
Sebelumnya.
"Apakah anda yakin akan menyerang kota Garlet? Itu akan membuat kita memulai konflik dengan Vinterm ..."
Dyrk adalah tangan kanan Avan Ariville sekaligus orang kepercayaannya, dia yang telah melayani pria paruh baya itu sejak berusia 9 tahun, dan menggangapnya sebagai ayah kandung sendiri.
"Bocah bernama Sanjaya ini tidak hanya tidak bisa dipercaya, tapi sudah membunuh pengikutku ..." Avan Ariville mendengus kesal, kepalan terbentuk di tanganya dan berusaha untuk menenangkan diri.
"Saudara Penombak Kilat terbunuh?!" Dyrk tidak pernah menyangka bahkan pria yang menurutnya sangat kuat itu mampu dibunuh oleh seseorang yang kemampuannya misterius.
Penombak Kilat adalah seorang pembunuh bayaran yang telah melayani Avan Ariville selama hampir puluhan tahun, jauh lebih lama dibandingkan dengan Dyrk yang adalah orang kepercayaannya juga.
"Dari awal aku sudah mendunga akan semua ini ... Dyrk, kau dan pasukanmu kuperintahkan untuk menyerbu kota Garlet, sampai Duke Sanjaya ini benar-benar terbunuh aku tidak akan pernah bisa tenang memikirkannya ..." Titah Avan Ariville kepada Dyrk.
Dyrk langsung menjalankan perintah, pasukan dia kumpul dan jumlahnya melebihi 1000 prajurit, baginya jumlah ini sudah cukup untuk menaklukan kota kecil seperti Garlet yang hanya dijaga 150 prajurit biasa.
***
"Akhirnya kau menunjukan diri, Dyrk ..." Arav langsung mengenali sosok pejuang tangguh yang berdiri di paling depan barisan pasukan.
Dyrk membuka helm pelindungnya, tidak berniat menyembunyikan identitasnya kepada lawannya, "Jadi kau adalah orang yang dimaksud oleh Tuan Avan? Kusarankan agar menyerah saja daripada menyesal nantinya ..."
"Sejujurnya ... Aku juga menyarankan hal yang sama kepadamu ..."
Keduanya sama-sama saling melotot dan mencari informasi mengenai kekuatan masing-masing.
Mata Arav tiba-tiba mengeluarkan cahaya kecil, "Hmph? Kemampuan orang ini ternyata kelas Penghancur? Tidak heran dari penampilannya yang terlihat sedikit menyeramkan ..." Gumamnya sambil tersenyum tipis.
Arav sudah membaca kemampuannya, namun tidak untuk Dyrk yang sama sekali tidak mampu menebak kekuatan Arav membuatnya menaikan alis, "Menarik, pria sepertimu ini memang pantas disebut jenius muda di Antasia, bukan berarti kau tidak akan kuhabisi!"
Dyrk menarik pedangnya, serangannya begitu lincah dan kecepataannya dalam bermain pedang tidak kalah hebatnya, satu jurus dia lepaskan ke arah Arav begitu saja saat pemuda tersebut masih berdiam diri dihadapannya.
Clare sudah ada di atas benteng, namun yang membuatnya terkejut adalah tindakan Arav yang sengaja berada di luar perlindungan dinding kokoh itu, "Apakah tuan Arav benar-benar sudah gila? Dia akan melawan seribu lebih prajurit itu sendirian?!"
__ADS_1
Masket, Eui, Esmee dan anggota Mawar Sembilan lainnya mengumpulkan para prajurit pemanah bahkan pasukan bersenjata api, hal yang paling terpenting mereka lakukan tentunya menyuruh untuk menaikan kewaspadaan atas kehadiran pasukan tersebut.
Di satu sisi, serangan demi serangan Dyrk dapat dengan mudah dihindari oleh Arav yang seakan membuat lawannya frustasi, "Menarik ... Kemampuan meringankan tubuh ini darimana kau mempelajarinya?"
Arav tidak menjawab pertanyaan tersebut sebelum melakukan perlawanan dengan melepaskan satu pukulan tepat mengenai perut lawannya. Dyrk terhempas membuat belasan prajurit dibelakangnya terkena imbasnya.
Namun pertarungan belum bisa dibilang usai kerena pria tersebut mengumpulkan sebagian Mana dan membentuk sebuah energi khusus mengaliri tubuhnya.
"Mana yang dia miliki setidaknya melebihi perkiraanku ... Kurasa dia berada di level empat puluh? Mungkin karena ini paman Avan repot-repot menjaganya ..." Arav menganalisa kemampuan lawannya, dan menemukan hal yang menarik.
"Kita lihat bagaimana kau akan bertahan dari serangan ini ..."
Serangan kali ini lebih kuat dan cepat dibandingkan dengan sebelumnya karena pedang yang digunakan juga mengeluarkan energi dalam jumlah besar, belum tentu membuat Arav kesulitan dalam mengatasinya, bahkan dia rasa mampu untuk membalikan keadaan dalam waktu cukup singkat.
