Penguasa 10 Pedang Legenda

Penguasa 10 Pedang Legenda
Avan Ariville


__ADS_3

Sebelum Arav menentukan nasib Maya dan Clare, dia terlebih dahulu memutuskan untuk mencari sisa anggota kelompok mata-mata tersebut lewat bantuan Clare yang mengetahui lokasi persembunyian anggota tim nya yang lain, berada tidak jauh dari kota Garlet.


"Desa ini dulunya adalah tempat persembunyian kami sebelum orang-orang pergi mengungsi ..."


Clare menambahkan bahwa semenjak perang saudara terjadi, banyak rumah-rumah penduduk yang dikosongkan karena memilih pergi ke kota Arnet untuk mencari perlindungan.


Masket yang awalnya tidak menyangka akan kondisi anggota timnya seperti sekarang ini merasa bersalah karena tidak mampu lebih cepat menolong mereka.


"Esmee! Adaline! Chika! Aku tau kalian berada di tempat ini! Keluarlah ..."


Arav menoleh ke arah samping setelah menemukan tiga gadis cantik berusia 12 tahunan berjalan ke arahnya, salah satu diantara mereka justru menunjukan tatapan waspada.


Arav prihatin setelah memperhatikan penampilan gadis tersebut yang terlihat mengenakan pakaian compang camping.


"Paman Avan ini memang sangat kejam menyuruh mereka untuk bertarung, apakah dia sangat kekuarangan sumber daya manusia sehingga memperkerjakan mereka?" Gumam Arav pelan sebelum menggelengkan kepala, bersimpati terhadap kondisi gadis-gadis itu yang bisa dibilang tinggal di tempat yang tidak layak, "Masket, berapa jumlah uang yang kau butuhkan untuk membelikan mereka pakaian baru?"


Masket tertegun, "Apakah tuan berencana untuk ..."


"Benar, belikan mereka pakaian, makanan dan minuman ..." Arav memandangi tiga gadis tersebut yang sekarang berlutut dihadapannya, "Angkat kepala kalian dan berdirilah! Aku hanya tidak tega melihat kondisi kalian yang seperti ini ..."


"Tuan telah berbaik hati kepada kami yang adalah orang asing bagimu ... Tolong jangan ragu meminta salah satu diantara kami untuk melayanimu malam ini ..." Clare juga berlutut dihadapan Arav, membuat pemuda itu tambah kebingungan.


"Saya mengetahui sebuah tempat yang menjual pakaian untuk mereka ... Haruskah kita pergi ke kota Garlet sekarang?" Masket menyela.


"Tunggu! Bukankah terlalu berbahaya bagi Tuan untuk pergi ke kota itu? Saya dengar kota Garlet telah jatuh ke tangan musuh!" Gadis bernama Adaline menengahi.


Clare langsung menatap tajam ke arah gadis itu, "Tuan tidak perlu repot-repot hanya demi membelikan kami pakaian pergi ke tempat berbahaya. Saya yang akan kesana menggantikan ketua Masket ..."

__ADS_1


"Tidak perlu ..." Arav menggelengkan kepala. Tetapi Clare bersikeras untuk mencegahnya pergi ke kota yang dimaksud, membuat Masket harus menjelaskan tentang tujuan mereka yang sebenarnya.


***


"Duke Sanjaya, dan Tunangannya silahkan masuk ke kediamanku yang sederhana ini ..."


Arav menemukan ruangan yang megah, dengan dekorasi mewah, namun yang membuatnya terkejut adalah sikap hangat Avan Ariville terhadapnya yang seakan terlihat palsu, mungkin menginginkan untuk menjalin hubungan baik dengannya.


"Paman Avan ini memang terlalu sering membuatku terheran-heran ... Apanya yang sederhana, kediaman ini mirip dengan istana mewah di ibu kota."


Saat ini Arav memakai indentitas Duke Sanjaya dan mengubah penampilannya menjadi seorang pemuda yang terlihat sangat tampan saat mengenakan pakaian militer.


Dia datang bukan hanya sebatas kunjungan ke kota tetapi menemui pimpinan tertinggi pasukan musuh ayahnya, Avan Ariville.


"Duke telah repot-repot datang ke kota ini hanya demi menemuiku ... Silahkan duduk di meja yang telah saya siapkan ..." Avan Ariville mengarahkan Arav dan rombongan ke arah meja makan.


"Apakah tidak masalah jika aku mengajak seorang pengawal ke dalam?" Tanya Arav namun pandangannya tertuju ke arah Clare.


