Penguasa 10 Pedang Legenda

Penguasa 10 Pedang Legenda
Felina Menyerang


__ADS_3

"Biarkan kami menghadapi para prajurit penombak ini! Kalian tolong urus pemanah disana!"


Gert tidak hanya diam melihat kejadian itu, dia mengajak Bruno dan Everd untuk bertarung bersamanya sebelum ketiga pemuda ini melesat cepat menuju selusin pasukan Turi. Gert merasa sudah saatnya bagi mereka membalas budi karena telah diselamatkan oleh Arav sebelumnya.


Arav sendiri mengerutkan dahi, melihat para kelompok bersenjata yang dihadapi Gert dan yang lainnya adalah bukan prajurit sembarangan. Dari gaya cara bertarung serta pola serangannya, seperti sebelumnya Arav merasa ada yang tidak beres.


"Arghh!"


"Ughh!"


Felina tersenyum lebar, selain para petualang ini berhasil dibuat tidak berdaya dia dapat mendengar setiap jeritan lantang Gert dan yang lainnya ketika terkena serangan.


Arav juga sampai terkejut menemukan para lawannya kebal saat menerima serangan seperti tubuh mereka tidak terkalahkan dan abadi.


Namun semua ini tidak berlangsung lama setelah beberapa kali menerima tusukan, barulah para lawannya tersebut menunjukan reaksi wajar.


"Kau pasti terkejut bukan? Mereka semua berada dalam pengaruh sihirku, bisa dibilang aku yang mengendalikan mereka dan meningkatkan kemampuan fisik mereka ..." Felina yakin meskipun prajurit-prajurit itu pada akhirnya meregang nyawa, setidaknya kejadian ini menjadi hal yang paling mencengangkan di pikiran lawannya.


"Sihir Pencuci Otak!" Arav terpana, dia bahkan teringat kembali cerita Maya setelah kembali mengatasi masalah pertambangan, gadis itu pernah berkata jika seluruh lawannya seperti dicuci otak.


"Hei ... Jangan bilang dialah yang membuatku dalam kesulitan saat itu?!" Aiyla mengepalkan keras tangannya, dia dapat menebak isi pikiran Arav meski pemuda disampingnya tadi berbicara pelan.


Arav saat ini memutuskan untuk diam dan menunggu Gert dan yang lainnya selesai menghadapi prajurit penombak dihadapan mereka, Arav juga menemukan Felina masih berada di tempat yang sama dengan penjagaan terbatas.


Namun Berg tidak melakukan hal serupa, melihat Felina bahkan tanpa menunjukan sedikit niat untuk membantunya, Berg langsung bergerak cepat memutuskan kembali ke kota Turi beberapa saat sebelum Arav diserang secara tiba-tiba dan berhasil dibuat sibuk menghadapi para pemanah tersebut.


"Cahaya Surgawi!"


"Tombak Kristal!"

__ADS_1


Satu per satu para pemanah dihadapan Arav tumbang setelah Arav menggunakan berbagai jurus berbeda pada waktu bersamaan, sementara sisanya luka parah ketika terkena serangan berupa muntahan bola-bola kecil dari senapan api milik Tameng Berduri.


Arav berlari mengimbangi kecepatan angin ketika tiba waktunya untuk bertahan, serangan yang dilepaskan para pemanah tidak mampu melukai tubuhnya sehingga mudah saja Arav untuk menghindar.


Di sisi lain Felina justru terpana melihat kemampuan Arav dan seorang gadis disampingnya.


Masket tidak kalah menunjukan kemampuannya seraya bergerak maju mengatasi pemanah serta mengeluarkan jurus ledakan mengarah ke setiap pemanah.


Felina yakin tanpa bantuan Gert sekalipun setidaknya lawannya tersebut mampu memenangkan pertarungan tanpa perlawaan berarti.


Felina hanya menunjukan wajah datarnya, sudah begitu lama sejak dia melihat seseorang mampu mengalahkan puluhan prajurit dengan mudahnya.


"Hmm ... Mungkin sudah saatnya bagiku untuk mundur ..." Felina bergumam pelan, sebagian besar pasukannya telah binasa di tangan Arav.


Sementara Gert masih melakukan perlawanan sengit menghadapi sisa-sisa prajurit yang berhasil bertahan dari seranggannya.


Arav menghela nafas, dirinya mengira dia akan ambil bagian saat menjelang pertarungan berakhir. Bersamaan dengan kalahnya pasukan Turi, Felina menghilang dari pandangan Arav.


