Penyesalan Setelah Perpisahan

Penyesalan Setelah Perpisahan
Bab 44.


__ADS_3

Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Safia kembali menghampiri Salman dan memiringkan tubuhnya dengan susah payah. Safia menyingkap baju yang dikenakan Salman lalu membersihkan luka bedah itu dengan alat seadanya.


Seketika air mata Safia jatuh berderai melihat kondisi Salman yang cukup memprihatinkan. Tidak seharusnya mantan suaminya itu meninggalkan rumah sakit secepat ini, Safia takut hal ini berdampak buruk bagi kesehatan Salman.


Usai membersihkan dan menutup luka Salman dengan perban, Safia bergegas mengembalikan alat yang dia ambil tadi ke tempat semula. Seketika dia tersadar setelah ingatannya kembali, dia pun cepat-cepat meninggalkan dapur karena takut ada yang salah paham akan kehadirannya.


Setibanya di ruang tamu, Safia duduk sejenak di hadapan Salman. Matanya kembali berair menatap wajah lusuh Salman yang mengiris relung hati. Dia merasa bersalah karena meminta Salman untuk melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang demi kesembuhan putranya.


"Maafkan aku, ini semua salahku. Tidak seharusnya aku memintamu untuk melakukan operasi itu, aku terlalu egois tanpa memikirkan dampak yang harus kamu alami."


Sayup-sayup telinga Salman mendengar itu dari mulut Safia, seketika kelopak matanya bergerak dan terbuka perlahan.


Salman mengulas senyum saat mendapati wajah Safia yang selama ini sangat dia rindukan, setetes cairan bening tumpah dan jatuh membasahi pipinya.


"Tidak ada yang salah denganmu, kamu sudah melakukan yang terbaik untuk putra kita. Aku sama sekali tidak keberatan melakukan ini, aku bahkan rela memberikan seluruh organ tubuhku demi kesembuhan putraku. Mungkin inilah cara Tuhan menegurku setelah semua rasa sakit dan penderitaan yang aku ciptakan, aku bahkan sudah siap jika harus meninggalkan dunia ini asalkan putraku sembuh."


"Mas, apa yang kamu katakan?" selang Safia dengan perasaan tidak menentu. Dadanya semakin teriris mendengar celetukan Salman yang menyayat hati.


"Tolong jaga Saka dan jadikan dia pribadi yang baik sepertimu, aku percaya kamu bisa menggantikan posisiku sebagai seorang ayah. Aku sudah lelah Safia, aku ingin istirahat sejenak. Bolehkah aku menggenggam tanganmu untuk terakhir kalinya? Aku-"


"Mas..." potong Safia menitikkan air mata.


"Tidak Safia, jangan menangis! Tersenyumlah untukku sebentar saja, aku ingin sekali melihat senyuman itu, tolong sekali saja lakukan ini untukku!" gumam Salman dengan suara tercekat di tenggorokan, nafasnya menderu seiring rasa sakit yang masih setia menggerogoti bagian belakangnya.


"Cukup Mas, jangan bicara lagi! Kamu tidak boleh pergi secepat ini, Saka masih sangat membutuhkan dirimu." ucap Safia terisak, dia tidak tahan mendengar ocehan Salman yang seakan sudah tidak ada harapan untuk hidup.


"Aku belum mati, Safia. Aku masih hidup, kenapa kamu terus saja menangis? Seharusnya kamu senang karena bajingan ini tidak akan pernah mengganggu hidupmu lagi." seloroh Salman mengukir senyum, tangannya bergerak pelan menyentuh pipi Safia dan mengelusnya lembut.


"Kamu terlihat jelek saat menangis, aku tidak suka Safia yang cengeng seperti ini. Safia yang aku kenal sangat tangguh dan pemberani, Safia yang periang dan mudah tersenyum, aku rindu masa-masa itu."


"Cukup Mas, jangan bicara lagi!" kesal Safia menutup mulut Salman dengan jemarinya.

__ADS_1


Salman meraih tangan Safia yang menutupi mulutnya dan menggenggamnya erat lalu mengecupnya dengan lembut. "Aku ingin tidur, Safia. Aku benar-benar lelah, aku ingin bertemu orang tua kita dan meminta maaf atas semua kesalahan yang sudah aku lakukan padamu di masa lalu, aku harap kamu juga bisa memaafkan aku yang hina ini. Aku menyesal menyakiti wanita sebaik dirimu, aku benar-benar menyesal."


Setelah mengatakan semua itu, mata Salman kembali tertutup secara perlahan. Genggaman tangan yang tadinya sangat erat, perlahan merenggang dan akhirnya terlepas seiring deru nafas Salman yang terdengar tak beraturan.


Safia yang menyadari itu tiba-tiba terperanjat sembari mematut Salman dengan seksama. Tangisannya pecah kala pikiran buruk melintas di benaknya.


