
"Aaaa!"
Masket tidak tertahankan untuk berteriak, namun kali ini dia sudah cukup terbiasa dengan ketinggian 100 meter bahkan sampai 1000 meter. 1 Jam setelah selesai istirahat, sejak mereka berangkat dan Masket hanya diam setelah menjerit saat awal-awal perjalanan, hal ini wajar mengingat kecepatan kali ini jauh berbeda dari sebelumnya.
"Hmm ... Sepertinya paman Avan ini memiliki bala bantuan pasukan yang berjumlah kecil ..." Arav tersenyum lebar, ada lebih dari 200 rombongan prajurit bersenjata lengkap yang diberangkatkan menuju kota Arnet.
Di depan juga terlihat kota yang dimaksud dari kejauhan.
"Kelas Naga! Semuanya siapkan anti serangan udara!"
Para prajurit berhamburan secepat mungkin begitu melihat kemampuan terbang Arav yang diluar perkiraan mereka, beberapa diantaranya masih tidak percaya bocah yang terlihat berusia 15 tahun seperti Arav mampu terbang mengimbangi kecepatan angin.
"Cukup menyulitkan karena mereka berpencar dan berada di titik buta serangan ..." Arav menggaruk kepalanya, dirasa menggunakan ledakan hanya akan mengakibatkan kehancuran di sekitarnya.
Dia dapat melihat ada lebih dari 20 prajurit yang mengeluarkan senjata api, tetapi terasa mustahil untuk terkena tembakan tersebut mengingat gerakan terbang Arav berada di atas rata-rata kemampuan kelas naga.
"Prajurit anti serangan udara! Tembak bersama-sama ..."
Arav menghindar begitu senapan-senapan api itu memuntahkan banyak bola-bola kecil, satu diantaranya nyaris mengenai kakinya sementara beberapa lagi ditangkisnya menggunakan pedang, betapa frustasinya penembak-penembak itu saat satupun serangan mereka tidak mampu mengenainya.
"Tombak Kristal ..."
Arav memutuskan untuk tidak berlama-lama meladeni mereka, jadi dia memutuskan untuk membalas serangan dengan tombak-tombak sihirnya.
"Kalian sudah menunjukan kemampuan kalian, sekarang giliranku untuk menyerang ..."
Masket mendarat mulus di tanah begitu ada kesempatan, dan melumpuhkan para prajurit yang disebut Anti Serangan Udara itu sementara Arav mengurus sisanya yang adalah seorang komandan dari sekumpulan prajurit tersebut, terlihat seorang pria berusia 50 tahunan berdiri dihadapannya sambil mengelus jenggotnya.
"Tidak buruk anak muda ... Siapakah dirimu yang berhasil membuat pasukanku sampai tidak berdaya seperti sekarang ini ..."
Dia mengenali pria paruh baya itu sebagai salah satu petarung tangguh di Antasia yang berada tidak jauh dari urutan ke 9. Arav mengerutkan dahi karena merasakan hawa membunuh dari pria ini, biasanya dirinya sulit untuk menemukan seseorang yang memiliki aura sepekat yang dimiliki oleh lawannya ini.
__ADS_1
***
"Anak itu ... Kupikir akan segera sampai di di kota Arnet, sedikit terlambat dari yang dijanjikan ..."
Viscount Ariville menghela nafas panjang, tidak berharap lebih namun setidaknya Arav harus menyaksikan kehancuran lawannya ini.
Maya berada disampingnya setelah berulang kali terlibat pertarungan, baru kali ini dia beristirahat dan memutuskan untuk melindungi Viscount Ariville semampunya.
"Aku tidak selemah yang dipikirkan sampai Anak itu repot-repot menyuruh pelayannya untuk melindungiku ..." Viscount Ariville menghela nafas panjang lagi, selain seharian bekerja di dalam ruangan, setidaknya dia mampu menguasai ilmu dasar beladiri.
"Tidak ada tanda-tanda keberadaan Avan Ariville di tempat ini ... Apakah Viscount mengetahui dimana dia berada saat ini?" Maya bertanya dengan penuh penasaran.
"Setauku saudara Avan tidak akan langsung terjun ke medan perang sebelum benar-benar dalam kondisi terdesak, menurutku saat ini mungkin dia berada di dalam kastel untuk berlindung ..." Viscount Ariville menjawab dengan santai.
Namun setelahnya datang lebih banyak prajurit ke arah mereka, masing-masing membawa tombak bahkan ada yang membawa pisau sekalipun.
"Serahkan ini kepadaku ..." Seusai berbicara Maya menarik pedangnya.
