
Di desa kecil yang terletak di pinggiran kota, seorang wanita cantik tengah termangu di teras sebuah kontrakan.
Dinginnya hembusan angin terasa menusuk hingga tulang, daun-daun pun berguguran menyentuh perut bumi. Bahkan rintik hujan mulai berjatuhan seiring air mata yang ikut mengalir di pipi wanita itu.
Kini dia harus belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, berhadapan dengan orang asing yang tidak pernah dia kenal sebelumnya.
Berat memang, apalagi dia tidak terbiasa tinggal sendirian. Rasanya begitu sepi dan hampa, tidak ada lagi suara yang selalu membuatnya marah.
Namun entah kenapa, rasa rindu itu tiba-tiba datang menghinggapi hatinya. Dia sendiri tidak tau apakah akan sanggup melanjutkan hidup ini seorang diri.
Di tengah kegalauan hatinya yang semakin menjadi-jadi, tiba-tiba terdengar suara dentuman benda seperti suara petasan yang cukup keras.
Wanita itu tersentak dari lamunannya, sekujur tubuhnya gemetaran saat menangkap siluet seseorang yang tiba-tiba terjatuh di depan mata kepalanya.
"Aaaaah..."
Ya, Safia menjerit histeris sambil menutup mata dan telinga. Dia benar-benar syok melihat darah yang mengalir di dahi dan tangan pria itu.
"Tolong..." rintih pria itu dengan suara yang nyaris tak terdengar. Safia membuka mata kembali dan memberanikan diri menghampiri pria itu.
"Tolong aku, ini sakit sekali." pintanya memohon dengan pandangan berkabut. Dunia seakan diguncang gempa hingga tubuhnya bak melayang di udara.
Safia nampak ragu-ragu saat ingin membantu pria itu. Dia takut salah dalam mengambil keputusan.
Bagaimana kalau ternyata pria itu merupakan orang jahat?
Namun sebagai manusia yang masih memiliki hati nurani, Safia tidak tega membiarkan pria itu kesakitan. Apalagi mengingat sumpahnya sebagai seorang dokter, tentu saja nyawa seseorang adalah prioritas utama baginya.
"A-aku akan membantumu, tapi tolong jangan apa-apaan aku!" ucap Safia tergagap, dia harus memastikan keselamatannya terlebih dahulu.
"Tidak akan, tapi tolong bawa aku ke dalam. Aku tidak aman di sini," sahut pria itu, pandangannya semakin menggelap sebab darah yang tak henti-hentinya mengalir di pelipis dahinya.
"I-iya," angguk Safia, dia pun berjongkok dan membantu pria itu berdiri lalu memapahnya memasuki rumah.
Kemudian Safia mendudukkan pria itu di lantai yang hanya beralaskan tikar dan membantunya bersandar di dinding.
"Tunggu di sini, aku akan kembali." ucap Safia yang sebenarnya sangat takut melihat tatapan pria itu. Matanya sangat tajam seperti seekor elang yang hendak mencabik-cabik mangsa, rahangnya juga terpahat tajam seperti seekor serigala kelaparan.
"Tolong tutup dan kunci pintunya, jangan dibuka jika ada yang mengetuk!" kata pria itu dengan nada menekan.
"Ta-tapi..."
"Tolong, aku mohon!" desak pria itu yang membuat Safia terpaksa menganggukkan kepala.
Safia lantas bangkit dari jongkoknya dan menutup pintu sesuai permintaan pria itu.
Setelahnya Safia berjalan memasuki dapur dan menyiapkan air beserta kain. Dia tidak bisa berbuat banyak selain menghentikan pendarahan pria itu, dia tidak memiliki alat medis yang bisa dia gunakan.
"Maaf, mungkin rasanya akan sedikit sakit. Tolong ditahan sebentar!"
__ADS_1
Usai mengatakan itu, Safia pun membersihkan darah yang terus mengalir di dahi pria itu lalu mengikat kepalanya dengan kain. Begitu juga yang dia lakukan dengan tangan pria itu.
Seketika hening menerpa saat Safia melakukan tugasnya dengan telaten. Pria itu terus saja menatapnya tanpa berkedip sekalipun.
