
Eagle dan pasukannya tengah bersiap-siap menyambut kedatangan rombongan kereta kuda mewah tengah berjalan ke arah Eagle berada saat ini. Belum puas dengan kelalahan pada saat penyerangan sebelumnya kali ini Eagle lebih siap dalam menghadapi kemungkinan terburuk.
"Kita lihat bagaimana bocah ini bisa selamat dari serangan mendadak Mawar Hitam kali ini," Eagle melirik salah satu pria berjubah dan memerintahkan setiap anak buahnya agar dalam posisi siap menyerang.
Sekitar ratusan pria berpakaian serupa sudah sejak tadi menunggu arahan tersebut sehingga tidak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk segera bertindak.
Sementara situasi di dalam kereta cukup tenang dibandingkan sebelum mereka memulai perjalanan, Maya tampak tersenyum tipis memandangi sekitar tempat tersebut awalnya menemukan tidak ada tanda-tanda keanehan dalam perjalanan ketika sebuah pohon besar tiba-tiba tumbang.
"Berhenti!" Salah satu kusir langsung merespon hal ini dengan menghentikan kereta kuda.
Para kavaleri yang berjumlah sekitar puluhan orang tersebut jelas tidak pernah menduga ada sebuah pohon sebesar itu tumbang padahal cuaca dan kondisi sekitarnya masih terbilang cukup baik.
"Membidik!" Eagle memanfaatkan situasi untuk mencari celah dalam usaha mengurangi pasukan mereka, memberikan instruksi kepada bawahannya, "Para pemanah! Tembak!"
"Arghh!"
"Aww!"
Bersamaan dengan jatuhnya orang-orang dari kuda, puluhan anak panah lain juga dilepaskan mengenai setiap prajurit yang berhasil lolos dari sasaran pemanah jitu. Seorang prajurit berpangkat tinggi kemudian menyuruh sisa-sisa pasukan Kavaleri tersebut untuk menyiapkan sebuah formasi bertahan yang kemudian dihancurkan oleh sebuah bola api besar.
"Sekarang! Saatnya kita membalas semua yang dilakukan mereka kepada kelompok kita yang lain! Semuanya, bunuh mereka tanpa sisa!"
Eagle tanpa banyak bicara mengetahui kondisi ini menguntungkan mereka, bertindak berani dengan mengirim seluruh petarung tingkat menengah ada pula tingkat rendah pimpinannya untuk menyerbu rombongan kereta kuda tersebut.
Pang
Suara hantaman dari benda berbahan besi terdengar di empat penjuru, tidak butuh waktu lama hampir seluruh pasukan Kavaleri itu beserta beberapa penjaga rombongan binasa di tangan Mawar Hitam kurang dari hitungan dua menit.
__ADS_1
"Hmm ... Sepertinya pengecut ini masih bersembunyi di dalam kereta begitu melihat kekalahkan akhirnya berada dalam pihaknya," Eagle tertawa lepas, bawahannya sudah mengetahui orang yang dimaksud adalah Arav.
Namun setelahnya dia tidak lagi tertawa ataupun tersenyum sekalipun setelah melihat belasan orang berjubah putih keluar dari dalam setiap kereta kuda.
"Kekuatan Cahaya kami memanggilmu! Hancurkanlah para musuh yang menghalangi jalan kami sehingga mereka tidak lagi berdaya dihadapanmu, Cahaya Pengusir Kegelapan!"
Sihir yang dilepaskannya begitu kuat hingga membunuh puluhan pembunuh dalam sekali serang, setiap orang berjubah ini adalah seorang penyihir berada di tingkat tinggi ada pula yang masih berada di tahap belajar namun sangat ahli dalam merapal mantra.
Eagle ingat betul dari penampilan serta sebuah tanda pengenal yang dikenakan setiap penyihir ini adalah salah satu yang selalu menghalangi niatnya dalam membunuh bangsawan dari Antasia, "Tembok Penyihir Harapan, mengapa mereka bisa berada di tempat seperti ini?"
Tembok Penyihir Harapan adalah sebuah pasukan elit penjaga keluarga kerajaan yang dibentuk untuk melindungi setiap anggotanya dalam keadaan apapun, nama Harapan dalam pasukan ini juga tidak diberikan secara sembarangan sebab pasukan inilah yang menjadi satu-satunya pelindung jika sewaktu-waktu kerajaan hampir direbut atau setidaknya seluruh pasukan dari 5 adipati gugur dalam pertempuran.
Eagle pernah terlibat dalam misi untuk membunuh salah satu pewaris tahta kerajaan dari ibu kota, namun tetap saja karena Tembok Penyihir Harapan usahanya tidak membuahkan hasil justru dibilang sia-sia.
"Sudah cukup pembunuhan yang telah kau lakukan! Saatnya dirimu untuk merasakan kemarahan tuanku!"
