
Akhirnya setelah panggilan sang kekasih berakhir, Luke langsung menaiki mobilnya dan pulang ke rumah.
Di rumah nampak ada 2 orang Security berada di pos depan rumah Luke. Melihat Luke yang pulang pak Security itu pun membukakan pagar rumah.
“Makasih pak Joko.”
“Iya iya, gpp bos”
Nampak Luke di sini tetap bersikap ramah pada setiap orang yang ia kenal. Mau tetangganya, lalu kenalanya dari pasar atau bahkan preman sekalipun ia tetap ramah tamah pada semua orang.
Nampak ketika Luke memasuki rumahnya yang besar itu sudah tak ada lagi kedua adiknya yang biasa menyambut kepulangannya.
Dalam hatinya Luke sedikit sedih, tapi juga senang. Dengan ini sang adik sudah tak terlalu bergantung pada dirinya dan sudah mulai bisa hidup normal.
Semenjak kematian kedua orang tuanya, memang sikap adik Luke sedikit berubah. Bayangin aja anak umur enam tahun yang masih polos dan membutuhkan kehangatan orang tua justru harus kehilangan keduanya dalam sekejap.
Sudah satu tahun lebih Luke menjalani hidup yang sangat keras itu. Dan saat ini berkat bantuan sistem, dirinya bisa hidup dengan lebih layak.
Sambil berjalan ke kamarnya yang ada di lantai 3, Luke melihat sang adik bungsu Chika sedang bermain dengan Ayu. Memang sang adik sangat dekat dengan Ayu dan ketika melihat itu Luke hanya bisa tersenume dan menaiki tanga.
Lalu di dalam kamar Adik lelakinya Chiko, nampak sang adik tengah sibuk bermain game PS 5 yang baru beberapa hari lalu Luke berikan.
Melihat dari kejauhan sang adik sangat menikmati bermain game Luke pun tak ingin menggangunya dan langsung ke kamarnya.
“Huhhhh.” Nampak Luke yang sampai kamar langsung berbaring di sana dan memejamkan matanya.
Sampai akhirnya ia tertidur. Di pagi hari seperti biasa, Ayu sudah menyiapkan sarapan untuk Luke dan kedua adiknya.
Setelah makan mereka pun berangkat ke sekolah masing masing. Di dalam mobil nampak sang adik Chiko ingin kakaknya mengebut membawa mobil seperti yang ada di film.
“Kak coba ngebut lah, Chiko pengen liat kakak bawa mobil ngebut kayak di film film.
“Hus, bahaya.”
Tapi secara tiba tiba suara sitem berbunyi...
[Ting]
[Menerima misi harian]
[Ting]
[Menerima misi harian]
Melihat misi yang terpicu Luke pun langsung melihatnya.
{Sampai di sekolah Chiko dan Chika secepatnya}
{Hadiah 15000CP}
{Waktu 5 menit}
__ADS_1
Melihat misi yang di berikan, Luke langsung menyuruh kedua adiknya mengencangkan sabuk pengaman dan berpegangan.
“Yaudah kakak ngebut nih, khusus hari nih buat Chiko.”
“Wih bener nih kak?.”
“Iya bener, Chika juga sabuknya di kencengin ya terus pegangan.”
Nampak sang adik Chika hanya menuruti permintaan sang kakak.
Dan tanpa pikir panjang lagi Luke langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Bahkan ia bisa dengan mudah melewati dan menyalip beberapa mobil di depannya. Walaupun keadaan pagi itu sedikit ramai, nampak Luke tak kesulitan sedikitpun.
Sampai dengan menyisakan wakti 34 detik Luke sampai di depan sekolah sang adik.
[Ting]
[Berhasil menyelesaikan misi harian]
[Ting]
[Berhasil menyelesaikan misi harian]
Setelah sampai Luke langsung melihat ke belakang tempat duduk. Dimana sang adik Chika dan Chiko duduk di sana.
“Dah sampe nih, sana turun.”
“Lah..kenapa?...tapi tadi minta ngebut.”
“Ahhh, Chiko mual kak.”
“Yahh, masa kalah sama adik kamu, tuh lihat Chika aja biasa aja tuh.”
Justru saat ini sang adik Chika terlihat santai dan tak nampak ketakutan atau syok sedikitpun.
