
Lama Salman menangis di kaki Safia tanpa melepaskan genggaman tangannya. Dia sudah siap dengan segala resiko yang harus dia tanggung asal Safia mau memaafkan dirinya.
Bahkan jika Safia menginginkan nyawanya, dia tidak akan keberatan. Salman ikhlas agar Safia tidak menderita lagi ketika melihat wajahnya. "Maafkan aku Safia, aku benar-benar minta maaf."
Safia yang tadinya diam, kini mulai merespon ucapan Salman. Dia tersentak kala merasakan cairan hangat yang menempel di tangannya. Akan tetapi, Safia merasa berat untuk menggerakkan lidahnya.
Dia tidak menyangka bahwa mereka akan bertemu kembali setelah satu bulan lamanya. Kenapa dunia sesempit ini?
"Jika kamu memang ingin berpisah dariku, aku akan mengabulkannya. Aku yang akan pergi, bukan kamu." imbuh Salman berderai air mata. Ini terlalu menyakitkan baginya, dadanya sangat sesak hingga sulit untuk bernafas.
Safia yang sudah sadar seratus persen, kemudian menarik tangannya dari genggaman Salman. "Apa yang kamu lakukan? Ayo, berdirilah!" cetusnya.
"Tidak Safia, biarkan saja seperti ini!" jawab Salman menggelengkan kepala.
"Tapi-"
"Aku minta maaf, sekarang ikut aku pulang ya!" ajak Salman, Safia pun langsung menggeleng menolak permintaan suaminya itu.
"Safia, dengar aku dulu!"
Salman mendongakkan kepala dan mematut manik mata Safia dengan intim. "Kali ini aku tidak akan memaksamu lagi. Aku menyerah, aku tidak mau mendesak mu untuk menerimaku kembali. Tapi tolong ikut pulang denganku!"
"Tidak, aku-"
"Safia, tempatmu bukan di sini. Kamu punya rumah dan segalanya, untuk apa menumpang di rumah orang?"
"Aku akan menyerahkan semua aset itu padamu, kamu tidak perlu susah-susah mencari bukti atas kesalahan yang sudah aku lakukan. Aku yang akan pergi dari rumah itu, kamu bisa tinggal di sana dan mengambil alih semuanya." terang Salman.
"Untuk apa? Aku tidak membutuhkan semua itu!" jawab Safia bingung.
"Ya, aku tau kamu tidak membutuhkannya, tapi aku sudah yakin dengan keputusanku. Aku akan menghubungi Anton agar datang ke rumah, kita akan menyelesaikan semuanya. Dengan begitu, aku pastikan kamu akan tenang tinggal di sana. Aku janji tidak akan pernah mengganggumu lagi."
Salman melepaskan genggaman tangan dari Safia lalu merogoh kantong celana dan mengeluarkan iPhone miliknya. Dia pun menyalakan ponsel itu dan langsung menghubungi Anton.
Tidak banyak yang Salman bicarakan, dia hanya mengatakan bahwa dia akan menyerahkan semua aset miliknya pada Safia lalu mengurus perceraian mereka.
Safia yang mendengar itu hanya diam sembari mematut mata Salman yang sudah sembab. Dia sendiri tidak tau harus berkata apa.
"Sudah, sekarang ikut aku pulang ya! Kita akan menunggu Anton di rumah," ajak Salman sesaat setelah mematikan sambungan telepon.
__ADS_1
"Tapi-"
"Safia, tolong menurut sekali ini saja!" pinta Salman dengan tatapan menggelap.
"Hmm..." gumam Safia sembari menggangguk lemah.
Karena Safia sudah setuju, Salman pun menghela nafas lega dan menyapu wajahnya dengan kasar. Setelah menyimpan kembali iPhone miliknya, dia pun membantu Safia berdiri dan membawanya ke luar.
Sebelum meninggalkan kediaman Hendrik, Salman berpamitan pada Wati dan meninggalkan pesan untuk sahabatnya itu.
Dia juga menyuruh Wati menyampaikan permohonan maaf karena sudah membawa Safia tanpa izin. Bagaimanapun status Salman masih sah sebagai suami Safia, tentu saja dia yang lebih berhak atas istrinya.
Setelah keduanya berpamitan, Salman menggenggam tangan Safia dan berjalan meninggalkan rumah.
Sesampainya di luar gerbang, Salman menyetop taksi karena tidak membawa mobil ke rumah itu. Dia membantu Safia menaiki mobil dan ikut duduk di sebelahnya.
Sepanjang perjalanan, keduanya tidak ada satupun yang bersuara. Hening menerpa seiring perasaan hati keduanya yang tidak baik-baik saja.
Salman rasanya tidak sanggup berpisah lagi dengan Safia. Akan tetapi, dia harus mengalah demi kebahagiaan istri yang sebentar lagi akan menjadi orang asing untuknya.
Mungkin inilah hukuman yang harus dia tanggung setelah semua rasa sakit yang dia berikan pada Safia. Saat cintanya sudah tumbuh, dia justru harus melepaskan Safia demi kebaikan mereka berdua.