Sebuah pedang menebas setiap anggota Mawar Hitam dan jumlahnya terus bertambah hingga korban paling banyak berada didekat Eagle. Tidak lama Eagle kemudian tersadar dari lamunannya langsung menyambut sebuah pedang menuju ke arahnya dari depan menggunakan tongkat besinya.
Kekuatan fisik Eagle melebihi yang telah diperkirakan, Maya terlempar namun dia masih bisa berdiri setelah mendarat mulus di tanah, tidak ada keraguan di dalam diri gadis ini dalam betarung dan menaruh kepercayaan penuh terhadap Arav.
"Setidaknya yang aku lakukan membuatmu menyadari begitu mudahnya sekarang bagiku untuk menghancurkan pertahananmu!"
"Ck, kemampuanku tidak dapat kau remehkan! Jangan menyesal nanti jika kau kalah begitu aku mengeluarkan jurus terkuatku ini! Wahai kekuatan kegelapan aku memerintahkanmu untuk ..." Eagle merapal sebuah mantra, tanganya bergerak ke atas dan terlihat sebuah bola api berukuran lebih besar terbentuk.
Maya kemudian membentuk pertahananya sekuat mungkin, sulit baginya menghadapi serangan sekuat ini apalagi yang menjadi lawannya adalah seorang penyihir tingkat tinggi.
"Menembus Cahaya!"
__ADS_1
"Anti-Menembus Cahaya!"
Setelah dilepaskannya jurus terkuat tersebut, sebuah perisai transparan bewarna keputihan terlihat seolah-olah membentengi Maya dan melindunginya dari serangan.
Kedua jurus saling bertukar sehingga ledakan besar terjadi hingga mengakibatkan efek angin bertiup sangat kencang di sekitar tempat tersebut.
Eagle terkejut bukan main, serangannya sekuat itu bahkan tidak mampu membuat retak tameng sihir tersebut, apalagi menghancurkannya.
"Gadis muda ... Lama tidak berjumpa kau terlihat semakin berani menyerang pemimpin pasukan pelindung keluarga Vinterm," Seorang Pria berusia sekitar 80 tahunan mengelus jenggotnya kemudian memandangi Eagle karena pertemuan mereka yang tak terduga.
"Kau adalah salah satu penyihir terhebat Antasia, Harnos. Bagaimana mungkin Duke Sanjaya sekuat itu mampu menyuruhmu untuk mengawalnya ke istana!" Eagle masih tidak percaya dengan yang dilihatnya.
Sebaliknya Harnos tersenyum tipis menyikapi tingkah Eagle, wajar bagi wanita ini terkejut karena kemampuan Harnos adalah berada di urutan 6 terkuat berpihak kepada Arav.
"Terimakasih atas perkenalanmu ... Jadi waktuku tidak terbuang sia-sia karenannya ..." Harnos memejamkan mata kemudian menyembuhkan setiap luka di tubuh Maya dan meningkatkan kemampuannya. Tampak sebuah cahaya bewarna kuning menyinari tubuh gadis tersebut.
"Ini ... Mengapa tiba-tiba tubuhku terasa lebih ringan, kekuatanku juga meningkat?" Maya tidak bisa menahan untuk menggerakan tangannya karena menemukan perubahan drastis dalam tubuhnya.
Sebaliknya hal ini justru mengangetkan Eagle, dia begitu merasa kurang beruntung karena selain bawahannya banyak yang tewas lawannya kali ini adalah sosok paling disegani Antasia. Kali ini Eagle menyadari maksud dari Harnos yang sebenarnya.
"Jadi semua ini adalah jebakan, dan bocah itu tidak ada bersama dengan mereka!" Batin Eagle, "Aku ... Aku akan kembali, jangan berharap hari berikutnya kami akan kalah!" Usai berbicara Eagle melompat cepat menuju arah berlawanan dengan lawannya berada.
Harnos tidak tinggal diam lantas menghalangi jalan gadis tersebut dan menyuruh Maya memanfaatkan situasi ketika Eagle dalam posisi terdesak.
"Kau ... Bagaimana mungkin ..." Pedang di tangan Maya sudah menembus perut Eagle hingga sulit baginya dalam menyelesaikan kata-kata terakhirnya.
Tubuh Eagle jatuh ke tanah ketika Maya mengibaskan pedangnya yang berlumuran darah sebelum menyarungkannya kembali, bergerak cepat untuk menemui Harnos yang tengah menunggunya.
__ADS_1
"Tuan Harnos, sekali lagi mewakili tuanku saya mengucapkan terimakasih atas bantuan anda ..." Maya menunjukan hormatnya kepada Harnos.
"Duke Sanjaya memang layak untuk dilindungi ..." Sebaris kalimat terucap dari mulut pria paruh baya ini, kemudian melebihi kecepatan cahaya seluruh anggota Tembok Penyihir Harapan menghilang dihadapannya.