Apakah ini akhir dari segalanya? Apakah Safia benar-benar akan kehilangan Salman untuk selamanya?


Seketika jeritan Safia menggema memenuhi ruangan itu, Safia menjatuhkan wajahnya di dada Salman dan mengguncangnya dengan kasar.


"Mas, tolong jangan pergi! Ingat Saka Mas, dia tidak akan sanggup menerima ini." pekik Safia dengan suara bergetar.


Salman yang tadinya hampir tertidur, kini kembali terbangun saat merasakan detak jantung yang berdegup sangat kencang.


"Safia, aku belum mati. Aku hanya ingin tidur untuk sejenak," gumam Salman mendekap Safia erat di dadanya.


"Kita ke rumah sakit sekarang ya, kamu harus-"


"Tapi, Mas-"


"Biarkan aku memelukmu sebentar saja, aku merindukanmu Safia, aku sangat merindukanmu." lirih Salman dengan mata terpejam.


"Mas..." Safia ingin menjauh namun hatinya menolak melakukan itu.


"Maafkan aku Safia, aku benar-benar minta maaf." gumam Salman menarik Safia hingga terbaring di atas tubuhnya.


"Mas..." keluh Safia dengan tubuh gemetaran, dia takut hal tersebut akan menjadi boomerang untuk hubungan Salman dan wanita yang dia yakini sudah menjadi istri Salman. Bagaimanapun, mereka berdua tidak boleh sedekat ini.


"Sebentar saja Safia, aku tidak akan pernah melewati batasan ku, aku hanya ingin memelukmu, anggap saja ini permintaanku yang terakhir."


"Mas..." bentak Safia yang tidak senang mendengar kata-kata itu.

__ADS_1


"Hehe... Jangan marah, Safia. Aku hanya bercanda," Salman tertawa kecil meski matanya sudah tidak sanggup lagi untuk dibuka.


Sekitar lima menit berselang, Salman akhirnya tertidur pulas dalam kehangatan yang sudah sejak lama dia rindukan. Sementara Safia hanya diam tanpa perlawanan, dalam hati dia juga merasakan sesuatu yang menyentuh relung hatinya.


Safia tidak bisa membohongi perasaannya, dia merasa nyaman berada di pelukan Salman. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, Safia tidak mau memikirkannya, dia hanya ingin menikmati waktu yang singkat ini.


Lama termangu dalam pemikirannya, Safia pun ikut tertidur di atas tubuh Salman, keduanya sama-sama terhanyut dalam mimpi yang entah kapan akan berakhir.


Akankah semua kenangan pahit itu berujung di titik ini? Apa Salman benar-benar tidak berkeinginan untuk hidup lebih lama dan melihat putranya tumbuh menjadi orang hebat?


Entahlah, tidak ada yang tau kecuali pemilik badan. Bahkan Safia sendiri tidak tau bagaimana dan apa yang dirasakan mantan suaminya itu.


Di rumah sakit,,,


"Kak Ina, Mama mana? Kenapa Mama belum kembali juga? Apa Mama gagal menemukan Papa?" cerca Saka yang baru saja terbangun dari tidurnya. Bocah itu sudah tidak sabar ingin melihat perawakan sang papa yang dijanjikan Safia akan datang menjenguknya.


"Saka yang sabar dulu ya, Mama pasti datang bersama Papa. Mungkin Papa Saka lagi ada urusan, makanya telat datang ke sini." alibi Ina yang ditugaskan Safia untuk menjaga putra semata wayangnya.


"Tapi Saka sudah tidak sabar ingin bertemu Papa. Apa Papa mau menemui Saka? Atau, apakah Papa memang tidak sayang sama Saka?" terka bocah itu.


"Tidak Saka, itu tidak benar. Papa sangat sayang sama Saka, hanya saja Papa tidak bisa bersama kalian, Saka akan mengerti saat waktunya sudah tiba." jelas Ina.


"Memangnya kenapa Kak? Apa Papa dan Mama-"


"Sssttt... Jangan berpikir aneh-aneh, lebih baik Saka makan dulu biar tenaganya kuat saat bertemu Papa nanti!" potong Ina.


"Kak Ina yakin?" tanya Saka memastikan.


"Iya, Kak Ina sangat yakin. Kak Ina tau betul bagaimana sifat Papa, dia orang yang baik dan tidak suka mengingkari janji." jawab pelayan itu.


"Baiklah, Saka percaya. Kak Ina tolong suapin Saka ya, Saka tidak bisa makan sendiri." pinta bocah itu dengan senyum penuh pengharapan.

__ADS_1


Setelah berhasil meyakinkan Saka, Ina pun dengan cepat mengambil makanan yang baru saja datang, lengkap dengan obat yang harus diminum Saka sesuai petunjuk dokter. Bocah itu makan dengan lahap mengingat akan bertemu sang papa sebentar lagi.


__ADS_2