"Sudah, sepertinya tidak ada yang mencarimu ke sini. Maaf karena aku hanya bisa membantu seadanya, sekarang kamu boleh pergi!" ucap Safia mengusir pria itu dengan sopan.
"Tolong biarkan aku di sini, semalam saja, aku mohon!" pintanya dengan penuh harap. Dia tidak mungkin keluar dari kontrakan itu, di luar sana bahaya besar sedang mengintai dirinya. Dia harus tetap di sana sampai keadaan benar-benar aman.
"Maaf, tapi itu tidak mungkin. Aku tidak ingin orang-orang salah paham pada kita, aku orang baru di sini. Kalau mereka mengusirku, aku-"
"Itu tidak akan terjadi, aku yang akan menjamin kehormatan dan keselamatanmu. Percaya padaku!" potong pria itu meyakinkan Safia.
"Tapi-"
"Please, bantu aku kali ini saja!" pinta pria itu sembari menangkup tangan di depan dada.
Safia mengerjap dan menghela nafas sebanyak-banyaknya, dia bingung bagaimana cara meyakinkan pria itu agar pergi dari kontrakannya.
Bagaimanapun dia adalah istri orang, tidak etis jika seorang wanita yang sudah bersuami harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan pria asing.
"Percayalah padaku, aku janji besok pagi akan segera pergi dari tempat ini." imbuh pria itu dengan tatapan sendu.
"Baiklah, tapi di sini hanya ada satu kamar. Kamu-"
"Tidak apa-apa, aku bisa tidur di sini. Ini tidak terlalu buruk," potong pria itu.
"Hmm..." gumam Safia yang terpaksa memberi izin.
Setelah itu Safia memasuki kamar dan mengambil bantal serta sebuah kain. "Ini, pakailah. Cuaca cukup dingin." ucap Safia menyodorkannya ke tangan pria itu.
"Terima kasih," pria itu mengambil alih benda itu seraya mengukir senyum. Namun Safia tidak membalasnya dan malah buru-buru kembali ke kamar lalu menutup pintu dan menguncinya.
Di kediaman Salman, pria itu nampak frustasi karena tak jua mendapatkan kabar tentang keberadaan Safia. Dia pun bingung harus mencarinya kemana, tidak ada jejak yang ditinggalkan Safia untuknya.
"Mas..."
Salman terperanjat dan mendongakkan kepala dengan cepat. Dia pikir itu suara Safia tapi ternyata suara Mika yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Siapa yang menyuruhmu kemari?" tanya Salman ketus dengan tatapan tajam membunuh.
"Mas, aku-"
"Aku tidak membutuhkanmu di sini, pulanglah ke apartemen!" usir Salman, dia pun meninggalkan ruang tengah dan melangkah menuju anak tangga.
"Mas..."
Mika tidak menyerah sampai di sana. Dia pun berlarian mengejar Salman dan memeluknya dari belakang.
"Lepas Mika!" bentak Salman dengan suara meninggi.
__ADS_1
"Tidak Mas, aku tidak akan melepaskanmu kali ini. Aku tau kamu kesepian, hanya aku yang bisa memahamimu." ucap Mika mempererat pelukannya.
Seketika Salman terdiam dan membiarkan Mika memeluknya. Apa iya hanya Mika yang mengerti akan dirinya? Tapi Salman tidak menginginkan wanita itu lagi, yang dia butuhkan hanyalah istrinya Safia. Wanita yang sudah mengobrak-abrik perasaannya.
"Mas, lupakan wanita itu! Dia sudah pergi meninggalkanmu, itu artinya dia tidak mencintai kamu lagi. Hanya aku yang selalu setia padamu," ucap Mika mencoba mencuci otak Salman.
Ya, sebenarnya Mika sudah berada di rumah itu sejak siang tadi. Dia sengaja bersembunyi di kamar belakang saat mendapati Salman yang pulang dalam keadaan kusut.
Awalnya Mika ingin keluar, tapi karena penasaran dengan apa yang terjadi pada Salman, dia pun memutuskan untuk diam di belakang sembari mencari tau apa yang terjadi sebenarnya.