"Ahh, sebenarnya anda tidak perlu khawatir akan keamanan di kediaman ini." Avan Ariville memandangi Arav sekaligus secara terang-terangan menjelaskan kondisi keamanan kota Garlet, sebelum memberikan izin saat pemuda tersebut menunjukan senyuman hampa.


Ketika Arav dan Masket menikmati perjamuan, di lain sisi Maya, Adaline, dan 10 prajurit Vinterm sudah berada di pabirk gudang senjata dan segera menghubungi anggota kelompoknya yang lain.


Maya dan Adaline tidak mendapatkan perlawanan berarti saat menghadapi penjaga gudang senjata dan telah mengambil ribuan pucuk senapan api.


Kemudian meletakannya di kereta kuda yang telah disiapkan Arav sebelumnya dengan dikawal oleh belasan prajurit, dengan Chika dan Esmee sebagai yang paling bertanggung jawab.


Saat perjamuan hampir berakhir barulah sepucuk senapan api terakhir diletakan Maya di atas kereta.

__ADS_1


"Ahh, aku yakin Maya dan yang lainnya sudah menyelesaikan misi ..." Gumam Arav sambil memberikan tanda kepada Masket untuk segera meninggalkan kediaman.


Namun Avan Ariville yang merasa tujuannya belum tercapai mencegahnya, "Apakah Duke berencana untuk menginap di tempat ini? Sebenarnya saya ingin meminta bantuan dari Vinterm untuk bekerja sama ..."


"Oh, katakan ..." Arav memperbaiki posisi duduknya.


"Bisakah anda membantu atau setidaknya mendukung saya dalam memenangkan perang melawan Duke Ariville ..."


Arav diminta Avan Ariville untuk mengerahkan sekitar 15.000 tentara bayaran Vinterm untuk bergabung dalam pasukannya.


Sementara, dirinya tidak meminta bayaran berupa kekayaan, namun meminta Pria paruh baya itu untuk menyerahkan sebagian senjata-senjata api yang dimiliki kota Garlet kepadanya yang berjumlah 45.000 dari total keseluruhan 90.000 pucuk senapan api.


"Kota Garlet terlalu banyak memproduksi senjata ini, ditambah hanya ada ratusan yang mampu menggunakanya, tidak ada salahnya untuk memberikannya ..." Gumam Avan Ariville lalu menyuruh seorang komandan militernya untuk mempersiapkan penyerahan senjata.


Karena menurutnya yang paling dibutuhkan saat ini adalah sumber daya manusia yang banyak untuk mengatasi pasukan keluarga Ariville dan anggota Kerajaan, Avan Ariville tidak terlalu membutuhkan senjata ini. Namun yang menjadi pertimbangan adalah harga senapan api yang terbilang cukup mahal.


Tidak lama setelahnya, datang seorang pelayan datang dengan raut wajah pucat, Arav sangat yakin bahwa penyebabnya adalah hilangnya senjata tersebut.


"Apa ... Sepuluh puluh ribu senapan api berhasil dicuri? Siapa yang melakukannya?!" Jerit Avan Ariville lantang.


Arav mengerutkan dahi karena jumlahnya tidak sesuai yang diharapkannya, "Kupikir pria licik ini hanya menyimpan seluruh senjatanya pada satu tempat ... Tidak kusangka masih ada gudang senjata lain di kota ini ..." Gumamnya pelan.


"Ahh, Duke tidak perlu mengkhawatirkan masalah ini. Pasukanku akan segera mengatasinya ..." Avan Ariville merasa tidak enak hati karena mengagetkan tamunya.


"Saya yakin Anda akan segera memecahkan masalah ini dan berharap agar tuan tidak terlalu terburu-buru dalam menyelesaikan kesepakatan kita. Bagaimana jika saya memberikan anda waktu untuk menemukan pelakunya, sementara saya dan Marisaa akan berlibur di kota ini ..."


Saat ini yang terlintas di dalam pikirannya adalah untuk menemukan keberadaan gudang senjata lain dan mencari seorang gadis yang adalah saudari pelayannya. Jadi dia memutuskan untuk tinggal lebih lama sambil berkeliling kota dengan alasan berlibur.

__ADS_1


"Saya mengerti dan berterimakasih kepada anda karena memutuskan untuk berwisata di kota ini ... Kepala pelayan akan menyiapkan kamar khusus untuk anda, dan nona Marisaa ..." Avan Ariville memanggil kepala pelayan yang dimaksud.


__ADS_2