
10 hari kemudian, tiga puluh ribu prajurit dan jumlahnya terus bertambah dengan Avan Ariville sebagai pimpinan tertinggi pasukan tersebut, mulai melancarkan serangan penuh dengan tujuan menguasai kota Arnet.
Di sisi lain, kondisi pertahanan kota terbilang belum sepenuhnya siap menghadapi gempuran, membuat Arav Ariville harus membantu mengurangi korban perang yang berjatuhan dengan mengirim surat kepada Viscount Ariville.
"Itu yang dikatakan olehnya ..." Seorang pria paruh baya yang adalah komandan militer menjelaskan, "Apakah ..."
Viscount Ariville menghela nafas panjang, "Sesuai permintaan darinya ... Berikan perintah agar seluruh penduduk kota segera mengungsi ke kota Doma, begitupun dengan pasukan kita agar bergerak mundur ke perbatasan wilayah Vinterm tanpa terlibat pertarungan ..."
"Tapi jika kita melakukan itu akan membuat kota Arnet dengan mudah dikuasai! Pertimbangkan hal ini Viscount ..." Pria tersebut menggelengkan kepala, menurutnya jika seluruh pasukan meninggalkan kota, Arnet bisa dipastikan akan jatuh ke tangan musuh tanpa adanya perlawanan berarti.
Viscount Ariville pada awalnya berfikiran demikian, namun setelah menyelidiki kekuatan pasukan lawannya yang sekarang berjumlah sekitar lima puluh ribu, cukup membuatnya untuk mengubah keputusannya.
***
"Apakah Viscount Ariville sudah memenuhi permintaanku?" Ucap Arav penasaran.
"Kurang dari dua hari adalah waktu yang kami butuhkan untuk membantu para penduduk kota mengungsi ke tempat yang jauh dari lokasi pertempuran, bisa dibilang saat ini kota dalam keadaan tidak berpenghuni ..." Masket memandangi Arav, namun dengan wajah cemas.
"Lebih cepat dari yang kuperkirakan ... Ternyata paman Ansley merespon baik permintaanku ini ..." Arav bergumam pelan, "Dan .. Katakan kepadanya untuk tidak melakukan perlawanan di perbatasan ... Minta kepada Viscount Ariville agar tidak membuat para prajurit kelelahan sebelum bertarung ..."
"Mohon maafkan saya karena mempertanyakan rencana anda ... Apakah Duke Ariville akan menyetujui semua ini?" Tanya Masket penasaran, dia sendiri cukup takut jika Arav marah-marah karena pertayaanya ini, setelah mengingat kejadian yang pernah dia alami sebelumnya.
"Tentang Ayahanda ..." Arav berdiri sambil membentangkan peta besar di atas meja, "Saat ini pasukan utama keluarga Ariville sedang berkumpul di kota Doma, begitupun dengan pimpinan tertinggi pasukan ini, Duke Ariville. Kurasa saat ini ayahanda tidak mungkin mengetahui berita evakuasi penduduk kota Arnet ..."
"Apakah anda rela kota ini direbut begitu saja?" Masket memperhatikan mimik wajah Arav menunjukan tanda-tanda perubahan drastis karena pertanyaannya.
"Yah ... Untuk mencapai kemenangan, kurasa tidak ada salahnya untuk mundur satu langkah dari mereka ..." Kali ini Arav menoleh ke arah jendela, saat para prajurit mulai berkumpul.
__ADS_1
Setiap pergerakan pasukan Avan Ariville menuju kota seakan tanpa beban setelah para prajurit keluarga Ariville sekaligus pasukan bantuan dari ibu kota ditarik mundur.
Kondisi kota yang ditinggalkan membuat kepercayaan diri pimpinan tertinggi pasukan tersebut meningkat pesat saat memasuki kediaman keluarga Ariville, menganggap sosok Viscount Ariville yang terkenal akan kecerdasannya, membuat keputusan benar dengan tidak melawannya.
"Saya melaporkan, kurang dari satu hari pasukan Avan Ariville telah mencapai kota Arnet dan menguasainya ..." Maya melaporkan secara detail setiap kejadian di kota tersebut.
Membuat Masket tambah cemas, namun perasaan itu seketika lenyap saat Arav menyikapi dengan senyuman, "Oh ... Jadi paman Avan berhasil melakukannya ..."
Maya memandangi Masket, pertanyaan yang sama terlintas di dalam pikirannya tetapi nyalinya tidak cukup untuk bertanya langsung kepada majikannya ini, "Kalau begitu ... Kudengar setelah ini anda diminta untuk menghadiri perjamuan besar di kota Arnet ..."
