Penguasa 10 Pedang Legenda

Penguasa 10 Pedang Legenda
Membayar Hutang Budi


__ADS_3

"Caroline!"


Masket berlari menghampiri Caroline dan langsung memeluknya, sudah 6 bulan sejak mereka berpisah dan dirinya merasa bersalah karena tidak mampu melindungi adiknya sendiri.


"Sekarang kau sudah aman selama berada di dalam pengawasanku ... Dan untuk mereka..." Arav memandangi belasan prajurit yang amat ketakutan setelah menyaksikan langsung kekuatannya.


"Jika tuan tidak keberatan ... Saya akan mengurus sisanya ..."


Maya menawarkan diri untuk membungkam orang-orang yang mengetahui identitas majikannya, langsung mengeluarkan senjata begitu mendapatkan izin.


"Saya akan membantu!" Chika juga berniat serupa, berdiri di samping Maya sambil membawa senapan api.


Kejadian pada sore itu bagaikan menyerupai kondisi medan perang karena banyaknya korban berjatuhan, hingga mayat-mayat prajurit yang gugur memenuhi tempat itu.


Karena hari hampir menjelang sore, Arav dan rombongan pun memutuskan untuk pergi menuju kota. Namun yang terjadi setelahnya sungguh diluar perkiraannya saat Clara menghampirinya.


"Kalian darimana saja?! Tuan ... Seperti dugaan anda bahwa ..." Dia berhenti berbicara saat Avan Ariville tiba-tiba berada di belakangnya.


"Sepertinya Duke dan Nona Marisaa sangat menikmati liburan di pinggir kota ini ..." Avan Ariville menyapa, namun ada kerutan kecil di dahinya.


"Kudengar pemandangan kota Garlet sangat indah pada sore hari ini ... Jadi Saya dan Marisaa berkeliling di pinggir kota ..." Arav diam-diam memberikan tanda kepada Maya sekaligus memberikan perintah.


Gadis itu mengerti akan maksud Arav yang memerintahkannya untuk membawa Caroline ke tempat yang telah diperintahkannya, sementara Masket terlihat berusaha mengalihkan perhatian saat merangkul lengan Arav.


Arav menggaruk kepalanya, "Sepertinya Marisaa sedikit kelelahan setelah seharian berkeliling kota ... Bila berkenan ..."


"Tentu saja ... Kepala pelayan akan mengantar nona Marisaa ke dalam kamarnya ..." Avan Ariville memanggil Kepala pelayan di kediamannya dan menyuruh pria paruh baya tersebut untuk mengantar Masket ke tempat yang diperintahkan dengan dikawal langsung oleh Clara.


Perbincangan antara Arav dan Avan Ariville terasa agak canggung sejak pria paruh baya itu mengeluarkan senyuman dingin.


"Sepertinya pria tua ini tidak mengetahui pergerakanku ..." Arav bergumam seraya berjalan masuk ke dalam kediaman.

__ADS_1


Tidak ada satupun dari mereka yang memulai pembicaraan saat berada di lorong, namun kedatangan seorang prajurit membuat Avan Ariville mengerutkan dahi ketika bawahannya membisikan sesuatu tepat di samping telinganya.


"Oh, jadi mereka sudah mati ..." Pria paruh baya itu menghela nafas panjang, "Katakan kepada seluruh pasukan agar menghentikan pencarian! Dan fokus dalam menghadapi pasukan Duke Ariville ..."


"Tidakku sangka paman Avan benar-benar menarik mundur pasukannya dan mempermudahkanku menangani masalah ini ..." Arav bergumam sebelum melanjutkan langkah kakinya.


Dia dapat mendengar dengan jelas pembicaraan tersebut, meski Avan Arivile berbicara dengan suara pelan, dia dapat memahami yang dimaksud oleh pria paruh baya tersebut sebelum menunjukan senyuman tipis. Setelah dirasa urusannya telah selesai, Arav memilih pergi menuju ke ruangan tidurnya.


"Tuan sudah kembali?"


Masket menghampiri Arav saat pemuda itu baru membuka pintu ruangan.


"Kenapa kau berada di dalam kamar tidurku?" Arav mengerutkan dahi karena sepengetahuannya, seharusnya gadis itu sekarang berada di kamar tidurnya masing-masing.


"Apakah Tuan Muda lelah? Berbaringlah ... Biar saya yang melayani anda hari ini ..." Masket bukan tanpa alasan bersikap berbeda terhadap Arav karena sudah berulang kali menyelamatkannya, jadi dia merasa berhutang budi dan berencana untuk membayarnya dengan cara apapun.


