
Tanpa terasa sudah tujuh tahun lebih Salman pergi meninggalkan semua yang dia miliki, bahkan meninggalkan cinta yang belum sempat dia ungkapkan pada Safia.
Meskipun begitu, Salman cukup bahagia menjalani kesendirian walau harus hidup sederhana di pulau seberang.
Ya, setelah tujuh tahun menghilang, kini Salman terlihat sedikit lebih tua. Rambutnya mulai memutih dan wajahnya tak lagi setampan dulu.
Bagaimana tidak, hari-hari yang tersisa hanya dia habiskan menjadi seorang montir di sebuah bengkel. Salman benar-benar memulai hidupnya dari nol tanpa membawa sepersen pun uang yang dia miliki.
Setidaknya dia masih bisa makan pagi dan petang dengan hasil jerih peluhnya sendiri. Dia tidak lagi seperti Salman yang dulu, keangkuhannya hilang lenyap ditelan bumi.
Dia bahkan sering menyempatkan diri untuk datang ke sebuah panti asuhan, menghabiskan waktu di sana bersama anak-anak yang kurang beruntung. Dengan begitu dia bisa mengingat bagaimana kerasnya perjuangan Safia saat harus tinggal di panti asuhan.
"Salman, ini ada surat untukmu." ucap seorang pria yang tak lain adalah pemilik bengkel tempatnya bekerja.
"Surat apa ini, Bang?" tanya Salman mengerutkan kening.
"Buka saja!" jawab pria itu sembari tersenyum kecil.
Salman yang penasaran seketika mengambil alih amplop berwarna putih itu dari tangan bosnya lalu membukanya perlahan.
Salman menyipitkan mata dan mulai membaca tulisan yang terukir di sana.
"Pemindahan kerja?" desis Salman dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Ya, karena selama tujuh tahun ini kinerjamu sangat bagus, maka aku merekomendasikan mu ke bengkel pusat. Kamu tenang saja, di sana kamu akan mendapat gaji yang lebih besar. Lagian itu bukan bengkel biasa, tapi sorum mobil. Kamu dipercaya menjadi montir di sana." jelas pria itu.
"Tapi Bang-"
Salman nampak ragu menerima tawaran bosnya itu. Bukan tanpa alasan Salman ingin menolaknya, dia tidak mau kembali ke ibukota, dia tidak ingin bertemu lagi dengan Safia, dia sudah berjanji tidak akan pernah mengganggu kehidupannya lagi.
"Sudahlah, jangan banyak pikir! Ini kesempatan bagus, aku juga sudah menyiapkan tiket keberangkatan untukmu, besok pagi kamu akan terbang ke ibukota, kamu tinggal mempersiapkan diri. Lagian tidak ada gunanya menghindar dari kenyataan. Hidup harus berjalan, tidak peduli seberapa pahit masa lalu yang akan kembali mendekatimu." selang pria itu. Dia pun memberikan sebuah amplop berwarna coklat serta tiket yang sudah dia beli.
Mau tidak mau, Salman terpaksa mengambil amplop dan tiket yang disodorkan pria itu. Benar kata bosnya, hidup harus tetap berlanjut meski nanti kenyataan pahit itu kembali datang menghantui hidupnya.
Akan tetapi, dia sendiri sudah tak lagi mengharapkan Safia. Dia yakin Safia sudah bahagia dengan hidupnya, mungkin saja Safia sudah menikah lagi setelah status mereka dinyatakan berpisah secara hukum.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan berangkat besok." angguk Salman, dia pun meninggalkan bengkel setelah mendapatkan izin. Dia harus bersiap-siap sebelum hari esok tiba.
Di sebuah kontrakan kecil yang dia tempati selama ini, Salman termangu di teras rumah setelah selesai membereskan barang-barang yang akan dia bawa.
Salman tidak tau apakah dia bisa melewati semua ini atau tidak. Susah payah dia berusaha melupakan Safia, namun kini nasib akan membawanya kembali ke kota itu.
Salman hanya bisa berharap nantinya dia tidak akan pernah bertemu Safia. Dengan begitu hubungan mereka akan tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Salman tidak ingin merusak kebahagiaan Safia dengan kehadirannya. Biarlah Safia melanjutkan hidup tanpa tau dimana keberadaannya.
...****************...
Pukul satu siang sebuah pesawat mendarat bebas di bandara Internasional Soekarno-Hatta, Salman menghirup udara sebanyak-banyaknya sesaat setelah menapakkan kaki di kota kelahirannya itu.
Tujuh tahun berlalu, tidak ada perubahan yang mencolok. Semua masih terlihat sama seperti terakhir kali memutuskan untuk pergi meninggalkan kota itu.
Setelah mengambil koper miliknya, Salman menyetop sebuah taksi yang akan membawanya ke alamat yang dia tuju. Kebetulan dia mendapat fasilitas rumah dan motor untuk sarana transportasi.
