
Salman tiba di apartemen yang ditempati Mika sekitar satu jam setelah pamit meninggalkan rumah. Dengan langkah tegap dan sorot mata yang tajam, dia berjalan menuju unit yang ada di lantai dua belas.
Ya, mau tidak mau, suka tidak suka, Salman harus memilih salah satu diantara kedua wanita itu. Meski sulit tapi Salman tidak mungkin bersama keduanya, dia harus rela melepaskan salah satu diantara mereka.
Salman sudah memikirkan ini masak-masak, pilihannya jatuh kepada Safia sehingga dia pun terpaksa meninggalkan cinta pertamanya demi istri yang sudah dinikahinya itu.
Sesampainya di depan unit apartemen miliknya, Salman menekan bel namun tak kunjung ada yang membukakan pintu untuknya. Salman mulai khawatir mengingat kondisi Mika yang tidak baik-baik saja sejak kembali ke dalam hidupnya.
Karena Mika tak jua membukakan pintu untuknya, Salman akhirnya memutuskan untuk menekan sandi apartemen dan mendorong pintu perlahan. Dia berjalan masuk dan menyisir setiap sudut ruangan beserta kamar untuk mencari keberadaan Mika, namun gagal menemukannya.
Baru saja Salman mengeluarkan iPhone miliknya untuk menghubungi Mika, wanita itu sudah muncul di hadapannya bersama Alex.
Salman menatap keduanya dengan intens. Apakah sejak kemarin Mika tidak pulang? Kenapa wanita itu bisa datang bersama Alex?
Ya, Salman ingat betul kemarin dia mengabaikan Mika dan meninggalkan wanita itu di apartemen milik Alex. Bisa jadi semalam Mika menginap di sana mengingat pakaian yang belum diganti hingga detik ini.
"Dari mana saja?" tanya Salman penasaran dengan kening mengernyit.
"Apa peduli mu padaku?" ketus Mika menatap tajam pada Salman.
"Maaf, kalau begitu aku pamit dulu. Aku masih mempunyai pekerjaan di rumah sakit." selang Alex yang merasa tidak enak hati berada di tengah keduanya. Dia tidak ingin ikut campur masalah mereka.
"Kenapa buru-buru? Minum dulu bersamaku!" timpal Salman tersenyum getir. Dia curiga sesuatu telah terjadi diantara sahabat dan kekasihnya.
"Lain kali saja, aku tidak bisa berlama-lama." Alex pun meninggalkan apartemen itu dengan perasaan tidak menentu.
__ADS_1
Ya, Alex sebenarnya ikut pusing memikirkan masalah sahabatnya itu. Alex tau betul posisi Salman tengah terhimpit diantara dua pilihan yang begitu sulit, Alex sendiri ikut dilema karena mereka berdua menyukai dua wanita yang sama. Rasanya Alex ingin tertawa lantang mengingat hubungan pelik ini.
Setelah Alex menghilang dari pandangannya, Salman meraih tangan Mika dan mengajaknya duduk di sofa. Dia harus bicara dan menyelesaikan masalah ini secepatnya.
"Pulanglah, aku ingin sendiri." ucap Mika menjaga jarak dengan Salman. Dia masih marah sebab sejak beberapa hari ini terus saja diabaikan oleh kekasihnya itu.
"Ya, aku memang ingin pulang, tapi sebelum itu aku harus bicara dulu denganmu. Aku ingin-"
"Ingin mengakhiri hubungan ini? Itu kan yang mau kamu katakan?" potong Mika yang sudah bisa menebak apa yang ingin disampaikan Salman padanya.
Salman yang mendengar itu seketika tersenyum getir. Memang itu yang ingin dia sampaikan tapi entah kenapa lidahnya tiba-tiba kelu untuk berucap. Dia takut keputusannya akan melukai hati wanita itu.
Bertahun-tahun mereka bersama, belum sekalipun Salman melihat Mika semurung ini. Wajah wanita itu nampak pucat, lesu dan hilang semangat. Mana mungkin Salman tega mengatakan niatnya dalam keadaan seperti ini, rasanya terlalu sulit.
