
"Kakek, berapa harga yang ini?"
"Ah, sekitar ..."
Ketika kakek pedagang tersebut menawarkan harga yang cukup tinggi, Aiyla memandangi Arav dengan senyuman tulus.
"Kau menginginkan cincin itu?" Arav memandangi Aiyla sejenak sebelum balik memandangi sebuah benda yang ditunjukan Aiyla kepadanya.
"Aku menginginkannya! Kumohon belikan cincin itu untukku!" Aiyla berbicara dengan nada begitu manja sehingga Arav kesulitan untuk menolaknya.
"Setelah kupikir-pikir lagi? Selama ini dia belum mendapatkan hadiah apapun dariku, tidak ada salahnya memberikan dia benda ini, tetapi ..." Batin Arav.
Arav menghela nafas panjang, tidak tau apa yang akan terjadi setelah dia benar-benar mengabulkan keinginan Aiyla yang satu ini. Seperti sebelumnya Arav terpaksa menuruti keinginan Aiyla mengingat akan sulit jika gadis ini menggerutu sepanjang perjalanan.
"Sungguh! Kau akan membelikan cincin ini untukku?!" Aiyla antusias begitu melihat Arav menggangukan kepala, "Arav! Aku mencintaimu! Sekarangpun aku bersedia untuk menikahimu!"
Aiyla mendekat ke arah bibir Arav namun pemuda tersebut menjauhkan diri dan memilih langsung membayar tagihan pada kakek tua tadi sebagai alasan untuk menghindar.
"Anak muda ... Ini ..." Bayarannya melebihi harga yang diberikan membuat pedagang tersebut kesulitan dalam mengeluarkan kalimat.
"Anggap saja aku memberikanmu hadiah tambahan, jangan sungkan."
Arav menerima cincin tersebut, begitupun dengan kakek tadi yang menerima bayarannya, sebenarnya Arav sedikit merasa prihatin dengan kondisi pria tua dihadapannya, setidaknya dengan uang tersebut mampu membantu kakek tua itu meskipun tidak banyak.
"Anak muda, sungguh aku tidak bisa menerima semua ini secara gratis ... Anggap saja sebagai gantinya aku akan memberimu informasi berharga, adakah yang ingin kalian ketahui tentang kota ini?"
Arav sedikit terkejut namun sempat untuk menyembunyikannya, dia tidak pernah menduga jika pria tua dihadapan ini selain pedagang perhiasan ternyata adalah seorang pedagang informasi.
"Kakek, seberapa banyak kau mengetahui kejahatan yang telah dilakukan penguasa daerah ini?" Aiyla bukan pertama kalinya menemukan seseorang seperti kakek tersebut, jadi dia tidak terlalu terkejut seperti yang Arav rasakan.
__ADS_1
"Mungkin ini akan memakan waktu. Gadis muda, apakah kau yakin ingin mendengarnya?"
Kakek tua itu cukup heran dengan pertanyaan yang Aiyla lontarkan, biasanya kebanyakan para pelanggannya akan menanyakan informasi tentang tempat wisata ataupun restoran terbaik di kota tersebut, namun yang mereka tanyakan sungguh tidak biasa.
"Katakan semua yang kau ketahui ... Aku bersedia membayar lebih ..." Arav kembali membuka suara karena tertarik untuk mendengarnya.
Akhirnya Pedagang ini pun memilih membuka mulut, setidaknya Arav bersedia membayar lebih informasi berharganya yang terbilang langka dan sulit didapatkan, "Anak muda ... Apakah kau mengetahui alasan kota Turi menjadi salah satu tujuan para pedagang kaya ataupun bangsawan dari ibu kota?"
Arav mengganguk pelan, sepengetahuannya kota Turi terkenal sebagai salah-satu tempat bagi orang yang kakek tersebut maksud beristirahat setelah menempuh perjalanan panjang, biasanya mereka akan menyewa penginapan dan menyaksikan berbagai macam hiburan.
"Kota turi memang terletak sangat strategis, mungkin karena sebenarnya kota ini adalah salah-satu pusat perdagangan budak besar di Antasia."
