
Hari ke tiga di pulau tak berpenghuni...
Nampak akhirnya Luke sadar kembali di siang hari. Saat ini ia tersadar dan mendapati dirinya sedang berada di dalam pos kesehatan relawan.
“Haaah, di mana aku?.”
Nampak di sana ada seorang relawan wanita sedang mengecek persediaan obat dan ketika melihat Luke tersadar, ia langsung mendekatinya.
“Jangan gerak dulu dek, itu infusnya masih nempel.”
Melihat tangan kanannya terpasang infus, Luke mulai mengingat ngingat apa yang sebelumnya terjadi padanya. Ia sangat ingat malam itu ia tak bisa tidur dan keluar untuk cari angin segar.
Tapi setelah itu, ia sama sekali tak ingat apa apa lagi mau sekuat dan sekeras apapun ia berusaha mengingatnya.
“Buk, teman teman saya di mana ya?.”
“Temen temen adek lanjut camping lagi di hutan, cuman ada satu gadis yang milih tetap di sini."
“Siapa buk?.”
“Kalo gak salah namanya Ange, dia sekarang mungkin lagi bantu bantu di pos relawan lain.”
Setelah mendengar penjelasan dari sang wanita relawan, Luke pun akhirnya kembali berbaring dan bertanya pada sistem.
“Sistem, kemarin malam apa yang terjadi padaku?...kenapa aku sama sekali tak bisa mengingatnya?.”
[Ting]
[Tuan mengalami kecelakaan dan terjatuh dari dahan pohon]
Setelah mengingat ngingat lagi akhirnya Luke ingat kalau memang semalam ia sedang menaiki sebuah pohon dan duduk di dahannya sambil melihat langit berbintang malam itu. Tapi setelah itu ia sama sekali tak mengingat hal lainnya.
“Baiklah aku mengerti, jadi bagaimana dengan misi khususku?.”
[Ting]
[Misi khusus dan harian kemarin telah gagal]
Mendengar jawaban sistem, Luke hanya bisa menghela nafas dan beristirahat kembali. Saat ini kepalanya masih sedikit sakit. Apa lagi ketika ia memaksa untuk mengingat kejadian kemarin malam, maka rasa sakitnya akan berlipat ganda.
Setelah beberapa jam akhirnya Ange datang ke pos kesehatan tempat Luke di rawat dan ketika melihat Luke sudah sadar, Ange langsung berlari dan memeluknya.
“Luke....”
Terlihat Ange langsung memeluk erat sang kekasih. Saat ini Luke dapat merasakan hangatnya pelukan sang kekasih yang terlihat sangat mengkhawatirkannya.
“Apa kepalamu masih sakit?.”
“Udah gpp Ge, terus kamu tau gak apa yang terjadi sama aku kemarin malam?.”
Ketika mendengar pertanyaan sang kekasih, Ange hanya geleng geleng kepala sambil bilang gak tau.
__ADS_1
“Aku gak tau, pokoknya waktu itu aku lihat kamu udah tergeletak di bawah tanah.”
“Yaudah jangan nangis lagi, aku dah gpp kok.”
Nampak Luke mencoba menenangkan sang kekasih yang terlihat sangat sedih sambil menitihkan air mata.
“Kamu laper?...kalo iya ku bawain makanan ni?.”
“Boleh...tapi suapin ya.”
“Hemm...iya iya...yaudah tunggu.”
Akhirnya sore hari itu mereka habiskan berduaan di pos relawan kesehatan. Sampai malam hari Luke tidur kembali...
Pagi harinya di hari ke empat camping di pulau, nampak sudah makin banyak murid yang kembali ke pos awal di dermaga.
Kebanyakan mereka adalah para gadis yang memang sudah tak sanggup lagi berlama lama di dalam hutan.
Sedangkan di pantai para relawan beserta beberapa guru sedang sibuk mempersiapkan tenda untuk acara perpisahan anak kelas tiga yang di agendakan di sana.
Luke yang sudah sehat akhirnya keluar dari pos kesehatan dan melihat lihat sekitar.
[Ting]
[Mendapat misi harian]
[Ting]
[Mendapat misi harian]
{Membantu para relawan mempersiapkan acara sekolah}
{Hadiah 60.000CP}
{Waktu – sampai sore hari}
Ketika melihat misi yang terpicu, Luke hanya bisa senyum senyum sendiri dan mulai berjalan mendekati beberapa guru dan relawan yang terlihat sangat sibuk.