Maya maju beberapa langkah, serangannya begitu cepat bahkan gerakanya mampu menembus formasi pertahanan lawannya hingga bertukar belasan serangan.
"Tidak bisa! Gadis ini terlalu kuat!" Salah satu dari sekumpulan prajurit itu mulai menyadari situasi.
Maya langsung menyambut beberapa serangan, pedangnya pun bertemu dengan lawannya. Maya bertukar beberapa jurus dari pejuang kelas penusuk, ada pula dari kelas penembak.
"Harus kupuji keponakanku Arav karena berhasil merekrut seluruh anggota Mawar Sembilan ini ..." Viscount Ariville mengelus-elus dagunya saat menonton.
Sementara, Maya sudah menghabisi prajurit terakhir dari belasan orang yang menjadi lawannya, "Anda jangan hanya berdiri saja menonton ... Sebaiknya Viscount segera menjauh dari lokasi karena ..." Belum selesai Maya berbicara pintu gerbang sudah terbuka.
Di dalam masih ada ratusan lagi prajurit yang awalnya bersembunyi mulai menampakan diri dengan keluar berhamburan.
Maya langsung memerintahkan pasukannya untuk bergerak, Asha memimpin kelompok penyerang sementara Aisha dan regu lainnya berada di belakang mempersiapkan sebuah formasi untuk mendukung pasukan utama.
__ADS_1
"Dasar pengkhianat! Akan kubunuh kau!"
Avan Ariville mendarat setelah menghantam tanah tempat dimana Maya berada sebelumnya, sedetik saja Maya terlambat menghindar nyawa bisa saja menjadi taruhannya.
"Terserah kau mengatakan apapun kepadaku ... Yang pasti Tuan Muda adalah majikan baru kami yang sangat berharga ..." Jawab Maya tegas tanpa ada keraguan.
Avan Ariville tersenyum pahit mendengarnya, dia bahkan tidak langsung menjawab melainkan menyerang sebagai gantinya karena malas untuk berbicara dengan gadis ini.
Pertarungan berlangsung tidak seimbang sebab Maya sudah kelelahan bertarung selama berjam-jam berturut-turut, sementara Avan Ariville baru memasuki medan perang tentunya dia memiliki banyak mana di dalam tubuhnya. Saat Viscount Ariville berbicara barulah dia menyadari keberadaan pria itu.
"Avan ... Maksudku saudara Avan ... Setidaknya beritau kepadaku mengapa kau melakukan semua ini?"
"Kau tau sendiri bukan? Avors tidak pantas untuk memegang posisi pemimpin karena terlalu tenggelam atas kasih sayangnya kepada bocah itu ..." Avan Ariville mengeluarkan hawa membunuhnya mengarah tepat ke arah Maya dalam hitungan detik.
Sekali seseorang terkena maka mereka akan mengalami halusinasi seperti merasa ragu-ragu dalam bertindak dan tubuhnya terasa berat beberapa kali lipat ataupun rasa ketakutan yang mendadak muncul akibat jurus ini.
"Arghhh!"
Maya terlempar jauh, serangan cepat pedang Avan Ariville membuat tubuhnya terluka dan beruntung serangan beruntun tidak dilakukannya.
"Hentikan ... Apa kau akan membunuhnya begitu saja?!" Viscount Ariville mengerutkan dahi, nada bicaranya sedikit naik menyaksikan.
"Kau yang hanya orang tidak penting cukup diam saja tanpa berbicara sedikitpun!" Pedang Avan Arivile sudah berayun mengarah ke tubuhnya.
Namun Viscount Ariville masih tenang dalam menghadapi situasi, "Setidaknya aku mempelajari teknik khusus untuk menghindari serangan ini ..."
Serangan demi serangan dapat dengan mudah dihindari oleh Viscount Ariville yang menyebabkan Avan Ariville merasa terkejut karena tindakannya, dia pikir dengan sekali serangan biasa saja mampu membunuh pria dihadapannya ini namun semua itu salah setelah menyaksikan langsung yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
"Kau ... Kau setidaknya berada di kelas Penghancur jika serius mengembangkan kemampuan ini!" Avan Ariville menunjuk Viscount Ariville dengan tangan gemetaran.
Alasan Viscount Ariville lebih memilih untuk bekerja di bagian Administrasi adalah karena tidak terlalu menyukai kekerasan, ataupun peperangan, jadi dia lebih memilih kehidupan yang damai sehingga memutuskan tidak terlalu sering terlibat pertempuran, namun dia sadar ada baiknya Viscount Ariville mengembangkan bakat yang dimiliki bukan hanya untuk satu tujuan.
__ADS_1