Penyesalan Setelah Perpisahan

Penyesalan Setelah Perpisahan
Bab 27.


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Safia sudah bangun dan bersiap-siap untuk pergi meninggalkan panti. Mungkin akan lebih baik jika dia menghilang saja dari hidup Salman untuk selamanya agar suaminya itu tidak perlu bersusah payah mengasihani dirinya.


Safia merasa semua yang Salman lakukan hanya merupakan bentuk rasa kemanusiaan karena sudah salah mengambil keputusan. Namun semua sudah terlanjur terjadi, menyesal pun tidak ada gunanya lagi.


Sebelum pergi, Safia menulis sepucuk surat dan menaruhnya di atas meja kemudian berlalu pergi setelah memandangi wajah lelap Salman barang sejenak.


Safia merasa berat melangkahkan kakinya, bagaimanapun cinta itu masih ada di dalam hatinya, tidak berkurang sedikitpun meski Safia sudah berusaha keras menghapusnya.


Namun keadaan sudah tidak memungkinkan untuknya bisa mengarungi bahtera rumah tangga bersama Salman. Safia tau bahwa akan ada yang tersakiti jika dia memilih bertahan di sisi suaminya itu. Safia tidak ingin dianggap menjadi orang ketiga yang menghancurkan hubungan Salman dan kekasihnya. Safia pernah melihat dalamnya rasa cinta Salman untuk wanita itu.


Setelah bersusah payah menguatkan tekadnya, Safia pun meninggalkan bangunan itu dan berjalan cepat agar tak seorangpun yang melihat kepergiannya. Dia tidak ingin Bu Ani sedih jika melihatnya seperti ini.


Cukup Safia saja yang menelan luka ini sendirian, suatu saat nanti akan ada masanya dia kembali, tentu saja dengan keadaan yang sudah berbeda.


Sesampainya di persimpangan jalan, Safia menaiki sebuah angkot menuju terminal ibukota. Dia sendiri belum tau kemana kakinya akan dilangkahkan. Kemana arah angin membawanya, maka di situlah tempatnya menepi. Menghapus segala gundah gelisah di hatinya dan belajar memulai kehidupan baru.


"Safia..." panggil Salman sesaat setelah membuka mata, seketika netranya membulat melihat kamar yang sudah rapi kecuali ranjang yang dia tiduri.


"Safia..." Salman memanggilnya kembali dan berhamburan dari tempat tidur.


Saat Salman hendak meninggalkan kamar, tidak sengaja matanya menangkap selembar kertas putih yang terlipas di atas meja.


Karena penasaran, Salman pun mengambilnya dan membukanya perlahan.


"Selamat pagi, aku harap tidurmu nyenyak semalaman meski harus memaksakan diri untuk tidur di kasurku yang keras itu.

__ADS_1


Hehe... Aku tau orang kaya sepertimu tidak akan bisa tidur dalam keadaan seperti itu, pasti pagi ini tubuhmu sakit semua.


Oh ya, aku minta maaf untuk kejutan tak terduga ini, aku pikir akan sangat sulit jika harus memberitahumu secara langsung.


Maaf juga jika selama ini aku gagal menjadi istri yang baik untukmu, aku tau kehadiranku hanya akan menjadi beban di hidupmu.


Kamu pantas bahagia bersama wanita yang kamu cintai, aku tau kamu sangat mencintainya, aku tidak ingin menjadi benalu diantara kalian berdua, kalian pantas bahagia.


Aku memilih pergi dan menghapus semua rasa yang aku miliki, tolong lupakan aku. Aku tau tidak akan ada cinta di hatimu untukku. Aku hanya bisa melihat kebencian di matamu, aku pun bisa memahami itu.


Aku tidak marah padamu, aku tau kamu sebenarnya pria yang baik. Kamu menyayangi ibumu melebihi apapun, aku saja yang terlalu berhayal bisa menjadi ratu di hidupmu. Mana pantas wanita yatim piatu dan penyakitan sepertiku ini bersanding denganmu, kamu terlalu sulit untukku raih.


Kembalilah padanya, nikahi dia dan bangunlah rumah tangga yang baru bersamanya. Aku akan sangat bahagia jika orang yang aku cintai bahagia.