Mika juga mendengar saat Salman menghubungi seseorang, dari situ Mika tau bahwa Safia sudah pergi dari hidup Salman. Ini merupakan kesempatan baginya untuk meraih hati Salman kembali.
Salman melepaskan tangan Mika dari perutnya lalu melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga. Mika pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas itu, dia mengikuti Salman dan ikut masuk ke kamar.
Tanpa aba-aba, Mika dengan beraninya mendorong Salman hingga terjatuh di atas kasur. Tenaganya memang sudah terkuras karena lelah memikirkan Safia seharian.
Tak berhenti di sana, Mika pun menaiki ranjang dan menekan Salman di bawah tubuhnya. Salman hanya diam dengan banyaknya masalah yang membelit di otaknya.
"Lupakan dia, sekarang ada aku yang tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian." Mika pun menjatuhkan wajahnya tepat di bibir Salman, wanita itu mengesap bibirnya sambil meraba permukaan dada Salman.
Sejenak Salman terhanyut dalam permainan yang diciptakan Mika, namun tidak lama kemudian dia pun tersadar dan mendorong Mika dengan kuat.
"Mas..." bentak Mika saat tubuhnya terguling di samping Salman.
Salman menatap wanita itu dengan mata merah menyala. "Jangan lancang, aku bukan pria murahan seperti yang kau pikirkan." berang Salman sembari bangkit dari pembaringan.
"Sadar Mas, apa yang kamu harapkan dari wanita itu? Dia sudah pergi, dia meninggalkanmu." ucap Mika dengan suara meninggi.
"Ya, dia memang pergi, tapi bukan berarti aku akan mengkhianatinya. Selama dia masih resmi menjadi istriku, jangan harap aku akan berpaling darinya!" bentak Salman tersulut emosi.
"Bodoh kamu, Mas." umpat Mika mencoba meraih tangan Salman, namun pria itu bergegas menepisnya.
"Pergilah dari sini, jangan sampai aku melakukan kekerasan padamu!" usir Salman dengan rahang mengerat kuat.
"Tidak Mas, aku-"
"Pergi!" teriak Salman yang sudah tidak bisa lagi mengendalikan kemarahan. "Aku tekankan padamu, hubungan kita telah berakhir mulai detik ini. Sekarang pergilah dari kehidupanku!" imbuh Salman yang akhirnya memutuskan untuk menyudahi hubungannya dengan Mika.
"Dasar pembohong, mana janjimu yang katanya ingin menikahiku?" pekik Mika dengan suara menggelegar.
"Maaf karena sudah mengecewakanmu, tapi inilah pilihanku. Kau bisa pergi dan jangan pernah kembali lagi!" Salman meraih kenop pintu yang bermaksud menyuruh Mika enyah dari hadapannya. "Oh ya, lebih baik kembalilah pada Alex, dia lebih pantas untukmu." kata Salman menatap Mika lirih.
"Apa maksudmu? Kenapa kamu melemparku padanya?" tanya Mika terkejut.
"Jangan berpura-pura bodoh di hadapanku! Dari awal aku sudah tau sejauh mana hubungan kalian berdua. Aku pikir aku bisa menerima itu, tapi pada kenyataannya aku tidak bisa." terang Salman yang membuat mata Mika membulat sempurna.
Dia pikir semua rahasia itu akan tertutup rapat selamanya, tapi sayang ternyata Salman sudah mengetahuinya sejak jauh-jauh hari. Lalu kenapa Salman masih mau mempertahankan dirinya selama beberapa tahun ini?
"Awalnya aku tidak mau mempermasalahkan hal ini, aku pikir aku sangat mencintaimu dan bisa menerimamu apapun keadaannya. Namun sekarang aku sadar bahwa cinta itu hanya perasaan sejenak, bukan kamu wanita yang aku inginkan." ungkap Salman mengeluarkan apa yang seharusnya dia katakan dari dulu.
__ADS_1
"Tapi Mas-"
"Pergilah!" Salman membuka pintu lebar-lebar.