Dari semua yang berada di dekat Arav, hanya Aiyla yang merasa tidak puas atas kemenangan tersebut. Selain karena terbawa emosi, Aiyla juga merasa sebaiknya menyelesaikan masalah sampai ke akar-akarnya.


"Kami akan pergi sekarang, kuharap tuan dan yang lainnya baik-baik saja setelah penyerangan ini ..." Gert tidak bisa selamanya mengikuti Arav, dia memutuskan untuk berpamitan kepada Arav terlebih dahulu sebelum menuju ibu kota meskipun anggota guildnya berkurang.


"Baik, mungkin kita akan bertemu lagi di ibu kota ..." Mendengar tujuan Gert selanjutnya bukan tidak mungkin bagi Arav bertemu dengan pria dihadapannya ini lagi.


Arav tersenyum tipis ketika Gert sudah berada cukup jauh dari dirinya berada, Arav menghela nafas panjang saat ketiganya sudah menghilang seperti lenyap ditelan bumi.


"Mungkin sudah saatnya untuk beristirahat, bagaimana jika kita pergi ke kota terdekat dan mencari penginapan disana?" Arav menyadari seluruh bawahannya kelelahan setelah bertarung.


"Mandi air panas!" Aiyla yang pertama menyikapi, "Ah, tidak ... Mungkin aku akan pergi ke restoran terlebih dahulu!" Aiyla dapat mendengar suara berisik dari dalam perutnya padahal dirinya baru saja selesai makan.

__ADS_1


"Jika tuan berkata demikian, sebaiknya kita segera pergi sebelum matahari terbenam," Masket menyarankan.


Arav mengganguk pelan merasa ucapan Masket ada benarnya, mereka segera melakukan perjalanan yang menempuh jarak lumayan jauh.


Setelah beberapa waktu, akhirnya Arav dan yang lainnya tiba di sebuah kota terdekat. Namun sambutan yang didapat justru tidak sebaik kota sebelumnya ketika seorang prajurit menghunuskan pedangnya.


"Kalian bukan berasal dari kota ini bukan? Kami terpaksa harus menghentikan kalian karena alasan keamanan ..."


"Walikota telah memberikan perintah agar setiap orang yang datang memasuki kota harus memberikan informasi mengenai keberadaan orang ini ..."


Baru saja Arav akan memasuki kota, beberapa penjaga gerbang bergerak cepat menghentikan langkah Arav dan mengarahkan pandangan Arav pada selembar kertas berisikan lukisan wajah seorang pemuda.


"Ini ... Bukankah ..."


Tubuh Aiyla bergetar bersamaan ketika dia melirik ke arah Arav, menemukan raut wajah pemuda tersebut mendadak menunjukan perubahan drastis sejak kedatangan mereka ke kota tersebut.


"Sepertinya aku harus memberikan orang ini pelajaran ..." Arav mengetahui cepat atau lambat dia akan berurusan dengan Walikota Anselm, dirinya sadar kota yang mereka datangi adalah wilayah kekuasaan pria tersebut, Turi.


Penjagaan kota turi berfokus pada pertahanan benteng utama, sehingga Arav mungkin tidak mendapati kesulitan ketika memulai pertarungan di dalam kota namun situasinya yang jauh berbeda membuat Arav mengurungkan niat untuk memulai konflik.


"Setidaknya sebelum mengurusnya aku harus membebaskan ribuan budak yang mereka miliki ..."


"Baik, serahkan saja kepadaku! Mungkin akan membutuhkan waktu untuk mencari informasi mengenai tempat para budak ini berada tetapi aku akan berusaha untuk menemukannya!" Aiyla dapat mendengar perkataan Arav meski pemuda tersebut hanya bergumam pelan.


Arav menghela nafas, perkataan Aiyla terlalu keras sehingga para penjaga menjadi sangat waspada terhadap mereka.


"Setelah dipikir-pikir lagi! Bukankah wajah yang ada di kertas ini adalah bocah disana!"


"Sepertinya kita akan mendapatkan imbalan besar, tidak tau mengapa walikota memberikan hadiah begitu besar untuk membawa mereka hidup-hidup!"

__ADS_1


Arav tersenyum lebar melihat para lawannya begitu antusias untuk mencapai tujuan mereka, bahkan tidak lama setelahnya muncul lebih banyak prajurit begitu mendengar berita kemunculan Arav di depan pintu gerbang.


__ADS_2