
Sesampainya di ruang makan, Salman menurunkan Saka di dekat meja, bocah itu berlarian ke dapur dan memeluk Safia yang tengah membuat susu untuknya.
"Pagi, Ma." sapa bocah itu.
"Pagi, sayang. Sudah bangun?" tanya Safia terkejut melihat putranya yang sudah rapi dan wangi.
"Sudah dong, Ma. Saka juga sudah mandi, tadi dipasangin baju sama Papa."
Dengan bangganya Saka menoleh ke arah Salman yang tengah duduk di kursi meja makan.
Salman hanya tersenyum menatap keduanya, begitu juga dengan Safia yang merasa sedikit iri melihat Saka yang tiba-tiba menurut saat bersama Salman.
Ya, pikir Safia mungkin karena Saka sudah lama mendambakan kasih sayang seorang ayah.
"Tunggu di meja ya, sebentar lagi Mama bawakan susu buat Saka!"
Saka langsung mengangguk dan kembali ke meja makan. Bocah itu tidak mau duduk sendiri, dia malah meminta Salman memangkunya.
Tentu saja Salman tidak keberatan, dia menggendong Saka dan mendudukkan bocah itu di pangkuannya.
"Saka mau makan apa?" tanya Salman sembari mematut makanan yang sudah terhidang di meja.
"Terserah Papa saja, yang penting disuapi." jawab bocah itu dengan manja.
Salman lagi-lagi tersenyum dan mencium pucuk kepala putranya itu.
Lalu Salman mengambilkan makanan dan menyuapi Saka sesuai keinginannya.
Sedang asik menyuapi Saka, Safia datang membawakan segelas susu dan secangkir kopi untuk Salman. Setelah meletakkannya di meja, Safia ikut duduk di hadapan mantan suaminya itu.
"Mama mau disuapi juga? Enak lo makan lewat tangan Papa." celoteh Saka mengukir senyum.
Safia terperanjat mendengar ucapan putranya dan menatap Salman ragu-ragu. Keduanya nampak canggung mengingat ucapan Saka yang tidak masuk akal.
"Tidak usah, Mama bisa makan sendiri." tolak Safia, kemudian mengisi piring dengan makanan.
__ADS_1
Sembari menyuapi Saka, mata Salman masih saja berkelana menatap Safia sesekali, Salman merasa Safia tidak nyaman berada di dekatnya.
Salman seketika tersenyum getir dan kembali fokus pada Saka.
Usai menikmati sarapan, Saka menghabiskan susunya dan meninggalkan meja makan lebih dulu. Bocah itu berlarian ke ruang keluarga dan memilih menonton televisi.
Sementara Salman dan Safia masih saja duduk dengan tampang gelisah. Salman cepat-cepat menyeruput kopinya dan berkata. "Terima kasih untuk sarapan dan kopinya, rasanya sangat enak."
"Ya, sama-sama." sahut Safia singkat.
"Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu." Salman bangkit dari duduknya, Safia hanya diam menatapnya.
Karena tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Safia, Salman pun meninggalkan meja makan dan menyusul Saka ke depan.
Salman duduk di samping putranya dan mengatakan bahwa dia harus pulang dan akan kembali lain waktu.
Sontak ucapan Salman itu membuat Saka memanyunkan bibir. "Papa tidak boleh kemana-mana, bukankah Papa sudah janji untuk tetap di sini bersama Saka?"
"Papa tidak kemana-mana, sayang. Papa akan tetap bersama Saka, hanya saja Papa tidak bisa berlama-lama di rumah ini. Nanti Papa akan kembali, Saka juga boleh main ke rumah Papa." Salman mencoba memberi pengertian pada putranya.
"Tidak mau. Kalau Papa pergi, itu artinya Papa tidak sayang sama Saka." bocah itu nampak kecewa dan berlari meninggalkan Salman sendirian.
Bukannya Salman tidak ingin tinggal di rumah itu, akan tetapi statusnya tidak pantas untuk tetap berada di sana.
Dari kejauhan, Safia tertegun melihat wajah Salman yang nampak kebingungan. Dia sendiri ikut bingung menghadapi situasi ini.