Hehe... Ternyata benar kata pepatah. Cinta itu tidak harus memiliki, sekarang aku pun merasakan hal itu. Mungkin Tuhan tidak menakdirkan kita untuk berjodoh.


Braak...


Salman memukuli meja sesaat setelah membaca isi surat yang ditulis Safia untuknya.


Seketika mendung mencekam, Salman tidak bisa lagi menguasai dirinya, dia pun menghancurkan semua barang-barang yang ada di kamar itu.


Tidak terasa air mata Salman tumpah mengaliri pipinya, dia tidak menyangka Safia akan meninggalkannya dengan cara seperti ini.


"Safia... Apa yang kamu lakukan? Kenapa harus pergi dengan cara seperti ini?" lirih Salman yang tidak bisa lagi membendung tangisannya.

__ADS_1


Ya, setelah kematian sang ibu, baru kali ini dia kembali menangis sampai terisak. Entah mana air mata, entah mana ingus, cairan itu sudah membaur jadi satu membasahi wajah tampannya.


Puas meratapi kepergian Safia, Salman kemudian menyambar jaket miliknya yang tergantung di sandaran kursi. Dia pun berlarian meninggalkan kamar dan berusaha menyusul Safia, barangkali Safia belum terlalu jauh dari panti.


"Salman, kenapa lari-larian begitu?" tanya Bu Ani yang tak sengaja menangkap keberadaan Salman yang hampir tiba di dekat mobil.


"Maaf Bu, aku harus pergi." sahut Salman panik lalu memasuki mobil terburu-buru.


Salman menyalakan mesin dan memutar stir dengan cepat, hitungan detik saja mobil itu sudah menghilang dari pandangan Bu Ani yang masih mematung menyaksikan keanehan yang terjadi pada Salman.


"Safia... Kamu tidak boleh pergi, kamu itu sudah menjadi tanggung jawabku sepenuhnya. Kenapa kamu se ceroboh ini?" gumam Salman dengan kepala celingak celinguk ke kiri dan kanan menyisir setiap sudut yang dia lewati, berharap masih bisa menemukan Safia sebelum benar-benar pergi dari hidupnya.


Seketika Salman menginjak pedal rem secara mendadak lalu menepi di pinggir jalan. Dia merogoh kantong celana dan mengeluarkan iPhone miliknya dari dalam sana.


"Geledah setiap bandara, terminal, halte bus bahkan transportasi apapun yang ada di kota ini. Aku tidak mau tau, kerahkan semua anggotamu dan temukan istriku segera, lalu bawa dia pulang dengan selamat, lecet sedikit saja, aku habisi kalian semua!" titah Salman pada seorang pria dari balik telepon yang tersambung.


Setelah pria itu menyanggupi perintahnya, Salman memutus panggilan itu secara sepihak dan melempar benda pipih miliknya ke jok samping. Dia mengusap wajah kasar lalu mengacak rambutnya frustasi.


Lama-lama Salman bisa gila jika terus saja dihadapkan dengan masalah demi masalah tanpa henti. Dia kehabisan akal memikirkan bagaimana cara meyakinkan Safia bahwa dia benar-benar ingin memperbaiki rumah tangga mereka.


Apalagi Salman sangsi pada keadaan Safia yang tidak baik-baik saja saat ini. Bagaimana kalau Safia menyimpan benihnya setelah apa yang terjadi diantara mereka? Salman tidak ingin Safia menghadapi itu sendirian.


"Jika aku menemukanmu, jangan salahkan aku jika mengikatmu di pinggangku. Bila perlu aku akan memborgol tanganmu agar tak bisa lari lagi dariku!" geram Salman melampiaskan rasa kesalnya sambil menginjak pedal gas, dia pun melanjutkan perjalanan mencari keberadaan Safia.


Entah berapa banyak tempat yang Salman sisir tapi tak kunjung menemukan istrinya. Dia mulai khawatir, dia takut penyakit Safia tiba-tiba kambuh tanpa ada yang mengenalinya. Itu akan sangat membahayakan untuk keselamatan Safia.

__ADS_1


"Ya Tuhan, tolong bantu aku menemukan istriku, aku yakin dia adalah jodohku. Jika Engkau marah karena kesalahanku, maka hukum saja aku. Tolong berikan kesehatan pada Safia sampai aku berhasil menemukannya!"


__ADS_2