Penyesalan Setelah Perpisahan

Penyesalan Setelah Perpisahan
Bab 36.


__ADS_3

Sekitar pukul dua siang, Salman tiba di sebuah perumahan yang cukup layak untuk ditempati. Setelah turun dan membayar ongkos taksi, dia pun berjalan pelan menuju pintu.


Salman nampak gelisah dengan tatapan berkabut, dia sama sekali tidak menyangka akan bertemu Safia secepat ini.


Setelah membuka pintu, Salman melangkah masuk dan duduk di atas sofa. Perasaannya masih saja galau setelah melihat Safia di bandara tadi.


Sebenarnya Salman tidak mau seperti ini, dia ingin sekali memeluk Safia dan mengatakan betapa dia sangat merindukan wanita itu.


Namun apalah daya, tangan tak lagi sanggup untuk meraihnya. Apalagi mengingat status mereka yang bukan suami istri lagi, Salman harus sadar sampai mana batasannya.


Lagian Safia yang sekarang tidak sama lagi dengan Safia di masa lalu. Penampilannya sangat modis, wajahnya pun nampak dihias dengan sedikit makeup yang membuat kecantikannya terpancar.


Tidak mungkin Salman sanggup mengambil hati Safia yang mungkin saja sudah memiliki pengganti dirinya, Safia berhak bahagia melanjutkan hidup yang lebih baik tanpa kehadirannya.


Dulu, Salman mungkin berhasil menjebak Safia dalam cinta palsu yang dia mainkan, namun sekarang Salman sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa lagi.


Jangankan memainkan perasaan seorang wanita, niat untuk membangun hidupnya kembali bahkan sudah tidak ada.


Karena itulah Salman memutuskan untuk menghindar dari Safia. Dia tidak memiliki muka untuk melihat wanita yang sangat dia cintai itu.


Di kediaman Salman yang kini sudah menjadi milik Safia, wanita itu termangu di balkon kamar sambil menatap putranya yang tengah bermain di halaman rumah.


Sejenak ingatan Safia tertuju pada Salman yang baru saja dia jumpai di bandara. Siapa yang akan menyangka, setelah tujuh tahun menghilang, kini sosok itu kembali datang menghantui pikirannya.


Selama dua tahun terakhir ini, Safia sudah pernah mencoba mencari keberadaan Salman, dia ingin mengatakan sesuatu yang harus Salman ketahui.


Akan tetapi usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil. Dia bahkan sudah mencari Salman ke berbagai tempat yang mungkin Salman datangi, namun tetap saja dia tidak bisa menemukannya.


Kini, saat Salman berdiri di depan mata kepalanya, dia bahkan tidak mampu berucap sepatah katapun. Ini sangat mengejutkan baginya sehingga kesulitan menyapa pria itu.


Safia sendiri tidak tau bagaimana perasaannya terhadap Salman. Entah ini merupakan cinta yang masih bersemayam di hatinya, atau hanya sekedar perasaan seorang ibu terhadap anaknya.

__ADS_1


Ya, dua tahun yang lalu Saka didiagnosis menderita penyakit leukemia. Safia sendiri yang menangani putranya itu bersama dengan Alex.


Sejak saat itu, hubungan antara Safia dan Alex menjadi semakin dekat. Bahkan Saka beberapa kali memanggil pria itu dengan sebutan papa.


Bagi Alex hal tersebut bukanlah masalah besar, dia justru sangat senang mengingat rasa sayangnya yang sudah seperti ayah kandung untuk Saka.


Namun hal itu tidak berlaku untuk Safia, dia merasa tidak enak hati pada pria itu. Dia pun mencoba menasehati Saka agar memanggil Alex dengan sebuah paman saja.


Beruntung Saka merupakan anak yang penurut, dia pun mengindahkan permintaan Safia dan tak pernah lagi memanggil Alex dengan sebutan papa.


Seiring berjalannya waktu, penyakit Saka agaknya semakin memburuk. Bocah itu membutuhkan transplantasi sumsum tulang belakang secepatnya.


Awalnya Safia tidak kepikiran meminta bantuan pada Salman. Dia pun berusaha keras mencari pendonor yang bersedia memberikan sumsum tulang belakang untuk Saka. Safia bahkan berani membayar mahal untuk itu.


Akan tetapi, segala daya dan upaya yang dilakukan Safia sama sekali tidak membuahkan hasil. Tidak ada seorangpun yang mau mendonorkan sumsum tulang belakang untuk putranya. Kalaupun ada, sumsum tulang belakang mereka tidak cocok.