Arav tanpa sepatah katapun mengikuti saran Masket, namun yang terjadi setelahnya diluar dugaannya saat Gadis tersebut justru melakukan hal serupa, berbaring di ranjang yang sama dengannya.


"Tuan tidak perlu terkejut ... Anggap saja ini sebagai balasan dari saya karena telah menyelamatkan Caroline dari mereka ..." Masket membalikan badan sambil memejamkan mata, tidak menatap mata Arav secara langsung, "Dan ... Jika tuan tidak keberatan, Anda bisa meminta saya untuk melakukan ini setiap hari ..."


Masket kali ini langsung berniat untuk tidur setelah mengucapkan kalimat tersebut, seketika di pipi Arav terdapat warna merah yang segera hilang setelah pemuda itu membalikan badan.


***


"Hmmm ... Tuan muda! Seharusnya saya yang melayani anda kemarin!"


Arav mengusap matanya, terlihat seorang gadis menggerutu kesal saat memandanginya.


"Clare? Kau ..." Dia berhenti berbicara saat Masket juga terbangun akibat suara berisik itu.


"Tuan ada apa berisik di pagi-pagi begini?" Masket terdiam, sebelum benar-benar dibuat terkejut dengan kehadiran Clare di dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Pokoknya, Tuan juga harus membiarkanku tidur seranjang denganmu!" Ucap Clare lantang tanpa rasa malu sedikitpun.


Tok Tok


Tiba-tiba Maya buru-buru datang setelah membuka pintu, mengejutkan mereka atas berita yang disampaikannya, "Saya melaporkan, Avan Ariville berniat mengerahkan sekitar tiga puluh ribu pasukan untuk menyerbu kota Arnet! Sebagian besar adalah tentara bayaran Vinterm!"


"Cukup mengejutkan jika paman nekat melakukan itu setelah mendapatkan bantuan pasukan dalam jumlah besar ..." Arav mengelus dagunya.


Jelas karena sikapnya yang terlalu tenang membuat Masket penasaran, "Apakah tuan sudah mengetahui tentang hal ini?"


"Paman adalah pria yang cerdik, dia pasti memiliki maksud lain dari pengerahan pasukan ini ..."


Tidak lama kemudian, terbukti bahwa dugaannya ternyata benar ketika seorang pelayan datang menyampaikan sebuah perintah dari Avan Ariville yang meminta Duke Sanjaya agar datang menemuinya.


"Maya ... Aku menugaskanmu untuk menjadi pengawal sementaraku." Maya langsung menggangukan kepala begitu mendengar perintah yang diucapkan Arav, "Mungkin akan terjadi sebuah hal yang tidak kita inginkan. Clare, kumpulkan anggota kelompokmu dan suruh mereka untuk tidak bertindak, sebelum keadaan diluar kendali jangan sesekali bertindak tanpa perintah..."


"Dimengerti!" Jawab Clare tegas langsung menjalankan tugas.


"Dan aku ..." Masket menunjuk dadanya, "Apakah tuan tidak membutuhkanku dalam menjalankan rencana ini?" Gadis itu menggerutu karena merasa kesal.


"Kau akan tetap memakai identitas Marisaa ... Bersiaplah untuk melakukan sesuatu sebagai seorang tunangan ..."


Masket hanya menggangukan kepala menyikapi perkataan Arav, dan segera mengganti pakaiannya. Sementara, Arav dan Maya langsung pergi menuju ke ruang tamu tempat dimana Avan Ariville tengah duduk santai seraya meminum teh.


"Maaf telah menggangumu pagi-pagi begini ..."


"Tidak masalah ..." Jawab Arav sambil menggelengkan kepala, "Kudengar anda akan melakukan penyerbuan besar-besaran ke pusat kota wilayah ini?"


Avan Ariville menganggukan kepala, "Untuk itu saya ingin meminta bantuanmu dalam mendukung setiap rencana ini agar seluruh wilayah Ariville berada di dalam kendaliku ..."


"Paman Avan ini ternyata memiliki sisi ambisius, hmm ... Mungkin aku akan membuat kesepakatan dengannya ..." Gumam Arav pelan sambil menikmati secangkir teh di atas meja, "Mungkin saya akan mempertimbangkan akan ini ... Tentu semua ini tidak saya berikan secara gratis, karena Vinterm akan meminta sesuatu sebagai bayarannya ..."

__ADS_1


"Bisakah Duke menjelaskan secara detail mengenai keinginan anda yang satu ini?" Avan Ariville menyipitkan mata. Membuat Arav mengetahui yang sebenarnya dipikirkan oleh pria paruh baya ini, sebelum dibuat terkejut olehnya.


__ADS_2