Penyesalan Setelah Perpisahan

Penyesalan Setelah Perpisahan
Bab 21.


__ADS_3

Salman membawa Safia ke kamar lalu membantunya berbaring di atas tempat tidur. Setelah itu Salman menyelimuti Safia dan ikut berbaring di sampingnya.


Sadar akan tingkah Salman yang sedikit mencurigakan, Safia pun menyambar guling dan menaruhnya di tengah sebagai pembatas agar Salman tidak menyentuhnya.


"Kali ini aku mengizinkanmu tidur seranjang denganku, tapi ingat, tidak boleh melewati batas ini!" tegas Safia dengan penuh penekanan.


"Loh, kok gitu sih? Tadi katanya-" Salman mengerutkan kening dengan raut menelan kekecewaan. Padahal dia sangat berharap agar bisa memeluk Safia semalaman.


"Jangan banyak protes, jika kamu keberatan maka tidur saja di lantai sana!" ketus Safia memotong laju bicara Salman.


"Jangan kejam gini dong, Safia. Lantai itu dingin tau," keluh Salman sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Pilihan ada di tanganmu, patuh atau tidak sama sekali!" Safia kemudian berbalik badan dan memberikan punggungnya pada Salman.


Meski kesal dan marah karena sikap judes Safia, tapi Salman tidak berani meluapkannya. Diizinkan tidur seranjang seperti ini saja sudah cukup membuatnya senang. Setidaknya dia masih memiliki kesempatan untuk berdekatan dengan istrinya.


"Ya sudah, aku janji tidak akan menyentuhmu. Tapi kalau kamu yang duluan, maka jangan salahkan aku. Bagaimanapun aku ini adalah laki-laki normal, aku tidak mungkin-"


"Diamlah, tidak perlu banyak bicara! Jika kamu ingin melampiaskan hasratmu, maka panggil saja kekasihmu dan lakukan dengannya. Aku tidak sudi melayanimu," sergah Safia sembari menutup telinga.


"Aku akan membunuhmu jika berani menyentuhku," imbuh Safia dengan suara yang nyaris tak terdengar lalu memilih tidur lebih dulu.


Seketika Salman bergeming menelaah kata-kata Safia barusan.


Apa iya Safia rela jika dia bersetubuh dengan Mika? Mana mungkin? Tidak akan ada seorang istri pun yang rela melihat suaminya bersama wanita lain.


Buktinya Safia sampai drop saat dia membawa Mika waktu itu. Hal itu sudah jelas menunjukkan bahwa Safia sangat cemburu. "Dasar keras kepala!" umpat Salman lalu menutup mata perlahan. Dia pun ikut memunggungi Safia dan masuk ke dalam mimpi indahnya.


Pagi hari...

__ADS_1


"Aaaaakh..." Safia menguap sambil menggeliat dan menutup mulut dengan telapak tangan.


Saat membuka mata, betapa terkejutnya dia mendapati dirinya yang tengah berada di pelukan Salman. Safia mendesis lalu beringsut menjauhkan diri, dia yakin Salman akan besar kepala jika tau bahwa dia lah yang melanggar ucapannya sendiri.


"Sial, bisa-bisanya aku memeluk singa jantan itu." dengus Safia setelah berhasil melepaskan diri, dia pun berhamburan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.


Mendengar bunyi pintu yang ditutup dengan kasar, Salman membuka mata perlahan. Seringai tipis melengkung di sudut bibirnya.


"Dasar munafik!" umpat Salman mengukir senyum sinis lalu menarik selimut dan melanjutkan tidurnya.


...****************...


Sekitar pukul sepuluh pagi seorang pria berpakaian rapi tiba di kediaman Salman. Pria itu membawa sebuah tas yang dijinjing di tangannya.


"Pak Anton, ayo silahkan masuk!" sapa Salman yang kala itu tengah duduk di teras rumah.


"Baiklah, terima kasih." ucap Anton yang merupakan pengacara kondang keluarga Salman.


Sesuai janjinya, dia akan mengalihkan semua aset yang menjadi hak Safia. Dia sendiri kurang tau apa-apa saja yang nantinya akan dimiliki oleh Safia, hanya pengacara itu yang tau sesuai wasiat terakhir dari sang ayah.


Setelah Salman dan Safia bergabung dengannya, Anton pun mengeluarkan berkas-berkas yang dia bawa. Dia mulai merincikan detail yang tersurat di kertas putih itu dengan sangat jelas.