“Lagi kak ,hehehe seru.”
Mendengar perkataan adik bungsunya, Luke hanya bisa tepok jidat dan akhirnya membantu sang adik Chiko untuk turun dari mobil.
“Mangkanya besok besok jangan minta yang aneh aneh lagi ya.”
“Iya kak...”
Nampak sang adik Chika berlari menuju kelasnya sedangkan Chiko berjalan pelan. Melihat itu Luke langsung seperti melihat Dejavu. Tapi kali ini sang adik Chiko yang nampak sedikit pucat.
“Huh...luamayan, hari ini misi harianya gak aneh aneh.”
Akhirnya Luke kembali masuk mobil dan pergi ke sekolahnya. Nampak di sana sudah banyak murid memenuhi lapangan tengah karna memang di sana akan di adakan lomba catur dan ping pong.”
“Nah, dateng juga dia.”
__ADS_1
Nampak sudah banyak teman kelas Luke menunggu kedatangan dirinya.
“Ngapain nih rame rame?.”
“Gpp, kami cuman pengen dukung kamu aja.”
Nampak sudah ada banyak murid cewek dari kelasnya menunggu kedatanganya. Mereka memang ingin mendukung Luke dalam lomba Catur di sana.
“Luke, kalahin lagi si ketua OSIS.”
“Iya bener, kita tunjukin ke semua orang kalau kelas 2C adalah yang terbaik.”
Mendengar banyak temanya sangat antusias, Luke pun hanya bisa memberikan yang terbaik agar bisa menang.
Khusus di catur Luke memang sangat ingin mengalahkan ketua OSIS tanpa bantuan sistem.
Sampai akhirnya pertandingan catur pun di mulai.
Nampak di babak 8 besar ini lawan Luke adalah Jordi yang memang sangat ahli dalam permainan catur. Bahkan tahun lalu, Luke ingat kalau dialah yang menduduki peringkat ke kedua.
“Mohon kerjasamanya Luke.”
“iya Jor.”
Nampak Jordi dan Luke bersalaman sebelum mereka duduk di meja dan memulai pertandingan.
Di sini nampak Luke dan Jordi langsung bergerak dengan cepat. Ya mau gimana lagi, khusus di 8 besar ini mereka akan menggunakan mesin penghitung waktu seperti standar di tournamen Catur kelas dunia.
Nampak Jordi yang memang menggilai catur dan sudah mendapatkan gelar Grandmaster di usianya yang masih muda itu mulai menyerang Luke dengan cepat.
Berbeda dengan Jordi yang bergerak bagaikan kereta api. Luke nampak kalem tapi konsisten tetap mengimbangi cara bermain Jordi yang cepat.
Sedangkan di tempat lain ada Fuka melawan anak kelas 3 lainnya dan di meja lain ada Raisa melawan anak kelas satu.
Nampak Luke di buat mulai berbipikir keras karna cara main Jordi yang sangat cepat dan menusuk bagaikan tombak.
Sambil melihat sisa waktunya, Luke tetap mencoba tenang dan berpikir langkah yang benar.
Ketika di hadapkan melawan waktu, banyak para pemain amatiran akan mengalami yang namanya pikiran buntu, itu biasa terjadi karna kepanikan yang melada isi kepala mereka.
Tapi Luke tetap stay kalem enjoy dan tak kehilangan ketenanganya. Karna dalam permainan catur profesional standar dunia, jika kita kehilangan ketenangan dan kenyamanan kita, maka sudah di pastikan pikiran kita akan buntu dan akan membuang buang banyak waktu dan jelas itu juga akan membuat kita semakin jauh dari kemenangan.
“Hemmm...”
Akhirnya Jordi yang menyerang dengan gaya permainan cepat berhenti sejenak dan mulai berpikir.
“Ya...ya, lumayan.” Nampak Jordi memegang dagunya sambil berpikir. Sedangkan MC kita duduk manis dan terlihat tenang.
Tapi nampak Jordi tetap tenang dan mulai menyerang Luke. Di sini untuk pertama kalinya Luke mengalami kesulitan dan ketika melihat waktu yang ia punya Luke sedikit panik.
Kalo yang nanya Aryo mana kok gak main, dia dah kalah di awal wkwkwk.
__ADS_1