
"Dunia yang penuh dengan pertempuran, disanalah aku direinkarnasi ..." Arav mengingat masa lalunya.
Sebenarnya dirinya yang dulu adalah seorang mahasiswa jenius di sebuah universitas, kebetulan namanya hampir mirip dengan di dunia yang sekarang dia tempati, Arav Sanjaya. Karena sebuah kecelakaan dirinya harus tewas di dunia lamanya, dan tiba-tiba saja menjadi Arav Ariville di dunia ini.
Pertemuannya dengan Melida Antasia bisa dibilang telah mengubah hidupnya, Arav Ariville adalah pemuda yang lemah dari kekuatan fisik dan selalu dihindari oleh banyak orang karena pendiam, hal ini diketahuinya dari Masket yang kemarin bersikap demikian terhadapnya.
"Ingatan di kepalaku ini menunjukan bahwa gedung yang berdiri kokoh dihadapanku itu adalah tempat tinggal Arav Ariville ..." Gumamnya pelan sambil ditemani masket yang sedang berjalan mengikutinya dari belakangnya.
Karena Arav Ariville sebenarnya sudah tewas dan tubuh pemuda tersebut dibuang di sebuah hutan belantara oleh puluhan orang, pada saat pemilik tubuh berganti, disanalah awal pertemuannya dengan sang guru.
Awalnya Arav berencana untuk merahasiakan identitasnya dan membangun kekuatan militer secara diam-diam dengan dibantu oleh Melida Antasia dengan tujuan membalaskan dendam.
Namun terlebih dahulu pergerakannya diketahui oleh orang-orang dari dikediaman Aidyn, kebetulan pula keluarga bangsawan Ariville sedang melemah karena saling menyalahkan satu sama lain atas meninggalnya pewaris kekuasaan.
Avan Ariville adalah anggota keluarga yang juga sangat berpengaruh di keluarga tersebut lantas memanfaatkan kesempatan untuk membentuk pasukan sendiri.
Pertama-tama yang dilakukan olehnya adalah diam-diam melakukan serangan ke kota-kota penting setelah mendengar berita bahwa Arav Ariville berhasil selamat dari maut, lalu mengambil alih kekuasaan dengan paksa dalam waktu yang sangat singkat.
Duke Ariville karena masih merasa sedih atas berita meninggalnya putranya juga menjadi penyebab keterlambatan dalam mengetahui tentang pemberontakan tersebut.
Ditambah karena orang-orangnya kurang cepat dalam mendapatkan informasi mengakibatkan dirinya kehilangan sebagian wilayah akibat perang. Celakanya, sampai saat ini pria tersebut masih menggangap Arav Ariville tewas dibunuh.
"Tuan ..." Masket buka suara, cara bicaranya kali ini berubah drastis sejak kemarin dan berniat membalas kebaikan Arav semampunya, "Kita sudah sampai di kediaman keluarga Ariville."
Arav memandangi Masket, "Sebelum itu aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu ..."
"Apa itu tuan?"
Arav mendekat sambil membisikan sesuatu di samping telinga Masket, Arav tidak berniat masuk ke dalam dengan penampilannya seperti sekarang ini karena akan menambah masalah jika dia muncul sebagai Arav Ariville dihadapan banyak orang, memutuskan untuk menyamar.
***
__ADS_1
"Jadi ... Anda adalah Duke Sanjaya dan nona Marisaa?"
Viscount Ariville sudah berada dihadapan mereka yang dikenal sangat cerdas dan beribawa di kota Arnet, dia sedikit terpukau melihat pasangan yang menjadi tamu istimewanya saat ini.
Duke Sanjaya adalah identitas lain yang diberikan oleh Melida setelah diterima menjadi murid, namun karena perang membuat pasukan militernya mau tidak mau harus memihak Ariville karena permintaan sang putri.
Duke Sanjaya sendiri adalah sebuah pengelola provinsi di sebelah barat kerajaan yang dinamakan wilayah Vinterm sementara Marisaa adalah tunangannya, kini Masket yang memakai identitas tersebut.
Vinterm adalah wilayah yang terbilang baru didirikan oleh Melida sekitar beberapa bulan yang lalu, tujuannya tidak lain adalah demi mencapai ambisi gadis tersebut.
Nama keluarga bangsawan Vinterm tidak sepopuler keluarga Ariville karena biasanya Duke Sanjaya dikenal sangat netral dan jarang terlibat perang. Yang menarik perhatian Arav adalah Viscount Ariville sampai sejauh ini seperti tidak mengenali identitas asli mereka.
"Vinterm bersedia membantu Ariville bila Viscount mengizinkan kami bertemu dengan tuan penguasa wilayah, Duke Ariville."
Arav mengerutkan dahi ketika ada seseorang yang berbisik di telinga Viscount Ariville, sepintas memandanginya dan Masket dengan tatapan dingin.