Kebetulan sekali Anton sudah lebih dulu tiba di rumah itu, Salman tau persis saat menangkap sebuah mobil sedan yang terparkir di halaman.
"Ayo, Anton sepertinya sudah menunggu!" ajak Salman mempercepat langkahnya. Safia pun mengikutinya dari jarak beberapa cm saja.
Safia sendiri tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba menurut saat Salman mengajaknya pulang. Entah karena perasaan itu masih ada, atau malah karena ucapan Salman di rumah Hendrik tadi.
"Sudah lama," tanya Salman setelah menginjakkan kaki di ruang tamu.
"Baru juga lima menit," sahut Anton mengulas senyum.
Salman kemudian duduk di seberang Anton lalu diikuti oleh Safia yang duduk di sampingnya.
Tidak menunggu waktu lama, Salman pun langsung masuk pada pembahasan inti. Dia mengutarakan niatnya yang ingin memberikan semua aset itu pada Safia.
Awalnya Anton tidak percaya, tapi setelah melihat keseriusan Salman, dia pun hanya bisa menurut sambil manggut-manggut.
Dia pikir Salman tadinya hanya bercanda, kenyataannya semua itu memang benar adanya.
__ADS_1
Anton kemudian membuka tas yang dia bawa. Beberapa lembar dokumen penting dikeluarkan dari dalam sana lalu dibuka satu persatu. "Apa kamu yakin ingin mengalihkan semua aset ini pada Safia?"
"Tentu saja yakin," angguk Salman santai. "Semua ini sudah sesuai dengan wasiat yang ditinggalkan Ayah. Aku akui aku sudah berselingkuh, jadi Safia lah yang berhak atas semua ini." imbuh Salman mengakui kesalahan.
Dia pun dengan cepat meraih berkas-berkas itu dan menandatanganinya tanpa membaca terlebih dahulu.
"Sudah, sekarang giliran kamu." ucap Salman sambil menyodorkan berkas-berkas itu pada Safia.
"Oh ya, tolong urus perceraian kami secepatnya! Nanti hubungi saja aku jika semuanya sudah selesai." imbuh Salman pada Anton.
"Kamu yakin?" tanya Anton memastikan dengan kening mengernyit.
"Ya, sekarang semua ini sudah resmi menjadi milik Safia. Tolong tunjukkan apa-apa saja aset yang dia miliki. Sekarang tugasku sudah selesai, aku ke kamar sebentar."
Salman langsung berdiri setelah mengatakan itu. Dia pun meninggalkan mereka berdua sembari tersenyum lebar.
Sebenarnya Salman sangat kesulitan menyembunyikan apa yang dia rasakan. Namun dia harus terlihat baik-baik saja di depan Safia, dia tidak ingin membebani pikiran Safia lagi.
Jika boleh memilih, Salman tidak ingin mengambil keputusan seberat ini. Dia tidak akan sanggup kehilangan Safia lagi, namun demi kebahagiaan dan kenyamanan Safia, dia harus rela melepaskan semuanya. Setelah ini Safia tidak perlu lagi kabur-kaburan dan menumpang tinggal di rumah pria lain.
Sembari Safia menandatangani berkas-berkas itu, Salman pun mengemasi pakaian dan barang pribadi miliknya yang dibutuhkan. Dia menatanya di dalam sebuah koper dan menariknya meninggalkan kamar.
Sesampainya di ruang tamu, kebetulan Anton sudah pergi dan hanya menyisakan Safia seorang diri di sana. Wanita itu terkejut saat Salman melewatinya sembari menyeret koper di tangan.
"Kamu mau kemana?" tanya Safia menautkan alis bingung.
"Sesuai janjiku tadi, aku yang akan pergi dari rumah ini." Salman meletakkan kopernya di tengah jalan dan melangkah mendekati Safia.
Untuk terakhir kali, dia pun memberanikan diri memeluk istrinya itu. Tanpa terasa air matanya kembali jatuh membasahi pundak Safia. "Berjanjilah padaku, kamu harus bahagia setelah ini!" lirihnya dengan suara bergetar menahan tangis. Dia mendekap Safia erat sambil mengusap kepalanya.
"Kamu mau kemana? Bukankah semuanya sudah-"
"Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan mati dengan mudah. Aku juga sudah meninggalkan semua kartu yang aku miliki di nakas kamar, kamu bisa mengambil alih semuanya." selang Salman, lalu melepaskan pelukannya dan mematut Safia dengan tatapan sendu.
"Tapi-"
"Tidak apa-apa, berbahagialah dengan kehidupanmu yang baru. Kalau begitu aku pamit,"
Salman mengecup kening Safia dengan sayang. Untuk pertama kali dia bisa mencurahkan rasa itu meski Safia tidak menyadarinya.
__ADS_1
Setelah mencium Safia, Salman berbalik dan meraih kopernya kembali. Tanpa berani menatap Sagia lagi, dia pun meninggalkan rumah itu terburu-buru. Dia tidak ingin Safia menghalangi langkahnya, dia tau Safia tidak menginginkannya lagi.