
"Tidak buruk ... Anak muda ..."
Arav menepis dan menghindari setiap serangan dari pria paruh baya yang nyatanya lebih mematikan dari perkiraannya.
"Kudengar selain memiliki hawa pembunuh, dia masih memiliki senjata pusaka ..."
Ada 10 jenis benda pusaka di Antasia, pastinya hanya dimiliki oleh pejuang-pejuang tangguh dan jagoan pada masannya, ada pula yang diwariskan untuk keturunan, salah satunya adalah Pedang Raja Angin yang dimiliki oleh lawannya ini.
"Topan Badai adalah julukanku ... Setidaknya kau mengenaliku dari rumor yang beredar ..." Topan Badai mengeluarkan benda pusaka Pedang Raja Anginnya, kemudian mengalirinya dengan mana dalam jumlah besar.
Sepintas pedang itu mungkin terlihat biasa-biasa saja, namun dalam sekali serangan mampu membuat angin bertiup kencang. Dampak yang ditimbulkan sangat berpengaruh terutama terhadap Arav yang memiliki kemampuan terbang setara di kelas Naga pun kesulitan mempertahankan keseimbangan saat berada di udara karena serangan ini.
"Topan badai setidaknya berada pada urutan sembilan jagoan di Antasia, setidaknya kemampuannya ini berada di tingkat tinggi ..." Arav menganalisa kemampuan Topan Badai yang kemungkinan berada di kelas Ahli Pedang.
Kali ini dia mendarat setelah terbang cukup lama, Arav mengetahui cukup kerepotan menghadapi Topan Badai saat bertarung di atas langit karena Pusaka di tangan pria paruh baya ini mampu menciptakan badai angin yang diluar perkiraannya.
"Tidak ada cara lain lagi ... Sepertinya satu-satunya cara untuk menghadapinya adalah dengan bertukar jurus ..." Arav larut dalam pikirannya sehingga Topan Badai membuatnya menunggu cukup lama.
"Sepertinya membutuhkan waktu bagimu untuk memikirkan tindakan selanjutnya ..." Topan Badai tertaawa kecil sebelum mengarahkan pedangnya kearah Arav, seketika angin bertiup kencang menuju pemuda itu.
Arav menaikan tangannya, sebuah dinding kemudian terbentuk karena sihir yang kemudian hancur berkeping-keping ketika menerima serangan kedua.
Masket berada cukup jauh dari lokasi pertarungan dan hanya menyaksikan saja kedua ahli pedang tersebut saling menunjukan kekuatan mengingat lawannya ini adalah belasan prajurit pimpinan Topan Badai, "Kuharap tuan baik-baik saja dan tidak terluka sedikitpun ..." Dia mengepalkan tangan dengan keras karena kali ini hanya bisa menonton saja pertarungan tanpa ikut terlibat.
"Tombak Kristal ..."
__ADS_1
Giliran Arav yang menyerang dan melepaskan tombak-tombak sihir secara beruntun, Topan Badai tidak ketinggalan menunjukan kemampuannya dengan menangkis setiap serangan.
"Anak muda ... Harus kupuji kemampuan beladirimu yang sangat baik pada usia semuda ini, tetapi misi utamaku tetap adalah membunuhmu ..."
Topan Badai mendapatkan perintah dari salah satu anggota kerajaan, untuk menghabisi seorang pengkhianat dan orang itu adalah tidak lain Arav yang memakai identitas Duke Sanjaya.
Masalahnya adalah pria tersebut tidak secara detail menanyakan identitas lawannya ini yang mengira Arav hanya penghianat biasa tanpa latar belakang yang kuat. Nyatanya semua itu salah sejak Arav memperlihatkan jurus yang pernah dipakai seorang jenius di Antasia namun belum terlalu yakin untuk menyimpulkannya.
Selama pertarungan berlangsung, awalnya Topan Badai menyikapi setiap gerakan serangan Arav dengan senyuman namun itu tidak berlaku lagi sejak Arav memutuskan untuk bertarung lebih serius.
Kini luka ataupun goresan sudah ada di kedua tubuh pejuang ini dan tidak dapat dibantah lagi jika mereka sama-sama mendominasi pertarungan. Topan Besi memundurkan langkahnya, mengambil jarak dari Arav begitupun dengan pemuda itu yang melakukan hal serupa.
"Setidaknya aku berhasil mengimbanginya ... Tidakku sangka Pedang Angin ini memang seperti yang dikatakan legenda ..."