Karena dari dulu Ariville adalah sebuah kerajaan cukup besar dan kuat yang setuju bergabung dengan negara Antasia, menjadikanya harus tunduk kepada keluarga kerajaan.
Namun Duke Ariville tetap mendapatkan kekuasaanya sebagai pemimpin wilayah Ariville dan sepenuhnya wilayah ini dilindungi oleh kerajaan Antasia, berbeda dari wilayah lain yang tunduk dengan cara berbeda.
"Tidak ada di kota ini ... Lalu kemana perginya ayah?" Arav bergumam, karena sepengetahuannya Arnet adalah pusat kota di Ariville, sebelum memandangi Masket, "Harus menggunakan cara lain untuk menggali informasi." Dia pun menggengam tangan gadis tersebut sebelum memulai sandiwaranya, "Sayang, apakah kau ingin berjalan-jalan sebentar di kota ini bersama denganku? Bila Viscount mengizinkan ..."
"Tentu, saya akan mengajak anda berkeliling di kota ini ..."
Sementara, Masket nyaris lupa bernafas dan bingung harus bersikap bagaimana sebagai seorang tunangan, namun tidak berani menolak memutuskan untuk bertindak sesuai keinginan Arav.
Dua jam setelah keliling kota, Arav dan Masket belum mendapatkan kabar mengenai Duke Ariville dari para penduduk lokal ataupun menggali informasi secara diam-diam dari pembicaraanya dengan Viscount, dan sekarang hampir menjelang sore.
Viscount Ariville sudah tidak mampu lagi menunjukan tempat-tempat wisata di kota Arnet memutuskan untuk mengajak Arav dan Masket makan malam di dalam kediamannya.
Meski Viscount Ariville mengetahui secara detail identitas Duke Sanjaya sebagai bangsawan yang menguasai daerah kecil yang baru didirikan, namun tetap saja pria tersebut cenderung menghormati gelar kebangsawannya.
__ADS_1
"Duke Sanjaya, hamba memohon maaf karena membuat anda menunggu lagi, kurasa Duke Ariville akan pulang besok atau mungkin beberapa hari lagi ..." Kini Viscount Ariville mulai mengecurkan keringat setelah berulang kali memperhatikan jendela.
Arav dan Masket dapat menebak yang disembunyikan oleh pria tersebut namun belum saatnya mereka bertindak gegabah.
"Apakah karena pria bernama Avan itu telah menguasai hampir sebagian besar wilayah ini?" Perkataan tersebut membuat Viscount Ariville tersedak saat makan.
"Sepertinya saya tidak mampu lagi menyembunyikan ini dari Anda ..." Pria paruh baya tersebut tersenyum hampa.
Arav tertawa kecil, "Paman Ansley, maaf telah membuatmu khawatir ..."
"Tidak masalah ... Identitasmu sebagai Duke Sanjaya membuatku cukup terkejut."
Viscount Ariville menggelengkan kepala sebelum mengusap dadanya, sulit baginya untuk memahami situasi saat ini.
"Kalian sudah saling mengenal?" Masket tidak mampu menutup mulut setelah menyaksikan kejadian itu.
***
Viscount Ariville kebetulan adalah saudara laki-laki Duke Ariville sekaligus pamannya. Dia berkata Duke Ariville saat ini berada di medan perang mengatur pasukannya untuk memukul mundur atau mempertahankan wilayah kota Arnet dengan setidaknya kurang dari 20.000 prajurit.
Sementara, ibu kota Can, kerajaan Antasia berencana mengirimkan bantuan 10.000 prajurit melalui jalur darat, namun hanya 500 prajurit terdekat yang baru tiba di kota, dibandingkan pasukan musuh yang berjumlah 50.000.
"Kita kalah jumlah ... Hampir seluruh kendali militer angkatan darat Ariville ada pada komandan Avan ..." Viscount Ariville menghela nafas.
"Pasukan sebanyak itu, apakah komandan Avan berencana untuk melakukan invasi selain di wilayah ini?"
Arav bergumam pelan, karena selain terkejut dirinya juga curiga dengan niat Avan Ariville yang sebenarnya setelah menaklukan beberapa kota ataupun desa-desa disekitarnya.
"Tuan! Kumohon selamatkan adik saya dari mereka!" Masket tiba-tiba berlutut membuat Arav dan Viscount Ariville tiba-tiba terkejut dengan tindakannya, "Kota Galret adalah tempat tinggalnya yang sekarang ..."
"Mungkinkah?!" Viscount Ariville tiba-tiba tertegun.
__ADS_1
Masket menggangukan kepala pelan, "Saya akan membayar dengan cara apapun yang anda inginkan! Tuan ... Tolong selamatkan adik saya!"
Arav mengelus dagunya seraya memandangi peta yang ada di meja, karena kota Garlet ini adalah salah satu markas pasukan musuh, jelas keamanannya lebih ketat daripada kota lain bahkan Arnet.