"Poin satu. Di sini tertulis bahwa semua harta peninggalan Subroto tidak akan menjadi milik Salman jika dia tidak berhasil menemukan Nisa."


"Aku sudah menemukannya, panggilannya Safia." jawab Salman cepat.


"Poin dua. Salman harus menikahi Nisa jika berhasil menemukannya."


"Aku sudah menikahinya, dia sudah resmi menjadi istriku." sahut Salman lagi.

__ADS_1


"Poin tiga. Dari semua aset yang ada, baik Salman maupun Nisa akan mendapatkan hak yang sama. Semuanya harus dibagi rata tanpa terkecuali."


"Ya, tidak masalah." angguk Salman.


"Poin empat. Jika salah satu dari kalian meminta berpisah tanpa alasan yang jelas, maka pihak penggugat tidak akan mendapatkan sepersen pun dari poin yang sudah disebutkan di atas."


"Apa?" Safia sontak terkejut dengan mata membulat sempurna. "Ini tidak adil, kenapa harus seperti itu?" kesal Safia.


"Maaf Nona Nisa, eh maksud saya Nona Safia. Saya hanya membacakan sesuai yang tertera di kertas ini. Silahkan Nona periksa kembali!" Anton menyodorkan beberapa lembar berkas itu ke tangan Safia.


Ya, dari jauh-jauh hari Subroto sudah mengatur semuanya bersama pengacara tersebut. Begitulah yang diinginkan almarhum dan tidak seorang pun bisa menolaknya.


"Hmm... Aku setuju," Salman tersenyum puas penuh kemenangan. Dengan adanya wasiat ini, dia tidak akan kesulitan untuk mengikat Safia di tangannya.


"Ini pasti akal-akalan kalian berdua saja, kan?" tuding Safia setelah membaca berkas tersebut. Dia tidak bisa mempercayai semua ini sepenuhnya.


"Loh, jangan fitnah. Aku bahkan tidak tau apa-apa mengenai wasiat ini. Kalau aku tau, sudah sejak dulu aku mencarimu. Aku pikir Ayah hanya ingin kita menikah, mana aku tau bahwa akan ada syarat yang diajukan." sanggah Salman, dia benar-benar tidak tau menahu mengenai wasiat yang ditinggalkan ayahnya.


"Di sini masih ada poin kelima. Katanya kalau ada pihak yang berselingkuh atau melakukan tindak kekerasan, maka pihak lain boleh mengajukan gugatan cerai dengan bukti yang akurat. Dengan begitu, pihak yang berkhianat tidak akan mendapatkan apa-apa." terang Anton.


"Nah, berarti aku boleh dong mengajukan gugatan cerai? Dia sudah berkhianat, dia berselingkuh di depan mata kepalaku dan melakukan tindak kekerasan padaku. Aku ingin berpisah darinya," tegas Safia.


"Apa Nona memiliki bukti?" tanya Anton.


Seketika Safia terhenyak mendengar itu. Dia tidak memiliki bukti apa-apa yang bisa dia tunjukkan pada Anton. "Beri aku waktu, aku akan mengumpulkan bukti itu dan memberikannya padamu." ucap Safia, dia yakin bisa mendapatkan bukti tersebut dari CCTV hotel dan rumah yang dia tempati sekarang.


"Baiklah, sekarang semuanya sudah jelas. Setelah menandatangani semua berkas ini, berarti Nona sudah mendapatkan hak atas sebagian harta yang selama ini dipegang oleh Salman. Untuk gugatan cerai, saya akan membantu Nona mengurusnya asalkan ada bukti yang menguatkan tuduhan tersebut." ucap Anton.


"Baiklah, saya akan mendapatkan bukti itu secepatnya." angguk Safia mengulas senyum sinis.

__ADS_1


Kemudian Safia menandatangani berkas tersebut dan pergi meninggalkan ruang tamu. Dia harus memulainya dari rumah itu.


Dia yakin rumah semegah itu memiliki banyak CCTV yang terpasang. Dia harus bisa mendapatkan bukti perselingkuhan yang dilakukan Salman agar pria itu enyah dari hidupnya. Dia akan sangat puas jika Salman terlempar dari rumah itu dan menjadi pengemis di jalanan sana.


__ADS_2