
"Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan? Mau dibawa kemana aku?" cerca Safia saat mobil milik pria itu melaju pergi meninggalkan kontrakan.
Safia benar-benar takut. Setelah kehormatannya hampir direnggut paksa oleh kedua bajingan tadi, kini pria itu malah membawanya entah kemana. Safia tidak ingin pergi bersama pria itu, dia tidak bisa mempercayainya begitu saja.
Sedikit sesal nampak terukir di wajah Safia. Jika dia tau bahwa hidupnya akan berakhir seperti ini, lebih baik dia tetap bertahan bersama Salman. Setidaknya suaminya itu bisa menjamin keselamatannya.
"Tolong hentikan mobilnya! Aku mau turun," pinta Safia kepada sopir yang tengah fokus mengendarai mobil. Sopir itu menatap bosnya melalui kaca spion, pria itupun menggelengkan kepala memberi isyarat.
Ya, pria itu tidak mau mengambil resiko. Dia merasa bertanggung jawab karena sudah menjerat Safia ke dalam permasalahan hidupnya.
Tidak ada cara lain baginya untuk menyelamatkan Safia, dia harus membawa Safia pergi dari tempat itu. Setidaknya Safia akan aman jika ikut bersamanya.
"Hey, apa kamu tidak dengar? Cepat hentikan mobilnya! Aku tidak mau ikut dengan kalian," imbuh Safia menatap tajam pada pria itu, bahkan suaranya terdengar lantang.
"Diam lah, kepalaku pusing mendengar teriakan mu." geram pria itu dengan rahang mengerat kuat.
"Makanya turunkan aku!" bentak Safia yang masih bersikukuh dengan pendiriannya. Dia trauma berurusan dengan laki-laki, menurutnya mereka semua sama saja, pasti ada maunya setelah berpura-pura baik di depannya.
"Sekarang kamu akan menjadi tanggung jawabku, aku akan menjamin keselamatanmu. Anggap saja ini bayaran karena kamu sudah menyelamatkanku semalam." ucap pria itu, dia merasa berhutang budi dan akan membawa Safia ke kota bersamanya.
"Tapi aku-"
"Menurut saja, jangan sampai aku memaksamu dengan cara yang tidak manusiawi!" tegas pria itu dengan penuh penekanan.
Mau tidak mau, suka tidak suka, Safia akhirnya diam mengikuti keinginan pria itu.
Sudahlah, percuma juga melawan jika ujung-ujungnya dia akan kalah. Meski berat, Safia tidak memiliki cara lain untuk menghindar.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam lebih, Safia akhirnya tertegun saat kembali merasakan sejuknya udara ibukota.
__ADS_1
Susah payah dia lari dan menjauhkan diri dari Salman, namun pada akhirnya dia harus kembali menghirup udara yang sama dengan suaminya itu.
Apakah takdirnya harus bertemu lagi dengan Salman? Entahlah, dia sendiri tidak tau jawabannya.
Sesampainya di halaman sebuah bangunan mewah, pria itu turun lebih dulu lalu mengulurkan tangan ke arah Safia. Wanita itu hanya diam, dia pun turun tanpa mempedulikan pria itu.
"Ayo, masuklah! Anggap saja rumah sendiri," ucap pria itu sembari melangkah menuju pintu utama. Safia pun terpaksa mengikutinya tanpa berucap sepatah katapun.
Sesampainya di dalam sana, dua orang pelayan langsung menyambut kedatangan mereka sembari membungkukkan punggung. Pria itupun meminta mereka mengantar Safia ke sebuah kamar.
Bukan kamar pembantu, melainkan kamar mewah yang tak kalah luas dari kamar milik Salman. Sekilas kekayaan mereka pun nampaknya seimbang.
"Silahkan Nona, Nona bisa beristirahat di kamar ini. Kalau Nona mau mandi, semua peralatan sudah tersedia di dalam sana, pakaian ganti juga ada di lemari, Nona boleh menggunakannya sesuka hati." ucap salah seorang pelayan itu pada Safia.