Menyadari kehadiran Safia yang tengah memperhatikannya, Salman memaksakan diri untuk tersenyum. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Safia.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat kekacauan di rumah ini. Tolong beri pengertian pada Saka, aku pulang dulu."
Setelah mengatakan itu, Salman mengayunkan langkah besar menuju pintu utama, Safia lagi-lagi tidak berkata apa-apa dan membiarkan Salman pergi begitu saja.
Menyadari Safia yang tidak mencegah kepergiannya, Salman pun meremas dada yang tiba-tiba terasa menusuk, sangat ngilu bak ditikam paku.
Tapi apa yang bisa Salman lakukan? Bukankah sudah seharusnya seperti ini?
__ADS_1
Salman cepat-cepat menaiki sepeda motor miliknya dan lekas meninggalkan rumah itu. Semakin lama berada di sana, akan membuat Salman semakin kesulitan mengendalikan perasaannya.
Sepanjang perjalanan, pikiran Salman tak hentinya tertuju pada Saka. Dia tau putranya akan marah saat mengetahui kepergiannya, tapi Salman tidak punya pilihan lain.
Salman juga tidak berani mengatakan apa-apa pada Safia, Salman takut salah dalam berucap. Dia tidak ingin membebani pikiran Safia lagi.
Beberapa menit berselang, Salman memarkirkan sepeda motornya di depan sorum, Salman sudah memutuskan untuk kembali bekerja di tempat itu.
Salman sadar dia harus memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. Meski dengan gaji yang tidak seberapa, dia harus tetap menafkahi Saka.
Salman kemudian menemui manager yang berada di ruangannya. Dengan berat hati Salman terpaksa menjilat ludahnya sendiri, dia mengatakan tidak jadi meninggalkan pekerjaan itu.
Beruntung kedatangan Salman disambut baik oleh manager itu, dia juga kembali diterima bekerja di sana.
Salman tampak begitu senang, dia tak hentinya berterima kasih karena sudah diberi kesempatan kedua. Hari ini juga Salman akan mulai bekerja.
Sesaat setelah meninggalkan ruangan manager itu, Salman cepat-cepat memasuki ruang ganti dan lekas menukar pakaiannya dengan baju montir.
Untuk pertama kali setelah tujuh tahun berlalu, Salman bekerja dengan penuh semangat tanpa beban sedikitpun.
Di tempat lain, Safia masih berusaha membujuk Saka. Bocah itu mengurung diri di kamar sesaat setelah menyaksikan sendiri kepergian sang ayah lewat jendela.
Saka sangat sedih, dia pikir Salman tidak akan pernah meninggalkannya lagi, tapi pada kenyataannya Salman sama sekali tidak menepati janji.
"Saka, buka pintunya, Mama ingin bicara!" seru Safia sembari mengetuk-ngetuk pintu. Sayangnya Saka tidak peduli, dia juga enggan menyahut.
Bocah itu meratapi kepergian Salman, tubuhnya terhenyak di lantai tepat di bawah jendela kaca.
Satu jam kemudian, Saka membuka pintu perlahan, dia menyandang sebuah tas ransel yang tadi sudah dia isi dengan pakaian.
Saka tidak ingin tinggal di rumah itu lagi, dia merasa semua orang tidak ada yang menyayanginya, termasuk Safia yang malah membiarkan Salman pergi.
Sembari mengendap-endap seperti maling, Saka berhasil menyelinap masuk ke dalam mobil. Kebetulan mobil itu akan berangkat mengantar Ina ke pasar untuk membeli bahan makanan.
Saka berjongkok di belakang jok agar keberadaannya tidak diketahui siapapun. Lagian Ina duduk di bangku depan, tepat di samping sopir.
__ADS_1
Saat mobil itu berhenti di depan sebuah supermarket, Saka keluar dari persembunyiannya. Dia turun dan berlari menjauhkan diri agar tidak ada yang melihat keberadaannya.
Saka sendiri tidak tau harus pergi kemana, dia hanya ingin mencari sang papa dan tinggal bersamanya.