Penyesalan Setelah Perpisahan

Penyesalan Setelah Perpisahan
Bab 51.


__ADS_3

Ketika hatinya mulai sedikit lega setelah mendengar jawaban Salman, Saka melepaskan pelukannya. "Kita pulang ya, Pa!"


Salman mengerjap lalu menggeleng lemah. "Tidak sayang, Papa tidak bisa pulang, rumah Papa di sini."


"Tidak, Pa. Saka tau rumah yang kami tempati itu milik Papa, Saka juga tau semua yang dimiliki Mama sekarang sebenarnya punya Papa."


"Iya, tapi Papa sudah menyerahkannya pada Mama. Papa tidak punya hak lagi untuk tinggal di rumah itu. Setelah Saka dewasa nanti, Saka lah yang akan meneruskan semuanya." jelas Salman.


"Itu tidak adil. Kalau Papa tidak mau pulang, Saka juga tidak mau kembali ke rumah itu, Saka di sini saja sama Papa."


"Jangan gitu dong, sayang. Kalau Saka di sini, lalu siapa yang akan menemani Mama di sana? Apa Saka tega membiarkan Mama kesepian? Papa rasa tidak,"


"Ya sudah, suruh saja Mama tinggal di sini bersama kita!"


"Tidak sayang, itu tidak mungkin. Papa dan Mama sudah bercerai, orang-orang akan mengecam Papa. Apa Saka mau melihat Papa diamuk warga?"


"Tidak mau," geleng Saka dengan bibir mengerucut.


"Nah, kalau gitu Saka harus nurut, Saka ikut pulang sama Mama ya!" bujuk Salman.


Meski merasa kecewa, Saka akhirnya terpaksa menganggukkan kepala. "Hmm..."


"Anak pintar," Salman mengusap pucuk kepala Saka dan kembali memeluknya erat.


Salman sebenarnya sangat ingin menghabiskan waktunya bersama Saka, akan tetapi dia tidak mungkin menahan Saka untuk tetap tinggal. Dia tidak ingin Safia merasa diacuhkan karena kehadirannya, baginya Safia lah yang lebih berhak menjaga putranya.


...****************...


"Ma, Saka ingin sekali membawa Papa pulang ke rumah ini. Saka mau melihat kalian bersatu kembali, Saka ingin mempunyai keluarga yang lengkap." lirih bocah itu saat berada di pembaringan bersama Safia.


Safia terdiam, matanya menyipit mematut putranya yang tengah berbaring di sampingnya. Ucapan Saka cukup mengejutkan bagi Safia.


"Kenapa, Ma? Bukankah kata Mama dendam tidak akan pernah menyelesaikan masalah? Lalu kenapa Mama tidak mau memberi Papa kesempatan? Apa Papa sudah tidak berarti lagi di hidup Mama? Atau, apa Mama benar-benar ingin menikah dengan Paman Alex?" cerca bocah itu dengan sederet pertanyaan yang cukup menyudutkan Safia.


Safia mengerjap lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Tidur saja, jangan berpikir aneh-aneh!"


"Tapi, Ma-"


Safia menyelimuti Saka dan memilih turun dari ranjang, dia tau tidak akan ada ujungnya jika meladeni pertanyaan putranya itu.


"Mama jahat, Mama egois. Padahal Papa itu sangat baik, Mama yang keras kepala." seru Saka meluapkan amarahnya.

__ADS_1


Safia tersenyum getir kemudian meninggalkan kamar dan turun ke bawah. Dia memilih duduk di gazebo samping rumah yang berdekatan dengan kolam renang.


Safia termenung, otaknya mulai berpikir mengenai pertanyaan Saka barusan.


Tujuh tahun memendam rasa sakit seorang diri, rasa lelah sudah menjadi makanan pokok baginya, terlebih saat awal-awal kehamilan yang membuat Safia harus terbaring lemah di rumah sakit.


Menyakitkan memang, tidak ada satupun yang tau kecuali pelayan dan pekerja yang ada di rumah itu.


Safia rasa perjuangannya sudah cukup dalam melewati badai kehidupan yang pelik ini, dia tidak membutuhkan siapa-siapa lagi selain Saka.


Akan tetapi, Saka juga memiliki impian. Safia tidak tega menolak permintaan putranya yang baru saja mendapat kesempatan kedua untuk hidup.


"Hallo..." ucap Salman dari ujung sana.


"Hmm... Ini aku, Safia."


"Sa-safia, ada apa? Apa Saka sakit?" tanya Salman khawatir.