"Katakan kepadanya jika aku cukup sibuk untuk mengurus kota baru yang kita dapatkan ... Kirimkan surat permintaan maaf ku kepadanya ..." Seusai berbicara Arav langsung tersenyum tipis membuat Masket dan Maya penuh pertanyaan, "Kalian belum mengetahui tentang kesepakatanku dengan pria tua itu?"
Masket dan Maya serempak menggelengkan kepala.
"Meskipun ini sedikit mengejutkan kalian, sekarang kota Garlet dengan pabrik senjata yang dimilikinya sudah berganti pemilik ..."
"Benar ... Kota ini sekarang berada dalam kendaliku, sebagai ganti karena mengirim bantuan pasukan dalam jumlah besar kepadanya ..." Arav meneguk segelas teh di atas meja, saat seorang gadis datang menghampirinya.
"Tuan! Biarkan saya yang melayanimu malam ini!" Perkataan tersebut membuat Arav tersedak saat minum.
Clara sudah berada dihadapannya sambil menunjukan tatapan penuh harapan, tidak malu mengatakannya meski dihadapan Masket dan Maya sebelum kedua gadis ini meminta hal yang sama.
Sementara, di satu sisi para petinggi di kota Doma tengah menghadapi situasi yang tidak menguntungkan, sedangkan kemenangan terus dicapai oleh lawannya.
"Keadaan semakin diluar kendali. Pasukan Avan terus memperluas kekuasaanya ... Mungkin tidak lama lagi mereka akan mencapai kota Doma ..." Ucap Duke Ariville, rasanya saat ini tidak ada gunanya baginya untuk terus memulai konflik yang mungkin akan dimenangkan oleh lawannya.
Seorang ahli strategi menenangkan, "Kita masih memiliki pasukan dari kota Arnet dan keluarga kerajaan yang kemungkinan besar masih memihak pasukan kita ..."
__ADS_1
Duke Ariville mendongak, ada sedikit harapan dari perkataan itu yang sempat dirasa olehnya, namun kedatangan seorang prajurit membuat seisi ruangan dibuat terkejut dengan berita yang disampaikannya.
"Apa?! Kota Arnet jatuh ke tangan musuh?!"
"Tidak bisa dibiarkan! Pengkhianat Avan Ariville itu tidak pantas untuk memiliki kota tempat tinggal kita!"
Satu per anggota keluarga Ariville geram atas tindakan Avan Ariville. Sementara, Duke Ariville juga sangat kecewa ketika mendengar Viscount Ariville yang memilih untuk meninggalkan kota daripada berusaha untuk melakukan perlawanan, tidak berniat berkomentar lebih jauh lagi setelah seorang prajurit hampir selesai menjelaskan situasi.
"Saya juga mendapat laporan dari salah satu mata-mata, saat ini kota Garlet sudah diserahan kepada penguasa wilayah Vinterm ..." Duke Ariville melebarkan mata mendengar pernyataan tersebut, "Duke Sanjaya ..."
Duke Sanjaya adalah sosok penguasa termuda di Antasia yang pernah didengar olehnya, usianya yang terlihat sekitar 15 tahunan mengingatkannya kepada seorang laki-laki bernama Arav Ariville, namun tidak menyangka jika pemuda tersebut berperan penting dalam penaklukan kota Arnet.
"Kudengar Duke Sanjaya adalah orang yang memihak keluarga kerajaan, mengapa sekarang memihak pemberontak?"
"Duke, ini tidak bisa dibiarkan! Mereka ini harus diberi pelajaran karena berbuat seenaknya!"
Para petinggi mulai mendengus kesal, bukannya cemas akan berita tersebut cenderung lebih emosi mendengar Duke Sanjaya yang mementingkan keuntungan.
Duke Ariville sendiri tidak pernah mendengar berita mengenai wilayah Vinterm yang pernah bermasalah dengannya, karena selama ini dia berusaha untuk menjalin hubungan dengan penguasa wilayah lain, jelas hal ini membuatnya terkejut.
"Kalian tenanglah, pasti ada cara lain selain melalui pertempuran untuk mengatasi masalah ini ..." Duke Ariville membuat beberapa orang nyaris berhenti untuk bernafas, "Duke Sanjaya adalah orang yang jenius, dia pasti memiliki alasan lain dengan memihak saudaraku Avan ..."
Seusai berbicara, pria paruh baya itu memerintahkan seorang pelayan untuk membawakan selembar kertas dan pena.
"Surat ini harus segera sampai ke kota Garlet secepat mungkin ... Tolong sampaikan permintaanku ini kepadanya ..."
Pelayan tersebut menggangukan kepala lalu menyiapkan segala keperluan pengiriman, yang kemudian dibaca langsung oleh Arav setelah 1 hari berlalu.
__ADS_1