Saat hendak memasuki sebuah taksi, langkah Salman tiba-tiba terhenti saat tubuhnya membentur seorang anak kecil. Bocah itu terdiam karena takut, dia pun meminta maaf sambil menundukkan kepala. "Ma-maaf, Paman."
Salman yang tadinya fokus menatap bocah itu, seketika terperanjat saat mendengar suara yang sangat familiar di telinga. Dia pun memutar leher dan betapa terkejutnya dia saat menangkap keberadaan Safia yang sudah berdiri tak jauh darinya.
Dada Salman tiba-tiba sesak, jantungnya berdegup kencang seiring denyut nadi yang seakan berhenti berdetak seketika itu juga. Begitupun dengan Safia yang tiba-tiba gemetaran mematut Salman dengan mata membola.
Siapa yang akan menyangka bahwa mereka akan bertemu secepat ini. Setelah tujuh tahun lebih, keduanya kembali bertemu di situasi seperti ini.
Salman belum siap bertemu dengan Safia, banyak sekali luka yang sudah dia torehkan sehingga untuk menatap mata Safia saja rasanya tidak sanggup.
Lalu Salman dengan cepat membuang pandangan. Dia menatap bocah laki-laki itu dan mengusap kepalanya. "Tidak apa-apa, Paman yang salah karena berjalan terburu-buru." jawab Salman pada bocah itu, lalu melanjutkan langkah yang sempat terhenti.
Salman dengan cepat memasuki taksi yang sudah menunggu, dia tidak mau bicara dengan Safia bahkan hanya sekedar berbasa-basi, lidahnya tiba-tiba berat untuk digerakkan.
"Mas Salman," sorak Safia, namun usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil. Taksi itu keburu melaju setelah Salman mendesak sang sopir untuk pergi dari tempat itu.
Setelah taksi itu menghilang, Safia tertegun dengan pandangan mengabut. Banyak sekali yang ingin dia katakan pada mantan suaminya itu, akan tetapi Salman malah menghindar darinya.
__ADS_1
"Ma..." Safia kembali tersadar saat tangan mungil bocah itu menggenggam tangannya. Safia pun berjongkok dan memeluk putranya dengan erat.
Ya, ternyata bocah itu adalah putra yang dilahirkan Safia sekitar enam tahun yang lalu. Safia tengah hamil saat Salman meninggalkannya dan menerima surat cerai yang diberikan Anton padanya.
Saat itu Safia benar-benar terpukul, dia sempat drop dan harus di opname di rumah sakit.
Selama menjalani proses kehamilan, Safia hanya terbaring lemah di atas kasur, berulang kali dia keluar masuk rumah sakit karena kondisinya yang sangat lemah.
Setelah melahirkan putra yang diberi nama Saka, kondisi Safia pun berangsur membaik, dia sempat menjalani operasi beberapa bulan setelah itu.
Kini Safia sudah dinyatakan sembuh dari penyakitnya. Semua itu berkat kehadiran Saka yang mampu menjadi penyemangat dalam hidup.
Safia pun sudah kembali beraktivitas sebagai seorang dokter, namun kali ini dia tidak lagi bertugas di rumah sakit yang lama, melainkan rumah sakit milik Salman yang kini sudah beralih menjadi miliknya.
"Ayo, kita pulang saja!" ajak Safia sembari menarik tangan Saka menuju mobil. Dia yang tadinya ingin menunggu Alex, seketika berubah pikiran setelah melihat Salman barusan.
Safia tidak tau apakah harus senang atau sedih menghadapi kenyataan ini.
Ya, dia senang setelah mengetahui bahwa Salman baik-baik saja, tapi dia juga sedih karena Salman lebih memilih menghindar darinya.
Apa selama ini Salman sama sekali tidak pernah memikirkan dirinya? Apa Salman benar-benar sudah melupakannya?
Atau, apakah Salman sudah kembali pada kekasihnya? Apa mereka berdua sudah menikah?
Pertanyaan-pertanyaan itu mendadak muncul di benak Safia. Dia nampak gelisah sambil memangku Saka di atas paha.
Andai Salman tau bahwa bocah yang dia lihat tadi adalah putranya, apa Salman masih memilih menghindar darinya?
Tidakkah Salman bahagia jika mengetahui ada darah dagingnya diantara mereka? Safia benar-benar gelisah mengingat itu, dia bahkan belum bisa melupakan Salman hingga detik ini.
Ternyata perpisahan tidak mampu membuat Safia bahagia. Dia malah semakin terluka saat Salman tak lagi di sisinya.
Ya, mungkin Safia terlihat seperti wanita bodoh. Dia tidak bisa membenci Salman meskipun dia sangat ingin melakukannya.
Setiap kali menatap wajah lelap putranya, rasa rindu itu tiba-tiba muncul menggerogoti hatinya.
__ADS_1