah melihat lambang kerajaan di surat ini membuatnya sedikit cemas.
"Berita mengenai terlibatnya Vinterm sudah tersebar luas hingga ke wilayah lain ..." Arav tertawa kecil.
Di Antasia, ada 5 wilayah negara bagian di kerajaan ini antara lain adalah Ariville, Vinterm, Vion, Qwntensa dan satu wilayah terletak pada pulau terpisah dinamakan dengan Lam.
Ariville terletak di sebelah timur sedangkan Vinterm dan Vion terletak di sebelah barat secara terpisah, selain Vion yang terkenal akan keluarganya selalu bermasalah dengan Qwntensa, Vinterm tidak demikian dan cenderung berhubungan baik dengan wilayah Vion, meski sama-sama berada di wilayah barat namun yang sebenarnya adalah Vion terletak di bagian tengah kerajaan.
"Sepertinya aku harus menghadiri pertemuan antar penguasa wilayah lain yang akan dilaksanakan di ibu kota ..."
Perjalanan akan memakan waktu, 1 bulan lagi Arav akan pergi menuju ibu kota.
Maya adalah kepala pengawal sekaligus bertugas sebagai pelindung Vinterm saat ini, posisinya tidak jauh dari seorang komandan dan tugasnya adalah melindungi Arav. Karena itu dia merasa pengawalan yang ketat mungkin dibutuhkan nantinya.
Arav menggelengkan kepala, "Tidak perlu ... Cukup dengan sebagian anggota Mawar Sembilan dan beberapa prajurit biasa aku rasa perjalanan ini akan baik-baik saja ..."
"Meskipun anda berkata demikian ... Tetap saja mungkin akan terjadi hal yang tidak diinginkan ... Sebaiknya kita waspada ..." Maya berbicara dengan nada pelan.
Arav menggaruk kepalanya, Masket masih berada di sampingnya dan menyarankan hal yang sama membuat dirinya pun harus mempertimbangkan semua ini, setelah diputuskan bahwa Maya hanya boleh membawa 20 prajurit ke ibu kota dan tidak lebih, Maya setuju.
"Setidaknya hari yang dijanjikan masih terlalu jauh ... Kita masih mempunyai banyak waktu untuk mengurus masalah di sekitar Vinterm ..." Arav mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
Semua berawal pada saat ada keluhan mengenai pertambangan di daerah perbatasan Vinterm-Vion yang diambil alih secara paksa dan menjadikan tempat tersebut sebagai milik seorang pedagang kaya yang dilindungi oleh beberapa bangsawan.
Masalahnya adalah bukan hanya karena wilayah tanah yang diambil paksa dari warga, melainkan pertambangan ini sangatlah penting bagi Vinterm karena menghasilkan sumber daya seperti emas, perak, logam dan lain-lain.
Celakanya kejadian ini terjadi bukan beberapa minggu atau beberapa hari yang lalu, melainkan beberapa bulan sebelumnya tentu membuat warga yang bergantung kepada tambang ini merasa terbebani.
"Saya pernah mendengar bahwa anak pedagang kaya ini adalah seorang gadis berusia sebelas tahun, dia yang telah mengambil alih tanah ini dan menjadikannya sebagai miliknya ..." Kata Maya menjelaskan pada saat mereka berada di ruangan lain.
Melihat reaksi Maya sepertinya bawahannya ini tidak bisa bergerak dengan leluasa, selain karena mendapat dukungan dari bangsawan, pedagang kaya ini juga mempekerjakan puluhan hingga ratusan prajurit kelas rendah bahkan ada yang menyamai tingkat menengah sekalipun.
"Sepertinya hubungan baik antara Vinterm dan Vion tidak akan sepenuhnya bertahan lama ..." Arav menggela nafas panjang sambil menggelengkan kepala.
"Haruskah saya menyampaikan permintaan kepada Duke Vion untuk bekerja sama dalam mengatatasi masalah ini?"
Arav menggelengkan kepala mendengar saran ini, mana mungkin hal yang tidak ada keuntungannya dilakukan oleh orang asing terlebih kepada keluarga yang dikenal sebagai penghasil pedagang jenius tanpa mengharapkan imbalan dari kerja kerasnya, kecuali orang tersebut mungkin dulu pernah berhutang budi kepadanya sehingga menggangap harus membayar dengan cara apapun.
"Wilayah ini terletak diantara perbatasan, yang paling parahnya lagi pertambangan ini berada dalam perebutan antara warga dan pedagang ini ..." Maya menjelaskan dengan rinci, menegaskan wilayah ini sepenuhnya milik warga.
"Katakan kepada gadis ini agar segera menghentikan pertambangannya, beri dia peringatan jika dalam dua sampai tiga hari tidak meninggalkan pertambangan, pihak pemerintah akan turun tangan bekerja sama dengan pihak berwenang mungkin akan melakukan cara lain ..." Titah Arav sambil menulis pernyataan ini langsung untuk dikirimkan kepada pedagang yang dimaksud.
Maya mempersiapkan pengiriman dengan dirinya langsung turun tangan dalam penyampaian perintah ini dengan menunggangi kuda, sementara 3 prajurit berkuda juga mengikutinya dari belakang.
Dua hari kemudian, dia dan beberapa pasukannya sudah sampai di sekitar wilayah pertambangan. Pada saat yang sama seorang gadis berdiri memandanginya dengan tatapan dingin berada di atas bebatuan menyerupai bentuk benteng.
__ADS_1
Maya terkejut karena di sampingnya ada lebih dari dua puluh warga yang tengah berdiri memandanginya juga dengan tatapan dingin tanpa merasa senang atas kehadirannya.