Kini setelah harapan itu sudah ada di depan mata, Safia justru mati langkah tanpa berani mengungkapkan kebenaran.


Tidak pernah terbersit di pikirannya akan bertemu Salman dengan cara seperti tadi.


Sedikit sesal terpancar jelas di wajah Safia. Kenapa dia harus dihadapkan dengan masalah seperti ini?


Dia pikir kehadiran Saka sudah cukup membuatnya bahagia, namun semua itu tidak ada artinya tanpa kehadiran Salman di sisinya.


Ya, entah apa yang sedang Tuhan rencanakan untuknya? Safia sangat membutuhkan Salman untuk saat ini.


"Ma..." panggil Saka yang tiba-tiba muncul di pintu balkon. Safia yang mendengar itu langsung tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah bocah itu.


"Ma, kepala Saka pusing, badan Saka juga terasa sakit semua." lirih bocah itu dengan tatapan berkabut. Seketika wajahnya nampak pucat, dia bertumpu pada kusen pintu sambil memegang kepala.


Melihat putranya seperti itu, Safia pun lekas berlari menghampirinya. Safia nampak cemas bukan main dan menggendong Saka dalam dekapannya.

__ADS_1


"Ma, Saka tidak kuat lagi. Apa Saka akan mati sekarang? Saka tidak mau mati Ma, Saka belum sempat melihat Papa." desis bocah itu, semua terdengar jelas di telinga Safia.


Seketika sekujur tubuh Safia bergetar hebat mendengar perkataan yang keluar dari mulut putranya. Dia tidak menyangka Saka akan berbicara seperti itu padanya.


Tentu saja hati Safia tercabik-cabik mendengar itu, dia merasa bersalah karena sudah menyia-nyiakan kesempatan saat bertemu dengan Salman tadi.


Tidak seharusnya Safia membiarkan Salman pergi begitu saja. Sekarang, dia malah bingung harus mencarinya kemana.


"Saka jangan bicara seperti itu lagi ya, Nak! Saka pasti sembuh, Mama janji akan membawa Saka pada Papa."


Safia mengayunkan kaki menuju ranjang dan membaringkan Saka di sana. Dengan peralatan medis yang dia punya, dia pun dengan cepat memeriksa keadaan putranya.


Ya, sejak Saka dinyatakan positif mengidap leukemia, Safia pun tanpa pikir menyediakan beberapa alat medis yang dia butuhkan di rumah itu. Safia tidak ingin terlambat menangani putranya.


Minggu ini saja entah berapa kali Saka drop dan harus berada di bawah pengawasannya, bahkan Safia selalu membawa Saka kemanapun dia pergi. Dia tidak ingin lengah mengingat penyakit putranya yang sudah semakin memburuk.


Setelah melakukan pemeriksaan, Safia menyambar ponsel miliknya yang tergeletak di atas nakas. Dia menghubungi Alex dan menceritakan semua yang baru saja terjadi, dia juga mengatakan bahwa Salman ada di ibukota.


Safia pun meminta bantuan pada Alex untuk mencari tau dimana keberadaan sahabatnya itu. Dia sudah tidak punya banyak waktu, dia tidak ingin kehilangan Saka akibat kecerobohannya yang hakiki.


Setelah memutus sambungan telepon tersebut, Safia pun meninggalkan Saka barang sejenak. Bocah itu sudah tertidur dengan lelap setelah Safia memberinya obat melalui cairan infus yang terpasang.


Safia kemudian memasuki kamar almarhum ayah Salman dan menggeledah setiap tempat. Dia ingin tau properti apa saja yang dimiliki Salman diluar sepengetahuannya.


Safia berharap Salman akan bertemu di salah satu tempat yang dia punya. Safia yakin Salman tidak melepaskan semua asetnya secara menyeluruh.


Namun usaha Safia sepertinya berakhir sia-sia. Dia tidak menemukan apa-apa selain semua yang dia ketahui. Tidak ada aset lain yang tersembunyi, semua sudah berada di bawah penguasaannya.


Dari sini Safia mulai kepikiran pada Salman. Jika semuanya benar-benar sudah menjadi miliknya, lalu bagaimana cara Salman menjalani hidup selama tujuh tahun ini?


Semakin dipikirkan, semakin bingung pula Safia dibuatnya.

__ADS_1


Apa Salman benar-benar menyerahkan semua aset itu padanya? Lalu bagaimana nasib Salman tanpa harta dan uang yang selama ini menjadi kebanggaan dalam hidupnya?


__ADS_2