"Hmm, sepertinya aku harus menggunakan salah satu jurusku untuk menghadapinya ..." Arav menaikan tangan seketika mana mengalir dan membentuk sebuah tombak kristal.
"Kekuatan sihir?!"
Dyrk pernah mendengar hanya orang-orang berbakat yang mampu menggunakan sihir, dia tidak pernah melihat langsung kekuatan semacam ini selama belasan tahun terakhir, dan yang Dyrk lihat adalah sihir tanpa rapalan.
Para prajuritnya serempak meningkatkan kewaspadaan penuh dan berniat untuk menjauh setidaknya puluhan meter dari lokasi pertarungan agar tidak menjadi korban.
Masket dan anggota Mawar Sembilan lainnya sudah dalam posisi siap menembak, sebelum Arav memandanginya.
"Satu menit, hmmm ... Bukan. Maksudku berikan aku waktu tiga puluh detik untuk mengatasi pria ini ..."
Seusai berbicara Arav langsung melempar tombak tersebut dan menciptakan tombak baru lainnya karena energi besar yang melindungi tubuh lawannya masih ada, namun membuat warnanya memudar.
"Tuan memang hebat ... Sepertinya aku hanya bisa menonton pertarungan tanpa membantunya ..." Masket bergumam pelan, rasanya dia ingin berada di sisi Arav bukan hanya diam saja menunggu.
Sedangkan, tombak baru lainnya kali ini berhasil menembus energi pelindung tersebut lantas menancap hingga menembus tubuh Dyrk, darah segar pun mengalir deras seketika membuat pasukanya tercengang.
"Arghh! Kau ... Tidak akan kuampuni!" Dyrk menjerit lantang, sambil mencabut tombak yang menancap di perutnya.
__ADS_1
"Memang kekuatan pertahanan yang dimiliki kelas penghancur lebih kuat dari kelas pembunuh ... Mungkin aku harus menggunakan lebih banyak mana untuk membunuhnya ..." Arav mengalirkan lebih banyak mana dan kali ini sebuah tombak yang lebih panjang dari sebelumnya terbentuk.
Tetapi Dyrk sudah ada di hadapannya berada cukup dekat sehingga dia cukup kesulitan untuk menghindar dari lawannya, Dyrk sadar jika pemuda tersebut masih hidup akan membuat Avan Ariville kesulitan mencapai tujuannya, jadi dia memutuskan untuk mati bersama Arav dengan memanfaatkan mana yang tersisa untuk membuat ledakan.
Ledakan yang dihasilkan sangat besar hingga para prajurit baik yang berada di dalam benteng pun maupun diluar bangunan tersebut terkena dampaknya seperti terhempas karena angin.
"Apa yang terjadi?!"
"Komandan Dryk mengorbankan diri?"
Selama 30 detik, angin masih bertiup kencang namun beberapa detik setelahnya suasana kembali normal membuat para prajurit bisa bernafas lega.
"Apakah ini adalah ledakan pertarungan tadi?" Masket memandangi sekitar, belum menemukan tanda-tanda keberadaan Arav namun dia bisa merasakan sihir di sekitar tempat itu.
Masket keluar Clara mengikutinya dari belakang, memastikan langsung apa yang dia tebak di dalam pikirannya tidak akan pernah terjadi, menemukan tubuh Arav berada tidak jauh dari lokasi ledakan, namun pemuda itu terlihat memejamkan mata.
"Tuan! Bangunlah! Kumohon bangunlah ..."
Berkali-kali gadis itu berteriak seraya menempatkan tubuh Arav dalam posisi tertidur di pangkuannya, Clara hanya bisa menenangkan gadis itu, saat kedatangan seorang pria paruh baya dengan memasang wajah penuh simpati.
"Duke Ariville?!" Masket mengenali pria tersebut.
"Apakah dia baik-baik saja?" Duke Ariville mencemaskan, dia tidak mengerti maksud dari Arav yang mencegahnya ikut bertarung yang kemungkinan mengetahui bahwa kejadian tersebut mungkin terjadi, "Dia mengingatkanku akan seseorang, aku tidak pernah menyangka akan ada lagi orang yang tewas di usia semuda ini ..."
Masket hanya terdiam, menagis tentu dia lakukan karena tidak mampu menahan lagi air matanya yang mengalir, "Jika saja ... Jika saja aku berada di sisinya, maka semua ini mungkin tidak akan terjadi ..." Dia meneteskan air mata, saat sebuah sentuhan dapat dia rasakan dari tangan seseorang yang menyeka air matanya.
"Kenapa kau menangis? Hei, jangan-jangan kalian menggangapku sudah mati? ..."
Masket terdiam sejenak, berusaha mencerna situasi, sementara Duke Ariville terlihat terpana, sebab Arav membuka matanya setelah tidur siang dalam waktu singkat.
---
**Hallo teman-teman, terimakasih karena sudah membaca cerita saya yang satu ini karena setiap dukungan yang kalian berikan sangat bermanfaat besar atas kemajuan karya ini.
__ADS_1
Sekali lagi, terimakasih atas dukungannya**.