"Apakah ..." Arav mendadak memahami maksud kakek tersebut.
"Mereka memperjual-belikan budak kepada para pengunjung kota untuk mendapatkan uang ..."
"Arav ..." Aiyla memanggil Arav karena pemuda tersebut hanya diam memandangi taman bunga dihadapannya sedari tadi.
Arav memandangi sejenak gadis disampingnya sekaligus mengerti apa yang Aiyla inginkan darinya, "Ulurkan tanganmu ..."
"Kau ..." Pipi Aiyla memerah karena ucapan Arav.
Arav tidak menjawab meskipun Aiyla dipenuhi beberapa pertanyaan langsung memakaikannya cincin tadi di salah satu jari manis gadis dihadapnnya.
Biasanya di Antasia hal ini dianggap sebagai lamaran sebelum menikah namun Arav hanya menggangapnya sebagai hadiah biasa.
"Apakah cincin ini terlihat cocok ditanganku?" Aiyla memperlihatkan penampilan barunya.
"Lumayan cocok untukmu," Selesai berkata demikian Arav kembali larut dalam pikirannya, "Setidaknya malam ini adalah saatnya bagi mereka untuk bertindak ..." Batin Arav ketika mengingat rencana mereka sebelumnya.
__ADS_1
***
Pada malam harinya kediaman walikota Anselm terdengar lebih sunyi daripada biasanya, padahal tengah terjadi sebuah insiden kecil di dalamnya.
"Penjara terletak di ruangan bawah tanah! Rekan-rekanku yang berhasil mereka tangkap karena memberontak semuanya ditahan di tempat ini!" Penjaga yang memihak Arav tadi mengarahkan Masket dan anggota Tameng Besi ke sebuah ruangan besar.
Ada lebih dari ratusan orang yang menempati tempat tersebut. Masket menggelengkan kepala, sungguh dia tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini di kota turi apalagi menyaksikannya secara langsung.
Tidak membutuhkan waktu lama Masket dan yang lainnya untuk membebaskan para tahanan, namun hanya warga yang diculik, mantan pejabat yang pernah menentang walikota Anselm ataupun orang tidak bersalah lainnya.
"Hei! Mengapa kalian tidak mengeluarkan kami?"
"Keluarkan kami atau kalian semua akan kubunuh!"
Masket mengabaikan setiap peringatan yang dilontarkan para bandit disekelilingnya serta tetap fokus terhadap misi pentingnya.
Padahal satu-satunya cara agar para bandit tersebut bisa kabur adalah dengan memanfaatkan situasi ini sebaik mungkin, Masket merasa mereka telah menyia-nyiakannya.
"Terimakasih, kau sudah membebaskan kami." Salah satu kenalan penjaga tersebut mengucapkan hal yang seharusnya mereka katakan, selama ini mereka tidak pernah berharap akan ada kejadian seperti sekarang ini, namun sepertinya mereka salah.
"Jika sudah semuanya sebaiknya kalian secepatnya pergi meninggalkan tempat ini, sementara aku akan menahan pergerakan musuh!" Masket sadar tidak lama lagi bantuan pasukan Turi akan segera tiba, juga jika mereka terlalu lama tinggal lama akan membahayakan banyak nyawa terutama warga sipil.
"Nona Masket, kami masih memiliki urusan lain! Biarkan kami bersamamu!" Salah satu prajurit berseru lantang hingga menarik perhatian Masket.
"Tuan sudah menyiapkan rencana lain untuk menyelesaikan urusan kalian, Tuan berharap saat ini jalan yang terbaik bagi keberhasilan rencananya adalah mundur terlebih dahulu!" Masket menjawab sambil menggelengkan kepala.
Masket tidak menunggu para prajurit yang berhasil dia bebaskan mengikutinya, misinya bukan hanya berfokus menyelamatkan mereka tetapi juga dengan keberadaan para pejabat saingan Walikota Anselm, dia rasa itu sudah cukup dalam menekannya dengan kekuatan selain militer.
Para prajurit tadi saling menggangukan kepala pelan sebelum bersama memutuskan untuk mengikuti Masket.
__ADS_1