Safia hanya bengong dengan pandangan mengarah ke segala arah, dia masih ragu tapi tidak punya cara untuk menolak. Lagi-lagi dia harus menumpang tinggal di rumah pria asing yang sama sekali tidak dia kenal.
Setelah kedua pelayan itu meninggalkan kamar, Safia menutup pintu dan duduk di sisi ranjang. Seketika ingatannya kembali pada Salman, ada rasa rindu yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
Apakah Salman mengindahkan permintaannya? Apa Salman memilih kembali pada kekasihnya setelah membaca surat yang dia tinggalkan?
Ya, mungkin saja begitu. Safia tau persis bahwa Salman sangat mencintai wanita itu. Tentu saja dia akan melanjutkan hubungan mereka dan melupakan Safia yang hanya sebatas istri selingan di hatinya.
Tidak ada cinta, yang ada hanya dendam dan kebencian yang sangat dalam. Cinta yang Safia tanam di hatinya hanya bertepuk sebelah tangan, mana mungkin Salman akan menaruh hati padanya?
Lama terpaku dalam pemikirannya, Safia pun menghela nafas berat lalu berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
...****************...
"Apa saja yang kalian lakukan, hah? Masa' menemukan seorang wanita saja tidak bisa? Aku sangat yakin istriku belum pergi jauh dari kota ini, aku bisa merasakan kehadirannya di sini." berang Salman pada seorang pria yang dia perintahkan untuk mencari keberadaan Safia. Salman sangat marah karena merasa salah mempercayai orang.
__ADS_1
Akan tetapi, hatinya sangat yakin bahwa Safia masih ada di kota ini. Dia pun harus bersemangat untuk mencarinya, mengandalkan orang lain saja tidak cukup, Salman mesti ikut bergerak agar bisa menemukan Safia secepatnya.
"Maaf Bos, tapi-"
"Aku tidak mau tau, pergi dan temukan istriku secepatnya!" bentak Salman menyodorkan telunjuk kidal pada pria itu. Rahangnya menggeram dengan gigi bergemeletuk, ingin sekali dia memakan pria itu mentah-mentah.
"Ba-baik Bos, aku akan mencarinya lagi."
Dengan langkah terbirit-birit, pria itupun bergegas meninggalkan kantor Salman. Dia tidak ingin mencicipi kemarahan Salman yang sudah memuncak hingga ubun-ubun.
Satu bulan sudah Safia pergi meninggalkan penyesalan di hati Salman, namun hingga detik ini pria itu masih belum bisa menemukan batang hidung istrinya.
Salman mulai frustasi, tidak hanya tubuhnya saja yang kurus karena kekurangan makan, tapi penampilannya ikut semrawut karena tak hentinya memikirkan Safia.
Sejak kepergian istrinya itu, Salman lebih banyak murung dan menyendiri di kamar. Dia lebih suka mengasingkan diri dari pada bergaul dengan orang lain.
Dia bahkan sudah meminta Murni dan Ina bekerja kembali di kediamannya. Dia benar-benar ingin menjadikan Safia ratu jika berhasil menemukannya.
Di kantor pun dia berubah menjadi pribadi yang sangat pemarah, semua karyawan perusahaan tak ayal menjadi bulan-bulanannya setiap hari. Salah sedikit saja, Salman tidak akan segan-segan memecat mereka semua.
Ya, Salman sudah tidak bersemangat lagi mengurus perusahaan. Pikirannya selalu dibayang-bayangi oleh rupa Safia kala tersenyum padanya. Senyuman yang sangat manis sebelum Salman menghancurkan semuanya.
Benar kata pepatah, ternyata penyesalan itu datangnya selalu belakangan. Salman menyadari itu dan ingin memperbaiki semuanya seperti sedia kala.
Salman ingin mengenal Safia lebih dalam lagi, belajar memahaminya dan mengerti dengan apa yang diinginkan istrinya itu.
Bukankah setiap manusia memiliki kesalahan masing-masing? Harusnya Salman masih bisa mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki rumah tangganya.
Salman tidak menginginkan wanita lain, dia hanya mau Safia yang kini sangat dirindukannya.
__ADS_1