"Tidak, Saka baik-baik saja." jawab Safia.


"Huft... Syukurlah, aku pikir-"


"Apa yang kamu pikirkan?" sela Safia.


"Bagaimana denganku? Apa kamu pernah memikirkan aku? Apa kamu pernah mengkhawatirkan keadaanku? Bahkan setelah tujuh tahun berlalu, kamu tidak berubah sedikitpun. Apa aku benar-benar tidak berarti untukmu?"


Deg...


Salman terperanjat kaget mendengar pertanyaan beruntun Safia. Angin apa yang membuat Safia bertanya seperti itu padanya?


"Safia, apa maksudmu?" tanya Salman penasaran.


"Pulanglah, Saka membutuhkanmu bukan aku!"


Sebelum Salman menjawab, Safia sudah memutus panggilan itu secara sepihak.


Salman terperangah menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Dia mencoba mengkaji ucapan Safia barusan tapi-


Tiba-tiba Salman berhamburan dari ranjang lalu meraih jaket dan bergegas meninggalkan rumah.


Salman tidak akan bisa tenang sebelum mengetahui maksud ucapan Safia di telepon tadi.

__ADS_1


Tidak peduli dengan langit yang tengah menangis menurunkan gemercik air, Salman terus saja memacu laju motornya dengan kecepatan tinggi.


Saking tak bisa menahan diri, Salman nyaris saja menyeruduk sebuah truk bermuatan berat, beruntung dia dengan sigap membanting stang motor hingga kecelakaan itu masih dapat dielakkan.


Hampir satu jam menempuh perjalanan, sepeda motor Salman akhirnya tiba di depan gerbang. "Buka pagarnya!" seru Salman pada satpam yang bertugas.


Seorang satpam bergegas membukakan gerbang setelah menyadari siapa yang datang malam-malam seperti ini, bahkan dalam keadaan basah kuyup.


Setelah berhasil memarkirkan sepeda motor di halaman, Salman berlarian memasuki rumah.


Kepalanya celingak celinguk menyisir bangunan tersebut tapi tidak menemukan siapa-siapa di sana.


Lalu Salman berhamburan mendekati anak tangga, langkahnya sontak terhenti saat sudut matanya menangkap keberadaan seseorang di pinggir kolam.


Salman urung menaiki anak tangga dan berlari menuju taman samping, langkah kakinya terhenti kala melihat Safia menangis memeluk lututnya.


Hati Salman mencelos, tatapannya berkabut seiring rasa ngilu mengiris dada.


"Safia, apa yang terjadi?" tanya Salman lirih, dia berjongkok dan menarik Safia ke dalam pelukannya.


"Hiks..." Safia terus saja menangis sedu sedan.


"Safia, aku di sini. Berhentilah menangis!" Salman tidak kuasa menahan diri, air matanya ikut jatuh melihat Safia seperti ini.


"Tenangkan dirimu! Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkan Saka, aku sudah berjanji." jelas Salman sembari mengusap lengan Safia.


"La-lalu bagaimana dengan aku? A-apa aku harus pergi dari rumah ini?" isak Safia sesenggukan.


"Tidak Safia, kamu tidak boleh pergi. Saka putramu dan ini rumahmu, kamu tidak boleh kemana-mana!" lirih Salman.


"Tapi Saka hanya ingin tinggal denganmu, dia tidak membutuhkan aku lagi." terang Safia mendongakkan kepala, tatapan keduanya beradu pandang.


"Tidak Safia, itu tidak benar, kamu lebih penting bagi Saka. Saka tidak akan bisa hidup tanpa kamu." Salman menyeka wajah Safia lembut. "Jika kehadiranku hanya akan membuatmu terluka, aku akan pergi." imbuh Salman, dia mendorong lengan Safia sedikit menjauh.


"Mas..." lirih Safia menatap lekat mata Salman.


Salman menitikkan air mata. "Tidak seharusnya aku kembali ke kota ini. Maafkan aku karena selalu saja membuatmu menangis, aku benar-benar bukan manusia."


Salman bangkit dari jongkoknya dan berbalik badan. "Jaga Saka dengan baik dan jadikan dia pria yang bertanggung jawab!"


"Mas..." seru Safia berderai air mata.

__ADS_1


"Ini yang terbaik untuk kita, Safia. Aku tidak sanggup melihatmu terluka setiap kali menatapku. Sudah saatnya kamu bahagia, kamu tidak boleh menangis lagi!" Salman menyeka pipinya kasar dan menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu mengayunkan langkah besar meninggalkan Safia.


__ADS_2