Arav pernah membaca sebuah buku dari ruang perpustakaan Melida sejak menjalani masa awal latihan, disana tertulis jelas Pedang Raja Angin tidak selalu memihak penggunanya karena membutuhkan banyak energi, hal ini dapat dibuktikan dengan melihat langsung Topan Badai yang semakin berkuras mana nya.
Kejadian ini justru membuat konsentrasinya terpecah nyaris saja pedang pusaka Topan Badai menusuk hingga menembus tubuhnya, lebih parahnya lagi bisa saja dia kehilangan nyawa karena salah dalam bertindak.
Arav menggumpat di dalam hatinya, "Pikiranku tiba-tiba seperti dimasuki oleh seorang gadis ..." Dia menggangap semua ini tidak pernah terjadi dan kembali konsentrasi terhadap pertarungan yang sebelumnya dialihkan oleh suara itu.
"Hei ... Apa kau mendengarkanku? Hmm ... Sepertinya aku harus membawamu ke tempatku secara paksa!" Nada suara gadis itu naik saat Arav mengabaikannya.
Tidak lama berselang hanya beberapa saat berlalu, Arav dapat merasakan tubuhnya tidak bisa digerakan dan matanya tiba-tiba tertutup.
***
__ADS_1
"Akhirnya kamu bangun juga!"
Arav membuka matanya dan menemukan gadis berusia 15 tahunan tengah duduk memandanginya, sebelum mengetahui dirinya sedang tidur di pangkuan gadis ini.
"Apakah penampilanku selalu membuat siapa saja terpesona?" gadis berambut perak itu malu-malu sendiri dan berusaha terlihat tetap tenang.
"Mengapa aku bisa ada di tempat seperti ini?" Arav memandangi sekitar ketika sudah berdiri, tidak hanya belum dapat mencerna situasi namun dirinya sudah dibuat kebingungan karena berada di dalam ruangan yang seluruhnya bewarna putih.
Gadis itu menenangkan, "Namaku adalah Alicien ... Tapi kau boleh memanggilku Alice ..."
Arav yang awalnya selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap setiap orang asing, namun begitu mendengar Alice yang memperkenalkan dirinya sebagai murid pertama seseorang yang dikenalnya lantas membuatnya cukup terkejut.
"Oh ... Jadi kau adalah murid pertama Guru Melida ..." Arav yakin dengan kemampuan gurunya saat ini tidak heran jika memiliki murid lebih dari satu orang, oleh karena itu dia harus bisa menjadi salah-satu murid yang berbakti agar Melida lebih memperhatikannya.
"Ehem ... Setidaknya kamu harus menghormatiku ... Panggil aku dengan senior ..." Alice mendengus kesal, sekali lagi mengingat posisinya saat ini.
Tidak banyak yang dibicarakan mereka berdua karena Arav sangat cemas dengan yang terjadi di luar jika dirinya tidak buru-buru keluar dari dalam tempat ini. Jadi Arav menanyakan cara untuk pulang.
"Kau bisa kembali setelah aku mengizinkannya ..." Alice menjelaskan tempat ini sebagai dunia mimpi miliknya dan sering kali keinginannya dapat terkabulkan dengan berbagai cara termasuk dengan cara paksaan terhadap orang asing seperti Arav, "Jadi ... Kau harus memperlakukanku seperti senior jika ingin pergi dari tempat ini ..."
"Bagaimana Senior bisa membantuku?" Arav mau tidak mau harus mematuhi.
Alice tertawa lepas sebelum menunjukan senyuman kemenangan, baginya memiliki junior seperti Arav adalah sebuah keberuntungan baginya, wajah Arav yang rupawan membuanya tertarik begitupun dengan postur tubuhnya.
"Aku akan memberimu sebagian energi rohku untuk kau gunakan memanggil salah satu benda pusaka ..." Alice memegang telapak tangan Arav, lalu membagi energi roh yang dimaksud, dia yakin setelah Arav terlalu berlebihan menggunakan mana untuk bertarung, energinya tidak banyak yang tersisa di dalam tubuhnya jadi dia memutuskan untuk melakukan ini.
__ADS_1
Tidak banyak yang mengetahui teknik ini namun Arav yakin mampu mempelajarinya. Tidak lama kemudian, sebuah cahaya biru bersinar cukup terang dari depan wajahnya saat sebuah benda muncul dari sebuah portal.