
"Asha, Aisha, Eui ... Mereka adalah anggota kelompokku yang telah lama hilang ..."
Masket memperkenalkan setiap anggota kelompoknya yang berjumlah 9 orang termasuk dirinya, dengan rata-rata berkemampuan setara level 30.
"Sa ... Saya akan bersedia melakukan apa saja asalkan tuan tidak mencampakannku ..." Gadis bernama Eui yang terlihat berusia paling muda sekitar 10 tahunan diantara rekan-rekannya, terlebih dahulu buka suara.
"Saya juga ... Bersedia melakukan apapun untuk melayani anda ..." Perkataan tersebut membuat Asha menggangukan kepala setuju dengan ucapan gadis berusia 16 tahun disampingnya, Aisha.
"Baiklah ... Kalian semua akan kuberikan tugas, sesuai dengan kemampuan yang kalian miliki ..." Arav mengelus-elus dagunya, pertama kali baginya untuk merekrut dan mempekerjakan tiga gadis sekaligus dalam satu hari, sebelum memandangi Eui, "Kudengar kemampuan menembakmu selalu tepat sasaran ..."
"Be ... Benar! Saya adalah seorang penembak jitu di kelompok ini di bawah pimpinan ketua Masket!" Eui menggangukan kepala sambil mematung di tempat.
Yang paling ingin diketahui Arav adalah mengenai kelompok tersebut yang sama sekali belum pernah dia dengar sebelumnya dari Masket ataupun Clara sekalipun, "Masket ... Kau tidak pernah mengatakan tentang kelompokmu ..."
"Maafkan saya karena tidak sempat mengatakannya ..." Masket tiba-tiba terkejut, "Karena kelompok kami sangat rahasia, dan proses seleksi yang sangat ketat membuat anggota kelompok ini berjumlah sangat sedikit ..."
Mawar Sembilan adalah nama kelompok tersebut yang diketahui Arav setelah Asket menjelaskannya, namun sekarang hanya tinggal sebuah kenangan sebab tidak lama kemudian Masket memutuskan untuk membubarkannya.
Hal ini tentunya membuat Arav merasa bersalah, "Kurasa kalian tidak perlu membubarkan kelompok ini ... Bagaimana jika seluruh anggota Mawar Sembilan sekarang bekerja dibawah kendaliku?"
Mawar Sembilan pada awalnya adalah sebuah kelompok yang bergerak untuk mengumpulkan informasi, tujuan itu kini sedikit berubah karena seluruh anggotanya setuju untuk menjadi bawahan yang menjalankan langsung perintah Arav, begitupun dengan Masket.
"Kalau begitu, saya akan menyerahkan posisi pemimpin kepada anda ..." Masket tanpa komentar sedikitpun langsung menyetujui.
Arav menghela nafas panjang, meski saat ini dia memiliki kendali penuh atas Mawar Sembilan, namun yang menjadi pertimbangannya adalah menghadapi Duke Ariville yang kemungkinan akan menjadi lawannya.
Pesan yang dikirimkan oleh ayahnya itu terdengar sebagai sebuah peringatan baginya, namun Melida yang juga baru-baru ini mengirimkan surat secara mendadak justru mengejutkannya.
__ADS_1
"Tidakku sangka Guru tidak akan memihakku jika keluarga kerajaan melakukan pergerakan ..." Gumamnya pelan, lagi-lagi menghela nafas panjang, "Masket, apakah Maya sudah mempersiapkan semua yang aku minta sebelumnya?"
"Kurasa dia sudah menemui Viscount Ariville dan mendatangi pasukan kita yang berada di sepanjang perbatasan ..." Masket mengetahui kontrak kerja tentara bayaran Vinterm yang hanya berlaku sebelum Arnet jatuh, dan akan berakhir setelah kota tersebut direbut, "Apakah akan ada sebuah pertempuran lagi?"
"Setidaknya hal itu mungkin akan terjadi setelah menemui Duke Ariville yang sedang menungguku di luar kastil ..." Arav menunjuk ke satu arah, terlihat sebuah rombongan kereta kuda dengan pengawalan ketat menuju ke arah mereka.
Clara kemudian datang menghampiri mereka dengan tergesa-gesa, "Gawat! Sepertinya Duke Ariville marah besar atas tindakanmu! Tuan, beliau mendesak agar anda segera menemuinya di luar kastil."
"Mengapa kalian tidak sekalian membiarkannya masuk?" Ucap Arav santai.