"Ya, pergilah. Bila perlu tidak usah kembali lagi!" sorak Mika histeris seperti orang kesurupan, dia pun meraih asbak yang ada di atas meja lalu melemparkannya ke arah Salman.
Beruntung Salman dengan cepat menghindar sehingga benda yang terbuat dari kaca itu malah mengenai daun pintu.
Salman mengusap wajahnya kasar dan geleng-geleng kepala melihat sikap Mika yang berubah seratus delapan puluh derajat. Dia bisa mengerti bagaimana perasaan wanita itu, akan tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin seperti ini akan lebih baik dari pada terus saja saling menyakiti.
Tanpa berucap sepatah katapun, Salman melanjutkan langkahnya sehingga benar-benar menghilang dari pandangan Mika.
"Aaaaah..." Mika berteriak histeris setelah Salman pergi meninggalkannya. Dari sini dia sudah bisa menebak bahwa Salman tidak lagi menginginkan dirinya.
"Brengsek!" umpat Mika seraya memporak-porandakan barang-barang yang ada di hadapannya. Dia tidak bisa menerima ini dengan mudah, bisa-bisanya Salman mencampakkan dirinya setelah menikahi wanita yang bernama Safia itu.
__ADS_1
Di tempat lain, Safia tengah berbaring di kamar berukuran kecil yang menjadi tempat ternyaman nya selama ini.
Ya, setelah Salman pergi meninggalkan rumah tadi, Safia ikut pergi dan memilih pulang ke panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Mungkin untuk sementara waktu dia akan tinggal di sana sampai menemukan cara agar bisa lepas dari Salman. Safia tidak ingin melihat suami brengseknya itu.
Tadi saat tiba di sana, Safia hanya mengatakan bahwa dia rindu dengan panti asuhan dan adik-adiknya yang juga dibesarkan di panti yang sama. Dia menutupi cerita sebenarnya dari Bu Ani, dia tidak ingin orang tua itu kepikiran dengan masalah yang dia hadapi.
Lalu Safia mencoba menghubungi kepala rumah sakit tempatnya bekerja, dia ingin kembali bekerja seperti biasa. Dia tidak ingin diam di rumah, itu hanya akan memperparah penyakitnya, apalagi jika terus-terusan memikirkan Salman.
Lama termangu dalam pemikirannya, Safia pun akhirnya tertidur sambil memeluk guling. Lelah hati bercampur baur dengan lelah fisik yang tengah mengguncang sekerat raganya. Safia hanya membutuhkan ketenangan agar penyakitnya tidak kambuh.
Di kediaman Salman, pria itu mulai panik saat tak melihat Safia di mana-mana. Dia bahkan sudah menyisir setiap sudut rumah tapi tetap saja tidak bisa menemukan istrinya.
Kemudian Salman menanyakan keberadaan Safia pada satpam yang tengah duduk di pos depan, dari pria itulah dia mendapatkan jawaban bahwa Safia meninggalkan rumah beberapa jam yang lalu.
Awalnya Salman marah mendengar itu, hampir saja dia kehilangan kendali dan memukul pria itu dengan tangannya. Beruntung Salman masih bisa meredam emosinya.
Tanpa menunggu lama, Salman pun berlari kecil menghampiri mobil yang tadi dia parkirkan di garasi. Dia tidak mungkin diam saja setelah tau bahwa Safia pergi meninggalkan rumah, dia harus menemukan Safia dan membawanya pulang.
Salman memacu laju kendaraannya dengan kecepatan tinggi, kepalanya celingak celinguk menatap ke arah kiri dan kanan bergantian, berharap bisa menemukan Safia di sisi jalanan.
Karena tidak kunjung menemukan Safia, Salman pun teringat dengan panti asuhan dan memutar stir ke arah sana. Entah kenapa dia merasa yakin bahwa Safia ada di tempat itu.
"Dasar istri keras kepala!" umpat Salman kesal lalu mengusap wajahnya kasar dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.
__ADS_1