“Pak...ada yang bisa saya bantu gak?.”
“Ohhh...kalo mau bantu tuh...tolong bawain itu kerangka panggung ke pantai, terus kasih ke pak Egi.”
“Oke pak...”
Nampak Luke yang di beri perintah langsung mengerjakannya. Di sana terlihat ada juga beberapa anggota OSIS dan siswa lainnya ikut membantu.
Kebanyakan dari mereka adalah orang yang sudah kembali dari Camping. Saat sedang membantu persiapan acara sekolah, Luke juga melihat sang kekasih sedang sibuk di pos bagian dapur.
Ia melihat sang kekasih sedang di ajari cara memasak oleh sorang wanita di sana. Luke yang penasaran langsung memhampirinya.
“Wih...buat makan siang nih?.”
__ADS_1
“Ehh...kamu dah sehat?.”
“Udah kok, lagian gak enak kalo lama lama di sana...bosen.”
“Ini kamu yang masak?.”
“Hehehe...iya, walaupun cuman bantuin sih.”
“Hemmm...jadi gak sabar buat makan siang, yaudah aku lanjut nganter nih barang dulu ya.”
“Oke hati hati ya...kalo masih pusing jangan di paksain.”
“Oke boss.”
Nampak Luke memberi hormat pada sang kekasih dan melanjutkan pekerjaannya. Ketika masuk siang hari, akhirnya semua orang istirahat dan terlihat makan siang yang sangat lezat sudah di siapkan untuk semua pekerja.
Di siang itu semua orang terlihat sangat bahagia, sambil bercanda tawa, mau guru, relawan, murid, mereka semua terlihat sangat menikmati hari harinya di pulau itu. Sampai malam hari pun datang.
Luke yang sudah bekerja dari pagi akhirnya istirahat kembali.
Hari kelima di pulau tak berpenghuni...
Hari ini adalah hari terakhir para siswa dan siswi Camping di dalam pulau. Sedangkan di bibir pantai saat ini mulai terbentuk panggung dan tenda tenda yang sangat besar.
Nampak di hari kelima ini semua orang makin sibuk. Luke sendiri yang lagi lagi mendapatkan misi yang serupa juga terlihat sangat sibuk.
Di siang itu, bahkan mereka sudah tak bisa lagi makan siang bersama dan terlihat beberapa tamu undangan spesial sudah mulai datang.
Walaupun acara perpisahan anak kelas tiga di adakan pada hari ke 6 dan 7, tapi para orang tua siswa dan siswi sudah ada yang datang lebih awal.
Luke sendiri sudah mengundang Ayu dan kedua adiknya untuk datang ke sana. Mereka nantinya akan di temani oleh Rudy dan bersama sama menghadiri acara.
Sambil bekerja, Luke dapat melihat beberapa tamu penting sudah mulai muncul. Dan saat ini, ia melihat ada sebuah Helikoper pribadi yang datang ke pulau itu.
Luke yang penasaran siapa orang tersebut, sambil mengangkat dan memindahkan beberapa barang mulai melirik ke arah Helikoper.
Dan di sana ia melihat seorang kakek tua dan pria berbada tegap dan besar turun bersamaan dan setelah itu ada orang yang sudah ia kenal. Ya dia adalah pemilik Sanjaya Internationa School. Yaitu Sudrajad Sanjaya.
“Huh..selesai juga.”
Terlihat Luke sudah mulai kecapean karna pada hari ke lima itu pekerjaan memang seperti tak ada habisnya.
Bahkan ketika baru saja duduk, ia di panggil oleh guru dan di suruh membantu lagi. Luke yang memang sedang ada misi hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan gurunya.
“Anjir...saya di sini niatnya cuman bantu kok malah jadi pekerja tetap.” Nampak Luke sedikit kesal karna sudah sejak pagi ia di suruh suruh mengerjakan pekerjaan yang berat.
“Nah..nih Luke.”
“Tolong pindahin besi besi ini ke belakang pos persediaan.”
“Nanti kalo dah siap cari bapak lagi ya, bapak mau ke panggung utama dulu ngecek yang lain.”
__ADS_1
“Oke pak.”
“Sialan..Bambang kampret...coba aja gak ada misi dah ku banting ini besi.” Nampak Luke mulai kesal karna perlakuan pak Bambang.