Masket terdiam di tempatnya, walaupun dia tidak mengetahui secara pasti rencana Arav, tapi dia tidak berani bertindak lebih jauh sebelum diperintahkan langsung olehnya.
Clara lantas bergegas menemui penjaga gerbang dan mempersilahkan Duke Ariville dan rombongan masuk ke dalam kastel, suasana yang tidak ramah dari penduduk kota karena merasa kecewa turut menjadi alasan pria paruh baya tersebut merasa bersalah.
"Duke Ariville ... Saya sangat senang atas kedatangan anda ke kota ini ..." Arav menyambut Duke Ariville beserta rombongan, sekarang memakai identitas Duke Sanjaya.
"Kudengar Anda telah memihak saudaraku Avan ... Apakah setelah ini kau dan pasukanmu akan melancarkan serangan ke kota Doma kami?" Duke Ariville mengerutkan dahi.
Clare sudah dalam posisi siaga akibat perkataan pria paruh baya itu yang terdengar seperti ancaman, berniat mengeluarkan senapan apinya.
"Memang benar pada awalnya kami berniat untuk menyerang kota doma ..."
Serempak 5 prajurit di belakang Duke Ariville dibuat terkejut oleh jawaban Arav begitupun dengan Clara yang tertegun saat mendengarnya, namun tidak berani bertindak gegabah sebelum diperintahkan untuk bertarung.
"Duke Sanjaya ... Apa maksudmu dengan mengatakan ini?" Duke Ariville tidak kalah terkejut mendengarkan.
Arav menenangkan, "Anda jangan salah paham dulu ... Sebenarnya saya sudah lama menolak ajakan itu dan tidak ingin membuat konflik dengan keluarga kerajaan, terutama dengan anda ..."
__ADS_1
Duke Ariville dan beberapa prajurit kini bisa bernafas lega sebab mengetahui ancaman mereka yang sebenarnya bukan dari penguasa wilayah Vinterm ini.
"Jika demikian, mengapa anda mengirimkan bantuan kepada saudaraku Avan untuk membantunya menaklukan kota?"
Arav mengerutkan dahi, alasannya tidak lain adalah karena ayahnya ini masih menggangap Avan Ariville sebagai saudaranya setelah melalui semua ini, "Bisa dibilang semua ini demi mencapai satu tujuan ..."
"Bisakah anda menjelaskannya kepadaku? Alasan Duke Sanjaya melakukan semua ini?" Tanya Duke Ariville penasaran.
"Kurasa tidak ada salahnya untuk memberitaukannya kepadamu ... Kita bisa membicarakan semua ini di dalam ..." Arav menuntun rombongan tersebut ke dalam sebuah ruangan.
Sementara, Clare menghubungi rekan-rekanya yang lain meminta agar pengamanan diperketat dengan Esmee dan Adaline sebagai pengawal tambahan karena kemungkinan akan terjadi perdebatan yang tidak bisa dihindarkan.
***
"Itu yang saya coba jelaskan kepada anda dan Viscount Ariville sudah menyetujuinya ..." Arav memandangi Duke Ariville, sambil tersenyum tipis.
"Sepertinya saya telah salah paham terhadap rencana anda ..."
Duke Ariville dan para pengawalnya cukup dibuat terpukau setelah mendengar rencana pemuda itu yang sebenarnya.
"Duke tidak perlu memikirkan semua ini ... Yang terpenting adalah untuk membalas perbuatan si pengkhianat Avan Ariville ini ..." Arav meneguk segelas teh di atas meja, tanpa menghiraukan tatapan orang-orang yang memandanginya.
"Kalau begitu? Setelah ini adakah yang bisa saya bantu?" Duke Ariville menawarkan diri untuk bersekutu dengan Duke Sanjaya, mana mungkin dia hanya diam menunggu.
Jelas karena hal ini mmbuat Arav tambah percaya diri, "Cukup perintahkan para prajuritmu untuk bersiap menghadapi serangan yang akan dilakukan oleh Avan Ariville terhadap kota Garlet ..."
Baru saja Arav mendapat laporan dari Maya mengenai pergerakan pasukan Avan Ariville yang sekarang menuju ke arah kota, namun tidak menemukan pimpinan pasukan tersebut berada di antara ribuan prajurit yang mendekat.
__ADS_1
Duke Ariville sebenarnya tidak terlalu terburu-buru mempercayai ucapan Arav, tetapi setelah menoleh ke arah jendela, terlihat barisan prajurit dengan formasi menyerang tengah bergerak menuju ke arah kota.